Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 92: BUNUH DIRI


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Tanca begitu si pelayan berjongkok mengatur nafasnya yang terdengar ngos-ngosan.


Si pelayan mengarahkan tangannya ke sisi samping mansion. "Non, di sa-na...,"


"Disana? Ada apa?" tanya Tanca tak paham karena pelayan itu benar-benar dalam keadaan pucat pasi dan gugup.


"Tunjukkan! Tidak perlu dijelaskan." Ucap Ken mengubah arah haluan kursi roda, lalu mendorongnya mengikuti langkah pelayan yang terkesan sangat lambat.


Ketidaksabaran Ken masih bisa ditahan berkat usapan lembut Tanca di tangan kiri pria itu. Hingga ketiganya memasuki halaman samping rumah. Dimana itu jalan menuju pondok belakang tempat para pelayan. Pohon mangga yang saat ini tidak berbuat menjadi tujuan sang pelayan. Seketika disaat apa yang ingin ditunjukkan ada di depan mata, membuat kedua majikannya tertegun.


"Ken, hubungi polisi!" titah Tanca langsung sadar.


Kenzo menganggukkan kepala, dan langsung mengambil ponsel dari saku celananya.


"Halo, selamat pagi. Saya Kenzo dari kediaman Abizar ingin melaporkan....,"

__ADS_1


"Bi, panggilkan semua orang!" titah Tanca memejamkan matanya dengan rasa pening yang menyerang kepala.


Terlalu cepat semua terjadi. Sekarang semua akan semakin rumit dengan peristiwa kali ini, belum sempat dirinya membereskan segala sesuatu. Berakhir sudah apa yang seharusnya belum diakhiri. Ken terdiam menatap raga tak bernyawa yang menggantung di atas pohon.


"Menangislah! Aku tau ini berat untukmu, Ken." Tanca menarik tubuh Ken yang berdiri di sampingnya. "Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan....,"


Suara langkah kaki berbondong-bondong mendatangi halaman samping rumah. Bukan hanya suara jeritan para pelayan yang terkejut, tetapi wajah pucat banyak orang terlihat sangat jelas. Tanca melepaskan pelukannya, lalu menahan rasa sakit di kaki dan turun dari kursi roda.


"Ka!" Aurel berlari menghampiri Tanca, tetapi tubuh sang kakak langsung ditahan Kenzo agar tidak jatuh.


"Duduklah! Keadaanmu masih....,"


Para pelayan hanya mengangguk tanda paham. Tidak ada kata yang bisa keluar karena perasaan mereka dikuasai rasa shock melihat raga menunduk tergantung di atas pohon mangga dengan wajah pucat, dan mata melotot. Mansion seperti tempat yang menyeramkan, ada rasa ingin segera pergi menjauh dari semuanya.


"Bee, jaga Ken! Ano, bisa bantu aku ke kamar?" Tanca memberikan isyarat mata agar adiknya paham situasi saat ini, Aurel mengedipkan mata dua kali tanda paham. "Pak Mi, tolong bawa mami ke dalam!"

__ADS_1


Semua perintah Tanca dilaksanakan. Ano menggendong tunangannya memasuki mansion bersama Pak Mi yang mendorong kursi roda milik nenek Abizar. Sementara Sang Devil bersama Kenzo dan semua pelayan masih di tempat peristiwa menunggu polisi.


"Ken!" panggil Sang Devil dengan tatapan lembut, membuat pria yang dipanggil langsung menghamburkan diri memeluk tubuh wanitanya.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salah keluarga ku? Aku hanya meminta keluarga harmonis, tapi Tuhan memberikan keluarga penuh luka....,"


Aurel mengusap punggung Ken, "Ken, setiap manusia memiliki cobaannya masing-masing. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dalam keluarga seperti apa, tetapi kita bisa berusaha bahagia dengan menciptakan kebahagiaan sederhana. Bersabar dan ikhlaslah dengan ujian hidupmu, aku ada untukmu."


"Aku....,"


"Permisi, saya Letjen. Prawiro." Seorang polisi bersama satu kelompoknya telah tiba dan memasuki halaman samping rumah. "Dimana korban yang bunuh diri?"


Aurel melepaskan pelukannya, lalu menunjuk ke arah pohon mangga di depan sana. Para anggota polisi mengikuti arah tangannya, sontak mereka langsung bergegas melakukan tugas tanpa harus diberikan perintah. Ken masih enggan mengatakan apapun setelah menumpahkan rasa sesak di dada dalam pelukan sang tunangan.


Proses yang dilakukan polisi memakan waktu satu jam lebih disertai sesi tanya jawab untuk semua orang yang menghadiri tempat kejadian peristiwa. Hingga ahli forensik selesai melakukan kewajiban, dan memberikan laporan pada pemimpinnya.

__ADS_1


"Permisi, Komandan Prawiro ini hasil laporannya." Seorang dokter khusus menyerahkan lembaran kertas putih. "Dari hasil yang ditemukan. Korban berulang kali melakukan percobaan bunuh diri. Hanya saja kemungkinan selalu gagal di setiap percobaan, dan kali ini percobaan yang dianggap sukses. Meskipun itu yang terlihat secara alami. Tetap saja ada beberapa luka yang tidak masuk akal. Seperti luka lebam di punggung, sayatan di perut dan juga bekas luka di kakinya."


"Jadi kesimpulannya ini kasus bunuh diri, tapi bisa menjadi kasus pembunuhan? Benar begitu dokter Prili?"


__ADS_2