Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 77: HP


__ADS_3

Ketiganya berjalan menyusuri lorong belakang mansion. Dimana bagian belakang adalah tempat tinggal untuk para pelayan. Dari balik salah satu pilar, seseorang menguping percakapan singkat itu. Meskipun tidak paham apapun, tetap saja orang itu mengirimkan pesan singkat yang berisikan peristiwa di bilik para pelayan.


[Tuan, ada pelayan baru dengan nama Pak Mi. Menurut dari yang ku simak, pria tua itu bertugas menjadi sopir baru Tuan Muda.]~lapor orang di balik pilar melalui pesan whatsapp.


Triing!


Satu notif pesan masuk dengan bunyi nada dering yang cukup keras karena lorong bilik pelayan dalam keadaan sepi. Senyuman di wajah wanita itu sumringah setelah mendapatkan sebuah pemberitahuan dari Bank. Dimana sejumlah uang baru saja ditransfer sebagai bayaran informasi yang dia berikan.


"Ngapain susah-susah jadi pelayan? Cari saja informasi sebanyak-banyaknya, trus kirim ke Pak Dion. Triiing! Uangku mengalir tanpa perlu membersihkan toilet. Hah hidupmu pasti maju, Sri." racau Sri tanpa disaring.


Sri adalah salah satu pelayan yang bekerja di kediaman Abizar selama tiga tahun. Wanita itu juga salah satu pemuas nafsu sang tuan rumah. Ntah berapa banyak pelayan wanita yang diincar dan dijadikan sebagai alat kesenangan oleh Dion.


Pluk!


"Sri!'' Seru seseorang dari belakang pelayan wanita itu setelah memberikan tepukan pundak begitu saja.


Sri melompat karena terkejut, lalu berbalik seraya mengusap dadanya. "Eh copot. Ngapain, sih? Kamu pikir, aku gak jantungan ya?!"


"Nyantai, eh, santai Sri. Btw loe ngapain berdiri di belakang pilar? Lagi pacaran ama nih beton?" Rekan kerja Sri terlihat penasaran, membuat yang di tanya mendengus sebal dan memilih kembali berbalik dengan langkah kaki menjauh.

__ADS_1


"Sri! Yaelah malah ditinggal." Orang itu ikut menyusul rekannya, tapi blum sempat melangkah. Tatapan mata ke bawah melihat benda pipih yang nyungsep di rerumputan hijau. "HP? Apa punya Sri?"


"Aku simpan dulu, nanti kalau Sri cari baru ku kembalikan. Salah siapa main tinggalin aku gitu aja? Papay, Sri." gumamnya dan memilih kembali ke rumah utama untuk bekerja.


Sementara Sri yang masih saja ngedumel ngalor ngidul langsung masuk ke kamar dengan suara bantingan pintu yang cukup keras. "Huft menyebalkan. Sekarang aku aman, oh iya aku harus periksa jumlah uang yang Tuan Dion kirimkan."


Sri merogoh saku celana, di dalam celemek, tapi benda pipih kesayangannya tidak lagi bersamanya. Semangat yang tadi membara mendadak luntur berganti panik. Ia mulai mengobrak-abrik seluruh kamar hanya untuk mencari HP satu-satunya, tapi tetap saja tidak melihat benda yang menjadi sumber penghasilan tambahan.


"Tunggu dulu. Tadi aku masih menggunakan untuk mengirim pesan dan menerima pesan." Sri berpikir dengan menggigit kukunya. "Si@lan! Rena awas ya, aku harus cepetan balik ke tempat tadi."


Wanita itu langsung meninggalkan kamar setelah mengingat dimana terakhir kali memakai ponselnya. Hanya dalam hitung menit, Ia sudah berdiri di sisi pilar. Kemudian mulai mencari benda kesayangannya. Rumput hijau yang masih belum dipangkas oleh tukang kebun, membuat Sri harus berjuang melakukan pencarian dengan jongkok.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi, Nyonya. Izin masuk," Rena membuka pintu kamar di depannya setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


Begitu pintu dibuka, terlihat Nyonya Abizar sudah duduk dengan sandaran bantal. Rena memutar troli, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mewah yang selalu menyebarkan harum lavender bercampur aroma manis menenangkan. Kebiasaan yang harus dilakukan adalah menutup pintu setelah masuk ke kamar sang majikan.


Ceklek!


"Rena bawa banyak cemilan sore ini, Nyonya mau cemilan seperti apa?" tanya pelayan itu sopan.


Nyonya Abizar tersenyum mendengar kecerian yang selalu di hadirkan oleh pelayan setia seperti Rena. "Apa ada buah delima?"


"Buah delima, ya?" Rena membuka tudung saji, banyak jenis buah yang menggoda untuk di cicipi, tapi buah merah dengan isi biji yang mungil tidak ada. "Maaf, Nyonya. Rena lupa pesan buah delima....,"


"It's okay, berikan salad buah seperti biasanya saja!" Nyonya Abizar menyela permintaan maaf Rena yang hanya memicu kesedihan.


"Siap, Nyonya. Rena racik dulu saladnya, apa ada request khusus?" tanya Rena antusias.


"Tidak ada, salad buah seperti biasanya saja." jawab Nyonya Abizar.


Rena mulai mengupas apel merah, lalu beralih ke buah lainnya. Hingga suara dering ponsel tiba-tiba saja mengejutkan dirinya dan Nyonya Abizar.


"Maaf, Nyonya. Rena lupa mode HP masih bikin shock." Rena meletakkan pisau dan buah di atas piring, lalu mengambil HP yang ada di dalam celemek nya.

__ADS_1


Belum sempat menekan tombol samping. Sebuah uluran tangan muncul di depannya. Sontak Ia melihat siapa pemilik tangan itu, begitu melihat wajah yang tak asing. Tatapan mata diturunkan seraya menyerahkan ponsel, lalu kembali melanjutkan tugasnya membuat salad.


__ADS_2