
Satu hari, setelah hari berkabung.
Keesokan harinya, suara tangis bayi terdengar menggema di salah satu kamar. Sontak para pelayan berbondong-bondong untuk melihat apa yang terjadi. Mereka pikir Tuan Muda tengah sibuk bekerja, dan mungkin meninggalkan baby Z sendirian di kamar. Ternyata pemikiran itu salah, karena Keano berusaha menenangkan si kembar dengan mengajak kedua anaknya bermain. Sayangnya, baby Z tidak mau di ajak bercanda.
Bagaimana lagi, mungkin baby Z merindukan sosok seorang ibu yang tidak bisa mereka rasakan. Hal itu menjadi rasa iba di hari para pelayan, hingga suara deheman membuat mereka menoleh ke belakang. Dimana ada seorang wanita dengan penampilan culun seperti gadis desa berdiri dengan senyuman tipis.
"Boleh kasih jalan? Saya dipekerjakan sebagai baby sister untuk si kembar," ujar wanita itu, membuat para pelayan menelisik penampilannya dari atas ke bawah.
"Apa kamu tidak takut kena semprot Tuan Muda?" tanya salah satu pelayan dengan rasa penasaran, membuat si baby sister mengerutkan kedua alisnya karena tidak paham, "Kamu beneran baby sister baby Z 'kan? Kalau gitu, masuk aja. Kita semua mendoakan yang terbaik, semoga bisa bertahan."
Para pelayan ini, kelakuannya ada-ada aja. Dikira Keano setan kali, ya. Sudahlah, aku melakukan semua ini agar tidak berjauhan dengan keluargaku. ~batin si baby sister seraya membiarkan para pelayan meninggalkan dirinya seorang diri.
Kini ia menatap ke dalam kamar dari jendela kaca. Dimana terlihat Keano tengah berusaha membuat baby Z berhenti menangis. Ada rasa haru yang tidak bisa disembunyikan, hingga cairan bening terjatuh membasahi pipinya. Ingin sekali berteriak memanggil, jika dirinya ada di dekat sang suami. Namun, semua rasa harus ditahan demi mengungkapkan kejahatan yang dilakukan Lea. Di saat hati merasa bimbang, tiba-tiba ada yang memegang bahu kanannya.
"Perubahan tidak bisa dihindari. Bukankah kehidupan sangatlah kejam. Jangankan memanggil nama asli. Sekedar menyapa pun tidak bisa dilakukan. Kesabaran ditengah badai akan membuat kehidupan lebih baik. Seseorang mengatakan itu padaku. Semoga semua kembali membaik dan bisa mencapai kebahagiaan yang sejati."
__ADS_1
Nasehat itu, membuat sang baby sister tersenyum tipis, lalu mengusap air matanya, kemudian melepaskan tangan yang ada di bahu, "Terima kasih atas nasehatnya. Perkenalkan, saya Nonny dan bertugas untuk membantu menjaga si kembar."
"Aku tahu, ayo masuk bersama ku. Akan ku perkenalkan dengan saudara kembarku," Kenzo berjalan di depan untuk menghampiri pintu kamar baby Z, kemudian mengetuk tiga kali, barulah pria itu masuk meski belum dipersilahkan, "Ano, baby sister yang Aurel pesan sudah datang, apa bisa dia mulai bekerja hari ini?"
Keano yang sibuk menghibur kedua anaknya masih belum sempat menoleh ke belakang, membuat sang baby sister semakin tersenyum lebar. Pemandangan itu terlihat sangat manis dan menjadi semangat baru untuknya. Namun, Kenzo memilih menghampiri Ano dan membantu mencoba membuat baby Z berhenti menangis. Sayangnya, justru anak-anak semakin menangis kencang.
"Jika kalian membuat wajah seperti itu, si kembar akan takut dan mengira kalian bukan manusia," Si Baby Sister mengulurkan kedua tangan, lalu Kenzo yang memahami isyarat itu, langsung memberikan baby Z sulung, "Pertama tatap mata debay, lalu tepuk pant4tnya seraya mengoyangkan tubuh mungil secara perlahan, tapi lembut. Pastikan melakukan ini dengan perasaan agar debay bisa merasakan sentuhan sayang dari kita."
Meski Keano tidak berminat untuk melihat wajah sang baby sister. Pria itu mengikuti step by step sesuai arahan, dan benar saja. Kini, baby Z yang ada di gendongannya terdiam dengan wajah yang sembab. Yah, selama hampir satu jam kurang kedua anaknya menangis. Jadi, hal wajar membuat wajah mungil itu seperti panda menggemaskan.
Sementara, Zian Azam Askara Keano putra sekaligus saudara kembar Zarra. Disini yang menjadi anak pertama adalah putri cantik, lalu pangeran tampan. Meski hanya berjarak dua menit. Tetap saja, keduanya berbeda usia kelahiran. Keluarga sepakat memanggil kedua anak itu menjadi baby Z.
"Ken, apa pekerjaan sudah kamu handle?" tanya Keano setelah melihat Zarra terlelap karena lelah menangis, "Jika belum, bawa ke ruang kerja. Ayo, kita selesaikan bersama."
Kenzo menghirup udara di sekitarnya dengan rasa lega. Sekarang ia bisa melihat, saudara kembarnya lebih baik dan tidak begitu larut dalam kesedihan, "Aku akan ke bawah, menyiapkan file dan kita bisa melakukan meeting secara online. Oh ya, Nonny kamu jaga baby Z dengan baik dan pastikan si kembar tidak menangis."
__ADS_1
Nonny mengangguk, membuat rambut kepangnya bergerak. Wanita itu sekilas menatap Keano. Dimana pria yang ditatap menganggap dirinya tidak ada. Aneh, tapi aura dingin benar-benar terpancar dari Keano. Suasana yang tidak tegang, tapi pria itu seperti baru kembali dari kutub. Sudahlah, saat ini lebih baik fokus mengurus baby Z.
Kepergian Kenzo dan Keano, membuat Nonny menoleh ke segala arah. Wanita itu memastikan jika keadaan aman, lalu tak lupa menarik tirai agar ruangan baby Z tertutup sempurna dan tidak ada yang melihat. Apa yang akan dia lakukan, kemudian di gendongnya Zarra. Wajah cantik nan imut. Sungguh wajah itu selalu membayangi setiap malamnya.
"Maafin, Mama, ya, Sayang. Mama janji, mulai hari ini akan memberikan asi mu, dan sebagai ganti karena telah menelantarkan beberapa hari. Maka, mama siap untuk selalu menjaga kalian dan tidak membiarkan mata jahat menatap kalian."
Yah, baby sister itu adalah Aruna yang menyamar menjadi Nonny. Memang benar, istri Keano belum meninggal, tapi situasi mengharuskan wanita itu untuk bermain drama terbaik. Andai saja menangkap Lea semudah menjebloskan Dion ke penjara. Sudah pasti, ia akan menyeret wanita itu langsung ke kantor polisi. Sayangnya, tidak semudah itu.
Selama ini, Lea menjadi tawanan Dion di ruangan rahasia. Namun, tidak seorangpun akan menyangka. Jika wanita paruh baya itu memiliki tameng orang ketiga. Meski sebagai pemimpin salah satu kelompok Mafia. Bukan berarti semudah itu menjatuhkan kelompok Mafia yang lain. Apalagi, pihak ketiga juga orang yang cukup sadis.
Dimana setiap kali memiliki target. Bukan sasaran langsung yang akan dilenyapkan, tapi orang-orang terdekat yang terkena imbasnya terlebih dahulu. Hal itulah yang menjadikan Aruna harus bertindak sepuluh langkah lebih maju dari musuhnya. Semakin sedikit yang tahu rencananya, maka akan semakin baik. Termasuk rencana pemalsuan kematian.
Mungkin ada yang berpikir. Kenapa harus membuat drama sedemikian rupa. Jawabannya adalah karena kehidupan penuh tipu muslihat. Air mata yang jatuh, belum tentu tulus dan menjadi bukti penyesalan. Di sisi lain, memberikan kemenangan sementara untuk lawan adalah cara terbaik agar musuh melangkah maju tanpa berpikir dua kali.
Disaat Nonny menyusui baby Zarra dan hendak melanjutkan untuk menyusui baby Zian. Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu, dan masuk tanpa permisi. Sontak saja, sang baby sister membalikkan tubuh dan mencoba bersikap tenang seraya memasang kancing seragam kembali. Tentu saja jantungnya berdegup cepat dan berpikir, jangan sampai ada yang tahu penyamarannya.
__ADS_1
"Teruskan saja, Aku tidak akan melarangmu menyusui baby Z. Keponakan ku harus menerima asupan yang bergizi agar cepat tumbuh dan selalu sehat."