
Keano masih mengamati situasi yang tengah terjadi, sembari menahan tubuh saudaranya yang seakan tak mau melepaskan sandaran. Yah Kenzo seperti anak kecil meminta perlindungan dari dirinya.
"Finish." cetus sang devil yang masih memegang map di tangannya dalam keadaan terbuka.
Kelopak mata dengan bulu mata lentik bergerak. Mata jernih itu sudah berubah menjadi mode serius tak ubahnya keseriusan sang devil.
"Ano, pakai earphone mu!"
"....,"
"Boy, lakukanlah!" ucap Sang devil mendahului Keano agar tidak membantah.
Ano menghela nafas, lalu mengambil earphones di saku jasnya. Earphones mini keluaran Wireless produk yang memiliki suara jernih dengan jangkauan jarak jauh itu dipasangkan ke telinganya satu persatu.
Tangan Tanca terulur, membuat Ano menyerahkan ponselnya ke wanitanya itu. Ponsel dengan password yang pastinya tak asing di tangan cantik itu terbuka dalam waktu singkat. Scroll dua kali hingga menemukan music gallery. Musik diputar auto earphones di telinga Ano berbunyi.
Tuhan bantu Aku kali ini, ku mohon.~batin Kenzo yang terpaksa memisahkan diri dari tubuh saudaranya.
__ADS_1
"Bee, mulai!" titah Tanca setelah meletakkan ponsel Ano di atas meja di depannya.
"Boy Ken! Your reason, please TELL!" ucap sang devil dengan tegas. ("Boy Ken! Alasanmu, tolong KATAKAN!)
Kenzo menggeser tubuhnya, lalu mengubah posisinya duduk tegak tanpa menatap sang devil. Tatapan mata pria itu justru sibuk kesana kemari dengan pikiran mencari kata yang tepat.
Satu detik...
Lima detik...
Satu menit...
Wajah sang devil tak lagi bisa diterjemahkan, sembari melirik ke arah Tanca dan mendapatkan anggukan kepala sebagai izin atas segala tindakannya nanti. Barulah ekspresi sang devil melembut. "Kenzo Dion Al Abizar!"
Kenzo menghentikan pencarian kata, tatapannya tertuju pada mata sang devil yang memanggilnya dengan suara sangat lembut. Rasa itu tidak akan pernah berubah. Rasa dimana panggilan sayang terdengar tulus. Namun, jauh di lubuk hatinya menyadari jika panggilan itu hanyalah sebuah jebakan. Apa daya jika suara sang devil sangat menghipnotis seperti magnet.
"OKAY, aku jelaskan. Hentikan menggunakan suara menjebak mu itu!" pinta Kenzo mengeluarkan jurus jitunya yaitu puppy eyes terimut.
__ADS_1
Sang devil mengubah ekspresi wajahnya ke mode garang kembali. Sontak Kenzo mengangkat kedua tangannya lalu menutupi kedua mata untuk menghindari menatap wajah kulkas dua puluh pintu di depannya itu.
Tanca hanya diam, dan memperhatikan saja. Kali ini bukan waktunya untuk ikut campur.
"Alasan pertama, aku hanya ingin mencoba racikan obat terbaru. Melihat OG itu, niat ku mendapatkan ilham. Alasan kedua, aku hanya ingin setidaknya ibu mendapatkan tempatnya sebagai seorang ibu meskipun aku tahu Ano tidak akan luluh. Alasan ketiga, aku tidak memiliki alasan. Kecelakaan itu terjadi tanpa ku sengaja. Sudah itu saja." jelas Kenzo lalu menghembuskan nafas kasar.
Tanca masih bersikap santai. Sedangkan sang devil masih memasang wajah datar tanpa ekspresi terkejut atau satu keluhan.
"Apa hukuman yang pantas untukmu?" tanya Sang devil.
Kenzo menurunkan tangannya. Tatapan matanya memohon pengampunan pada wanita nya yang masih diam tanpa memberikan pembelaan. Tanca sadar tengah dipandangi Kenzo dengan harapan mendapatkan pertolongan.
"Not now. Keselamatan mu jauh di atas kesalahanmu. Bee pastikan kawal Kenzo dua puluh empat jam! Bebaskan dia hanya saat bersamaku, atau Nyonya Abizar." putus Tanca tanpa keraguan.
Kenzo berdiri, "Ayolah! Kenapa aku harus dijaga seperti bayi lagi? Bukankah ini tidak adil?" protes Kenzo dengan kesal.
Sang devil membuka lembaran map terakhir, lalu meletakkan ke atas meja agar Kenzo bisa melihat. "Lihatlah!"
__ADS_1
Sontak Kenzo menatap ke atas meja, dimana sebuah foto seorang pasien rumah sakit terpampang jelas. Sejenak pria itu mengamati wajah pasien itu.
"Itu....,"