
Setiap bayangan memori masa lalu bergulir seperti bintang jatuh dari langit malam, membuat Ken sibuk mengingat masa lalu. Hingga matanya tak lagi mampu menahan linangan air mata dengan rasa sakit dari dalam hati. Sementara di tempat lain, suara menjijikkan mulai terdengar menggema mengisi seluruh ruangan terang benderang.
"Hurryy!"
Seorang wanita dengan mata pasrah sibuk memuaskan terong dengan mulutnya. Maju mundur tanpa henti seraya menahan sakit akibat jambakan rambut yang di lakukan sang penikmat service. Terong yang mengeras semakin sering berkedut hingga cairan hangat menyembur keluar, membuat wanita itu melepaskan mainannya.
Puk!
Puk!
Puk!
"Kemarilah! Sekarang giliranku." Sang penikmat service menepuk tepi ranjang agar wanitanya berpindah tempat.
Diam pasrah menurut seperti anak ayam. Tubuh polos keduanya terpampang jelas. Tatapan haus belaian sang penikmat service terpusat menelanj@ngi wanita di depannya dari atas ke bawah dengan menjulurkan lidah mengusap bibir sendiri.
__ADS_1
"Mas! Please, hentikan." cicit seseorang dari belakang, membuat sang penikmat service mengalihkan perhatiannya.
Seorang wanita terikat di kursi, dan diberikan hukuman untuk melihat permainan suaminya bersama wanita lain. Bukannya berhenti, tapi justru sang penikmat service mengulurkan tangan ke belakang dimana wanita pemuas nafsu berdiri. Sambutan hangat yang terasa, membuat pria itu menggeser posisinya ke samping, dan langsung merampas benda kenyal yang menjadi puncak bukit kembar.
Kegilaan sang penikmat service semakin ditunjukkan. Perlahan, tapi pasti. Suara lenguhan, *******, serta erangan menggema menusuk telinga, dan hati wanita yang terikat di kursi. Bagaimana tidak hatinya hancur tanpa sisa? Jika perbuatan bejad sang suami selalu terjadi di depan mata. Ruangan yang panas bertambah panas ketika jeritan wanita pemuas nafsu terdengar melengking.
"Aaarrrggghhh....,"
Tubuh dua insan itu bersatu sempurna diatas tempat tidur. Permainan baru dimulai, membuat sang penikmat service naik turun dengan ritme semakin cepat. Tidak ada tujuan selain kepuasan yang ingin dicapainya. Yah sebelum mencapai puncak kenikmatan, tentunya tidak akan menghentikan kegilaannya.
Sreet!
Goresan kulit, membuat luka berdarah mewarnai tali putih menjadi merah. Tanpa peduli rasa perihnya. Istri Sang penikmat service masih berusaha sekuat tenaga agar terbebas. Namun, usahanya sia-sia. Tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya terlalu kencang.
S!al! Apa yang harus aku lakukan? Ayolah berpikir! Aku harus menghentikan kegilaannya. ~ batin wanita itu mengumpat di dalam hati seraya mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
__ADS_1
Posisinya berada di depan jendela bertirai putih, dan jauh sofa meja ataupun ranjang. Tidak ada benda yang bisa dirinya gunakan untuk memotong tali belenggu di tangan dan kakinya. Kini hanya bisa mengumpulkan sisa tenaga seraya menarik nafas dalam agar tenang.
Dua jam kemudian.
Susunan kursi rapi berderet memenuhi sebuah aula di gedung pencakar langit lantai tiga. Di depan deretan kursi para awak media, terdapat satu meja yang panjangnya satu meter dengan banyaknya mikrofon di atas meja. Bisikan para tamu undangan mulai menghangatkan aula.
"Apa yang akan diumumkan, ya?"
"Ntahlah. Semua channel diundang tanpa terkecuali."
"Benar. Kami diundang dadakan, bahkan undangan langsung mendarat di meja pemimpin."
Masih banyak bisikan lain dari para awak media yang bingung diundang dalam rangka. Hingga semua orang mengalihkan perhatian mereka. Disaat pintu aula terbuka, dan sebuah langkah memasuki aula dengan langkahnya yang anggun.
Seorang wanita bergaun biru laut dengan blazer putih panjangnya. Kacamata hitam, masker yang menutupi wajahnya, rambut tergerai, dan cincin berlian yang paling menonjol memancarkan kemewahan.
__ADS_1
"Dia....,"