
"Ano, bawa Ken ke kamar!" titah Tanca tak tahan melihat keterpurukan Kenzo sekali lagi, terlebih setelah seminggu usahanya mengembalikan semangat Ken dan kini dirusak Lea dalam sekali gerakan.
Ano masih diam dengan kedua tangannya terkepal hingga kukunya memutih, tapi satu sentuhan di bahu membuat pria itu memejamkan mata untuk menetralkan emosinya yang lumer seperti lahar gunung berapi.
"Pergilah bawa Ken ke atas!"
Keano menahan emosinya seraya berjalan mendekati Ken, lalu merangkul saudaranya dan meninggalkan ruang makan menaiki tangga. Sedangkan Tanca mengibaskan tangan kirinya agar semua pelayan yang menonton drama itu membubarkan diri.
"Apa semua itu perbuatanmu, Lea?!" Nyonya Abizar menarik lengan Lea agar menghadap ke dirinya.
Bukannya menunjukkan wajah menyesal. Lea justru tersenyum puas. Tangannya melepaskan tangan Nyonya Abizar. "Ada apa? Aku hanya mengatakan kebenaran yang nyata. Rahasia yang selalu menekan emosiku akhirnya terungkap sudah, dan kini tidak seorang pun akan meragukan ku sebagai ibu dari kedua putraku."
Prook!
Prook!
Prook!
Tepuk tangan Tanca, membuat Lea, Nyonya Abizar dan Dion serempak mengalihkan perhatian mereka pada sosok wanita tegas yang tidak peduli akan rasa sakit di tangannya.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya, Aku melihat bukti IBU EGOIS." Tanca menunjuk wajah Lea, "Contohnya KAMU LEA!"
Lea tersenyum sinis seraya menunjuk ke dirinya sendiri. "Aku? Hahahaha, apa kamu tidak bisa berkaca?"
Lea maju satu langkah setelah menurunkan tangannya. "Wanita berumur sepertimu bermimpi menjadi menantuku. Kamu pantas menjadi seorang ibu, bukannya menjadi istri putraku. Wanita murahan! Bisa-bisanya....,"
Sebuah benda terbang melayang dan terjatuh tepat di belakang Lea dengan suara nyaring.
Praaang!
Semua terkejut, tapi tidak dengan Tanca yang melihat siapa pelakunya. Lea berbalik melihat apa yang terjadi. Pecahan guci berserakan di lantai, tatapan tajam melayang ke arahnya.
Wajah murka Ano begitu dingin, datar dengan alis terangkat. Bibirnya terkunci rapat, tapi langkah kakinya mantap menuruni tangga satu persatu.
Kemarahan anak satu ini persis seperti Michael. Tidak akan kubiarkan seorang pun tahu identitas ayah asli mereka. Sebelum istri tak berguna ku membuat ulah lagi. Sebaiknya aku pikirkan sesuatu yang bisa meredakan ketegangan kali ini.~batin Dion dengan jari tak tenang.
Nyonya Abizar berjalan menghampiri sang cucu, tapi Ano mengangkat tangannya agar neneknya tidak mendekat. Sedangkan Tanca memilih melangkah mundur. Hingga terhenti tepat di samping Dion. Satu lirikan, membuatnya paham jika Dion tengah dilanda kegelisahan.
Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi belum waktunya kebenaran lain terungkap. Anggap saja ini sebagai permulaan. Aku janji padamu monster Dion. Jika karmamu jauh lebih menakutkan. ~batin Tanca dan kembali fokus menatap ke depan dimana Ano sudah berhenti tepat di depan Lea dengan jarak tiga meter.
__ADS_1
"Apa kamu mau ku panggil ibu?" tanya Ano lembut.
Suara yang sangat lembut. Hingga bisa melumerkan sekotak es krim, membuat Lea mengangguk dengan mata berkaca. Sebagai seorang ibu tentunya ucapan Ano terdengar tulus, dan pikiran jika sang putra sudah menerimanya terlintas di dalam kepala.
Ano mengangkat kaki kanannya berniat melangkahkan kaki, tapi pecahan guci menjadi penghalang nya. "Majulah, Bu! Lihatlah aku tanpa alas kaki, bagaimana aku bisa berjalan di atas pecahan guci yang tajam."
Lea mengalihkan perhatiannya ke bawah, sejenak terdiam memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Jika berjalan melewati pecahan guci yang tajam, tanpa wanita itu sadari dari arah belakang Tanca melepaskan sepatu heels nya.
Dion yang menyadari betapa nekadnya tangan kanan bundanya itu, tertegun dengan umpatan di hati.
Apa di rumah ini, masih ada wanita yang waras? Satu istri tak berguna, dan satu lagi wanita ini! Lihatlah cara jalannya tanpa keraguan menuju rasa sakit yang pasti menusuk. Dasar wanita gila!~umpat Dion di dalam hatinya.
"Stop!" seru Keano menahan pergerakan Tanca yang siap melangkah di atas pecahan guci.
Mata terbelalak dengan bibir melongo karena tidak percaya wanita yang baru saja dihina melakukan permintaan putranya tanpa pikir panjang. Sementara dirinya masih berpikir panjang kali lebar.
"Nak!" seru Nyonya Abizar menahan dadanya yang terasa sesak, membuat Tanca mengalihkan perhatiannya dan melihat wajah pucat sang mami.
Tanca tetap melangkahkan kaki di atas pecahan guci, tapi langkahnya bukan menuju ke Ano. Melainkan berlari menghampiri Nyonya Abizar, dimana wanita paruh baya itu mulai sempoyongan.
__ADS_1
Ano melihat kemana arah Tanca. "Nenek!"