Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 44: Kehilangan Hak - Balas dendam?


__ADS_3

"Welcome to my life," ucap keduanya bersamaan dengan membuka kotak dengan tangan terulur.


Keano menyambut tangan Tanca dengan senyuman yang terkembang sempurna, membuat wanita itu menyematkan cincin dengan bertahta berlian putih berbentuk bulat ke jari manis tangan kiri prianya.


Begitu pula dengan Kenzo yang meniru tindakan Keano tanpa senyuman. Wajah datar dengan tatapan tajam terarah ke Sang devil. Namun, wanita itu tidak gentar dan tetap menyematkan cincin bertahta berlian putih berbentuk kotak.


Prook!


Prook!


Prook!


Suara tepuk tangan dari arah pintu masuk, membuat semua orang beralih menatap ke arah pintu masuk dimana sepasang pasutri berdiri.


"Orang tua Duo K, bukankah ini sangat terlambat?"


"Come on, kita semua tahu jika pria itu telah diusir dari rumahnya sendiri."


"Sudah-sudah! Disini kita hanya datang untuk menghormati nyonya Abizar beserta cucunya."


Dion bersama Sang istri berjalan diatas karpet merah dengan wajah angkuh. Seakan tidak ada yang tahu kasus pengusiran pria itu, tapi ada satu orang yang berusaha menahan rasa takut di dalam hatinya.


Sang devil melirik ke arah Sang kakak. Ketenangan wajah Tanca masih sangat jelas, tapi tatapan matanya perlahan mulai berubah. Ingin rasanya mendekati dan memberikan pelukan hangat. Namun, apa daya ketika keadaan pun tidak mendukung.


Dion bersama istrinya naik ke atas panggung, dan berhenti di depan Nyonya Abizar. Melihat itu, Tanca melepaskan tangan Keano dan menghampiri wanita paruh baya yang selalu di panggilnya mami.

__ADS_1


Tidak peduli dengan ingatan yang mengusik pikirannya. Tanggung jawab sebagai seorang pelindung memberikan kekuatan tersendiri.


"Bunda membuat keputusan terbesar untuk kedua putraku tanpa meminta izin dari kami orang tuanya. Apakah ini kebijaksanaan seorang nyonya Abizar?" Dion menyindir bunda nya sendiri tanpa perasaan.


"Putra kalian? Benarkah?" sindir balik Ano yang enggan mendengar bualan pria itu.


Keano berjalan, lalu berdiri di depan Tanca dan Sang nenek. Kedua tangannya terlipat di dada. "Akan aku ingatkan. Sejak dua belas tahun lalu, dimana kalian meninggalkan dua anak di dalam kobaran api. Sejak saat itu, kalian telah kehilangan hak sebagai orang tua kami."


"Ano....,"


Keano mengangkat tangan kanannya menghentikan saudara kembarnya agar tidak menyela dirinya mengatakan kebenaran di depan publik.


"Nak!" panggil lirih istri Dion.


"Jangan menjatuhkan harga diri yang tinggal satu tangga itu! Aku membiarkan kalian kembali, tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya meminta hak atas kami. Siapa kalian? Apa kalian lupa dengan tindakan kalian?" cecar Keano, membuat Tanca langsung memeluk pria itu dari belakang.


Ano mengusap punggung tangan Tanca. "Diam dan nikmati pestanya! Jangan membuat ulah, atau aku akan membuat kalian menyesal."


"Kau!"


Dion menghentikan niatnya karena genggaman erat tangan Sang istri.


"Para hadirin, silahkan menikmati jamuan makan malam!" seru Ano dengan tatapan tajam terarah ke papanya yang menatap dirinya dengan tatapan murka.


Kenzo memilih diam, seharian ini hidupnya seperti roller coaster. Terombang-ambing tanpa arah yang pasti. Kini semua orang menikmati hidangan dengan perbincangan saham, properti dan hal lainnya secara random.

__ADS_1


Sedangkan Tanca memilih meninggalkan pesta dengan degupan jantung. Langkah kakinya berjalan menyusuri lorong hotel menuju balkon taman lantai utama. Di tangan kanannya sebotol champagne.


Pintu kaca di geser, aroma bunga melati menusuk menyebar bersama hembusan angin yang menerpa. Gaun pesta yang mengembang memperindah pemandangan di taman balkon hotel itu. Langkahnya terhenti tepat di pinggir pagar besi yang terbentang melengkung.


"Langit pun gelap, segelap hidupku. Aku tahu pilihanku adalah jalan salah, tapi semua harus kulakukan. Kini tujuanku bukan lagi balas dendam, tapi....,"


Pyaar!


Suara pecahan di belakangnya, membuat Tanca berbalik dan tatapan mata kecewa terlihat jelas dari pria di depannya itu.


"Balas dendam? Apa maksudmu....,"


Tanca tersenyum, dan memilih duduk di atas rumput hijau di antara tanaman melati yang menyebar.


"Lihatlah pecahan di depanmu! Apa rasanya jika kaki tanpa alas kaki menginjaknya tanpa sengaja?" tanya Tanca menatap pecahan beling botol wine di depan pria yang menatapnya dengan tatapan tanda tanya.


Pria itu menatap pecahan di bawahnya. Mengkilap dan terlihat sangat tajam, runcing seakan menumpas nyawa dalam satu tusukan.


"Masalalu ku sama seperti pecahan itu, yah aku menginjaknya dengan sengaja. Dunia yang ku anggap layaknya pelangi, ternyata hanya ilusi dari pantulan kaca." Tanca melepaskan tutup Champagne yang memang sejak awal tidak tertutup rapat.


Tegukan demi tegukan mengalir ke dalam tenggorokannya. Seakan setiap tegukan menghilangkan rasa yang menggores di hatinya, membuat pria di depan sana berjalan menghampiri Tanca. Kemudian duduk di sebelah wanita yang menatap depan dengan tatapan kosong.


"Katakan semuanya! Anggaplah aku boneka pendengar yang baik." ucap pria itu dengan menyandarkan kepala Tanca ke pundaknya.


Tanca terkekeh mendengar ucapan pria di sampingnya. "Kamu ini sangat manis, apa kamu? Selama ini aku memilih diam....,"

__ADS_1


Suara langkah kaki terburu-buru memasuki balkon dengan gaun terangkat, membuat Tanca dan pria di sampingnya menatap intens ke depan.


"Syukurlah, Aku menemukan mu. Aku akan bawa Nona Angel ke kamar reservasi."


__ADS_2