Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 86: PERGILAH!


__ADS_3

Setelah mengingat apa yang menjadi inti dari masalah kali ini. Ia membuka mata, tapi tak ada wanitanya lagi. Tetapi suara langkah kaki menuruni tangga luar mansion mengalihkan perhatiannya. Benar saja Tanca sudah meninggalkannya. "Honey!"


Tanpa menunggu jawaban. Ano berlari menyusul Tanca yang sebentar lagi mencapai mobil sport hitamnya. Langkah jenjang pria itu terlalu cepat mengikis jarak. Hingga detik terakhir bisa menahan pintu mobil yang hampir saja terbuka


Nafas sedikit memburu, tapi tidak mengurangi tatapan mata penuh selidik tertuju pada sang tunangan.


"Aku bisa sendiri. Bantulah pihak kepolisian! Jangan menunda lagi, ingatlah saat ini yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik. Aku tidak mau mami mendengar berita buruk yang bisa memicu serangan jantung sekali lagi. Pergilah sayang!" Tanca menyingkirkan tangan Ano dengan senyum terbaik mengembang sempurna, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak!" titah Tanca pada sang supir, tentu saja kali ini harus menggunakan jasa driver mengingat kondisi kakinya masih dalam keadaan luka.


Kepergian mobil sport milik Tanca menyadarkan Ano. "Aish kenapa harus terlena dengan senyuman manisnya? Baiklah, sebaiknya aku lakukan seperti yang Tanca katakan. Semoga semua seperti rencanamu, honey."


Niat hati ingin melangkah masuk kembali ke mansion, tapi getaran dari saku celananya mengusiknya. Benda pipih yang bersembunyi dikeluarkan oleh Ano. Tatapan mata menatap layar yang tertera sebuah panggilan tak asing. Hanya satu geser, ponsel itu diletakkan menempel telinga.


[Dimana Tanca? Jangan biarkan Ka Runa keluar dari mansion!] ~ Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa dengan nafas memburu, mungkin saja sang penelpon tengah berlari.


"Apa maksudmu? Jelaskan!" tanya Ano tak paham.


[Pastikan saja Tanca tetap di mansion! Nyawanya dalam bahaya.]


Deg!


Rasa takut akan kehilangan tiba-tiba saja menyeruak menghadirkan rasa cemas. "Tanca baru saja keluar mansion dengan mobil sport nya."


Tuuut!

__ADS_1


Tuuut!


Tuuut!


"Owh damn it! PENGAWAL!" Seru Ano menggelegar, membuat semua telinga tersengat.


Tap!


Tap!


Tap!


Semua pengawal dari semua arah berlari menghampiri Ano. Wajah merah dengan tangan bersembunyi di balik saku celana. Siapa saja yang melihat pria muda itu, sudah pasti bisa menebak. Sang tuan muda dalam keadaan murka. Hitungan menit semua berkumpul di hadapan sang majikan.


Akan tetapi perintah dari wanitanya tidak bisa terabaikan. Apapun yang terjadi, ia harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga Abizar. Para pengawal membubarkan diri melakukan perintah tuannya. Tidak ada yang bingung akan permintaan sang majikan karena semua sudah terlatih untuk keadaan darurat seperti hari ini.


Ano bergegas masuk ke mansion, lalu membunyikan alarm yang biasa digunakan Tanca untuk pelatihan. Sontak semua pelayan yang bekerja terbirit-birit mencari arah suara. Tidak peduli dalam keadaan basah, kotor atau bau asem. Semua harus berkumpul dimana sang majikan berada.


Ano menatap seluruh pelayannya tanpa terkecuali. Meskipun tidak semua wajah ia kenall. Tetap saja dia tahu mana yang pegawai lawas dan pegawai baru. "Bi Yatun, katakan kenapa polisi berkunjung ke mansion?!"


"Tuan, anu itu maayaat....,"


Jawaban Bi Yatun membuat para pelayan saling pandang. Tetapi tidak dengan Ano, ia mengeluarkan ponsel lalu mencari sebuah berita seperti yang dijelaskan pak polisi. Setelah menemukan, ponsel dialihkan menghadap para pelayannya.


"Dengarkan, dan tonton seksama!" titah Ano mengeraskan volumenya.

__ADS_1


Berita dimana penemuan mayat dengan ciri-ciri yang disebutkan polisi. Sungguh membuat para pelayan berpikir keras. Hingga satu pelayan memperhatikan sebuah tanda lahir di pundak mayat itu.


"Tuan, bisa putar ulang videonya?" pinta pelayan berusia dua puluh tahun yang berdiri di depan Ano.


Ano melakukan seperti yang diminta pelayannya, memutar video siaran ulang itu, hingga tangan sang pelayan menunjuk ke layar ponselnya. "Ada apa? Kamu tahu sesuatu?"


"Hentikan videonya! Tanda lahir tompel besar itu kenapa aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana?" Pelayan itu menggigit jari telunjuknya untuk mengingat sesuatu.


"Bukankah Sri juga punya tanda lahir yang sama?" sambung Bi Yatun spontan, membuat semua pelayan ikut mengingat.


Beberapa pelayan wanita yang mengingat ikut mengangguk tanda sepaham dengan apa yang dikatakan Bi Yatun. Reaksi pada pelayan benar-benar menarik perhatian Ano. Sekarang ia paham kenapa Tanca ingin seluruh penghuni mansion kooperatif dengan pihak kepolisian. Namun, sesaat ingatannya tertuju pada ponsel yang ia sita dari salah satu pelayannya.


"Kalian bersiaplah! Sepuluh menit lagi akan datang bus untuk membawa semua orang ke kantor polisi. Katakan apa adanya, sisanya biarkan aparat negara bertindak. Pengacara akan mendampingi, jadi jangan takut. Pergilah!" jelas Ano membuka para pelayan.


Suara bisik di antara pelayan tak dianggap. Saat ini ia ingin mengetahui sesuatu, dan itu hanya ada di dalam kamar Tanca. Ano berlari kecil menyusuri setiap lantai, lalu menaiki anak tangga menuju kamar dengan pintu berhias dreamcatcher bulu merak. Ada rasa ragu untuk memutar knop pintu, tapi rasa penasaran tidak mampu ditahan lebih lama.


"Maafkan aku, honey." gumamnya akhirnya memutar knop pintu, tapi sayangnya pintu tetap tertutup yang berarti terkunci. "Sekarang bagaimana? Apa aku harus mendobrak pintunya?"


Dilema yang dialami Ano membuat pria itu semakin dilanda rasa penasaran. Sementara ketegangan menyelimuti dua insan yang kini harus menghindar dari serangan dadakan.


"Belok kanan, dan masuk ke gang sisi barat!"


"Nona, remnya blong!"


"WHAT'S?!"

__ADS_1


__ADS_2