
Aruna mengusap perutnya yang kian membuncit, kandungannya terbilang cukup sehat dan baik-baik saja. Akan tetapi, sebelum memulai pertempuran kembali. Ia harus memastikan semuanya aman. Termasuk kondisi si jabang bayi, "Ke rumah Dokter Xavier, Jalan xxx."
Mobil melaju meninggalkan hutan. Tatapan mata Aruna masih menatap rumahnya dari kaca spion, hingga genggaman tangan terasa menggenggam tangannya. Hal itu, membuat dia menoleh mengalihkan perhatian dimana Keano menatapnya dengan senyuman manis. Ia tahu, sang suami ingin memberikan dukungan dan juga semangat baru.
"Kita bisa kembali, jika kamu masih belum siap."
Aruna menggelengkan kepala, tidak ada lagi yang harus dicemaskan. Meskipun, ia harus menjadi amukan keluarga Abizar. Kali ini, dirinya sudah siap. Perjalanan panjang yang menguras waktu, membuat wanita itu terlelap. Sementara Keano fokus menyetir, dan tidak ingin mengganggu istrinya yang pasti kelelahan. Waktu berlalu begitu cepat, perjalanan selama satu jam akhirnya berakhir.
Mobil Ano memasuki sebuah rumah mewah berlantai dua tanpa gerbang. Ia mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengaman. Sejenak menatap Aruna yang masih terlelap. Wajah cantik yang bersinar, senyuman manis dengan kondisinya yang hamil. Justru semakin menambah anggun, tidak akan ada yang menyangka jika usia tidak muda lagi.
Keano mengusap pipi Aruna, membuat wanita itu terbangun, "Ayo turun, kita sudah sampai, Honey."
Aruna menganggukkan kepala, dan dibantu Ano melepaskan sabuk pengaman. Keduanya keluar dari mobil secara bersamaan, lalu berjalan menuju rumah yang berjarak lima meter dari tempat parkir mobil. Rumahnya memang mewah, tapi tetap sepi seperti tidak ada penghuninya. Aneh sih, atau mungkin saja dokter itu tinggal sendirian.
Niat hati ingin mengetuk pintu, tapi tangannya ditahan sang istri. Ternyata untuk menemui Dokter Xavier hanya bisa dengan melakukan panggilan telepon. Setelah Aruna memutuskan panggilan, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu. Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan kacamata bulat besar membukakan pintu.
__ADS_1
"Ayo, masuk!"
Pria dengan penampilan koki mempersilahkan Aruna dan Keano masuk ke dalam rumah. Langkah demi langkah, membuat Keano menatap bangunan rumah sang dokter. Mewah dengan desain modern, tapi terlihat begitu pucat karena tidak ada banyak barang yang mengkombinasikan ruangan demi ruangan.
Sang dokter langsung membawa tamunya keruangan pemeriksaan. Tidak ada basa basi, tapi Keano beberapa kali menoleh ke arah sang istri. Terlihat wanitanya tetap santai seperti dipantai. Itu berarti selama ini yang menjadi dokter pribadi rahasia Aruna adalah dokter Xavier. Pasti tidak salah lagi. Ya sudahlah, karena yang terpenting adalah kesehatan istri dan si jabang bayi.
"Tuan, silahkan Anda menunggu diluar. Mari, Miss Aruna!"
"Tunggu, Aku suaminya dan kamu melarang ku...,"
Aruna mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar Keano tenang karena semua baik-baik saja. Sontak saja, pria itu pasrah. Bukan karena tidak bisa melawan, tapi ia tak ingin membuat sang istri mendapatkan masalah atau moodnya berubah menjadi tidak baik. Dokter Xavier membuka pintu, mempersilahkan Aruna masuk. Lalu pintu ditutup, setelah sang dokter ikut masuk.
Pemeriksaan yang membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Hampir saja Ano menenggelamkan diri dalam emosi, tapi terbukanya pintu ruangan pemeriksaan membuat pria itu langsung menyambut Aruna ke dalam dekapannya. Ciuman kening hangat untuk menyalurkan rasa rindu dan cemas nya, membuat dokter Xavier geleng-geleng kepala. Ternyata istri pasiennya terlalu overlove.
"Ano, ada apa denganmu?" tanya Aruna menangkup wajah prianya.
__ADS_1
Ano tersenyum tipis, tatapan matanya terpatri pada netra yang selalu membuatnya jatuh cinta, "I'm fine, Dok, bagaimana keadaan istri dan anakku?"
"Hasil pemeriksaan bukan tanggung jawab ku. Berikan waktu pada istrimu, dia sendiri yang akan mengatakan itu. Bukan begitu Miss Aruna?" Dokter Xavier melirik Aruna, dimana wanita itu terlihat menyembunyikan rasa khawatir berbalut senyuman manis.
Satu hal yang ia sadari, suami Aruna bukan pria yang sangat peka. Rahasia di mata wanitanya saja tidak bisa ditebak, dan semua itu karena silaunya senyuman manis. Meski begitu, ia tidak berhak mengatakan bagaimana keadaan sang pasien. Pasal-pasal perjanjian sudah ia sepakati. Jadi biarkan takdir Tuhan bekerja sendirinya.
Tatapan mata Ano serius, tapi tak membuat Aruna gentar sedikitpun. Wanita itu justru masih tersenyum manis, padahal jika ada yang melihat isi hati dan pikirannya. Sudah bisa dipastikan akan jatuh pingsan. Banyak luka dan rahasia yang tersembunyi berkecamuk di dalam jiwanya.
"Dok, Aku tunggu Anda di kota. Jangan lupa, pertemuan satu bulan lagi. Ayo, Ano! Kita harus ke tempat konferensi pers."
"Ok, boy jaga istrimu dan jangan sampai kelelahan."
Pertemuan mereka terbilang singkat. Perjalanan kembali dilanjutkan. Setelah keluar dari rumah Dokter Xavier, Keano kembali melajukan mobilnya ke jalanan utama. Dimana masih banyak rumah yang jaraknya tidak berdekatan. Satu hal yang saat ini dia pikirkan. Bagaimana bisa, Aruna melakukan pemeriksaan dari rumah di hutan ke seperempat perjalanan menuju kota.
Jarak yang jauh, pasti bisa membuat seorang wanita hamil kelelahan hanya karena duduk dan fokus menyetir. Jika diingat, tidak sekalipun ia mendengar keluhan sang istri. Jadi, bagaimana kehidupan Aruna berlangsung selama tidak ada dia di dekat wanita itu. Satu hal yang ia sadari, wanitanya terlalu tangguh dan siap bertahan hidup seorang diri.
__ADS_1
Jadi, disini itu. Siapa yang tidak bisa hidup tanpa pasangannya? Dirinya atau Aruna? Jelas sekali, jawabannya adalah seorang Keano. Kenyataannya, Aruna bisa dan mampu menjadi pribadi yang mandiri tanpa bantuan seorang pria, sedangkan ia harus kehilangan arah hanya karena tidak bersama wanita yang menjadi ratu di hati.
Usapan lembut terasa menyentuh bahu kiri Ano, membuat pria itu menoleh ke samping. Tatapan matanya kembali tenggelam dalam ketenangan, "Fokus, singkirkan semua pikiran yang mengganggumu. Aku disini bersamamu, hmm."