Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 91: PERTANYAAN KENZO - JAWABAN TANCA


__ADS_3

"Silent! Aku mengirimkan semua data, periksa dan kirim balik padaku! Jangan katakan apapun, cukup kerjakan!" Ucap Aurel langsung mematikan panggilan, dan menghapus riwayat panggilan sebelum meletakkan kembali ponsel ditempat semula.


Pintu mobil depan dan belakang dibuka secara bersamaan. Tiga orang masuk kedalam, lalu saling menatap satu sama lain.


"MD, kenapa Tanca tertidur?" tanya Ken penasaran.


Aurel meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya agar pria itu diam dan jangan mengganggu sang kakak. Helaan nafas dan pejaman mata membiarkan wanita itu kembali fokus menyetir meninggalkan rumah sederhananya. Perjalanan benar-benar hening selain suara deru mesin mobil.


Satu jam kemudian. Akhirnya mobil memasuki gerbang mansion Abizar. Para penjaga hanya berjaga tanpa harus bertindak ketika yang datang adalah mobil dengan plat nomor perusahaan yang bernaung dibawah RD Company.


"Ka, bangun. Kita sudah sampai." Ucap Aurel mengusap pipi sang kakak pelan, membuat wanita itu mengerjap menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya.


"Bee, bisa periksa mansion? Apa semua sudah pulang atau masih di kantor polisi." pinta Tanca seraya melepaskan sabuk pengaman.


Aurel menggelengkan kepala benar-benar gemas dengan permintaan sang kakak. "Kenzo, Pak Mi, kalian masuk saja dulu! Ka Runa biar aku yang urus."


"Kamu ini ngusir aku?" celetuk Ken tak suka dengan pengusiran yang dilakukan Aurel.

__ADS_1


"Apa ini waktunya bertengkar? Ken, ambil kursi roda di belakang!" Aruna menghentikan awal percikan api yang blum membakar apapun. "Ken?!"


"Huft, okay, tapi kursi roda siapa?" tanya Kenzo mengalah.


"Kursi roda ku." Jawab Aruna, membuat pria di belakang langsung memajukan tubuhnya memeriksa raga sang pujaan hati. "Ken, aku baik. Calm down, okay."


"Astaga kenapa ini? Tanganmu lecet dan itu kaki mu diperban lebih tebal dari kemarin. Sebenarnya ada apa?" tanya Ken secara beruntun.


Posisi Ken yang maju begitu dekat tanpa jarak jauh, membuat Tanca mendorong dada pria itu agar mundur ke belakang. "Sekarang ambil kursi roda ku! Kita bicara di dalam, dan Pak Mi bisa ikut Bee masuk ke dalam mansion duluan."


Keempat orang keluar dari mobil. Aurel dan Michael yang berjalan di depan disusul Kenzo yang mendorong kursi roda Tanca dari belakang.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Kenzo mendorong kursi roda sangat hati-hati bahkan terbilang sangat lambat saking pelannya.


"Hubungan kita tidak sejauh itu. Hingga kamu perlu izin untuk bertanya. Tanyakan apapun yang kamu inginkan. Aku tidak akan berubah, paham?!" Jelas Tanca menghadirkan senyuman di wajah Kenzo.


"Aku tidak akan mengeluh kenapa harus bertunangan dengan wanita yang selama ini ku takuti peraturan dunia kerjanya. Tetapi ada yang mengganjal dari dalam hatiku." Kenzo berhenti mendorong kursi roda, "Kenapa dia yang menjadi pilihanmu? Apa tidak bisa aku mencari pasangan ku sendiri?"

__ADS_1


"Good questions. Bisa katakan, apa kekurangan Bee?" tanya balik Tanca.


"Tidak ada, tapi kamu lebih mengenalku. Apa benar dia bisa mengimbangi kehidupan ku?" Kenzo kembali melemparkan pertanyaan diatas pertanyaan.


Aruna mengangkat tangan kanannya menunjuk ke pintu utama mansion. "Sebuah hubungan sama halnya seperti sebuah rumah. Pondasi dari dasarnya harus kuat, dan mampu menahan badai yang akan datang. Aku memilih Aurel bukan tanpa sebab. Sikapmu sembilan puluh persen adalah kenakalan. Sisanya kedewasaan."


"Enzo, itu nama kesayangan dariku untukmu sejak beberapa tahun silam. Yah, aku memang mengenalmu luar dan dalam, tapi aku juga manusia biasa. Ken, jangan paksakan cinta untuk datang menyapa. Cukup belajarlah menerima kehadirannya sebagai teman hidupmu. Jika, suatu saat nanti hatimu masih tidak bisa menerima. Jujurlah padanya, Enzo yang ku kenal selalu paham kapan waktunya bersikap dewasa." Jelas Tanca membungkam pria yang berdiri di belakangnya.


Kursi roda kembali di dorong oleh Ken tanpa jawaban atas semua penjelasan Tanca. Semua yang diucapkan wanita itu sangatlah jelas dan ia pahami. Apapun yang akan terjadi di masa depan. Keputusan tetap ada ditangannya.


Suara langkah kaki dari samping rumah terdengar terburu-buru menghampiri wanita yang kini duduk di atas kursi roda. Sontak hal itu membuat Tanca mengangkat tangannya agar Ken berhenti menunggu seorang pelayan yang berlari ke arah mereka.


"Ada apa?" tanya Tanca begitu si pelayan berjongkok mengatur nafasnya yang terdengar ngos-ngosan.


Si pelayan mengarahkan tangannya ke sisi samping mansion. "Non, di sa-na...,"


"Disana? Ada apa?" tanya Tanca tak paham karena pelayan itu benar-benar dalam keadaan pucat pasi dan gugup.

__ADS_1


__ADS_2