
Pisau yang tergenggam di tangan Lea dibiarkan. Akan tetapi, Ano menggenggam tangan wanita itu. Kemudian memaksakan arah tusukan tepat mengenai perut si ibu palsu. Aruna tercengang karena tindakan suaminya terlalu cepat. Warna merah mengalir bahkan ketika pisau di cabut tanpa permisi.
"Dunia tidak butuh nyawa penuh dosa seperti mu."
"Bee, bawa mereka pergi. Sekarang!"
Perintah Aruna, membuat Bee tak bisa berpikir jernih. Semua rencana menjadi berantakan. Sekarang, semua harus menjadi tragedi. Wajah tegang sang kakak cukup menjelaskan situasi tidak kondusif lagi. Mau, tak mau harus membawa si kembar meninggalkan tempat itu.
Aurel membisikkan sesuatu pada Kenzo, dan suaminya mengangguk paham. Tidak peduli seberapa dalam perbedaan pasangan itu. Keduanya tetap bekerja sama untuk menarik Ano meninggalkan hotel melalui jalan lain. Sementara Aruna masih diam di tempat, hingga segerombolan anak buahnya masuk membawa senjata.
Namun, kesadaran Lea masih cukup untuk meraih pisau yang tergeletak di lantai, lalu bersiap menyerang Aruna. Sayangnya salah satu anak buah TanCa melihat pergerakannya itu, sontak saja menyambar belati yang ada di lengan dan tak pelak menggores tangan si wanita serakah.
"Boss, milikmu."
Sang anak buah melemparkan sebuah topeng, dimana Aruna langsung memakai tanpa menunda waktu. Diantara kekacauan, si gadis kembar seperti orang tidak waras. Tidak ada rasa takut atau histeris. Justru terus bertepuk tangan seperti menonton hiburan. Sudah pasti, kedua gadis itu sakit jiwa.
Kini, Lea menahan rasa sakit, tapi tetap tidak menyerah. Sesaat berteriak karena rasa perih dan ngilu akibat goresan hingga tangan satunya mencoba untuk mengambil pisau yang terjatuh. Sekali lagi dengan harapan bisa melenyapkan sang menantu pembawa s!al.
Akan tetapi, Aruna langsung menginjak tangan Lea seraya memegang dagu wanita itu, kemudian mendongakkan agar menatap dirinya, "Permainan ini dimulai puluhan tahun lalu. Apa kamu ingat, pertemuan pertama kita? Tentu tidak akan lupa. Bagaimana rasanya, apa sakit?"
Lea merintih karena tangannya terasa remuk, sedangkan mulutnya tidak bisa berbicara. Bagaimana menjawab, jika Aruna memberikan kode pada anak buahnya untuk menyumpal bibirnya. Mata itu terlihat beringas, seakan tidak memiliki hati. Meski benar, semua berawal dari perbuatannya sendiri.
Dulu, disaat dia tahu perselingkuhan Dion dengan Aruna. Tanpa belas kasih menyewa preman hanya untuk menyiksa wanita itu, bahkan secara sadar menyiramkan air pel untuk dijadikan sebagai peringatan. Siapa sangka, di saat yang bersamaan. Ternyata wanita itu tengah mengandung.
Berbagai macam cara sudah dilakukan. Namun hanya satu cara yang bisa menjauhkan suaminya dari wanita polos yang menjadi selingkuhan yaitu mengadu domba. Setiap waktu, tiada hentinya mengatakan jika Aruna mengandung anak pria lain. Usahanya memang berhasil, tapi meski perpisahan terjadi. Ternyata Dion tetap memiliki banyak wanita simpanan.
__ADS_1
Perubahan wajah yang semakin terawat dan cantik. Tak membuatnya lupa, siapa itu Aruna. Jiwa yang terluka masih membara, meski kenyataannya wanita itu hanyalah korban dari kebejatan sang suami. Miris, tapi seperti itulah kenyataan yang tidak bisa terpisahkan dari garis kehidupan seorang Lea.
Aruna memberikan hukuman dari setiap rasa yang pernah dia terima. Satu yang menyesakkan, ketika kenyataan bahwa bayinya tidak bisa diselamatkan dan di dalam kasus itu. Lea ikut andil, dimana salah satu suster di sogok untuk memberi obat yang manjur untuk menggugurkan bayi. Kehidupan begitu rumit, seperti benang yang menyatu hingga berubah menjadi kusut.
Hari ini menjadi akhir dari kejahatan Lea, sedangkan si kembar Rara dan Rani sengaja dikirim ke salah satu rumah sakit jiwa agar mendapatkan perawatan yang baik. Hotel itu menjadi saksi berakhirnya kisah diantara Aruna, Lea dan Dion. Kisah balas dendam akan luka yang dipendam oleh seorang gadis polos.
Siapa yang akan memahami garis kehidupan? Dunia ini hanya penuh misteri. Setiap waktu selalu tentang pilihan. Setiap pilihan akan menjadi awal baru dengan ekspektasi yang berbeda. Perjuangan tidak akan pernah berakhir karena semua akhir menjadi awal.
Satu bulan berlalu. Terdengar suara tawa dari dalam rumah kediaman Abizar. Bukan karena menyewa badut, tapi suasana rumah terlihat lebih tenang, nyaman. Namun, tetap saja ada kekacauan. Dimana lagi, jika bukan di dapur. Ntah dari mana ide memasak ala chef Korea. Nyatanya, semua bahan melompat dan terbang kesana kemari.
Pluk!
"Kamu bisa gak, sih? Aku cuma minta dibuatin kimchi. Trus ini malah jadi gado-gado, bisa masak, gak, sih?!"
"Bee, mau Kakak yang buatin kimchi? Lihat, si kembar sudah tidur. Jadi kamu ke kamar baby Z aja, biar Ken urusan ku."
Aurel hanya bisa menghentakkan kaki, lalu berjalan meninggalkan dapur dengan entah mengoceh tentang apa. Kepergian sang adik, membuat Aruna tersenyum tipis. Kemudian mengambil ponselnya, sesaat mencari yang dia butuhkan. Setelah mendapat yang dicari, barulah ia letakkan ke tempat yang strategis.
"Cara membuat Kimchi, video sudah ku atur tempo lambat. Jadi dengarkan dengan baik. Suamiku, tolong pastikan Ken membuatnya sendiri. Bukan memesan dari restoran."
"Hey, kejam sekali .... "
"Ken, dia kakak iparmu. Pergilah, Honey, Ken biar menjadi urusan ku."
"Ya, ya, ya. Pergi saja, siapa yang peduli padaku .... ''
__ADS_1
Aruna berbalik kembali menatap Ken, "Kehidupan ini hanya tentang belas kasih. Kita bisa menyerah, tapi tidak untuk kebahagiaan keluarga. Kita bisa membalaskan dendam, tapi tidak untuk cinta sejati. Ken, dunia ini terlalu kecil untuk dikeluhkan. Nikmati, dan bersyukur. Sebentar lagi, kehidupan baru melengkapi keluarga kita. Ingatlah, jika tubuh dan jiwa ini bukan hanya milik diri sendiri."
.
.
.
🍫🍫⭐⭐⭐⭐🍫🍫⭐⭐⭐🍫🍫⭐⭐⭐⭐🍫🍫
*Ketika tidak ada lagi kata. Maka yang tersisa hanya rasa. Namun, rasa itu hanya kehampaan bukan kebahagiaan. Inilah akhir dari emosi yang membara.
Terkadang manusia lupa, kehidupan ini hanyalah sementara. Tidak untuk memiliki, atau dimiliki.
Pilihan itu nyata. Namun, kita sendiri memperumit. Berpikir sudah tidak ada jalan lain. Nyatanya, itu tidak benar. Jalan kebenaran dan keburukkan, selalu ada disetiap pilihan. Layaknya kejujuran.
PILIHANMU ADALAH TANGGUNG JAWAB MU.
Bukankah seperti itu? Lalu, kenapa banyak yang berpikir *TIDAK BISA*. Anehnya, begitulah manusia.
Meski sudah mendapatkan cahaya. Tetap saja, mengabaikan begitu saja.
Dunia ini, terlalu sederhana untuk disatukan. Namun, terlalu luas untuk dipeluk. Lalu, bagaimana menjalani kehidupan tanpa rasa takut? Semua kembali pada diri masing-masing. Mau berjuang atau menyerah? Mau bersabar atau memaksakan?
Akhir dari kisah selalu menjadi milik kita sendiri karena ini kehidupan kita, bukan orang lain. Bukankah begitu*?
__ADS_1