
Lima menit kemudian,
Tanca berjalan menghampiri Ken yang berdiri mematung setelah suara intimidasi nya.
Tap!
"Ken....,"
Kenzo berlutut dengan tangkuban tangannya. Tatapan mata yang terangkat ke atas, membuat Tanca diam membiarkan pria itu melakukan apapun yang diinginkan terlebih dahulu.
"Jujurlah padaku, Honey. Apakah hari spesialmu menjadi penentu pilihan pasangan hidup mu?" tanya Kenzo dengan mata cemas.
Pertanyaan itu, membuat Tanca terdiam. Tatapan sendu dengan posisi Ken yang seperti anak kecil. Justru membuat hatinya tak ragu lagi. Mata jernih dengan bulu mata lentik itu terpejam. Satu tarikan nafas dalam memenuhi rongga dadanya.
"Hari special kemarin adalah hari perjodohan. Benar, setelah penyatuan bersama Ano. Maka saudaramu yang akan menjadi pasangan ku....,"
Ken menutup telinganya. "Tiiiidaaaak!"
Seruan Kenzo benar-benar menggema keseluruhan mansion, Tanca masih tenang menatap pria di depannya. Sedangkan yang lain hanya bisa menyaksikan dari balik tirai jendela di dalam mansion.
Seburuk apapun keadaannya nanti. Tetap hanya satu orang yang bisa mengendalikan keadaan, yaitu Tanca. Terlebih Kenzo adalah type pria yang mengikuti sikap dari sang papa. Ketika dihadapkan dengan wanita jauh lebih manja.
Tatapan mata Ken perlahan hilang tanpa arah. Tanca mendekat lalu merengkuh tubuh Ken ke dalam pelukannya. Usapan lembut di kepala pria itu. Perlahan memberikan ketenangan.
__ADS_1
Hiks...
Hiks...
Hiks...
"Kenapa? Apa aku tidak pantas untukmu? Kenapa kamu jahaat, hiks....,"
Suara sengau Ken menyusup ke dalam hatinya. Namun, tidak mungkin dirinya memiliki dua pria sekaligus. Semua harus benar dan tidak akan menimbulkan masalah hingga ke depannya. Isakan tangis pria itu masih terdengar dan semakin tak terkendali, membuat suasana semakin miris.
"Ken, wake up!" Tanca memegang kedua bahu Kenzo lalu membantu pria itu untuk bangun dari posisinya yang sungguh menyiksa perasaannya juga.
Kenzo berdiri dengan tubuh kaku, tatapan kosong dan sembab. Gurat kesedihan bercampur putus asa sangat jelas terlihat di mata pria itu. Tanca masih memegang kedua bahu Ken dengan tatapan lembut menenangkan.
"Tetapi, kehidupan masih panjang. Begitu pula dengan masa depan. Kalian sudah dewasa. Hubungan hanya bisa dari dua sepasang manusia, bukannya tiga pasang manusia. Apa kamu ingat pertanyaan mu saat masa sekolah?" jelas Tanca mencoba memberikan pengertian pada Kenzo.
Kenzo menatap mata Tanca dengan rasa sedih dan luka yang menggores di dalam hatinya. "Deru panas dengan sensasi listrik yang mengalir ke tubuhku. Rasanya ingin aku memilikimu seutuhnya, tapi kenapa Tanca tidak mengizinkan kami melakukan penyatuan?"
Tanca tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Kenzo. Pria itu masih mau menjawab pertanyaannya dan mengingat pertanyaannya sendiri meskipun sudah cukup lama terjadi.
"Katakan padaku, Ken. Jika seorang wanita hamil dengan memiliki dua pria di atas ranjangnya. Bayi milik siapa di dalam rahim wanita itu?" tanya Tanca menghentikan tangisan Ken.
Pria itu menatap Tanca lebih dalam, membuat Tanca mengedipkan kedua matanya dengan senyuman manis. "Benar, Ken. Aku tidak menyentuh kalian melewati batas, karena kalian tidak bisa menjadi milikku dalam satu hubungan intim. Selama sepuluh tahun, Aku tidak membiarkan kalian memasuki kamarku. Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu menunggu hari spesial yang sudah ditetapkan sebagai hari.....,"
Bibirnya terhenti. Ucapan pun tak sanggup mewakili rasa sakit hati dengan luapan emosi kekecewaannya. Bayangan selama sepuluh tahun terakhir melintas seperti klise film hitam.
"Aku tahu ini sulit, Ken. Percayalah, semua akan baik....,"
Ken menarik Tanca, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana perpisahan terjadi. Bahkan jiwa dan raga seorang Kenzo tidak mengizinkan wanita lain menyentuh apalagi memilikinya.
Pelukan yang begitu erat, tapi Tanca tidak memberontak. Dirinya tahu benar jika Kenzo hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kenyataan baru di dalam hidupnya.
Dua puluh menit kemudian,
"Ayo masuk, Ken. Semua sudah menunggu kita." Tanca mengulurkan tangannya dan bersambut hangat, meskipun Kenzo masih dalam dilema.
Keduanya meninggalkan halaman samping taman, dan berjalan menuju halaman depan untuk mencapai pintu utama mansion.
Sedangkan di dalam mansion. Semua sudah duduk di sofa ruang tamu dengan wajah tegang. Pembicaraan serius baru saja berakhir.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, membuat penghuni ruang tamu menatap ke arah pintu. Langkah keduanya berjalan beriringan dengan gandengan tangan. Keano menatap pemandangan itu sesaat lalu menundukkan wajahnya.
Maafkan, Aku. Andai kita bukan saudara kembar, tapi hubungan tidak mungkin berubah. Kenapa jadi seperti ini? Semoga saja saudaraku siap menerima kenyataan baru.~batin Keano.
__ADS_1