
Sang devil meninggalkan map di atas meja. Langkahnya berlari kecil menghampiri Tanca, lalu menghamburkan diri mendekap tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu. Tanca memeluk Bee dengan erat, satu tangannya terangkat mengusap kepala Sang devil.
"Apa kabarmu, Bee?" tanya Tanca lirih.
Tanpa sadar cairan bening menetes begitu saja dari sudut matanya.
"Apa ini?" tanya Sang devil yang merasakan basah di pundaknya.
Tanca mengusap air matanya. "Bukan apa-apa, Bee."
"Ka?" panggil Sang devil dengan tatapan menelisik.
Tanda melepaskan pelukan lalu memegang kedua bahu gadis di depannya. Tatapan mata yang terpatri pada mata sendu dengan luka sayatan di pipinya itu. Tatapan Tanca sungguh menyebarkan aura kerinduan yang teramat dalam, membuat sang devil kembali memeluk wanita di depannya.
"Ka, apa kita akan kuat? Takdir macam apa yang kita terjang? Bee tidak mau kehilangan kakak....,"
"Calm down, Bee! Selama semua seperti rencana kita, all fine. Kamu paham apa maksudku 'kan?" Tanca mengusap kepala sang devil dengan kasih sayang.
Sekali lagi, sang devil melepaskan pelukan. Namun, kini tatapannya terarah keluar jendela di belakang Tanca. Kegelisahan di matanya dengan bibir terkunci rapat, membuat Tanca sadar apa yang dipikirkan gadisnya itu.
"Kemarilah!" Tanca menggandeng tangan sang devil lalu berjalan menuju kursi kerjanya. "Duduk, Bee."
"Semuanya tidak ada yang kita tutupi, karena kita ini keluarga. Benar bukan? Jadi, aku akan katakan satu hal tentang pertunangan nanti." ucap Tanca sedikit hati-hati agar gadisnya tidak terkejut.
__ADS_1
Nada bicara yang terkesan terlalu lembut. Jelas memberikan clue tersendiri bagi sang devil. Firasat akan hal tidak baik terkoneksi begitu saja. "Apa itu aku?''
Tanca memejamkan mata seraya menganggukkan kepala membenarkan apa yang menjadi isi pikiran gadisnya. Tangan yang mengepal begitu erat, garis rahang tertarik lebih kencang bersamaan mata tajam siap menerkam.
Aura di dalam ruangan perlahan berubah menjadi panas. Tanca membuka matanya.
Greeb...
Tanca merengkuh tubuh gadisnya ke dalam dekapannya. "Bee, tenang! Please!"
Wush...
Sang devil melepaskan pelukan, tapi dirinya tetap sadar untuk tidak melukai Tanca. Satu dorongan kaki menggeser kursinya lalu tangannya terangkat. "Tetap ditempat,"
Tanca tetap mendekat, "Tidak Bee. Bukan disini, ikut denganku!"
Deretan buku tentang bisnis dengan sebuah buku novel thriller menjadi tujuannya. Dimana rak tengah paling bawah. Tanca berjongkok tanpa melepaskan tangannya dari tangan sang devil.
Novel thriller yang terhimpit di antara buku bisnis diambil. Kemudian novel itu dibuka dengan satu tangan kirinya. Lubang ditengah terpampang jelas dengan sebuah tombol kepingan koin berukiran bunga teratai.
"Putar arah jarum jam sekali, dan arah sebaliknya dua kali!" titah Tanca menyodorkan buku pada sang devil.
Sang devil melakukan seperti perintah Tanca tanpa membantah. Begitu selesai memutar kepingan koin sebesar genggaman tangan itu. Deritan benda bergerak terdengar, dan rak di depan mereka perlahan bergeser.
__ADS_1
"Ayo masuk!" ajak Tanca menutup novelnya.
Keduanya berjalan memasuki ruangan lain. Sebuah ruangan dengan desain modern dan dipenuhi berbagai alat latihan fisik. Sebuah ranjang berukuran sedang dengan satu meja dan kursi sederhana di sampingnya. Tanca melepaskan genggaman tangannya.
Prook!
Prook!
Prook!
Sliiing....
Sebuah pintu kaca terbuka, membuat mata gadisnya terpesona akan apa yang dilihatnya. "Ka, itu....,"
"Semua boleh kamu hancurkan, tapi jangan pernah tunjukkan amarahmu pada siapapun selain aku!" Tanca menggeser tubuhnya menatap sang devil, "Bee, kamu keluarga ku satu-satunya. Keselamatan mu jauh di atas keselamatan semua orang termasuk nyawaku. Jika bisa, pergilah Bee....,"
"Never. Aku adalah bayanganmu. Seorang bayangan tidak akan berkhianat. Meskipun kakak Ar meminta sejuta kali, keputusan ku tetap stay di sisi kakak." putus Sang devil dengan tatapan serius.
Tanca menghela nafas pasrah. Bee tidak pernah mau mundur setiap kali diminta untuk pergi dari sisihnya. "Hmmm. Pergilah lampiaskan amarahmu. Pastikan berita ini di antara kita! Aku pergi dulu."
Bee mengangguk, dan membiarkan kakaknya pergi meninggalkan ruangan rahasia. Sementara di tempat lain wajah kusut seorang pria tengah mencengkram gelas di tangan kanannya dengan erat. Tatapan mata pria itu tertuju pada jalanan dimana orang-orang yang lalu lalang.
"Permisi, Tuan. Anda mau pesan apa?" tanya seorang pelayan restauran.
__ADS_1
Pria itu bukannya menjawab, tangannya justru langsung menarik kaos si pelayan agar mendekat ke arahnya. "Shhtt, berisik!"
"Ekhem! Hay tampan,"