
"Mas, beneran mau membawa si kembar ke kantor?!" tanya Alea lagi memastikan. Hari ini Alvan berniat membawa si kembar ke kantor tentunya bersama dengan Alea dong.. karena kalau pergi kemana pun harus lengkap.
"Iya sayang.. mas pengen juga sekali-kali kerja di temani sama si kembar. Mas juga mau denger celotehan mereka. Kangen banget tau seharian gak ketemu si kembar." jawab Alvan yang sudah menggendong Ayra dan meletakkannya ke stroller bayi. Sementara Arkana masih di susui oleh Alea.
"Ya udah kalau kamu maunya begitu." ujar Alea.
Sampainya di kantor, para karyawan sibuk menatap kedatangan Alvan yang membawa anak kembarnya. Pasalnya mereka belum pernah melihat anak dari bos mereka itu. Papanya aja ganteng, mama juga cantik pasti anak mereka tampan dan juga cantik ya. Itulah celetukan dari beberapa karyawan Alvan. Dan masih banyak lagi pujian untuk mereka.
"Mas, kenapa mukanya di tekuk gitu? Perasaan tadi di mobil senyum-senyum aja." ucap Alea yang melihat wajah suaminya di tekuk dan saat ini mereka lagi berada di dalam lift.
Kemudian Alvan menarik Alea agar lebih dekat dengannya, "Mas kesal semua karyawan cowok mas gak berhenti menatap kamu." kesal Alvan yang langsung menyambar bibir Alea rakus.
"Terus, itu salah aku mas.. Ya kan kita gak bisa melarang mereka." ujarnya.
"Kamu tuh cantik banget sih sayang.." ucap Alvan yang langsung memeluk Alea. "Mas gak mau kalau mereka pada ngeliatin kecantikan kamu." tambahnya
"Lalu aku harus gimana? Apa aku harus pakai topeng gitu?!" Alea tersenyum geli dengan ke posesifan suaminya.
"Boleh juga." sahut Alvan.
"Yang ada si kembar takut dong, lihat mamanya pakai topeng. Terus kalau kamu sendiri gimana mas? banyak tuh wanita-wanita yang menatap kamu. Gak kamu lihat apa karyawan kamu yang cewek terpesona dengan kamu." ucap Alea jadi juga ikutan kesal.
"Tapi kan mas gak pernah merespon meraka dan gak perduli juga." Alvan kembali mencium bibir Alea.
"Sama dong, aku juga begitu mas.." Alvan langsung cemberut.
__ADS_1
"Tetap aja mas gak rela kecantikan kamu di liat laki-laki lain." Alea tersenyum geli melihat suaminya cemberut seperti itu. Kayak anak kecil yang gak di belikan mainan.
"Malu ih mas sama anak kamu!"
"Biarin!"
Lift berhenti, kemudian Alvan dan Alea mendorong stroller si kembar. Berjalan menuju ruangannya Alvan sempat-sempatnya mencium pipi istrinya.
"Love you.." ucap Alvan dan Alea hanya tersenyum saja menanggapi ucapannya.
"Loh mas, sekertaris kamu ganti?!" tanya Alea yang melihat seorang wanita cantik duduk di kursi sekretaris.
"Iya sayang, Heri di pindah ke Bandung." jawab Alvan, Alea terus memperhatikan sekretaris suaminya itu. Sementara Sekretaris Alvan yang baru, menatap Alvan yang lagi mendorong stroller bayi bersama dengan wanita yang juga mendorong stroller bayi juga. Apakah wanita yang memakai hijab itu adalah istrinya pak Alvan ya. Itulah yang ada di pikiran Sekretaris Alvan.
"Selamat pagi pak.." sapa sekertaris Alvan yang baru bernama Susi. Alvan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kemudian Susi menatap Alea, tapi tidak menyapanya.
Alvan pun sibuk dengan pekerjaannya, Alea sendiri sedari tadi ia hanya diam saja dan wajahnya juga terlihat cemberut. Sesekali Alea mengajak si kembar bermain. Alvan menghela nafasnya, ia bisa melihat perubahan sikap istrinya itu setelah mereka masuk keruangan nya.
Alea keluar dari kamar pribadi Alvan yang ada didalam ruangannya, setelah meletakkan si kembar yang sudah tidur di ke box bayi yang ada di kamar itu. Ternyata Alvan sudah menyiapkan box bayi itu dua bulan setelah si kembar lahir. Alvan sengaja membelinya dan meletakkan di ruangan nya, agar ketika ia mengajak si kembar ke kantornya mereka tidak meletakkan nya ke kasur. Sebab Alvan takut kedua anaknya jatuh kalau mereka meletakkannya di kasur. Jadi ia membeli box bayi itu.
Alvan menghentikan pekerjaannya dan ia berjalan menghampiri istrinya yang sudah duduk di sofa.
"Sayang kamu kenapa, hmm?!" tanya Alvan yang sudah duduk di samping istrinya.
"Gak ada apa-apa." jawab Alea tanpa mau menatap wajah Alvan dan ia sibuk main ponsel.
__ADS_1
"sayang kalau mas ada salah, please kasih tahu apa kesalahan mas. Soalnya mas gak bisa kalau kamu cuekin kayak gini." ucap Alvan lagi. "Sayang..!" Alea diam saja. "Sayang..!" Alea juga masih diam saja.
Hatinya sangat sakit, istrinya mendiamkannya seperti ini. Alvan tiba-tiba saja teringat ketika mereka pertama kali menikah, ia juga sikapnya datar pada Alea. Dadanya terasa sesak, mengingat hal itu. Dia aja hatinya sesakit ini di cuekin istrinya gimana istrinya dulu. Kemudian Alvan pun menarik Alea agar duduk di pangkuannya. Alvan menarik tengkuk Alea lalu mencium bibir istrinya. Sementara Alea hanya diam saja tidak membalasnya. Alvan memeluk pinggang istrinya agar tubuhnya lebih dekat padanya.
"Lepasin ih mas! Entar ada yang masuk!" ucap Alea masih dengan nada datar. Alvan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas gak akan lepasin, sebelum kamu kasih tahu mas kamu kenapa. Dan apa salah mas." ucap Alvan.
"Sayang..!" Alvan menarik dagu Alea agar bisa menatap wajah Alea yang menatap ke arah lain. Alvan tersenyum, ia malah gemas melihat wajah istrinya cemberut. "Sayang.. Kenapa?!" tanya Alvan dengan lembut." Alea menatap mata Alvan. Alea bisa melihat Alvan menatapnya penuh cinta. Kenapa ia meragukan suaminya? tidak mungkin suaminya berpaling darinya. Tapi walaupun begitu tetap saja ia tidak suka dengan sekretaris suaminya yang cantik dan seksi itu. Apalagi Alea bisa melihat wanita itu seperti terpesona dengan suaminya. Dan suaminya juga semakin hari semakin terlihat sangat tampan, gimana para wanita tidak terpesona dan menyukai suaminya ini. Alea langsung memeluk suaminya sangat erat, membuat Alvan jadi bingung.
"Mas gak akan tinggalin aku kan..?!" tanya Alea di sela pelukannya. Alvan benar-benar menjadi bingung tiba-tiba saja istrinya mengatakan itu.
"Sayang, kenapa berbicara seperti itu?! Mana mungkin mas tinggalin kamu, tidak akan pernah sayang. Kamu kan tahu mas sangat mencintai kamu." ujar Alvan sembari mengelus punggung Alea.
"Hei jujur sama mas, sebenarnya ada apa?!" tanyanya.
"Tapi mas jangan marah.. Kalau aku jujur sama mas." Alvan menganggukkan kepalanya. "Mas, sebenarnya aku gak suka dengan sekretaris mas, dia sangat cantik dan seksi. Aku takut mas bakalan suka sama dia dan mas akan ninggalin aku." ungkap Alea. Mendengar perkataan istrinya, Alam tersenyum. Ternyata istrinya tengah cemburu. Tapi ia suka istrinya cemburu, itu berarti istrinya sangat mencintainya.
Alvan mencium bibir Alea singkat, "Gak akan sayang.. Kamu tenang aja, secantik dan seseksi apapun dia, mas gak akan pernah tergoda dengan wanita itu. Kamu mau tahu, kalau hati mas udah mentok di kamu. Hati ini tidak akan pernah mau lagi pindah ke hati yang lain. Lagian cantikan kamu lagi dari sekretaris mas." jelas Alvan sembari tersenyum geli melihat istrinya cemburu seperti ini.
"Tapi lihatlah pakaiannya, aku gak suka. Mas tidak mungkin gak lihat dadanya yang hampir keluar itu." Alvan tertawa lepas mendengar ucapan istrinya.
"Mas udah pernah tegur dia jangan pakai pakaian seksi seperti itu, tapi entah mengapa dia masih juga memakainya." beber Alvan yang masih tersenyum geli melihat wajah cemberut istrinya.
"Bisa gak sih dia di ganti mas.. Bukan maksud aku menyuruh mas memecat dia. Maksud aku pindahkan aja sekretaris mas ke divisi lain." pinta Alea sembari memainkan Dasi Alvan.
__ADS_1
"Gimana ya sayang.. Bukannya mas gak mau, tapi cara kerja dia bagus dan cepat. Gini aja entar mas tegur lagi dia untuk tidak memakai pakaian seksi seperti itu." ucap Alvan yang langsung menyambar bibir Alea dengan rakus.