
"Mau apa lagi Lo ketemu sama gue, hah?!" tanya Tasya pada Bian. Ya, saat ini mereka udah bertemu dan duduk berdua di sebuah Cafe. Setelah ia selesai di interogasi dengan Arya dan Alvan tadi di kantor tempatnya bekerja, Bian langsung menghubungi Tasya dan syukurnya Tasya mau di ajak ketemu.
"Santai Sya, jangan marah-marah melulu lo. Entar Lo cepat tua!" ucap Bian seraya tersenyum tipis menatap Tasya.
"Udah jangan banyak bicara Lo, cepat mau bicara apa Lo sama gue!" ucap Tasya ketus. "Tapi tunggu dulu, muka Lo kenapa? kok lebam gitu?!" tanya Tasya.
"Ini..?!" Bian sembari menunjukan jarinya di tempat yang lebam.
"Iya!"
"Ini, biasa laki-laki..!" jawab Bian. "Oh iya gue mau tanya, apa Lo masih ingin menghancurkan hubungan Alvan dan Alea?!" tanya Bian dengan serius.
"Kenapa emang? apa Lo berubah pikiran?!" tanya Tasya yang masih berbicara dengan nada ketus.
"Iya, gue berubah pikiran. Gue pikir-pikir gak ada salahnya merebut Alea dari Alvan. Mungkin awalnya Alea tidak mencintai gue. Tapi entar lama-kelamaan Alea pasti bisa mencintai gue juga." ucap Bian.
Tasya menautkan kedua alisnya sembari menatap Bian intens. "Lo yakin dengan apa yang Lo ucapkan? entar Lo berubah pikiran lagi."ujar Tasya antara percaya dan tidak.
"Kali ini gue yakin dan gak akan berubah pikiran lagi!" ucap Bian serius mencoba meyakinkan Tasya agar dia percaya.
"Oke. Apa renacana loh?!" tanya Tasya.
__ADS_1
"Rencana Gue adalah gue ingin menculik Alea dari Alvan." jawab Bian.
"Terus?!" tanyanya lagi.
"Terus gue akan bawah Alea pergi jauh dari hidup Alvan. Dimana Alvan tidak bisa menemukan kami berdua. Dan satu permintaan gue ke Lo."
"Apa?!"
"Lo bisa kan menutupi kepergian kami.. menghilangkan jejak kepergian kami, agar Alvan tidak bisa menemukan gue dan Alea. Dan gue juga akan mengganti identitas kami, gue yakin Lo bisa melakukan itu." Tasya pun mencoba berpikir sejenak.
"Baiklah, akan gue bantu kepergian Lo ke luar negeri. Asal Lo dan Alea tidak pernah kembali lagi ke Indonesia. Agar gue lebih mudah mendekati Alvan kembali." ucap Tasya menyanggupi permintaan Bian. Dengan Alea di bawa' pergi jauh dari Alvan, itu mempermudah baginya merebut hati Alvan kembali. Ia akan membuat seolah-olah Alea pergi meninggalkan Alvan demi lelaki lain. Padahal tanpa Tasya ketahui ia sudah masuk kedalam jebakan Bian dan Alvan.
"Oh iya Sya, apa Lo mengenal seseorang yang bisa di perintahkan untuk menculik Alea?! soal bayaran itu mah gampang." ucap Bian.
"Sebenarnya apa?!" tanya Bian sembari menatap Tasya serius, ia yakin pasti Tasya ingin mengatakan kalau dirinya udah menculik Alea.
"Ayo Tasya katakan di mana Lo udah menyembunyikan Alea." ucap Bian dalam hati.
"Bian, sebenarnya gue udah berhasil menculik Alea..!" ucap Tasya akhirnya.
"Apa?!" Bagian pura-pura terkejut.
__ADS_1
"Iya Bian, gue telah menculik Alea. Dan sekarang dia lagi gue sekap di sebuah rumah."
"Lo?!" geram Bian yang mulai emosi, namun selanjutnya ia sadar kalau ini masih dalam misi. "Hmm, oke dimana Alea sekarang? Lo gak ngapa-ngapain dia kan?!" tanya Bian yang sebenarnya kuatir kalau Tasya udah berbuat sesuatu pada Alea.
"Lo tenang aja. Dia masih hidup dan sehat, hanya saja ada sedikit luka di wajahnya kerena gue tampar." ucap Tasya memberitahukan keadaan Alea.
"Apa?!"
"Gak usah lebay lo! dianya aja yang mancing-mancing gue jadi gue kelepasan!" ucap Tasya santai tanpa merasa bersalah.
Sementara Alvan yang mendengar percakapan Bian dan Tasya sangat emosi. Ya, saat ini mereka berada di dalam mobil Arya dan mobil Arya terparkir tepat berada di parkiran Cafe dimana tempat Tasya dan Bian bertemu. Alvan dan Arya bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan Bian dan juga Tasya dengan melalui sambungan telepon. Ponsel Alvan terhubung dengan ponsel Bian dan Bian sengajah meletakkan ponselnya dia atas meja agar mereka bisa mendengar dengan jelas percakapan nya dengan Tasya.
"Kurang ajar Lo Tasya!" geram Alvan ketika mendengar kalau Tasya telah menampar pipi Alea. Alvan udah sangat geram dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.
"Sabar Al, sebentar lagi kita akan menemukan Alea." ucap Arya menenangkan Alvan.
"Gue gak bisa tenang Ar.. sebelum gue benar-benar bertemu dengan Alea." ucap Alvan kuatir dan frustasi dengan keadaan bidadari surganya sembari masih terus mendengarkan percakapan Bian dan Tasya di telpon. Sampai akhirnya Tasya menyebutkan alamat tempat dimana penyekapan Alea.
"Oke Al, itu alamatnya udah kita dapetin." ucap Arya. "Good Bian," Ucap Alvan. "Ya udah ayo kita langsung kesana!" ajak Alvan.
"Tunggu Al, biarkan mereka dulu yang pergi kesana. Kita akan mengikutinya dari belakang, sekalian gue mau menghubungi polisi untuk datang ke lokasi." saran Arya yang dia anggukin oleh Alvan.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil Tasya pun keluar dari parkiran Cafe bersama dengan Bian. Dan Arya juga mengikutinya dari belakang yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan mobil Tasya.