Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 41


__ADS_3

Sampainya di apartemen, mata Alvan melihat keseluruh ruangan Apartemen nya. Tiba-tiba saja Alvan teringat kebersamaannya dengan Alea di apartemen miliknya. Biasanya kalau lagi berada di apartemen, atau tidak bekerja mereka sering duduk santai di dekat jendela kaca sambil melihat ke arah luar dimana pemandangan kota Jakarta kalau malam hari terlihat indah. Mereka juga berbincang, bercanda tertawa dan saling curhat masalah mereka masing-masing, dengan di temani teh hangat ataupun minuman coklat panas. Sudut bibir Alvan tanpa sadar melengkung mengingat kebersamanya bersama Alea.


Kemudian Alvan berjalan menuju dapur, dimana letak favorit Alea. Sebab Alea suka sekali memasak, dan masakan yang selalu dibuat oleh Alea rasanya tidak pernah gagal selalu saja enak. Membuat dirinya ingin nambah kalau sudah memakan masakannya. Apalagi kalau sudah membuat kue, cake atau membuat brownies kesukaannya, Alea pasti sangat antusias.


Alvan pun keluar dari dapur, lalu pandangan nya tertuju pada ruang tv. Biasanya Alea menemaninya mengerjakan pekerjaan kantornya. Alea selalu menunggunya sembari menonton tv. Terkadang sampai Alea ketiduran di sampingnya. Di ruang tv ini Alvan sering mencuri ciuman di bibir manis Alea dan di ruang tv ini juga Alvan mencium Alea pertma kali.


Tapi sekarang, semua itu tidak akan terjadi lagi. Sebab Aleanya sudah pergi dari Apartemen maupun dari hidupnya. Yang ada hanya kenangnya saja dan bayangannya.


"Mas sangat merindukanmu, Alea. Sangat. Kamu ada dimana sekarang Alea.." lirih Alvan.

__ADS_1


Tubunya serasa sangat lelah. Alvan pun memutuskan untuk istirahat, dan besok ia akan kembali mencari Alea. Alvan berjalan menuju kamar, tapi bukan masuk kekamarnya, ia malah masuk ke kamar Alea. Entah mengapa ia ingin tidur di kamar Alea, untuk mengurangi rasa rindunya pada Alea. Saat masuk kedalam kamar Alea, Alvan masih mencium hatum parfum di kamar Alea yang sering di pakai oleh Alea.


"Ya ampun Alea, mas benar-benar gak kuat. Mas sangat merindukanmu, ingin melihat wajahmu." monolog nya sembari terus berjalan menuju ranjang.


Di ranjang, Alvan melihat sebuah paper bag. Dan ia baru ingat paper bag itu yang di berikan oleh Ghea saat ia dirumah mamanya. Dan Ghea bilang ini dari Alea untuknya. Buru-buru Alvan langsung membuka paper bag itu dan mengambil isinya.


Ada sebuah kotak dan surat, Alvan pun membuka kotaknya. Sebuah jam tangan dengan model maupun warnanya cocok ditangannya dan dasi yang menurutnya warnanya juga sangat bangus. Itulah isi dari kotak tersebut. Kemudian Alvan beralih pada suratnya, lalu membacanya.


Happy birthday mas Alvan... Semoga Allah selalu melindungi mas, selalu di beri kesehatan, umur panjang. Dan semoga apa yang kamu inginkan maupun kamu cita-citakan tercapai ya mas.. Maaf mas, hanya ini yang bisa aku berikan kepada mas. Karena aku bingung mau kasih kado buat kamu, apa. Mungkin jam tangan dan dasi ini harga nya tak semahal dengan Jam tangan dan dasi yang kamu miliki mas. Tapi aku berharap kamu suka. Hehehe...

__ADS_1


Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, dan kebahagiaan kamu, mas.. Sekali lagi selamat ulang mas Alvan..


Dari


Aleandra


Alvan meneteskan air matanya, setelah membaca isi surat ucapan ulang tahun dari Alea. Kenapa Alea begitu baik, padahal ia sudah menyakitinya. Tapi Alea tetap mendoakan yang terbaik untuknya. Sungguh benar-benar bodoh dirinya membiarkan wanita sebaik Alea dan setulus Alea pergi dari hidupnya. Dibandingkan dengan Tasya, sangat jauh berbeda. Alea jauh lebih baik dari Tasya. Alvan menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.


"Mas suka, Alea. Mas suka kado yang kamu berikan untuk mas. Terimakasih untuk doanya, mas berharap bisa menemukan kamu dan kembali padamu Alea. Mas akan selalu pakai jam tangan ini, agar selalu mengingat mu, Alea." monolog Alvan.

__ADS_1


Alvan meletakkan kotak jam tangan dan dasinya di atas nakas. Kemudian Alvan membuka laci nakas tepat di samping ranjang, siapa tahu aja ada barang atau apa saja milik Alea yang tertinggal. Saat sudah terbuka Alvan melihat ada dua kartu ATM di dalam laci itu. Alvan pun langsung mengambilnya. Alvan ingat ATM yang ia pegang adalah pemberian darinya yang sengaja ia berikan ke Alea untuk membeli keperluan rumah dan yang satu untuk keperluan Alea sendiri. Ia tidak menyangka, Alea tidak membawanya. Bahkan ia baru sadar tidak pernah ada notifikasi dari Bank di ponselnya. Itu berarti Alea tidak pernah memakai atau menggunakan ATM yang ia berikan. Lagi-lagi Alvan mengutuk dirinya sendiri yang sangat bodoh.


__ADS_2