
Di Apartemen, Alea tengah memasukan barang-barangnya maupun pakainnya kedalam koper sembari meneteskan air matanya. Setelah Alea selesai berbicara pada Ghea, Alea pamit balik ke apartemen. Alea sudah memutuskan untuk pergi dari semuanya, mau itu dari hidup Alvan maupun dari kota Jakarta. Dan ia tidak tahu akan kembali lagi ke kota ini atau tidak. Yang jelas, Alea ingin menenangkan hatinya yang lagi patah dan berusaha untuk melupakan Alvan dari hidupnya. Ya walaupun sulit tetapi ia akan mencobanya.
Selesai memasukkan pakaiannya kedalam koper, Alea keluar dari kamar. Alea menatap keseluruh ruangan, otaknya kembali mengingat setiap kebersamaan nya bersama Alvan, tanpa sadar membuat Alea tersenyum sendiri. Kemudian Alea berjalan masuk kedalam kamar Alvan, dengan pelan ia membuka pintu kamar. Alea pun langsung berjalan menuju meja dimana letak berkas perceraian yang tidak sengaja ia baca, tadi. Alea pun mengambil berkas tersebut dan membacanya kembali. Setelah selesai membaca Alea mengambil pena di meja dan menandatangani berkas perceraiannya. Di lihat Alvan belum ada menandatangani berkas nya. Tapi dengan adanya berkas perceraian ini, sudah jelas kalau Alvan mengingikan perceraian.
"Ya Allah mengapa waktu begitu cepat? Ya Allah aku masih ingin bersamanya bahkan ingin menua bersamanya." lirihnya.
Alea menghela nafasnya mencoba menahan sesak di dadanya.
"Mas, kenapa aku begitu sangat mencintai mu.. Awalnya memang kita terpaksa menikah, tapi seiring berjalannya waktu cinta itu tumbuh gitu aja di hatiku tanpa bisa aku cegah. Padahal aku tahu kamu tidak mencintaiku dan hanya mencintai Tasya." monolog nya.
Sebelum keluar dari kamar Alvan, Alea menulis surat terlebih dahulu untuk Alvan, dan pada saat menulis surat, kembali airmatanya menetes. Rasanya berat, jauh dari Alvan, begitu besarnya rasa cintanya untuk Alvan. Setelah selesai, Alea segera beranjak dari sofa dan langsung keluar kamar Alvan dengan menggeret koper nya.
"Selamat tinggal mas, aku selalu berdoa kamu selalu bahagia." monolognya sembari melihat lagi sekeliling Apartemen milik Alvan. Kemudian Alea keluar dari apartemen. Ia akan bertemu dulu dengan Reyhan dan Ghea untuk berpamitan. Alea melihat jam sudah pukul 12 siang, masih ada waktu untuk untuk bertemu sahabatnya.
*
"Alea, Lo serius mau pergi dari kota ini?" tanya Reyhan udah entah yang keberapa kali.
__ADS_1
"Iya Rey.." jawab Alea. "Sebenarnya berat buat pergi, tapi aku gak kuat Rey jika kalau suatu hari aku bertemu dengannya." tambah Alea lagi.
"Ale, sungguh gue gak mau Lo pergi. Tapi jika ini pilihan yang terbaik buat Lo, aku selalu dukung dan mendoakan kebahagian Lo." ucap Ghea yang juga ada di situ.
"Ale, dulu Lo bilang kota Jakarta adalah harapan Lo untuk meraih kesuksesan. Tapi sekarang apa?! hanya Karena satu orang saja Lo akan pergi dari sini?!" ucap Reyhan tak habis pikir dengan pilihan Alea. "Semua ini gara-gara Lo Ghe, andai Lo tidak memaksa Ale menikah dengan kakak Lo! semua ini tidak akan terjadi. Alea pasti akan baik-baik saja dan Ale tidak akan merasakan sakit hati." tuduh Reyhan pada Ghea yang membuat Alea menatap tak suka dengan ucapan Reyhan.
"Rey, ini tidak salahnya Ghea. Tapi ini memang sudah jalannya seperti ini." bantah Alea.
"Reyhan benar Ale, andai gue gak maksa lo. Lo pasti akan tetap bahagia seperti biasanya dan tidak merasakan sakit hati. Ale, maafin gue yang tidak pikir panjang dengan maksa Lo nikah dengan kak Alvan." Alea menggelengkan kepalanya.
"Gak Ghe, Lo gak perlu minta maaf. Jujur awalnya memang iya aku sedikit marah, tetapi aku berusaha ikhlas. Mungkin ini udah jalan dari maha kuasa. Tapi seiring berjalannya waktu aku nyaman menjadi seorang istri. Dan aku menyukainya, sampai akhirnya aku jatuh cinta padanya. Padahal mas Alvan pernah bilang, kalau dia menganggap aku sebagi teman atupun adik." jelas Alea. "Please Rey, Ghe. Kalian adalah sahabat ku, dan satu-satunya keluarga yang aku miliki. Jadi, aku mohon pengertian dari kalian, biarkan aku pergi untuk menata hatiku kembali. Walupun sulit, tapi aku akan berusaha untuk melupakan cinta pertama ku." tambah Alea lagi. Ya Alvan adalah cinta pertamanya.
"Udah sini aku mau peluk kalian, mudah2n kita bertemu lagi." ucap Alea dan mereka bertiga pun akhirnya berpelukan.
"Jaga dirimu baik-baik ya Ale. Gue pasti sangat merindukanmu. Jika gue ada waktu luang, gue akan datang menemui Lo."ucap Reyhan yang semakin memeluk Alea erat.
"Kamu juga Rey. Dan ya, jangan suka mainin wanita Rey, stop Rey. Belajarlah untuk mencintai satu wanita, jangan nantinya kamu menyesal." ucap Alea memperingatkan.
__ADS_1
"Ck. Lo tahu Ale, gue hanya mencintai satu wanita dan itu Lo!." aku Reyhan.
"Rey ja_-"
"Oke, iya." sela Reyhan langsung yang tidak mau mendengar jawaban dari Alea. Karena ia tahu apa yang akan di ucapkan wanita itu.
"Ghe, maaf ya aku gak bisa membuat mas Alvan jatuh cinta padaku. Jaga dirimu baik-baik Ghe, aku sangat menyangi kalian berdua. Oh iya, sampaikan permintaan maaf ku kepada papa dan mama. Karena aku belum bisa menjadi menantu yang baik. Dan terimakasih Ghe, kamu udah mau bantu aku." ucap Alea. "oh iya satu lagi, jangan pernah memberitahunya tentang keberadaan ku jika dia bertanya." tambah Alea lagi mengingatkan pada kedua sahabatnya.
"Iya kami tahu." sahut mereka berdua.
"Ghe, aku juga titip kado ini buat kakak kamu, ya?!" Ucap Alea sembari menyerahkan paper bag kepada Ghea.
"Ale, Lo masih mau ngasih kado buat lelaki itu! setelah apa yang ia lakukan padamu?! kenapa Lo tuh jadi orang baik banget sih Ale..!" geram Reyhan.
"Rey..."
"Iya oke, terserah kamu!" kesalnya.
__ADS_1
Alea pun langsung tersenyum menatap Reyhan.