
Waktu terus berjalan, tak terasa udah sebulan telah berlalu setelah kejadian dimana Alea di culik dan masuk rumah sakit saat terkena tembakan yang di lakukan oleh Tasya.
Tasya juga sudah di jatuhi hukuman 12 tahun penjara oleh pengadilan. Karena sudah menculik Alea dan sampai menyelakai Alea. Alvan benar-benar membuat Tasya mendekam di penjara begitu lama. Rasanya Alvan masih belum puas hukuman Tasya segitu, Alvan maunya Tasya di hukum seumur hidup. Tapi mau gimana lagi semua udah keputusaan dari Pengadilan.
Tasya sempat menyewa beberapa pengacara agar bisa membantunya, namun sayang tidak ada yang berhasil membantunya. Dan karena masalah itu, karirnya sebagai model seketika hancur, semua kontrak di batalkan secara sepihak. Tasya juga di pecat secara tidak hormat oleh agensi model tempat membesarkan namanya. Alvan benar-benar menghancurkan karir Tasya saat itu juga.
Tasya sempat meminta maaf dan memohon pada Alvan agar bisa meringankan hukumannya, tapi sayang Alvan tak menerimanya dan tidak memperdulikannya. Bagi Alvan, apa yang sudah Tasya perbuat harus berani dia pertanggung jawabkan.
Kondisi Alea sekarang sudah lebih baik. Hanya saja tidak boleh makan makanan sembarangan. Ia juga tidak boleh kelelahan, di karenakan Alea hanya memiliki ginjal satu dan Alea dalam keadaan sedang hamil, jadi kesehatan Alea juga harus di perhatikan dan Alvan juga sering mengajak Alea kerumah sakit, untuk mengecek kesehatannya. Alvan tidak mau kecolongan tentang kesehatan istrinya, sebagai suami ia takut terjadi sesuatu dengan kesehatan Alea. Sebab Alea hamil dalam kedaan ginjal yang baru saja di angkat, karena hancur terkena tembakan.
Alvan setiap harinya membawa istrinya ke kantor, ia tidak membiarkan istrinya di rumah sendiri meskipun ada pembantu mereka di rumah. Kecuali kalau Alvan ada kerjaan di luar kota, Alvan akan menitipkan istrinya di rumah mamanya. Soal makanan yang di makan oleh Alea, Alvan juga yang memasaknya. Tentunya makanan yang udah di sebutan oleh Dokter dan apa-apa saja yang harus dimakan oleh Alea. Alvan benar-benar menjaga kesehatan Alea sangat baik. Seperti hari ini, Alvan berada di ruangan nya bersama Alea. Alvan sibuk dengan pekerjaannya, sementara Alea sedang duduk sembari membaca majalah di kursi santai yang nyaman dan empuk. Alvan sengaja memesan kursi tersebut khusus untuk istrinya.
"Mas, mau es krim coklat boleh?!" tanya Alea yang tiba-tiba mengingikan es krim.
Alvan langsung menghentikan pekerjaannya, "Itu aja sayang? bentar ya biar mas ambilkan dulu di kulkas. Alvan kemudian beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju pantry yang ada di ruangannya. Sekarang Alvan banyak menyediakan stok makanan di kulkas untuk istrinya. Ruangan Alvan serasa rumah kedua bagi mereka, terkadang kalau Alvan banyak pekerjaan, mereka akan tidur di kantor.
"Rasa apa tadi sayang?!" tanya Alvan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Rasa coklat mas.." jawab Alea.
Beberapa menit Alvan pun keluar dari pantry dengan membawa dua cup es krim.
"Kok es krimnya kamu ambil dua mas?!" tanya Alea.
"Yang satu untuk mas, seperti biasa apa pun yang kamu makan mas akan memakannya juga." jawab Alvan sembari menyerahkan cup es krim rasa coklat yang di mau oleh istrinya.
"Terimakasih mas.."
"Sama-sama sayang.." balas Alvan sembari mengecup kening istrinya.
Setelah dua jam, akhirnya pekerjaan Alvan selesai. Alvan melihat jam, sudah pukul 11.30. Saatnya ia masak makan siang untuk istrinya. Alvan melihat kearah Alea, Alvan tersenyum melihat istrinya tertidur di kursi santai itu. Alvan beranjak dari kursinya lalu duduk di samping Alea, tak terasa air matanya mengalir gitu aja. Alvan mengelus pipi Alea dengan lembut. Alvan selalu menangis diam-diam kalau melihat Alea sudah tidur. Ia benar-benar merasa sangat bersalah dengan istrinya yang hanya memiliki satu ginjal. Pastinya Alea tidak bisa melakukan Aktivitas yang berlebihan lagi.
"Sayang maafin mas," ucap Alvan sembari mengecup punggung tangan Alea. "Tidur yang nyenyak ya sayang.. mas masak dulu buat kamu, entar kalau udah selesai mas akan bangunkan kamu." lirih Alvan dan Alvan pun beranjak dan langsung berjalan menuju pantry.
Saat sedang mempersiapkan bahan makanan apa yang ingin di masak, tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Alvan pun langsung tahu tangan siapa yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Sayang, kok udah bangun, hmm?" tanya Alvan. Alea bukannya menjawab ia malah mengeratkan pelukannya. Alvan tersenyum sembari sibuk memotong wortel. "Ada apa sayang..?" Alvan kembali bertanya.
"Kenapa mas selalu menangis saat aku tidur?! hmm kenapa mas?!" Mendengar pertanyaan Alea, Alvan langsung menghentikan aktivitasnya. Kemudian Alvan membalikan badannya menghadap ke Alea.
"Kamu mengetahuinya, sayang?" tanya Alvan terkejut dengan Alea yang telah mengetahuinya kalau ia sering menangis ketika Alea udah tertidur. Alea menganggukan kepalanya semabri menatap serius.
"Mas.. kok diam aja, kenapa mas?!" tanya Alea lagi.
Alvan menghela nafasnya, kemudian ia menatap Alea dalam. Dan Alvan kembali meneteskan air matanya, entahlah ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Loh kok kamu malah nangis mas.." Alea menghapus airmata Alvan. Ia jadi ikut merasa sedih melihat suaminya menangis. Alvan langsung memeluk Alea sangat erat.
"Maafin mas sayang yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maaf sayang maaf.." ucap Alvan.
"Mas, udah berapa kali aku bilang.. kamu gak salah mas.. jangan terus meminta maaf. Atau jangan-jangan kamu sering menangis, karena mas masih merasa bersalah dengan terjadi pada ku?!" Alvan menganggukan kepalanya.
"Mas, lihat aku! lihatlah, Aku sudah sehat dan baik-baik saja, mas. Aku mohon jangan pernah lagi merasa bersalah karena masalah yang sudah lalu. Lagian Tasya juga udah di hukum kan? jadi please buang rasa bersalah mu mas.." ujar Alea. "Lagian siapa bilang kamu tidak menjaga ku dengan baik? Bahkan kamu menjaga ku dengan sangat baik mas." tambah Alea lagi.
__ADS_1
"Kamu beneran?! mas, sudah menjaga kamu dengan baik?!" Alea mengangguk sembari tersenyum menatap Alvan. "Terimakasih sayang.. kamu memang wanita yang baik. Mas sangat beruntung bisa mendapatkan kamu." tutur Alvan yang terus mengucapkan syukur pada Allah, karena udah mengirimkan bidadari secantik dan sebaik Alea.
Dan Alvan kembali melanjutkan memasak makan siang untuk Alea. Tadinya Alea mau membantu, tapi Alvan langsung menolaknya dan menyuruh Alea untuk duduk santai di kursi santainya. Alvan tidak mu Alea kelelahan.