Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 91


__ADS_3

Sore harinya Alea menginginkan sesuatu, ia ingin makan siomay di taman komplek perumahan mereka. Sekalian ia ingin duduk santai disana menikmati angin di sore hari.


"Mas..!" panggil Alea yang saat ini Alvan lagi sibuk dengan pekerjaannya.


"Emm," jawab Alvan.


"Mas.." Alea kembali memanggil suaminya dengan lembut.


"Iya sayang.." jawab Alvan tapi tak menoleh sama sekali. Alvan masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.



Lima menit Alea menunggu suaminya yang tak beranjak maupun menatapnya. Akhirnya memutuskan turun dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Ketika akan membuka pintu kamar, Alea terkejut tiba-tiba saja suaminya sudah memeluk dirinya dari belakang.


"Sayang, kamu mau kemana, hmm?!" tanya Alvan sembari mengecup leher Alea yang tertutup hijab.


"Aku mau mengajak bi Yuni beli siomay di taman komplek. Lagi pengen makan siomay nih dedenya." jawab Alea


"Maaf, gak maksud cuekin kamu." ucap Alvan merasa bersalah.


"Gak apa-apa mas, kalau kamu masih sibuk lanjutin aja pekerjaan mas. Biar aku sama bibi aja." ujar Alea yang mengerti kesibukan suaminya. Ia yang merasa tidak enak harus merepotkan suaminya yang lagi banyak kerjaan.

__ADS_1


Alvan membalikan tubuh Alea menjadi menghadapnya, kemudian ia mengecup bibir Alea singkat. "Ya udah ayo sama mas belinya, sekalian kita duduk dan ngobrol-ngobrol di taman." ucapnya.


"kamu tapi lagi banyak kerjaan.. Gak apa-apa mas aku sama bibi aja." sahut Alea.


"Siapa bilang mas sibuk, enggak tuh! Mas tadi hanya mengirim email sama rekan bisnis aja. Buat kamu apapun akan mas lakuin sayang.. Lagian selama kita bersama sampai sekarang, kamu gak pernah tuh meminta yang macem-macem kan.. Apalagi minta beliin mobil, tas mahal, perhiasan dan semacamnya kamu gak pernah tuh minta beliin sama mas. ATM yang mas kasih aja uangnya masih utuh." ucap Alvan lembut.


"pemborosan itu namanya mas.. Lagian baju di lemari aku udah banyak dan yang baru juga masih banyak yang belum dipakai. Mama dan Ghea tuh terlalu berlebihan membelinya. Perhiasan, kamu juga pernah kok belikan aku perhiasan, kamu ingat gak waktu kita pergi haneymoon.. Kan mas belikan aku perhiasan. Dan kalau tas, mama sering beliin aku juga. Kalau mobil.. akunya gak perlu juga, kan kemana-mana sekarang perginya sama kamu." sambung Alea lagi.


"Ya udah ayo kita pergi sekarang.." ajak Alvan.


"beneran nih mas gak banyak pekerjaan?!" tanya Alea lagi memastikan.


"Iya sayang.." Alvan pun menggenggam tangan Alea lalu membawanya keluar dari kamar.


"Pelan-pelan sayang makannya.. Gak bakalan ada yang rebut siomaynya." ucap Alvan sembari menyerah es kelapa pada Alea.


"Siomaynya enak mas." sahut Alea tersenyum manis menatap Alvan.


"Gemesin banget sih kamu sayang..!" ucap Alvan tertawa melihat wajah istrinya sangat lucu mengunyah makanan sambil berbicara.


Alvan tersenyum lebar melihat anak-anak yang berlarian di taman. Alea yang melihat itu, pun ikut tersenyum. Dia juga baru tahu kemarin kalau suaminya begitu menyukai anak-anak. Alea yakin entar suaminya akan menjadi sosok papa yang penyayang dan hebat untuk anak-anaknya kelak.

__ADS_1


"Mas, kamu senang banget lihatin anak-anak itu." ucap Alea. Alvan mengambil tangan istrinya lalu mengecupnya.


"iya sayang, kan kemarin mas udah cerita ke kamu kalau mas suka dengan anak kecil."


"Mas sendiri ada keinginan memiliki anak berapa?!" tanya Alea yang memang belum pernah membahas soal itu.


"Mas sih, mau banyak biar rumah kelihatan ramai. Tapi itu tergantung kamu yang melahirkan, sayang. Kamu sanggup nya melahirkan berapa anak?!" Alvan balik bertanya.


"Untuk sekarang aku gak tahu mas, tapi kita lihat entar." jawab Alea.


Mereka pun terus mengobrol di taman sampai hampir menjelang magrib mereka baru pulang.


*


Malam harinya Alvan dan Alea datang kerumah orangtuanya. Tepat malam hari ini Yuda bersama dengan orang tuanya datang ke rumah Kavindra untuk melamar Ghea. Alvan sendiri dengan sangat terpaksa menerima Yuda bersama adiknya. Kemarin Yuda sempat datang kerumah mereka untuk meminta restu kembali padanya. Istrinya meminta padanya untuk memberikan kesempatan pada Yuda. Demi istrinya, dan karena juga tidak mau berdebat lagi dengannya akhirnya Alvan memberikan Yuda kesempatan. Tentunya dengan syarat yang udah ia berikan pada Yuda.


"Mas, mau kerumah mama kok cemberut gitu. Gak enak dong mas nanti sama tamunya. Mas harus percaya dengan Yuda, dia pasti tidak akan menyakiti Ghea." ucap Alea meyakinkan Alvan.


"Gak tahu sayang, mas masih sedikit kuatir." sahut Alvan.


"Aku tahu kekuatiran mas ke Ghea. Kemarin kamu juga udah memberikan syarat kan ke Yuda, kan?! pasti dia gak akan berani nyakitin Ghea." ucap Alea lagi menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, terimakasih kamu selalu membuat mas tenang." Alvan langsung memeluk Alea. Ia sangat bersyukur Allah memberikan istri yang Sholah padanya. Jika ia tidak menikah dengan Alea, entah seperti apa dirinya dan kehidupan rumah tangganya. Apalagi kalau kemarin sempat jadi menikah dengan Tasya. Pastinya ia akan terus-menerus di bohongi oleh Tasya. Entahlah memikir itu rasanya merinding sendiri membayangkannya.


__ADS_2