
Di dalam kamar mandi Yuda langsung melepaskan pakaiannya dan bergegas membersihkan tubuhnya. Sebenarnya ia juga sangat lelah melayani para tamu yang hadir di pernikahan nya dan Ghea. Tapi mau gimana lagi, mereka lagi sendiri yang mengundang banyak orang, hampir sekitar seribu. Selain itu ia juga berharap malam ini bisa melakukan ritual malam pertama bersama Ghea. Tapi nyatanya tidak sesuai harapan, kecewa sih! Tapi ia berusaha memaklumi Ghea, mungkin rasa cinta untuk nya belum ada dan dia akan sabar menunggu sampai benar-benar Ghea sendiri dengan ikhlas memberikan padanya.
"Kok kamu belum tidur?!" tanya Yuda yang baru saja keluar dari kamar mandi dan ia melihat Ghea masih duduk di atas kasur sembari bermain ponsel.
"Belum." jawab Ghea yang langsung membuang mukanya ke arah alin. Ia malu melihat tubuh kekar Yuda sebab Yuda hanya memaki handuk yang melingkar di pinggangnya. Mungkin kalau wanita lain yang melihat perut sixpacknya akan menyukainya dan tidak akan berpaling. Tapi kalau Ghea, ia merasa sangat malu.
Melihat Ghea yang memalingkan wajahnya, ia bergegas mengambil pakaian yang sudah di siapkan Ghea tadi, di atas kasur. Kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi dan memakainya disana.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Yuda keluar dari kamar mandi. Yuda menghela nafasnya ketika melihat Ghea sudah tidur. Ia pun berjalan menuju kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping Ghea. Untungnya Ghea tidur tidak membelakangi nya jadi ia bisa melihat wajah cantik Ghea. Wanita yang ia cintai wajahnya tampak kelelahan.
"Selamat tidur sayang.." Ucap Yuda sembari mencium kening Ghea. Biarlah malam ini tidak melakukan apapun, tapi setidaknya ia sudah bisa tidur memeluk Ghea tiap malamnya. Tak berapa lama Yuda pun ikut tertidur sambil memeluk Ghea yang sudah menjadi istrinya sekarang.
*
"Pagi sayang.." sapa Yuda yang sudah bangun terlebih dahulu dan ia sudah terlihat rapi.
"Emm, pagi.." sahut Ghea baru saja bangun. "Jam berapa ini, apa aku bangun kesiangan?!" tanya Ghea sembari tersenyum menatap Yuda.
"Ini sudah jam 8 pagi." jawab Yuda.
"Sayang, sepertinya untuk Haneymoon kita tunda dulu ya.. soalnya ada pekerjaan yang belum aku selesaikan ternyata. Gak apa-apa kan?!" mendengar ucapan Yuda Ghea langsung terduduk.
"Kok mendadak sih.. Batal deh kita ke turki nya.." ucapnya cemberut.
__ADS_1
"Maaf sayang.. Tapi setelah selesai pekerjaan aku, kita akan pergi haneymoon kok." lanjut Yuda lagi.
Dengan sedikit kecewa Ghea pun beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa Lo kesal Ghe tidak jadi pergi haneymoon..!kenapa Lo bego banget sih, hah! ya pastilah Yuda lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya. Lagian percuma haneymoon, kalau Lo belum bisa memberikan apa yang di inginkan Yuda. Pastinya lelaki yang berun menikah, pengen malakukan malam pertama dengan pasangannya." monolog Ghea sembari membasahi seluruh tubuhnya di bawah shower. Sebenarnya Ghea merasa tidak enak dan bersalah sudah menolak Yuda melakukan malam pertama. Tapi entah mengapa dirinya belum siap untuk melakukan itu. Jujur dia sayang sama Yuda, karena meraka dari kecil sudah bersahabat. Kalau cinta.. Entahlah ia tidak tahu sudah cinta dengan Yuda atau belum. Dirinya benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Soal perasaannya pada Reyhan sedikit demi sedikit mulai memudar. Memang awalnya sulit melupakan Reyhan, tapi lama-kelamaan memudar karena kebersamaannya dengan Yuda. Ghea mendesah, ia bingung harus bagaimana. Ia tahu Yuda sudah berubah, tapi bagaimana nanti tiba-tiba saja ada seorang wanita yang meminta pertanggung jawabannya karena hamil anak Yuda. Secara lelaki yang sudah menjadi suaminya itu sering tidur dengan banyak wanita. Dan kenapa setelah menikah baru pikiran itu muncul di benaknya. Ini benar-benar sangat menyebalkan.
"Sayang.. Hei kamu gak apa-apa kan? Kok lama banget di kamar mandinya?!" tanya Yuda sembari mengetuk pintu kamar mandi. Sebab hampir 30 menit Ghea tidak keluar dari kamar mandi.
"Aku gak apa-apa Yud.. Ia ini sudah selesai kok." jawab Ghea dari dalam.
"Ya udah cepetan.. Ayo kita sarapan di bawah?!" ajak nya.
Ghea pun membuka pintu kamar mandi, Yuda yang masih berdiri di depan pintu langsung diam mematung melihat Ghea keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk yang melilit di atas dadanya. Mata Yuda tak berkedip melihat pundak putih mulus milik Ghea. Tiba-tiba saja milik Yuda yang di bawah sudah tegak sempurna. Dalam hati Yuda mengumpat dan kesal karena gak bisa melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pengantin baru. Kalau saja Ghea siap melakukannya, sudah pasti ia akan mengurung Ghea seharian di dalam kamar hotel melakukannya tanpa henti.
"Hah! Emm itu cepat kamu pakai pakaianmu, kita akan sarapan di bawah." ucap Yuda yang langsung pergi dari hadapan Ghea dan berjalan menuju pintu.
"Sabar ya.. belum saatnya. Kita harus lebih bersabar lagi." lirih Yuda sembari menatap Juniornya yang masih tegak itu.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman milik Alvan dan Alea. Alvan tenga sibuk membantu istrinya mengurus si kembar. "Sayang lihat deh mereka berdua, makin hari makin gemesin banget ya.. Sama kaya kamu, gemesin. Mas rasanya malas mau pergi kerja tau gak kalau udah kayak gini." Alea tersenyum menatap kedua anaknya.
"Iya ya mas.. tapi kenapa mereka mirip kamu semua ya mas.. Aku yang hamil dan melahirkan gak ada kebagian sama sekali." Alvan terkekeh geli sekaligus membenarkan apa yang di katakan istrinya itu. Kedua anaknya memang lebih mirip ke dirinya dari pada istrinya.
"Gak apa-apa sayang, mudah-mudahan sifatnya nanti semua mirip dengan mamanya yang baik hati, lemah lembut, penyayang dan perhatian." ucap Alvan sembari memeluk Alea dari belakang dengan sama-sama memandang si kembar yang sudah tertidur di box bayinya.
__ADS_1
"Aamiin.."
"Mas sayang banget sama kalian." Alvan semakin erat memeluk Alea.
"Kami juga sayang banget sama papa." balas Alea.
Kemudian Alvan membalikan tubuh Alea menjadi menghadap dirinya. Lalu Alvan mencium kening dan turun ke bibir. Alvan menyatukan keningnya ke kening Alea, dalam hati ia memanjatkan doa. Semoga mereka selalu bersama sampai tua dan sampai memiliki cucu, Aamiin.
"I Love You sayang.." Alvan kembali memeluk Alea.
"Love you to mas.." balas Alea. "Udah berangkat kerja sana! Entar kamu telat Lo, ini udah jam 9 mas." ucap Alea sembari melepaskan pelukannya dari Alvan.
"Bisa gak kita melakukannya dulu baru mas berangkat." pinta Alvan dengan raut wajah memohon.
"Apaan sih kamu mas! Ini masih pagi udah mesum aja." sahut Alea.
"Please sayang.. Mumpung si kembar tidur. Sayang, selagi ada kesempatan kenapa enggak.. Entar kalau mereka udah bangun gak bisa Lo kita itunya..!" ucap Alvan yang terus memohon pada Alea. "Bentar aja, gak lama kok sayang.. ya ya please.." rengek Alvan.
"Dasar kamu mas, udah punya dua buntut masih aja msumnya gak hilang-hilang. Entar kamu telat kekantor, loh." Alvan malah terkekeh mendengar omelan istrinya.
"Gak apa-apa sayang.. Mas kan bosnya, lagian hari ini gak ada meeting dan gak gitu banyak pekerjaan juga. Lagian kalau soal gituan gak ngaruh sayang mau punya buntut dua atau lebih. Hayo, dosa loh kalau menolak suami yang lagi pengen..!" Alea menghela nafasnya, kalau udah keluar kata dosa menolak suami. Ya mau gak mau, Alea menyetujuinya.
Selanjutnya pasti tahu dong apa yang mereka lakukan. Dan seperti biasa bentar yang di bilang Alvan itu satu jam loh. Untungnya si kembar tidak bangun. Alvan selalu bersyukur setiap mereka melakukan penyatuan, kedua anak mereka tidak pernah mengganggu kegiatan panas papa dan mamanya.
__ADS_1