
"Gimana?!" tanya Alvan ketika Arya masuk kedalam ruangan nya.
"Bian yang Lo bilang itu, bekerja di Perusahaan pak Ardi. Jabatannya sebagai Manager disana." jawab Arya.
"Ardi mana?!" tanyanya.
"Pak Ardi Widiyanto, Al.. dan Pak Ardi bilang Bian masuk hari ini."
"Ya udah, tunggu apalagi lebih baik kita langsung ke Perusahaan pak Ardi." ucap Alvan yang langsung beranjak dari kursinya, di ikuti oleh Arya dibelakangnya.
"Al, Lo tenang.. Kita pasti bisa menemukan Alea. Dan gue juga udah bicara pada pak Ardi untuk bertemu dengan Bian hari ini." ucap Arya yang terus berjalan mengikuti Alvan.
"Gimana gue bisa tenang Ar.. istri gue di culik..! entah gimana keadaannya sekarang. Pasti dia ketakutan, dan jika benar Bian yang udah menculik istri gue, akan gue hajar dia habis-habisan." ucap Alvan emosi.
"Iya gue tahu Al.. tapi Lo jangan main hajar anak orang gitu aja. Tanya dulu dengan kepala dingin, benar gak nya dia yang menculik Alea." ucapnya nasehati Alvan.
"Gue yakin pasti dia! Karena di acara Bagas kemarin dia terus memperhatikan Alea." seru Alvan.
Setengah jam mereka pun sampai di Perusahan rekan Bisnisnya yaitu Perusahaan Pak Ardi. Di sana mereka disambut baik oleh pak Ardi Widiyanto sendiri.
"Pak Ardi maaf, kami udah mengganggu Pak Adi!" ucap Arya sembari bersalaman dan begitu juga Alvan.
"Oh gak kok pak Arya dan pak Alvan. Saya malah senang kalian mau berkunjung ke kantor kami." ucap Pak Ardi.
"Begini Pak, seperti yang udah saya bicarakan dengan pak Ardi tadi di telpon.. kalau kami mau bertemu dengan Manejer pak Ardi yang bernama Bian." ucap Arya mengatakan niatnya datang ke kantor Pak Ardi.
"Oh iya, Bian lagi ada di ruangannya pak Arya. Saya akan menyuruh Sekretaris saya untuk memanggil Bian." ucap Pak Ardi. "Kalau boleh tahu ada apa ya Pak Arya dan Pak Alvan ingin bertemu dengan Bian?!" tanyanya.
"Gimana ngomong ya pak.. ini masalah pribadi. Sebenarnya ada yang mau kami tanya kan pada Bian." jawab Arya, sementara Alvan sedari tadi hanya diam saja sebab ia berusaha menahan emosinya yang ingin meledak. "Oh iya pak Ardi, bisa saya pakai ruang meetingnya?" ucap Arya meminta ijin.
"Oh iya pak, silahkan." jawab Pak Ardi.
Tak berapa lama, Alvan dan Arya berjalan menuju ruang meeting, dan di ruangan meeting udah ada Bian yang menunggu kedatangan mereka. Sementara Bian sendiri bingung, siapa yang ingin bertemu dengannya. Sebab sekretaris dari CEO tempat nya bekerja tak memberitahukan siapa nama orang yang ingin menemuinya.
Bian terkejut, ketika melihat dua orang laki-laki masuk kedalam ruang meeting. Di antara dua lelaki itu, ia mengenal salah satunya, yaitu Alvan suami dari Alea. Dalam benak Bian apakah mereka yang ingin bertemu dengannya? jika benar, tapi ada urusan apa mereka menemui dirinya?
Alvan yang baru saja masuk kedalam ruangan meeting, langsung menatap Bian begitu tajam dan mendekati Bian.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Alvan pun langsung memeluk wajah Bian, sontak tubuh Bian terjatuh ke lantai.
"Al, tahan emosi Lo." ucap Arya mencegah Alvan yang mau memukul Bian lagi.
"Apa-apaan ini! apa maksud Lo datang-datang main pukul orang gitu aja!" ucap Bian ketika udah berdiri kembali.
"Lo! dimana Alea?!" tanya Alvan dengan nada tinggi.
"Alea?! bukannya Lo suaminya..! kenapa tanya gue!" jawab Bian tanpa ada rasa takut menatap Alvan.
"Jangan pura-pura seolah-olah lo gak tahu apapun! Lo bawa kemana istri gue!" ucap Alvan lagi.
"Bawa Alea?! gue gak ngerti apa yang Lo maksud!" ucap Bian yang memang tidak mengetahui Alea di culik.
Kemudian Alvan menarik kerah baju Bian sangking geramnya dengan Bian. "Jangan pura-pura gak tahu loh! Lo kan yang menculik Alea! cepat kasih tahu dimana Lo bawa istri gue! kalau gak, gue akan hajar Lo habis-habisan di sini!" kesal Alvan
"Gue gak ada bawa Al.. Apa! Alea di culik?!" ucapnya terkejut.
"Iya! Lo kan yang menculik Alea! cepat kasih tahu gue?!" sentak Alvan.
"Gue gak ada menculik Alea!"
"Al..!" sela Arya menghentikan tangan Alvan yang akan memukul Bian kembali.
"gue berani bersumpah, gue gak ada menculik Alea!" sangkal Bian.
"Jadi kalau bukan lo siap lagi yang telah menculik Alea! hah?! jangan lo kira gue gak tahu, kalau Lo terus memperhatikan Alea di acara Ulangtahun Perusahaan WILLIAMS GRUP kemarin ya!" Bian terdiam, ia berpikir siapa yang udah menculik Alea. Tiba-tiba saja Bian teringat oleh Tasya. Ya bisa jadi Tasya yang menculik Alea.
"Tasya!"
"Tasya?!"
"Iya gue yakin, pasti Tasya yang udah menculik Alea!" ucap Bian.
"Kenapa Lo bisa yakin kalau Tasya yang menculik Alea? Apa Lo kenal dengan Tasya?! atau jangan-jangan Lo salah satu lelaki yang pernah tidur dengannya?!" Tanya Alvan.
"Sial! gue bukan lelaki yang suka tidur dengan wanita." kesal Bian.
__ADS_1
"Terus?!"
"Oke gue jujur sama Lo. Tadinya gue tidak mengenal Tasya dan gue taunya dia hanya seorang model saja. Tapi.. tiba-tiba saja wanita itu menghubungi gue dan mengajak gue untuk ketemu dan gue gak tahu dia tahu darimana nomor ponsel gue. Saat pertemuan kami, dia mengajak gue kerjasama untuk menghancurkan hubungan Lo dan Alea. Dia pun entah tahu darimana kalau gue memiliki perasaan pada Alea. Dia terus menghasut dan manas-manasin gue sampai akhirnya gue setuju bekerjasama dengan dia." terang Bian.
"Kurang ajar Lo! Berani-beraninya Lo mau menghancurkan hubungan gue dan Alea!" ucap Alvan yang mulai emosi kembali ketika mendengarkan pengajuan Bian.
"Al, tahan emosi Lo! dengarkan dulu penjelasannya." sambung Arya.
"Lanjutkan!" ucap Alvan.
"Oke, kemarin di acara pak Bagas. Kami ingin menjebak Alea agar bisa tidur dengan gue, dan akan kami kirim fotonya ke Lo. Agar Lo membenci dan hubungan Lo dan Alea hancur. Tapi sayangnya Lo gak pernah pergi dari Alea sama sekali. Lo terus berada di dekat Alea. Membuat kami gagal melakukannya. Dan Tasya marah karena rencananya gagal."
"Apa Lo bilang, mau menjebak istri gue dengan tidur dengannya?! Sial! emang berengsek Lo! jangan harap Lo bisa tidur dengan istri gue!"
"Terus?!" Ucap Arya.
"Tapi disitu gue sadar kalau Alea sangat mencintai Lo, dia sangat bahagia ada di samping Lo. Terlihat dari tatapan matanya ke Lo, cara dia tersenyum dan tertawa bersama Lo. Dan Gue pun langsung bilang ke Tasya kalau gue tidak mau lagi melanjutkan kerjasama untuk menghancurkan hubungan kalian. Gue gak mau menghancurkan kebahagiaan Alea. Mendengar itu Tasya sangat marah dan dia sempat bilang jika dia akan melakukannya sendiri." jelas Bian.
Sedangkan Alvan mengepalkan kedua tangannya geram dan emosi setelah mendengar kan penjelasan Bian. Jika memang Tasya yang udah menculik Alea, akan ia buat hancur karir Tasya.
"Gue yakin, pasti Tasya yang udah menculik Alea." ucap Bian lagi.
"Tapi, kemana Tasya membwa Alea pergi?!" tanya Arya.
"Emm.. gini aja gue punya ide." ucap Bian.
"Ide Apa?!" tanya Alvan sembari berpikir apa yang akan ia lakukan agar mengetahui keberadaan istrinya dan di sekap dimana Alea oleh Tasya.
"Gue akan menelpon Tasya, dan berpura-pura mengajaknya bekerjasama kembali. Di situ gue bisa tahu dimana Alea di s kap oleh Tasya. Setelah dia memberitahu ke gue tempatnya. Akan gue hubungi kalian, dan jangan lupa kalian bawa polisi." ucap Bian memberikan ide atau rencananya pada Alvan maupun Arya.
"Oke. Ide Lo bagus juga." ucap Alvan.
"Tapi, gue punya satu syarat." aju Bian.
"Ck! gue kira Lo tulus bantuin gue mencari Alea, ternyata pakai imbalan! oke, syarat apa yang Lo minta?!" tanyanya.
"Gue hanya minta, pastikan gue tidak akan di pecat dari kantor ini dan jabatan gue tetap seorang Manajer." ucap Bian mengucapkan syaratnya.
__ADS_1
"Hanya itu?!" Bian menganggukan kepalanya. "Oke, baiklah." balas Alvan.