
Setelah adiknya pergi dari ruangannya. Alvan melempar benda-benda yang ada di atas meja kerjanya.
"Al, apa yang kamu lakukan..!" teriak Tasya.
Kemudian Alvan memukul-mukul dinding untuk meluapkan rasa emosi nya. Sampai membuat tangannya berdarah. "Al, cukup! apa yang kamu lakukan.. lihat tangan kamu sampai mengeluarkan darah." ucap Tasya menarik tangan Alvan agar tidak memukul dinding lagi.
Alvan menatap tajam Tasya, "kenapa kamu masih ada disini?! lebih baik kamu pergi!" usir Alvan.
"Tapi Al tangan kamu.." ucap Tasya yang merasa kuatir dengan luka di tangan Alvan.
"Aku ingin sendiri, jadi pergilah!"
"Tapi Al_-"
"Pergi!" bentak Alvan.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi Al.." Tasya langsung keluar dari ruangan Alvan.
"Aaaahh..!" teriak Alvan, ia merasa begitu sesak setelah mengetahui pernikahannya gagal dengan Tasya waktu itu. Ia kecewa, sangat kecewa pada adik , Alea maupun Tasya. "Kenapa Alea.. kenapa di saat aku sudah sangat mencintaimu, kamu malah mengecewakan aku..! apa perhatianmu padaku selama ini juga hanya sandiwara?!" monolog Alvan sembari menatap foto Alea di ponselnya. Setelah itu ia melempar ponselnya hingga hancur.
*
__ADS_1
Sore harinya, Alea sudah menunggu Alvan menjemputnya. Karena pagi tadi lelaki itu yang mengatakan akan menjemputnya pulang kerja. Tetapi ini sudah jam 6 sore, Alvan tak tak kunjung datang. Dan Alea sudah satu jam menunggunya.
"Mas, kamu lama kali jemput nya?! Sebenarnya kamu jadi jemput aku gak sih mas..?" monolog Alea.
"Ya ampun, kamu juga Ghea entah ada di mana, sekarang. Tadi pamitnya mau kekantor mas Alvan, tapi sampai sekarang kok belum juga kembali ke toko..!" ucapnya. Alea juga menghubungi Ghea tapi tidak di angkat oleh Ghea, membuat Alea bingung dan pusing.
Sampai jam 7 malam Alea menunggu Alvan, tapi suaminya itu tak kunjung datang menjemputnya. Ada perasaan kuatir sekaligus kecewa. Alea juga sudah menghubungi Alvan, namun sayang ponselnya malah tidak aktif.
"Sebenarnya kamu dimana mas? kamu jadi jemput aku gak sih mas? Apa kamu masih banyak kerjaan mas, sampai kamu lupa jemput?" Ucap Alea dengan lirih.
Akhirnya Alea memutuskan pulang sendiri dengan naik taksi. Dalam hati Alea selalu berpikir positif kalau suaminya itu masih banyak kerjaan di kantor sampai lupa mengabari nya maupun menjemputnya. Dua puluh menit akhirnya Alea sampai. Saat masuk kedalam, Apartemen dalam keadaan gelap dan sepi. Itu berarti Alvan belum ada pulang, mungkin memang benar kalau Alvan masih banyak pekerjaan di kantor.
Setelah selesai memasak, Alea pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa gerah. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi Alvan belum pulang juga. Membuat Alea semakin kuatir, ia mencoba menghubungi Alvan tapi tetap sama ponselnya tidak aktif.
"Mas, sebenarnya kamu dimana.. kenapa belum pulang juga?" Alea menatap makanan yang masih utuh di meja makan, pastinya makanannya sudah dingin. "Ya Allah kenapa perasaan aku tiba-tiba tidak enak ya.. apa bakalan terjadi sesuatu?" lirihnya sembari memegang dadanya yang merasa tidak tenang.
Pagi harinya, Alea terbangun. Alea terkejut karena ia ketiduran di sofa tepat di depan tv. "Ya ampun aku ketiduran.." Alea pun melihat jam dan sudah jam 6 pagi. Alea langsung beranjak dan jalan menuju meja makan. Dan makanan yang ia masak masih utuh, "apa mas Alvan tidak pulang, ya?" gumam Alea dalam hati.
Saat akan merapikan meja makan, tiba-tiba pintu kamar Alvan terbuka. Alea langsung menoleh, ia terkejut melihat Alvan keluar dari kamarnya.
"Mas.. "panggil Alea. Alvan menoleh kearah Alea dan menatap nya tajam. "Kamu tadi malam pulang jam berapa, mas? Kemaren sore aku menunggu kamu loh mas. Katanya kamu mau jemput aku.." ucap Alea.
__ADS_1
Memang malam tadi Alvan pulang ke apartemennya jam 12 malam dan jam segitu Alea sudah tidur. Saat masuk ke apartemen Alvan melihat Alea tidur di sofa ruang tv, tapi karena suasana hatinya yang lagi kacau ia membiarkan Alea gitu saja dan ia langsung masuk kedalam kamarnya.
"Ya ampun kenapa sampai lupa.. padahal Ia berjanji akan menjemput Alea kemaren sore." gumamnya. Karena ia emosi dan kecewa pada adiknya. Ia sampai lupa menjemput Alea. Tapi ia juga kecewa dengan Alea.
"Saya lupa!" jawab Alvan datar sembari menatap Alea sinis.
Deg
Tiba-tiba dadanya merasa sesak. Buka jawaban lupa yang membuat dada Alea sesak, tapi nada dingin dan tatapan sinis Alvan padanya.
"Mas mau di buatin sarapan apa?" tanya Alea yang tidak memperdulikan sikap Alvan yang berbeda padanya. Mungkin Alvan lagi ada masalah di kantor makanya ia bersikap seperti itu.
"Tidak perlu!" tolak Alvan.
"Loh mas tangan kamu kenapa?" tanya Alea yang melihat tangan Alvan luka dan bengkak. Saat Alea memegang tangannya, Alvan pun menariknya.
"Tidak apa-apa!" jawabnya ketus. "Oh ya, mulai sekarang tidak perlu repot-repot membuatkan aku makanan ataupun yang lainnya. Dan jangan sok baik dan perhatian lagi ke saya!" ucap Alvan dingin.
Membuat Alea bingung, dengan sikap Alvan yang tiba-tiba berubah dingin padanya.
"Maksud kamu apa mas?" tanya Alea. "Mas kamu itu suami aku, wajar dong kalau aku perhatian ke kamu." ucap Alea lagi.
__ADS_1