Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 47


__ADS_3

Alea menatap ke dua mata Alvan, untuk mencari kebohongan dimata Alvan. Namun sayang, ia tidak menemukannya. "Alea mas gak bohong, sampai saat ini kamu masih berstatus istri, mas." ucap Alvan kembali yang mengerti tatapan dari Alea padanya.


Tapi, berkas perceraian itu? aku gak salah membacanya mas.. bahkan aku sudah menandatangani nya." Alvan menghela nafasnya. Ini memang salahnya yang terlalu gegabah mengambil keputusan, ingin menceraikan Alea. Karena ia merasa kecewa kepada adik maupun istrinya itu. Dan ia sangat menyesalinya sekarang.


"Alea, mas minta maaf soal berkas perceraian waktu itu. Saat itu mas lagi emosi dan kecewa dengan pengakuan dari Ghea kalau dia yang membuat Tasya kabur di hari pernikahan mas." ucap Alvan. "Tapi walaupun begitu, mas tidak langsung meminta kamu untuk menandatangani nya. Karena saat itu mas juga belum terlalu yakin dengan keputusan mas. Sayangnya, berkas itu sudah kamu temukan terlebih dahulu. Itu membuat mas sangat menyesal, apalagi kamu sudah menandatangani nya dan kamu langsung pergi dari apartemen gitu aja. Alea, perlu kamu tahu kalau mas gak pernah menyerahkan berkas perceraian itu ke pengadilan. Jadi..-"


"Ja-jadi kita belum bercerai?" potong Alea. "Jadi.. aku masih istri mas?!" Alvan menganggukkan kepalanya, mantap. Mata Alea sudah berkaca-kaca, jantungnya berdetak kencang. Ia tidak menyangka kalau Alvan belum menceraikannya, bukan belum tapi tidak menceraikannya. Jadi selama setahun, ia beranggapan kalau dirinya sudah berstatus janda.


Kemudian Alvan mundur dua langkah ke belakang, lalu Alvan bersimpuh kembali di depan Alea. Ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan pada Alea.


Mas apa yang kamu lakukan?" tanya Alea bingung.

__ADS_1


"Alea.." ucap Alvan sembari menatap Alea. "Mas tahu ini mungkin terlambat. Tapi tidak apa-apa dari pada tidak sama sekali. Alea, ada satu hal yang mas sembunyikan dan mas pendam selama ini dari kamu yang belum sempat mas utarakan padamu." Alea menatap Alvan serius. Ia penasaran apa yang di pendam oleh Alvan darinya. "Alea, mas..." Alvan berhenti sejenak untuk menarik nafas, kemudian ia bicara lagi. "Alea mas sangat mencintaimu." Alea yang dengar itu terkejut bukan main. Gak mungkin pasti ia salah dengar.


"Mas yakin pasti kamu terkejut kan Alea?! tapi inilah yang ingin mas utarakan ke kamu. Yang udah mas pendam selama ini dari kamu. Kalau mas udah jatuh cinta pada Aleandra Shazfa Atmaja. Mas sangat mencintaimu. Kamu tahu Alea, mas ingin selalu menjadi orang yang bisa membuat kamu tertawa dan tersenyum setiap harinya. Alea, selama mas kenal dengan kamu hidup mas serasa indah dan bahagia. Bahkan saat mas merasakan sedih dan gelap, senyummu itu yang selalu bisa menerangi hidup mas. Setiap kali bersamamu, mas merasakan sesuatu yang sangat istimewa di hati, mas. Alea perlu kamu tahu, mata mas selalu mencari kamu ketika kamu tidak ada. Hati mas benar-benar sakit ketika mas tidak bisa menemukanmu. Alea, kamu adalah alasan untuk semua kebahagiaan mas. Tanpa adanya kamu di kehidupan mas, terasa hampa. Mas merasakan jiwa mas hilang. Alea, maukah kamu menerima mas.. memulai hubungan ini dari awal lagi?! Menjadi istri mas yang sesungguhnya?" Ungkap Alvan sembari mengeluarkan kotak kecil yang berisi cincin di hadapan Alea, cincin yang sudah jauh-jauh hari ia persiapkan untuk Alea, jika dirinya menemukan Aleanya. Sementara Alea langsung terharu mendengar pernyataan cinta Alvan padanya. Tak terasa air matanya mengalir gitu aja tanpa bisa ia cegah.


"Alea, mas tanya sekali lagi. Apakah kamu mau menerima mas.. menjalin hubungan mulai dari awal bersama mas?" tanpa pikir panjang lagi Alea langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Karena dirinya juga sangat mencintai Alvan, cintanya juga tidak berkurang malah makin bertambah meski mereka tidak bertemu selama satu tahun. Lagian mereka juga masih suami istri.


Melihat Alea menganggukkan kepalanya, Alvan tersenyum senang. Kemudian Alvan melepaskan cincin dari kotaknya, dan tak lupa memasang cincin itu ke jari manis Alea. Setelah itu Alvan langsung memeluk Alea sembari menangis bahagia. Alea tanpa ragu membalas pelukan Alvan yang juga menitihkan airmatanya, tapi airmata bahagia. Ia tidak menyangka, Alvan mencintainya juga dan seperti dirinya lebih memilih menyimpan perasaan nya.


Beberapa menit berpelukan, Alea meminta Alvan untuk melepas pelukannya. "Kenapa?!" tanya Alvan yang tak rela melepaskan pelukannya.


"Mas, lepas dulu." ucap Alea.

__ADS_1


"Enggak. Entar kamu pergi lagi." sahut Alvan.


"Enggak mas.. aku mau ke toilet dulu. Udah kebelet mas.. Mas aja, tadi kan aku mau ke toilet tapi mas langsung membawa aku pergi gitu aja dari lorong toilet." kesal Alea.


"Oh iya ya.. maaf." ucap Alvan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "kalau mau ke toilet, masuk aja ke kamar, sayang.." tawar Alvan.


"Sayang.." batin Alea.


Alea langsung jalan masuk ke kamar Alvan, ia tidak mau Alvan melihat pipinya yang ia yakin sudah merah seperti tomat. Namun sayang, Alvan sudah melihatnya dan itu semakin menggemaskan menurut Alvan.


Saat Alea masuk kedalam kamar, Alvan mengunci pintu Apartemen nya kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan menguncinya juga. Dia sudah mengirim pesan ke Arya, kalau ia mau istrahat dan tidak boleh ada yang menggangu dirinya. Sebab ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Alea, menyalurkan rasa rindu yang sudah satu tahun tidak bertemu.

__ADS_1


__ADS_2