Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 113


__ADS_3

Keesokan paginya Alvan bersiap-siap pergi ke kantor, setelah tiga hari ia tidak masuk. Sebenarnya ia masih malas untuk ke kantor, karena mood nya masih tidak baik. Tetapi mau gimana lagi, hari ini dirinya ada meeting bersama para sahabatnya. Kalau tidak ia lebih memilih mencari istrinya dan anaknya yang tidak tahu ada dimana sekarang.


"Selamat pagi pak Al.." sapa Susi yang bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Apalagi dia tidak niatan untuk meminta maaf pada Alvan setelah apa yang sudah ia lakukan tiga hari yang lalu yang membuat istri Alvan marah.


Alvan berlalu gitu saja tanpa membalas sapaan dari sekretarisnya, bahkan melihat wajahnya saja tidak.


"Keruangan saya sekarang juga!" ucap Alvan datar dari telepon ketika ia sudah duduk di meja kerjanya.


"Masuk..!" ucap Alvan saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


Susi pun langsung masuk kedalam. "permisi pak, apa ada yang pak Al perlukan?!" tanya Susi sembari tersenyum manis menatap Alvan. Susi paling senang kalau sudah di suruh masuk ke ruangan atasannya itu.


"Kamu tahu kan kalau saya sudah memiliki istri?!" tanya Alvan tanpa basa-basi.


"Tahu pak." jawab Susi.


"Saya bukannya tidak tahu kamu terus berusaha menggoda saya dengan pakaian seksi kamu itu! Padahal saya sudah sering memperingatkan kamu untuk mengganti pakaian kamu dengan pakaian yang lebih sopan. Tapi kamu sama sekali tidak pernah mendengar peringatan saya. Asal kamu tahu Susi, sekalipun kamu membuka pakaian kamu di hadapan saya.. Saya tidak akan pernah tergoda dan nafsu sama kamu." ucap Alvan sembari menatap Susi datar. "Kamu mau tahu kenapa? Karena saya hanya bernafsu dengan istri saya seorang. Asal kamu tahu Istri saya jauh lebih cantik dan seksi di mata saya. Bahkan tanpa istri saya membuka pakaiannya saja saya selalu tergoda dan nafsu melihat nya." lanjutnya lagi. Alvan sengaja berbicara seperti itu agar Susi sadar dan tidak akan pernah berusaha untuk menggodanya lagi.


Susi mengepalkan tangannya mendengar perkataan Alvan barusan, ia merasakan hatinya sakit dan kesal. Padahal istrinya tidaklah seksi sama sekali, kalau di lihat bagusan lagi tubuhnya yang lebih seksi dan montok.

__ADS_1


"Susi, saya tahu kerja kamu sangat bagus dan cekatan, tapi maaf kali ini saya harus memindahkan kamu ke divisi yang lain." ucap Alvan berusaha tetap bicara baik pada Susi.


"Tapi kenapa pak?! Apa salah saya..kenapa saya harus di pindahkan..?!" tanya Susi yang tidak sadar dengan kejadian kemarin.


"Kamu lupa, apa pura-pura lupa Susi..! Karena kejadian tiga hari yang lalu istri saya jadi salah paham. Dan kamu saya lihat biasa saja seakan tidak terjadi apapun. Kamu juga tidak ada niatan untuk meminta maaf." kesal Alvan.


"Hah, jadi hanya karena itu saya di pindahkan?! Istri pak Al saja yang lebai!" ucap Susi tidak terima di pindahkan.


"Terserah kamu, ini sudah menjadi keputusan dari saya!" sahut Alvan.


"Saya tidak mau! Saya tidak mau di pindahkan ke divisi lain!" tolak Susi membuat Alvan geram.


"Saya mau selalu dekat sama pak Al." ucap Susi langsung.


"Apa!"


"Iya pak Al, saya suka dengan pak Alvan dari awal saya masuk ke kantor ini sebagai sekretaris pak Alvan." ucap Susi di luar dugaan Alvan.


"Tapi saya tidak." balas Alvan datar.

__ADS_1


"Tapi saya serius pak, suka sama pak Al. Dan saya tidak akan keberatan jika pak Al hanya menjadikan saya mainan pak Al diatas ranjang saja. Yang terpenting saya bisa terus bertemu dengan pak Al di kantor." ucap Susi dan membuat Alvan terkejut dengan ucapan sekretarisnya itu. Ini tidak bisa di biarin.


"Seharusnya saya dengerin ucapan istri saya dari kemarin. Tadinya saya masih memiliki belas kasih untuk memindahkan kamu ke divisi lain. Tapi.. setelah mengetahui seperti apa kamu yang sebenarnya. Mulai dari hari ini kamu saya pecat! Jangan pernah kamu tunjukkan wajah kamu di hadapan saya lagi!"


"A-apa pecat! saya tidak mau!" Alvan menggelengkan kepalanya nya ternyata Susi wanita sudah gila menurut nya.


"Pergi sekarang dari ruangan saya!" usir Alvan.


"Apa sih yang pak Al lihat dari istri anda itu! saya yakin saya lebih baik dari dia! Bahkan urusan ranjang sekalipun!" ucap Susi tanpa ada rasa takut. Alvan langsung mendekati Susi, ia tidak senang istrinya di bandingkan dengan wanita seperti yang ada di hadapannya ini.


"Kamu mau tahu?! istri saya seperti apa, hah?!" ucap Alvan sembari mencengkram erat rahang bawah Susi membuat Susi mengaduh.


"Dia wanita yang sangat hebat. Dia juga pandai menjaga kesuciannya. Kalau di bandingkan dengan kamu, jauh. Sangat jauh! Dia adalah Bidadari yang dikirim tuhan untuk saya! Bahkan saya sampai jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya. Sampai membuat saya nyaris gila kalau dia sampai pergi meninggalkan saya! Kamu pikir saya akan tergoda dengan wanita seperti kamu! Heh, kamu salah." ucap Alvan sembari menatap Susi tajam.


"Le-lepasin pak Al, sakit!" rintih Susi berusaha melepaskan tangan Alvan yang mencengkram rahangnya.


"Kamu bilang apa tadi?! Mau menjadi mainan saya di atas ranjang?! Tapi sayangnya saya tidak selera tuh sama tubuh kamu. Kamu salah mencari mangsa nona! Atau begini saja, bagaimana kalau saya masukkan kamu ke Club' malam. Disana banyak wanita-wanita seperti kamu. Saya bisa masukkan kamu kesana melalui teman saya pemilik club' itu. Pekerjaan seperti itu kayak nya cocok buat kamu yang suka menggoda para lelaki. Gimana.. bagus kan tawaran saya?!" ucap Alvan sembari menyeringai licik. "Sekarang kamu tinggal pilih. Mau pergi dari kantor saya dengan baik-baik, atau saya akan meminta orang-orang saya untuk menyeret kamu dari sini dan membawa kamu ke Club', menjadi mangsa para lelaki hidung belang di disana." Seketika tubuh Susi gemetar, ia memagis ketakutan. Ternyata ia salah, Alvan bukanlah lelaki yang mudah di goda. Ia kira gampang seperti lelaki-lelaki yang sudah pernah ia goda.


"O-oke saya akan pergi dari sini dan tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya mohon jangan kirim saya ke Club' malam. Saya tidak mau menjadi pelacur." mohon Susi. Walaupun di suka menggoda suami orang ataupun Pengusaha. Tapi ia tidak mau menjadi wanita malam.

__ADS_1


"Good, pilihan yang bagus. Sekarang pergi dan jangan pernah perlihatkan wajah kamu di hadapan saya maupun istri saya! Kalau tidak.. saya bisa melakukan hal lebih dari ini yang tidak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya." Ancam Alvan. Kemudian Alvan melepaskan cengkeramannya dari wajah Susi. Setelah itu Susi langsung pergi dari ruangan Alvan. Ia takut, benar-benar takut. Ia tidak menyangka Alvan bisa semenyeramkan itu.


__ADS_2