
"Sayang, gimana keadaan Alea? kenapa bisa sampai terjadi?" tanya Nita yang baru saja sampai bersama Sandi, dan Ghea.
Alvan langsung memeluk mamanya, Alvan kembali menangis di pelukan mamanya. Ini kali kedua ia merasa hancur, ketika Alea pergi ninggalin dirinya. Dan sekarang hari ini, tapi kali lebih hancur karena wanita yang ia cintai, bidadari surga nya tengah berjuang antara hidup mati.
Nita pun membalas pelukan dari Alvan, mengelus pundak Alvan mencoba menenangkan putranya.
"A-Alea di culik mam, dan Tasya yang melakukannya sampai Alea tertembak dan wanita itu yang melakukannya." ucap Alvan dan membuat Nita, Sandi dan Ghea yang mendengarnya terkejut.
"Apa?! Alea di culik Tasya? kok bisa kak? Siang tadi Ghea sama Reyhan masih nongkrong bareng sama Alea.." tanya Ghea tak percaya.
"Alea di culik saat menunggu kakak di Cafe dan mereka menculiknya di depan Cafe tempat kalian habis nongkrong tadi." terang Alvan.
"Ya tuhan Alea..!" ucap Ghea sedih dan merasa bersalah juga. Seharusnya ia menemani Alea menunggu kakaknya tiba di Cafe menjemput Alea.
"Al, lebih baik kamu ganti pakaian dulu. Lihat pakaian kamu banyak bercak darahnya." ucap Nita pada Alvan.
"Mam, gak penting dengan pakaian Al. Yang terpenting adalah keadaan Alea." ucap Alvan.
"Iya Al, mama tahu. Tapi gak mungkin kamu melihat Alea dalam keadaan seperti ini. Cepat ganti pakaian kamu dulu." pinta Nita pada putranya.
"Iya Al, ini gue baru aja ambil pakaian dari mobil gue buat Lo pakai" sambung Arya sembari menyerahkan paper bag pada Alvan.
"Terimakasih Ar.." Arya menganggukan kepalanya lalu memeluk Alvan.
"Cepat ganti pakaian Lo dulu." Alvan pun langsung berjalan menuju toilet.
Satu jam mereka menunggu, pintu ruangan UGD pun terbuka dan Dokter keluar dari ruangan. Semua keluarga yang menunggu langsung beranjak dan mendekat pada sang Dokter. Alvan bisa melihat ekspresi wajah Dokter yang menangani Alea sangat tegang. Alvan menggelengkan kepalanya, ia tidak akan sanggup jika mendengar kabar buruk tentang Alea.
"Bagaimana keadaan menantu saya Dok?!" tanya Sandi papa dari Alvan yang duluan membuka suaranya.
"Dua peluru sudah berhasil kami keluarkan. Tapi kami mohon maaf, terpaksa harus mengangkat salah satu ginjalnya. Karena peluru tepat mengenai salah satu ginjalnya." ucap sang dokter.
Tubuh Alvan seketika lemas, ia merasakan seperti di hantam batu besar mendengar ucapan Dokter barusan. Hancur dan sesak yang ia rasakan saat ini.
"Untungnya peluru itu tidak mengenai janinnya, kalau sampai peluru mengenai janinnya keduanya pasti sama-sama tidak bisa di selamatkan." ujar sang Dokter.
"Apa! Janin?!" ucap mereka semua. Nita pun menatap sang putra. Begitu juga dengan Alvan ia memandang mamanya bingung.
"Iya, janin yang ada di dalam kandungan pasien selamat." ucap Dokter itu lagi.
__ADS_1
"Ja-jadi maksud Dokter, menantu saya hamil?!" tanya Nita memastikan.
"I-istri saya hamil Dok?!" kali ini Alvan yang bertanya.
"Iya, pasien tengah mengandung." jawab Dokter itu.
Dari semua penjelasan Dokter tentang keadaan istrinya, setidaknya ada satu yang membuatnya bahagia kalau ternyata istrinya tengah hamil. "Tapi ada yang lebih penting lagi, pasien kehilangan banyak darah.. untuk itu kami membutuhkan tambahan darah lagi, sebab stok darah di rumah sakit tidak cukup untuk pasien. Tolong segera cari pendonor darah nya." ucap Dokter lagi menjelaskan.
"Ya tuhan..!" ucap Alvan frustasi.
"Apa pihak keluarga ada yang memiliki darah yang sama dengan pasien?" tanya Dokter.
"Apa golongan darahnya Dok?!" tanya Arya. "Siapa tahu aja salah satu dari kami memiliki darah yang sama." ucapnya.
"Golongan darah pasien O Negatif." jawab Dokter. "Kalau bisa secepatnya menyediakan darahnya." Dokter itu pun pamit pergi keruangannya untuk menghubungi rumah sakit lain, mau bertanya apakah masih ada stok darah yang di perlukan oleh mereka.
"Bagaimana ini darah kita tidak ada yang sama dengan Alea.. Ar coba Lo tanya rekan bisnis kita atau karyawan kita, apa mereka memiliki golongan darah yang sama dengan Alea." pinta Alvan.
"Reyhan?!"
"Reyhan?!" tanya Alvan.
"Ghe, cepat kamu telpon Reyhan." ucap Alvan.
Sementara Arya pun sama sibuk menelpon rekan bisnisnya.
*
Setengah jam akhirnya Reyhan sampai di rumah sakit.
"Ghea, gimana dengan Alea?!" tanya Reyhan kuatir.
"Dia masih di dalam ruangan UGD Rey.. Kenapa ini bisa terjadi Ghe?!" tanya Reyhan sembari menatap tajam Alvan.
"Rey entar gue jawab. Tapi sekarang Alea membutuh darah Rey, golongan darah Lo O negatif kan Rey?!" Reyhan pun mengangguk.
"Please Rey, Alea kehabisan banyak darah dan darahnya sama dengan darah Lo, O!"
"Rey, gue mohon tolong sumbangkan darah Lo buat Alea, Rey.. Alea sangat membutuhkannya." kali ini Alvan yang memohon pada Reyhan. Melihat keadaan Alvan yang kacau membuat Reyhan iba.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan berikan darah ku padanya. Kalau bisa ambil semua agar Alea baik-baik saja." ucap Reyhan.
"Terimakasih Rey.." Alvan menangkup kedua tangannya kepada Reyhan.
Ghea pun langsung mengantarkan Reyhan menemui Dokter.
"Gimana Ar?!" tanya Alvan.
"Karyawan Perusahaan kita ada dua orang yang mau mendonorkan darah nya untuk Alea, Al.. dan mereka lagi jalan menuju kerumah sakit." jawab Arya.
"Alhamdulillah.." ucap Alvan mengucap syukur. "Ar beri aja mereka sejumlah uang karena mau mendonorkan darah untuk Alea " tambah Alvan lagi.
"Baiklah." balas Arya.
"Al.." panggil Nita. Alvan pun menoleh ke mamanya.
"Iya mam.."
"Apa kamu tidak mengetahui kalau Alea hamil?!" tanya Nita.
"Gak mam, bahkan Alea juga tidak mengetahui kalau dia hamil." jawab Alvan.
"Apa Alea tidak ada mengalami mual, pusing atau apa gitu?!" tanya mamanya lagi.
"Gak mam, Alea sih biasa aja. Tapi memang belakangan ini Alea kuat makan. Apalagi Alea tengah malam suka bangun karena kelaparan." jelas Alvan.
"Itu berarti istri kamu memang hamil sayang, orang hamil emang mudah cepat lapar. Apalagi tengah malam, biasanya yang tengah malam itu nafsu makannya gak bisa di tahan." ucap Nita. "Tapi bagus dong kalau Alea banyak makan, biar baby nya sehat. Apalagi dia sama sekali tidak mengalami mual." ucap Nita lagi.
"Iya sih mam. Tapi anehnya Al yang sering mual dan muntah, dan Al juga jadi tidak menyukai dengan mencium parfum si Arya. Aneh kan mam.." Nita tersenyum mendengarnya.
"Itu berati kamu yang mengalami ngidam Al.. menggantikan Alea." sambung Sandi sembari duduk di samping Alvan.
"Ngidam? emang bisa seperti itu? istri yang hamil suaminya yang merasakan mual, dan pusing?!" tanya Alvan penasaran.
"Iya nak.. papa juga ketika mama hamil Ghea, papa yang ngidam. Mama kamu malah yang banyak makan." Alvan tersenyum menatap papanya. Alvan senang karena bukan Alea yang mengalami mual dan muntah tapi dirinya. Kasian istrinya kalau sampai mengalami hal itu.
"Papa doakan Alea cepat sadar dan semoga dia baik-baik saja." ucap Sandi.
"Terimakasih pah." Alvan pun langsung memeluk Papanya.
__ADS_1