Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 89


__ADS_3

"Mas, mama masih marah sama kamu ya?!" tanya Alea sembari mengunyah apel yang baru saja di suapin oleh Alvan.


"Gak apa-apa sayang.. Entar juga baik sendiri." sahut Alvan yang kembali memasukkan apel kedalam mulut istrinya.


"Maaf mas.."


"Kenapa minta maaf, hem?!" Alvan meletakkan buah apel ke piring, kemudian ia langsung memeluk istrinya. Mencium kening istrinya dengan lembut. "Kamu tenang aja, mama marah sama mas gak bisa lama-lama. Paling besok udah bicara lagi sama mas." ucap Alvan.


"Tadi mama bicara apa sama kamu mas.. Kok kayanya kamu kesal gitu?!" tanya Alea yang melihat mama Nita seperti bicara serius pada suaminya itu.


Alvan menatap Alea dengan sangat lembut sambil tersenyum, "mama mau bawa kamu tinggal di rumahnya, kata mama mas gak bisa jagain kamu. Lebih baik mama yang jaga kamu, dari pada mas buat kamu capek terus tiap malam dan mas di suruh di di kantor, kalau kangen baru datang lihat kamu. Terus mama bilang, aku gak boleh nginep di rumah mama, entar mas buat kamu kelelahan lagi. Ya mas protes lah." ucap Alvan menceritakan apa yang tadi ia bicarakan pada mamanya.


"Serius mama bilang gitu sama mas?!"


"Hmm."


"Becanda aja kali mama mas.. Mana mungkin mama ngelarang kamu, nginep di rumah mama." Alvan mengangkat kedua bahunya, kemudian kembali memasukan buah apel kedalam mulut Alea.


Satu Minggu di rawat di rumah sakit, rasanya sangat membosankan buat Alea. Tapi untungnya sore ini ia akan keluar juga dari rumah sakit. Tadinya dokter bilang tiga hari ia sudah bisa pulang, tapi biasa suaminya Alvan minta tambahan hari untuk ia di rawat di rumah sakit. Selesai di bereskan semua keperluan Alea oleh Alvan dan di bantu oleh bi Yuni mereka pun keluar ruangan perawatan Alea. Alvan mendorong kursi roda yang di duduki oleh Alea, sedangkan barang-barang Alea di bawa' oleh bi Yuni.


"Kita pulang kemana mas?!" tanya Alea ketika Alvan udah melajukan mobilnya.


"Pulang kerumah kita lah sayang.. Emang kamu maunya pulang kemana? Rumah mama, iya ?!"


"Iya, boleh gak?!"


"No! yang ada mas entar gak boleh tidur sama kamu..!" Bi Yuni yang ikut bersama mereka tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua. Begitu juga dengan Alea ikut tersenyum, suaminya itu sangat menggemaskan sekali dan sangat manis kalau udah seperti itu.


*

__ADS_1


*


"Mas kamu udah bangun?" tanya Alea melihat suaminya udah sangat rapi memakai baju Koko. Kemudian Alea melihat jam udah pukul 5 pagi.


"Ia sayang. Ketepatan kamu udah bangun juga, kita sholat subuh bareng ya?" Alea tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alea pun beranjak dari ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Selesai sholat subuh, Alvan mengajak istrinya berjalan santai dari rumah mereka ke taman komplek. Seperti saran dari Dokter kandungan, di usia kandungan Alea yang udah delapan bulan lebih untuk rajin berjalan agar melancarkan proses kelahirannya nanti. Tapi walaupun begitu, Alvan tetap tidak mau membuat istrinya itu sampai kelelahan. Alvan nanti akan menyuruh Security nya untuk menjemput mereka naik mobil ke taman komplek. Di karenakan Alvan tidak memiliki supir dan kebetulan Security mereka bisa menyetir, jadi Alvan menyuruh Security untuk menjemput.


"Sayang, udah dua putaran.. duduk dulu gih. Sayang, ingat jangan sampai kamu kelelahan." ucap Alvan meminta Alea berhenti ketika ia berjalan sudah dua kali putaran.


"Iya mas.." Alea pun menghentikan langkahnya dan duduk di kursi taman. Kemudian Alvan memberikan air minum ke sang istri.


"Terimakasih mas.."


"Sama-sama sayang.." balas Alvan sembari menghapus keringat yang ada di wajah istrinya dengan lembut.


"Sayang, tunggu disini sebentar ya.. Kamu istirahat aja. Mas mau lari keliling taman dulu." ucap Alvan minta untuk tetep duduk di kursi beristirahat.


Setelah selesai berlari tiga putaran, Alvan menghampiri Alea yang masih duduk di kursi taman. Alvan langsung duduk di samping Alea.


"Kita pulang sayang?!"


"Mas, boleh jalan lagi? satu putaran aja, boleh ya?!" ucap Alea meminta ijin pada Alvan dengan manja. Alvan tersenyum teduh menatap istrinya itu. Kemudian Alvan mengecup pipi sebelah kanan istrinya.


"Boleh, habis itu pulang ya?" Alea menganggukkan kepalanya.


Alea pun beranjak dari kursi di bantu oleh Alvan. Sebab Alea sudah susah untuk bangun karena perutnya udah sangat besar. Alea berjalan mengelilingi taman dengan di temani Alvan.


"Mas kita pulang aja yuk?!" ajak Alea dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Loh tadi katanya mau satu putaran?" tanya Alvan bingung.


"Aku udah gak mood." jawab Alea ketus.


"Sayang, hei kenapa?" tanya Alvan dengan lembut, apalagi ia melihat wajah istrinya cemberut.


"Pokoknya aku mau pulang mas.." ucap Alea makin kesal.


"Sayang, kamu kenapa kok tiba-tiba aja cemberut gitu? Apa mas membuat kesalahan?!" tanya Alvan lagi yang takut kalau ia membuat kesalahan.


"Iya mas buat kesalahan!" Alvan yang mendengar jawaban Alea bingung, perasaan dia tidak melakukan apapun pada istrinya.


"Mas salah apa sayang?!"


"Kesalahan mas adalah.. Karena mas terlalu tampan!" Alvan langsung membelalakkan matanya karena jawaban istrinya yang berkata kalau kesalahannya karena dia sangat tampan. Kemudian Alvan melihat kearah sekitar, seketika Alvan mengerti kenapa istrinya itu cemberut. Ternyata istrinya tengah cemburu pada wanita-wanita yang sedang menatapnya. Kebetulan ini bertepatan hari Minggu, jadi di taman komplek perumahan mereka banyak orang yang sedang berjalan santai maupun joging di taman..


Alvan tersenyum geli melihat istrinya cemburu dan sekaligus ia senang. "sayang kenapa jadi salah mas sih kalau wajah mas tampan?!" ucapnya sembari menggoda istrinya.


"Ialah! Lihat tuh dari tadi aku perhatikan cewek-cewek itu lihatin kamu terus!" ucapnya Alea yang membuat Alvan tertawa dengan cemburuan istrinya pada wanita yang tebar pesona dengannya.


"Apa kamu cemburu sayang?!" tanya Alvan dengan menaikan turunkan alisnya.


"Cemburu?! Kamu pikir aja sendiri!" kesal Alea. "Udah tahu di sebelah kamu ada istrinya. Tapi mereka masih aja tebar pesona, sok kecantikan! Gak lihat apa istrinya lagi hamil gede gini!" ucap Alea lirih, tapi masih bisa di dengar Alvan. Ingin rasanya Alvan tertawa lepas tapi berusaha ia tahan, takutnya istri malah semakin kesal dan marah padanya. Baru kali ini Alvan melihat istrinya secemburu itu, yang bisanya Alea berbicara lembut, tapi sekarang bicara ketus. Tetapi Alvan senang lihatnya, ternyata istrinya cemburuan juga dan itu sangat manis sekali.


"Udah jangan perdulikan mereka, kan mas juga gak perdulikan mereka." ucap Alvan yang masih berusaha menahan tawanya.


"Awas aja kalau mas sampai terpesona dengan mereka. Aku adukkan ke mamah." ucapnya lagi dengan nada masih ketus.


"Ya enggak lah! orang udah punya kamu, ngapain lagi terpesona dengan wanita lain." ucap Alvan sembari menggenggam tangan istrinya dan membawanya ke mobil, karena mereka udah di jemput. Alea yang mendengar ucapan suaminya tersenyum senang.

__ADS_1


"Beneran?!"


"Iya sayang.." Alvan pun langsung mencium kening istrinya.


__ADS_2