
"Sayang, kamu kenapa nangis, hmm?!" tanya Alvan setelah hanya ada dirinya, istrinya dan kedua anak kembarnya di ruangan Alea. "kalau mas ada salah, please kasih tahu mas. Jangan diam aja sayang.." tambah Alvan lagi sembari mengecup kedua tangan Alea.
"Kamu gak ada salah mas.." jawab Alea sembari tersenyum tipis menatap Alvan.
"Terus kenapa kamu menangis tadi? Sampai segitunya kamu menangis." tanya Alvan lagi sambil sesekali melihat kearah keranjang kedua anak kembarnya. "Tuh kan.. Wajah kamu sedih lagi?" ucap Alvan yang kembali melihat wajah Alea sedih. "sayang jangan buat mas kuatir, sebenarnya kamu kenapa?" tanyanya.
Alea menghela nafasnya, "aku hanya merindukan kedua orangtuaku mas.. Aku sedih, saat aku menikah waktu itu dan saat aku melahirkan hari ini orangtua ku tidak ada menemani ku." ucap Alea kembali menitihkan airmatanya. "Aku sangat merindukan mereka mas.." Alvan langsung memeluk istrinya erat, mendengar curahan hati istrinya ia merasa sangat sedih.
Alvan juga merasa bersalah, sebagai suami ia tidak sekalipun pernah menanyakan gimana mertuanya itu. Dirinya memang sudah tahu orangtua Alea sudah meninggal, karena pada saat mereka baru pertama kali menikah, ia pernah mencari tahu tentang Alea. Tapi kalau untuk bertanya secara langsung gimana orangtuanya, sama sekali belum pernah. Ia benar-benar merasa menjadi menantu yang buruk, yang tidak pernah menanyakan tentang orang tua istrinya secara langsung. Pasti waktu mereka nikah dulu istrinya sangat sedih tidak di dampingi oleh kedua orangtuanya, apalagi pernikahan mereka karena keterpaksaan, dimana Alea di paksa untuk menggantikan pengantin wanitanya yang kabur entah kemana. Di tambah lagi sikapnya yang dulu pada Alea sangat dingin. Pasti Alea sakit hati karena sikapnya yang tidak baik pada istrinya itu.Ya tuhan begitu buruknya dirinya dulu.
"Sayang, gimana kalau nanti anak kita udah boleh untuk berpergian jauh.. kita dan si kembar mengunjungi ke makam orangtua kamu. Sekalian mas mau memperkenalkan diri pada mereka kalau mas adalah suami kamu.. Dan kita juga akan memperkenalkan kedua cucunya." usul Alvan sembari menatap Alea penuh cinta. Ia sangat mencintai Alea, sangat. Ia akan mengucapkan banyak terimakasih kepada ibu mertuanya itu yang sudah melahirkan Alea, bidadari yang sangat cantik dan sangat baik hati.
__ADS_1
"Mas beneran..?" tanya Alea
"Iya sayang.. tapi tunggu anak kita agak gedean dikit ya.. Kalau sekarang mereka baru lahir." sahut Alvan sembari mencium bibir istrinya kilat.
"Iya mas.."
"Sini peluk lagi, mas sayang pake banget sama kamu.." ucap Alvan yang sudah memeluk Alea erat.
*
Tiga bulan telah berlalu, kedua anak kembar Alvan dan Alea semakin hari semakin menggemaskan. Alvan tak henti-hentinya selalu mengucapkan syukur pada sang pencipta telah memberikan makhluk lucu dan gemesin pada dirinya maupun istrinya. Mereka sebagai orang tua baru, sama-sama bekerjasama mengurus si kembar. Alvan tidak mau membiarkan istrinya bergadang sendirian mengurus si kembar kalau bangun di tengah malam. Walaupun Alvan lelah, ia tetap membantu Alea.
__ADS_1
Dari situ ia bisa tahu, bahwa perjuangan seorang ibu itu bukan hanya di saat mereka hamil, dan melahirkan saja tapi dalam mengurus maupun membesarkan anak juga. Apalagi mereka memiliki anak kembar, jadi yang di urus istrinya itu bukan kedua anaknya saja tapi dirinya juga. Sudah pasti itu sangat melelahkan bagi istrinya, ia berjanji akan selalu membantu istrinya mengurus kedua buah hatinya. Apalagi istrinya itu hanya memiliki satu ginjal, Alvan tidak mau membuat istrinya terlalu kelelahan. Untungnya ada bi Yuni yang selalu membantu mereka. Jadi ia tidak perlu menyewa baby sister untuk membantu istrinya mengurus si kembar. Bi Yuni sendiri yang menawarkan diri untuk membantu mengurus si kembar membantu meringankan Alea, bi Yuni tidak tega dengan majikannya yang hanya memiliki ginjal satu. Ia pernah denger, kalau orang yang memiliki ginjal satu, tidak boleh melakukan aktivitas yang sangat berat atau jangan sampai kelelahan. Jadi Alvan mengambil satu pembantu lagi dari rumah mamanya untuk mengurus rumah mereka. Sedangkan bi Yuni khusus membatu Alea mengurus buah hatinya.
"Hei anak papa bangun ya.." ucap Alvan yang baru saja pulang dari kantor tepat pukul 11 malam, hari ini ia lembur karena pekerjaan sangat banyak. Ketika ia masuk tadi kedalam kamar, Alvan melihat istrinya sudah tertidur di ranjang. Dan ketika melihat ke box bayi kedua anaknya, ternyata si Ayra matanya terjaga. "Sebentar ya sayang.. Papa cuci tangan dan ganti baju dulu. Jangan nangis ya.. Soalnya mama lagi bobo." ucap Alvan yang langsung berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Lima menit Alvan selesai membersihkan tubuhnya, dan sudah memakai pakaian tidurnya. Dengan cepat mengambil stok susu yang sudah di simpan oleh Alea di tempat pendingin, lalu menghangatkannya dengan penghangat Asi. Tentunya Asi yang di berikan kepada anaknya ASI eksklusif dari Alea.
"Masyaallah anak papa pinter banget sih gak nangis.." ucap Alvan dengan perlahan mengangkat Ayra dari box bayinya. Setelah Alvan mengambil susu yang sudah hangat, lalu memberikannya pada putrinya sembari berjalan menuju sofa.
Sepuluh menit akhirnya Ayra tertidur kembali tentunya setelah susu yang di minumnya habis. Alvan pun kembali meletakkan Ayra ke boxnya dengan pelan takut putrinya terbangun kembali. Setelah memastikan anaknya tertidur dengan aman dan nyaman. Alvan langsung berjalan menuju ranjang menyusul istrinya yang sudah tertidur.
"Selamat tidur sayang.. I Love You mama.. Maaf ya sayang hari ini mas pulang malam." ucap Alvan sembari mencium kening dan bibir Alea dengan sangat lembut. Ia tidak mau membangunkan istrinya. Kemudian ia berbaring di samping Alea, dan memeluk Alea dari belakang sambil menciumi tengkuknya. Seharian di kantor, membuat ia sangat merindukan istrinya.
__ADS_1