
Tepat pukul 5 pagi Alea terbangun dari tidurnya, saat terbangun Alea terkejut, ia tidak tidur di kamarnya, melainkan di kamar tamu. Seketika Alea ingat, tadi malam ia marah pada suami nya. Alea pun perlahan beranjak dari ranjang tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing. Apa ini akibat ia banyak menangis malam tadi? Akhirnya ia tidak jadi beranjak dari ranjang dan Alea kembali merebahkan tubuhnya. Kepalanya terasa sangat pusing sekali, ia juga merasa tubuhnya kurang enak.
"Den bangun, Aden.." ucap pembantu Alvan membangunkan Alvan yang ketiduran di kursi yang didekat kamar tamu.
"Hah! Eh bi.." jawab Alvan terkejut ketika di bangunkan oleh pembantunya.
"Kok aden tidur disini, bukan di kamar?!" tanya bi Yuni, pembantu dari Alvan.
"I-iya bi, itu Alea lagi ngambek jadi saya tidur di luar." jawab Alvan sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Bi Yuni tersenyum geli melihat majikannya itu. "Wanita hamil jangan di buat marah atau ngambek atuh den, kasian Dede bayinya nanti ikutan sedih." ucap Bi Yuni nasehati Alvan.
"Iya bi.. Apa istri saya udah keluar kamar bi?!" tanya Alvan.
"Saya belum ada melihat mbak Alea den dari tadi. Mungkin masih dikamar kali den.." jawab Bi Yuni yang kemudian pamit untuk kembali melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Alvan melihat jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tubuhnya terasa sakit semua, karena ia tidur di kursi sambil menunggu istrinya yang tidak mau membukakan pintu untuknya. Alvan menghela nafasnya, apa istrinya masih marah.. sampai jam segini istrinya belum ada keluar dari kamar tamu.
Tok tok tok
"sayang.. kamu masih ada didalam?" tanya Alvan sembari terus mengetuk pintunya. "sayang, bangun yuk.. Kita sarapan dulu. Kasian debay nya kalau kamu telat sarapan. Sayang, please buka pintunya.. Kamu masih marahnya sama mas?" ucapnya lagi. Sayang, mas minta maaf.. Sayang mas gak bisa kamu diemin kayak gini lama-lama, udahan dong marahnya..! Sayang bukan dong pintunya.." ucap Alvan terus membujuk istrinya, namun sayang tidak ada sahutan dari istrinya. Bahkan ia tidak mendengar suara apapun.
Akhirnya Alvan berhenti membujuk Alea, ia membiarkan istrinya dulu agar lebih tenang. Kemudian Alvan masuk kedalam kamarnya untuk mandi, bersiap untuk pergi kerja karena hari ini ada meeting penting dan meeting ini tidak bisa di gantikan oleh Arya. Kalau tidak ada meeting hari ini, ia lebih memilih dirumah membujuk istrinya agar tidak marah lagi. Hampa rasanya kalau tidak melihat atau mendengar suara istrinya.
Sepuluh menit Alvan sudah siap dan rapi dengan setelan jas nya.
"Belum den.." jawab Bi Yuni. "Kenapa gak di buka pakai kunci serepnya den, Kuncinya kan ada dua?!" ucap Bi Yuni memberikan saran.
"Loh bibi gimana sih, kuncinya kan dua-duanya gantung di pintu.." ujar Alvan sembari membuatkan susu hamil dan sekaligus menaruh nasih goreng ke piring untuk istrinya.
__ADS_1
"Ya ampun bibi lupa den. Ya udah coba aja lagi bujuknya, kalau gak di buka juga pintunya dobrak aja." Alvan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap bi Yuni.
"Ya udah bi, saya mau bujuk Alea lagi sekalian bawakan sarapan sama susunya." Alvan keluar dari ruangan meja makan dan berjalan ke kamar tamu.
"Semoga berhasil den.." teriak bibi karena Alvan udah tidak kelihatan lagi.
"Sayang, buka pintunya dong.. Nih udah mas bawakan sarapan buat kamu. Kita sarapan yuk? Ini udah jam 7 pagi Lo. Kamu harus sarapan sayang.. Please sayang buka pintunya..!" Sampai entah berapa kali Alvan memanggil dan membujuk Alea, tapi sayangnya istrinya belum mau membuka pintu dan bicara padanya. Alvan menghela nafasnya, gimana lagi akan membujuk istrinya. Sebegitu marahnya istrinya padanya.
Jam udah hampir pukul 8 pagi, ia harus cepat sampai kantor, sebab hari ini ada meeting penting yang tidak bisa di gantikan oleh Arya. Kalau aja istrinya tidak marah, tentunya ia sudah membawa sang istri kekantor seperti biasanya.
"Oke, entar kamu makan ya sarapannya.. Mas hari ini ada meeting sayang, entar selesai meeting mas langsung pulang. Kamu istrahat aja dan nenangin hati kamu, mas harap ketika mas pulang kamu udah gak marah lagi sama mas, sayang.. Mas pergi dulu ya.. Maafin mas.." pamit Alvan pada sang istri dengan sedih harus meninggalkan istrinya ke kantor dan sedikit kecewa karena istrinya belum mau bicara padanya.
"Bi, saya minta tolong.. tolong bujuk Alea ya bi, untuk keluar kamar dan kasih sarapan ke Alea. Entar kalau ada apa-apa langsung hubungi saya." pintanya.
"Baik den.. Sabar ya den, entar juga mbak Aleanya baik sendiri. Biasa tuh ibu hamil emang seperti itu, emosinya lagi naik turun." ucap bi Yuni yang hanya di tanggapi Alvan dengan senyum tipis.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, Alvan pergi ke kantor dengan hati yang tidak tenang, sebab Bidadarinya masih marah padanya.