
Di tempat berbeda, sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman warga. Dimana wanita cantik telah di sekap dan dia adalah Alea. Saat ini mulut Alea telah di tutup oleh lakban hitam, kedua tangannya dan kakinya diikat dan Alea juga belum sadarkan diri. Dirumah itu ada tiga orang yang menjaga Alea, lelaki yang menculik Alea tadi.
"Hei bro, bos nelpon nih!" ucap salah satu dari mereka.
"Udah lo angkat, bilang kalau kita udah berhasil menculik dan membawa wanita itu ke rumah ini." ujar temannya yang satu lagi.
"Hallo bos.." sapanya
"Bagaimana?!" tanya Tasya dari seberang telepon
"Beres bos! wanita itu udah kami culik dan sudah ada di rumah yang anda sebutkan." jawab dari mereka.
"Bagus! tetap jaga dia jangan sampai lepas. Saya akan segera kesana!"
"Oke bos."
*
Tak berapa lama Alea membuka matanya dengan perlahan. Ketika matanya sudah terbuka dengan sempurna, Alea pun terkejut dirinya ada di sebuah ruangan yang tidak ia ketahui, ruangan itu tidak terlalu besar, dan dengan cat dinding udah terlihat pudar.
"Ya ampun.. aku ada dimana ini?!" ucap Alea lirih.
Entah mengapa kepalanya teras pusing dan ia sedikit mual. Alea berusaha berpikir kenapa ia berada ditempat ini. Setelah beberapa menit ia berpikir, Alea pun baru mengingat nya. Jika ia tadi lagi menunggu suaminya di depan Cafe, terus tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya kemudian keluar tiga orang lelaki menghampiri nya, lalu setelah itu ia tidak mengingat lagi.
"Ya Allah apa aku di culik..? tapi siapa yang menculik ku?!" monolog Alea, yang tidak mengerti siapa yang melakukan ini padanya. "Mas Alvan.. pasti kamu sedang mencari aku kan mas.." ucapnya lirih. Iya yakin suaminya pasti mencarinya. Dalam hati Alea terus berdoa agar suaminya bisa menemukan keberadaannya dan menyelamatkannya dari sini.
__ADS_1
Ketika Alea terus memanjatkan doa untuk keselamatan nya. Terdengar suara pintu di buka oleh seseorang dari luar. Setelah pintu terbuka, masuklah seorang wanita cantik kedalam, dimana Alea di sekap.
"Oh ternyata lo sudah sadar, rupanya?! hahaha.. gue berharap malah lo gak sadar selamanya." ucap Tasya sambil berjalan mendekati Alea.
"Mbak Tasya!" ucap Alea dalam hati, sebab ia tak bisa bicara karena mulutnya masih di tutup oleh lakban. Dan Alea terkejut dengan kedatangan Tasya di ruangan ini, berarti dalang dari penculikan nya adalah Tasya mantan kekasih suaminya.
"Ya! ini gue!" ucap Tasya yang seakan tahu dari tatapan Alea yang terkejut melihat nya. "Senang bisa bertemu kembali dengan mu, Alea..!" ucapnya lagi. Kemudian Tasya menarik paksa lakban yang menempel pada mulut Alea, sampai membuat Alea kesakitan. Lalu Alea menatap Tasya tajam, ia tidak menyangka Tasya sampai menculiknya.
"Kenapa?! gak suka..! jangan menatap gue seperti itu, hmm! lebih baik pikirkan saja nasibmu yang sebentar lagi lo akan menemui Ayah dan Ibumu di surga. Tapi sebelum itu gue akan melukis sesuatu di wajah cantik lo itu! hingga Alvan tidak akan bisa mengenali wajah mu." seru Tasya dengan senyum liciknya sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya
Alea membelalakkan matanya, tak percaya mendengar ucapan Tasya barusan yang menurutnya sedikit ngeri. Ia juga tidak menyangka Tasya bisa kasar dan sesadis itu.
"Kenapa, mbak?! kenapa kamu melakukan ini padaku?!" tanya Alea.
Plak!!
"Jangan pura-pura bego deh ! gara-gara Ghea dan Lo gue tidak jadi menikah dengan Alvan!" ucap Tasya penuh amarah.
"Itu bukanlah salah ku mbak..! seharusnya kalau mbak Tasya memang mencintai mas Alvan, mbak gak akan perdulikan dengan ancaman Ghea. Mbak seharusnya tetap lebih memilih menikah dengan mas Alvan dari pada kabur di hari pernikahan mbak waktu itu!" Tasya menatap Alea dengan sangat marah.
Plak!!
Tasya kembali menampar pipi Alea yang satunya lagi. Alea memejamkan matanya menahan rasa sakit dan panas di pipinya, bahkan airmata Alea sampai menetes sangking kuat tamparan dari Tasya. Ingin melawan tapi sulit, sebab kedua tangannya dan kakinya terikat.
"Beraninya kau!" desis Tasya. "Lihat saja apa yang akan gue lakukan padamu!" ucapnya benar-benar emosi.
__ADS_1
Tasya mendekat kan pisaunya ke pipi mulus Alea. Membuat Alea berusaha menjauhkan wajahnya dari pisau itu.
"Kenap?! Lo takut, iya?! Lo takut wajah cantik dan mulus Lo ini akan cacat?!" desis Tasya yang masih terus memainkan pisaunya ke wajah Alea.
"Sadar mbak, apa yang mbak lakukan ini salah..! Yang mbak lakukan ini, nantinya akan merugikan mbak sendiri." ucap Alea menasehati Tasya.
"Hahaha.. Lo pikir gue peduli! gue akan melakukan apa pun untuk merebut Alvan lagi dari Lo! Meskipun dengan cara menyingkirkan Lo dari hidup Alvan." geramnya.
"Auuh..! pekik Alea, yang merasakan pipinya sakit dan perih. Pisau itu sudah menggores wajahnya.
"Oh maaf, sakit ya.." ucap Tasya yang benar-benar sudah kehilangan akal.
"Kalau pun aku tiada. Aku yakin mas Alvan tidak akan pernah mau lagi kembali dengan mbak Tasya! Karena apa? karena mas Alvan sangat mencintaiku. Dan Mas Alvan bakalan semakin membenci mbak Tasya jika tahu mbak lah penyebab saya tiada!" ucap Alea tanpa ada rasa takut.
Plak!!
lagi-lagi pipi Alea tempat sasaran kemarahan Tasya.
"Kurang ajar!" mendapatkan tamparan dari Tasya lagi, Alea hanya tersenyum tipis sembari menatap Tasya. Dan itu malah membuat Tasya semakin geram dan jengkel. "Oh berani juga kamu ya?! Apa kamu gak takut sama sekali, jika hari ini adalah hari terakhir Lo hidup, hah?!"
"Takut?! hmm, tidak sama sekali. Karena pada kenyataannya semua manusia akan mati. Jadi buat apa aku takut!" balas Alea. "Malahan aku kasihan dengan mbak Tasya, hanya demi seorang lelaki yang sudah tidak lagi mencintai mbak. Mbak sampai berubah menjadi orang jahat." seru Alea.
"Kurang ajar! beraninya Lo mengasihani gue!" bentak Tasya yang semakin geram, yang kemudian meninggalkan Alea diruangan tersebut. Ia harus mencari udara segar dulu, untuk merendahkan emosinya.
"Kunci pintunya! dan jaga dia, jangan sampai kabur!" perintah Tasya kepada ketiga orang bayarannya.
__ADS_1
"Baik bos." jawab mereka bertiga.
"Satu jam lagi saya akan kembali kesini!" ucap Tasya yang langsung meninggalkan rumah tersebut.