Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 45


__ADS_3

"Al ini brownies coklat ke sukaan Lo." ucap Arya sembari memberikan brownies coklat ke Alvan, yang sedang duduk di salah satu meja. Setelah itu Arya pun duduk di sebelah Alvan.


"Siapa yang pesan ini?" tanya Alvan.


"Gue. Heri kemarin gue suruh pesan brownis coklat kesukaan Lo." jawab Arya sembari memasukan brownies kedalam mulutnya. "Emm, enak. Lo harus coba Al." Arya kembali memasukan brownies kedalam mulutnya. "Tapi Al, sepertinya kita sering makan Brownies ini deh. Tapi dimana ya?! Coba deh Al Lo makan brownies nya." pinta Arya yang terus mengunyah sembari berpikir. Karena penasaran Alvan pun memakannya.


Deg


Alvan terdiam sesaat setelah ia mencoba Browniesnya, jantungnya pun langsung berdetak kencang. Ia tahu, rasa ini. Brownis ini dan rasanya seperti buatan Alea. Ya ia tidak salah, ini buatan Alea. Ia sudah mengenal rasa brownies buatan Alea. Sebab hampir sering ia memakannya, jadi ia tahu buatan Alea.


"Ar, ini pesan dimana?" tanya Alvan.


"Apanya?!" Arya balik bertanya karena tidak mengerti.


"Ini, brownies nya beli dimana?!" tanya Alvan lagi.


"oh.. gue gak tahu. Kan si Heri yang pesan menunya semua..!" jawab Arya. " Emangnya kenapa Al?!"


"Ini, brownies buatan Alea, Ar.."

__ADS_1


"Apa?! Lo serius!"


"Iya. Gue mengenal rasanya dan apa pun yang di masak oleh Alea, gue masih mengingat rasanya. Mungkin semua brownis coklat rasanya hampir sama, tapi brownis buatan Alea beda Ar.. buatan Alea lebih enak Ar.. dan gue yakin ini buatan Alea." jelas Alvan.


"Kalau memang ini buatan Alea, pantas aja gue kaya pernah memakannya." ujar Arya.


"Ar, Lo coba tanya ke Heri dimana memesan Browniesnya. Siapa tahu aja ini buatan Alea Ar.." pinta Alvan.


"Oke." sahut Arya yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sekretarisnya.


"Gue ke toilet dulu, Ar.." pamit Alvan. Arya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa Ghe? kamu tadi ngomong apa?!" tanya Alea yang mendengar Ghea berbicara tapi tidak terdengar Ghea berbicara apa.


"Hah! oh gak ada, ini gue lagi cari teman gue." jawab Ghea bohong.


"Ghe toiletnya dimana ya? aku mau ke toilet dulu." tanyanya.


"Toilet?! itu Ale Lo masuk aja ke loby Apartemen, entar Lo tanya aja sama security nya dimana toiletnya." jawab Ghea.

__ADS_1


"Oke. Tunggu ya.. dan kamu jangan kemana-mana." ucap Alea.


"Sip." Alea pun berjalan menuju lobi Apartemen.


Saat Alvan sudah keluar dari toilet dan ia berjalan dilorong, sementara Alea dari lobi berjalan ke lorong menuju toilet. Sayangnya mereka belum saling menyadari kalau mereka saling behadapan walaupun jaraknya masih sedikit jauh, karena sibuk dengan melihat ponsel masing-masing. Pada saat mereka berselisihan.. tangan keduanya tanpa sengaja saling bersentuhan dan membuat jantung keduanya berdetak kencang bersamaan. Seketika keduanya sama-sama berhenti. Beberapa menit kemudian mereka membalikkan tubuhnya bersamaan. Alvan dan Alea saling pandang, tubuh Alea langsung mematung melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Mas Alvan.." batin Alea.


Sedangkan Alvan jantungnya semakin berdetak lebih kencang saat tahu wanita yang ada di hadapannya itu adalah Alea. Alvan bisa mengetahui itu Alea, karena masker yang Alea pakai diturunkan oleh Alea ke bawah dagunya. Jadi Alvan bisa melihat jelas wajah Alea.


Alvan dengan mata yang berkaca-kaca, berjalan mendekati Alea. Wanita yang sudah berhasil mencuri seluruh hatinya. Dan wanita yang ada di hadapannya saat ini, semakin terlihat sangat cantik setelah setahun tak bertemu dengannya.


Alea sendiri merasa takut dan gugup. Tetapi jauh didalam lubuk hatinya ia merasa sangat senang bisa bertemu dengan lelaki yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta hingga saat ini. Alea terus menatap Alvan yang semakin dekat dengannya. Ingin rasanya Alea kabur dari hadapan lelaki itu.Tapi, entah mengapa rasanya sulit untuk menggerakkan kakinya untuk melangkah.


"Alea.." ucap Alvan.


"Ma-mas Alvan?" Alea benar-benar merasa gugup. Alea tersenyum simpul pada Alvan. Rasanya ia belum siap kalau harus berbicara pada lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.


Setelah tubuh mereka sudah sangat dekat, Alvan langsung menarik Alea masuk kedalam pelukannya. Betapa ia sangat rindukan wanita yang berada di dalam dekapannya. Air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk matanya, akhirnya jatuh juga. Biarlah Alea menganggapnya lelaki cengeng, ia tidak perduli sama sekali.

__ADS_1


Sementara Alea, tubuhnya menegang yang tiba-tiba saja dirinya di peluk oleh Alvan. Dan Alvan memeluk begitu erat. Kemudian, sejenak Alea memejamkan matanya meresapi dan menikmati pelukan hangat Alvan padanya. Alea yang terbawa suasana ingin sekali membalas pelukan Alvan. Tapi, seketika ia langsung ingat kalau mereka sudah bercerai. Jadi Alvan bukan lagi suaminya, ia tidak berhak untuk memeluknya.


__ADS_2