
Setelah mengusir Sekretarisnya Susi, Alvan meminta pada pihak HRD untuk mencarikan sekretaris lelaki. Sedangkan Susi, ia jadikan sebagai pelajaran untuknya. Ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama kalau seorang wanita yang dijadikan Sekretaris.
Alvan menghela Nafasnya, ia masih bingung kemana istrinya pergi. Rasanya kepalanya mau pecah karena pusing memikirkan hal ini. Di tambah lagi ia kurang tidur sudah tiga hari ini. Dikarena terus memikirkan istri dan anaknya yang entah ada di mana.
"Al, ayo keruangan meeting sekarang. Bagas dan Rio udah datang tuh!" ucap Arya yang langsung main masuk keruangan Alvan.
"Bisa gak sih mau masuk itu ketuk pintu dulu! Bikin gue kaget aja lo!" kesal Alvan.
"Maaf bro.." ucap Arya sembari tertawa. "Habisnya gue telpon Lo gak di angkat-angkat." lanjutnya lagi.
"Iya gue gak dengar, ponsel gue lagi mode senyap." jawab Alvan asal. Padahal ia lagi menenangkan dirinya yang lagi emosi tadi. Saat bicara dengan Susi sekretaris nya.
"Oh iya sekretaris Lo mana kok gak ada di mejanya. Perasaan gue datang pagi tadi dia udah duduk sambil bersolek." tanya Arya pada Alvan sembari mereka berjalan keluar ruangan Alvan bersama-sama menuju ruang meeting.
"Udah gue pecat!"
"Apa, Lo pecat! Alhamdulillah akhirnya.. Lo pecat juga. Gue kira lo tetap pertahanin tu sekretaris ganjen. Bagus deh gue setuju Lo pecat dia. Gue gak nyangka dia seperti itu, padahal dia sekretaris yang sangat pintar dan cekatan Lo. Tapi di balik itu, ternyata dia suka menggoda suami orang." ucap Arya mendukung Alvan memecat Susi.
"Bahkan lebih parah bro. Lo tahu apa yang dia katakan saat gue pecat dia..!"
__ADS_1
"Apa?!" tanyanya.
"Dia bilang, dia rela di jadikan mainan gue di ranjang. Gila gak tu perempuan." Arya langsung membelalakkan matanya terkejut.
"Lo serius?!" Alvan menganggukkan kepalanya. "Perempuan kayak gitu mah buang aja ke laut. Kalau terus di biarin, bisa buat hancur rumah tangga orang tu mah." Arya menanggapi.
"Makanya gue pecat."
"Ah Lo pecat karena udah kejadian istri Lo pergi kan?! Coba kalau gak, pasti masih Lo pertahanin." cibir Arya. Alvan langsung memukul Arya pakai berkas yang ia pegang di tangan nya.
"Sial! Sakit tahu.." ucapnya kesal pada Alvan.
Kemudian pembicaraan mereka pun terhenti ketika sudah sampai di ruangan meeting.
Bunyi ponsel milik Alvan bergetar, ia pun. Langsung mengambil ponselnya di atas meja. Saat ini Alvan baru saja duduk di mejanya, ia habis selesai makan siang bersama temannya Bagas, Rio maupun Arya. Alvan menghela nafasnya setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Waalaikumsalam.. Ya mah ada apa?" tanya Alvan.
"Al, kamu apakan lagi menantu mama, hah?! Kenapa dia pergi dari rumah bawa si kembar..!" omel Nita dari seberang telepon.
__ADS_1
"Mama tau dari mana, kalau Alea pergi?"
"kamu gak perlu tau, mama tau dari mana Alea pergi dari rumah. Kamu itu bego atau gimana sih Al.. Sekretaris macam itu masih kamu pelihara terus!" kesal mama Nita.
"Iya mah Al salah. Tapi udah Al pecat kok sekretarisnya." jawab Alvan lagi.
"Bagus. Tapi kenapa baru kamu pecat sekarang, hah!? Ketika istri dan anak kamu sudah pergi dari mu!" Omel mama Nita lagi. "Oh iya kata papa, kamu di suruh susul papa ke Bali, soalnya ada yang mau papa bicarakan sama kamu. Penting!"
"Loh Papa sama mama ada di Bali?!" tanyanya.
"Iya, lagi ada urusan. Kami ada Villa kita sekarang, Kamu cepat kesini." ujar Nita
"Tapi mah, Al harus mencari Alea dan anak-anak."
"Soal itu nanti kita bahas disini. Yang penting susul ke Bali dulu." Alvan menghela nafasnya pasrah, dari pada dia terkena amukan papanya. Lebih seram kalau papanya marah dari sang mama. Kalau mamanya paling hanya mengomel saja. Berbeda dengan papanya.
"Oke. Al nyusul kesana."balas nya dan kemudian mematikan sambungan telepon setelah membalas salam dari mamanya.
Setelah selesai berbicara dengan mamanya di telpon, Alvan langsung memesan tiket pesawat melalui online dan ia mendapat tiket pesawat jam 9 malam. Kemudian Alvan meletakkan ponselnya di atas meja, sebelum melanjutkan pekerjaannya Alvan mengambil bingkai foto yang terletak dia atas meja kerjanya. Alvan menatap foto keluarga kecilnya itu dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Sayang tunggu papa ya.. Papa akan jemput kalian dan mama. Maafin papa yang udah buat mama kecewa sama papa. Jaga mama ya untuk papa. Papa janji ini yang terakhir menyakiti mama kalian. Papa sayang kalian bertiga." monolog Alvan sembari mengelus kaca bingkai foto itu.
Alvan kembali meletakkan bingkai fotonya, lalu melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Agar saat berangkat ke Bali nanti ia bisa sedikit tenang, karena pekerjaannya tidak begitu banyak. Lagian besok Sabtu dan kantor libur, jadi ia bisa sedikit menenangkan hatinya, dan pikirannya di Bali. Setelah itu ia kembali mencari istrinya, padahal ia sudah sangat merindukan mereka. Ia berharap segera menemukan keberadaan sang istri dan kedua anaknya.