
Didalam perjalanan pulang Alvan dan Alea hanya diam saja, tidak ada berbicara sama sekali. Entah apa yang ada di pikiran keduanya. Satu jam mereka baru sampai di rumah mereka sendiri. Memang jarak rumah Alvan ke rumah orang tuanya lumayan jauh, belum lagi kalau lagi macet.
"Mas, aku mau ngomong sama kamu." ucap Alea ketika mereka udah berada di dalam kamar.
"Jangan sekarang sayang, mas lagi capek." sahut Alvan yang langsung masuk ke kamar mandi. Hari ini ia benar-benar merasa sangat lelah. Di tambah lagi ia sangat kesal pada papa, mama dan adiknya yang dengan mudah menerima Yuda.
Sepuluh menit Alvan keluar dari kamar mandi, di lihatnya istrinya duduk di sofa. "Kamu belum tidur?!" tanya Alvan. Alea menganggukkan kepalanya sembari menatap Alvan begitu dalam.
"Ada apa, hmm?!" tanya Alvan. "ini udah malam sayang kok kamu gak tidur?" ucapnya lagi sembari memakai pakaiannya.
"ada yang mau aku bicarakan dan tanyakan ke kamu mas.." ucap Alea kesal.
Alvan menghela nafasnya, "besok aja, mas lagi capek." ujar Alvan yang berjalan nyamperin Alea. Kemudian Alvan mengecup bibir Alea singkat, lalu menarik Alea ke ranjang.
"Mas kenapa kamu gak setuju dengan hubungan Yuda dengan Ghea?!" tanya Alea. Alvan kembali menghela nafasnya, ia malas membahas mereka saat ini.
__ADS_1
"Mas.."
"Kamu kan tahu, Yuda itu gimana?!"
"Tapi semua orang bisa berubah mas..!" Alvan menatap Alea tajam. Kenapa istrinya seakan berpihak pada Yuda. Padahal istrinya itu sahabat dari Ghea, adiknya. Seharusnya istrinya menasehati Ghea agar mencari pendamping yang lebih baik perilakunya.
"Iya kalau dia berubah! Kalau tidak gimana?!" tanyanya dengan kesal.
"Makanya kita sebagai manusia berhak memberikan kesempatan, pada seorang yang berperilaku buruk berubah menjadi ke yang lebih baik. Begitu juga dengan Yuda, dia juga berhak mendapatkan kesempatan. Allah aja mau memberikan kesempatan pada hambanya yang ingin bertaubat, kenapa kita hanya manusia biasa tidak bisa mas?!" jelas Alea memberitahu suaminya dengan lembut. "Mas, Ghea aja mau memberikan kesempatan pada Yuda begitu juga dengan papa dan mama. Jika memang kebahagiaan Ghea ada pada Yuda, kita sebagai keluarga hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Terlepas dari perilaku buruk atau berengsek Yuda." tambah Alea lagi.
"Mas, jangan seperti itu. Semua manusia punya salah ataupun masa lalu, mau itu buruk atau tidak. Mas juga pun pernah melakukan kesalahan, bukan?!" tanya Alea.
"Kenapa sih kamu malah membelah Yuda! Kamu suka sama dia, iya!" ucap Alvan dengan sedikit nada tinggi. Membuat Alea terkejut dengan tuduhan yang tak berdasar itu dari suaminya.
"Mas, apa yang kamu ucapkan..? Aku hanya memberitahu, kenapa mas malah marah dan menuduh aku suka dengan Yuda..!" kesal Alea. "Sebenarnya mas gak suka dengan Yuda itu, karena memang tidak mau dia menikah dengan Ghea, atau karena kamu masih kesal dan gak terima pada Yuda karena dia pernah tidur dengan mbak Tasya, iya?! Apa mas masih cinta dengan mbak Tasya, Iya?!"
__ADS_1
"Alea!" tanpa sengaja Alvan kelepasan membentak istrinya. Membuat Alea terkejut, matanya pun mulai berkaca-kaca. Alea langsung bangkit dari ranjang, kemudian ia keluar dari kamar dan ia masuk kedalam kamar tamu lalu menguncinya.
"Sa-sayang, maaf." ucap Alvan merasa bersalah. Ia pun dengan cepat mengejar istrinya yang udah masuk kedalam kamar tamu.
Didalam kamar Alea menangis, hanya karena masalah Yuda dan Ghea suaminya sampai membentaknya. Dari mereka kembali bersama, ini pertama kalinya suaminya membentaknya. Alea merasakan perut sangat sakit karena calon anaknya di dalam terus menendang.
"Sayang, maafin mama. Ia mama gak akan menangis lagi. Udah ya perut mama sakit nih." ucap Alea terisak sambil mengelus perutnya. Sementara di luar Alvan terus mengetuk pintu kamar agar Alea membukanya.
"Sayang, buka pintunya.. Mas minta maaf udah bentak kamu. Sayang please buka pintunya.." Alvan terus mengetuk pintu sembari meminta maaf dan membujuk istrinya. "Sial! Apa yang udah gue lakuin ke Alea..!" monolog Alvan benar-benar merasa bersalah. Udah tahu Alea lagi hamil ia malah membentaknya, membuatnya menangis.
"Mas tidur aja sendiri! aku gak mau tidur sama mas. Mas jahat. Kalau gak.. jemput aja sana mbak Tasya, biar mas bisa tidur dengan mbak Tasya. Biar mas gak cemburu sama Yuda." ucap Alea dari dalam, yang masih terisak.
"Gak sayang.. Jangan bicara seperti itu, mas maunya tidur sama kamu. Mas gak ada lagi perasaan apa-apa pada Tasya sayang. Please sayang, buka pintunya ya.. Yuk kita bicarakan lagi baik-baik. Mas juga minta maaf udah nuduh kamu suka sama Yuda." Alvan bisa mendengar istrinya masih menangis terisak di dalam kamar. Hati Alvan sakit mendengarnya, Alvan juga menjadi tidak tenang, ia takut istrinya kenapa-kenapa.
"Aku gak mau..! Aku mau tidur sendiri. Malam ini kita tidur masing-masing.." ucap Alea lagi menolak membuka pintu.
__ADS_1
"Sayang jangan seperti ini.. Sayang mas benar-benar minta maaf. Sayang buka ya pintunya? Ayo kita tidur di kamar kita." Alvan terus saja membujuk istrinya. Namun sayang, satu jam Alvan berada di depan pintu kamar tamu Alea tak kunjung membuka pintunya. Kali ini istrinya benar-benar marah padanya.