
"Mas.." Alea menutup mulutnya terkejut dan tak percaya. Berkas yang ia pegang saat ini adalah berkas perceraian.
Seketika airmatanya jatuh gitu saja. Alea memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Tasnya seperti ada benda besar yang menimpanya. "Mas, kamu benar-benar ingin menceraikan aku?! Kamu benar-benar akan kembali bersama Tasya, mas?! Apa kebersamaan kita beberapa bulan ini gak ada artinya buat kamu, mas..? Bahkan hubungan pernikahan kita belum ada satu tahun. Dan kamu sudah mau menceraikan aku." Alea menghela nafasnya berusaha untuk kuat dan ikhlas. Ia tahu ini bakalan terjadi, sesuai apa yang di inginkan oleh lelaki itu. Jika Tasya sudah kembali, Alvan akan memutuskan tentang hubungan pernikahan mereka. Dan dengan adanya berkas perceraian ini, berarti keputusannya tentang hubungan pernikahan mereka sudah jelas dan itu adalah cerai. Inilah keputusan yang diambil oleh Alvan, menurutnya.
"Alea kamu harus kuat, sabar dan ikhlas. Mungkin jodoh kamu dengan Alvan hanya sampai disini dan mungkin ini yang terbaik untukmu dan dia." monolog Alea sembari menghapus airmatanya yang masih terus mengalir. Kemudian Alea mengembalikan kembali berkas itu ke tempatnya. Alea pun langsung keluar dari kamar Alvan. Bergegas ia keluar Apartemen dan ia harus bertemu dengan Ghea di tokonya, ia harus bicara pada Ghea tentang masalah ini.
"Hai kak ipar.." sapa Ghea yang melihat Alea baru saja masuk kedalam toko. Alea hanya menanggapi dengan senyuman. "Tumben lo telat, Ale?!" Alea bukannya menjawab ia malah menarik tangan Ghea masuk kedalam ruangan Ghea. Sementara Ghea bingung dengan sikap Alea yang hanya diam saja.
"Ale ada apa?!" tanya Ghea saat sudah di ruangannya. "Tunggu dulu, lo habis nangis Ale? Ada apa Alea?" tanyanya yang baru ia sadari kalau mata Alea sembab seperti habis menangis. Dan lagi-lagi Alea tidak menjawab, tapi kali ini Alea langsung memeluk Ghea. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia cegah.
"Ghe, kenapa rasanya sakit banget..!" adu Alea yang masih terus menangis.
__ADS_1
"Ale, Lo kenapa? please jangan begini, lo bisa cerita ke gue." tanya Ghea bingung. "Alea.." Ghea melepaskan pelukannya dari Alea, kemudian ia menatap Alea.
"Ada apa Ale?!" Ghea menghapus air mata Alea. Ghea merasa ikut sedih melihat Alea seperti ini.
"Ghe, mas Alvan mau menceraikan aku..!"
"Apa?!" ucapnya tak percaya.
"Ale apa lo yakin? bukannya kak Alvan, Lo bilang lagi di luar kota?!" tanya Ghea lagi.
"Iya Ghe, tadi aku sempat masuk kekamarnya dan aku gak sengaja lihat dan baca berkas perceraiannya. Dan itu atas nama kami berdua Ghe.." Jawab Alea. "Aku udah tahu ini bakalan terjadi kalau Tasya sudah kembali, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini." tambah Alea lagi.
__ADS_1
"Ale coba Lo tanya dulu ke kak Alvan, sapa tahu aja itu karena dia masih marah dan kecewa karena kak Alvan pikir Lo ikut andil dalam kaburnya Tasya." ujar Ghea.
"Kaya'nya gak perlu Ghe. Aku yakin itu memang sudah keputusannya. Biarlah, mungkin ini yang terbaik buat mas Alvan yang ingin kembali dengan Tasya." sambungnya.
"Tapi Ghe, jujur gue gak akan pernah suka dan setuju kalau kak Alvan kembali lagi pada Tasya. Gua kan udah cerita ke Lo kemarin, kalau Tasya itu wanita yang tidak baik." Ghea menghela nafasnya, ia tidak habis pikir dengan kakaknya yang ingin menceraikan Alea. Dan jika itu beneran terjadi, kakaknya lelaki yang paling bodoh di dunia ini.
"Oke jika memang itu maunya, gue harus buat kak Alvan menyesal dan gue pastikan kakak gue mengemis cinta pada Alea. Ini janjiku untuk mu Ale." ucapnya dalam hati.
"Ghe aku sudah berusaha, tapi aku gagal. Aku tidak bisa buat mas Alvan jatuh cinta padaku. Ghe, kenapa rasa sesakit ini.." adu Alea sembari menangis terisak. "Ini makanya aku takut untuk jatuh cinta dan menjalin hubungan. Ghe, ini pertama nya aku jatuh cinta sekaligus pertama aku merasakan sakit hati." Ghea memeluk Alea kembali, sungguh melihat sahabatnya seperti ini membuatnya merasakan sakit.
"Ghe, bisakah aku minta tolong padamu?" Alea menatap serius Ghea.
__ADS_1