
"Maaf den, Tuan sama nyonya gak ada di rumah." jawab Security orangtuanya ketika Alvan bertanya.
"Loh Papa sama mama kemana pak?!" tanya Alvan lagi.
"Pergi keluar kota den.. Tapi kemana nya saya kurang tahu den.. Soalnya saya gak tanya." jawabnya lagi.
"Kalau istri saya ada datang kesini gak pak?!"
"Gak ada den.. istri Aden gak ada datang kerumah." Alvan menghela nafasnya. Kalau istrinya tidak kerumah mama nya, terus istrinya pergi kemana? Sedangkan disini istrinya tidak memiliki siapapun. Gak mungkin istrinya pergi ke apartemen Reyhan sahabat istrinya itu, Reyhan saja sekarang tidak berada di Indonesia. Apa mungkin dia pergi ke toko adiknya. Sedangkan adiknya aja berada di Bali. Tapi apa salahnya dia ngecek kesana, siapa tahu istrinya memang berada disana bersembunyi darinya.
"Ya udah pak, kalau gitu saya pergi dulu." pamit Alvan pada Security orangtuanya.
"Iya den.."
__ADS_1
Setengah jam akhirnya Alvan sampai di toko milik adiknya, Ghea. Kemudian Alvan bertanya pada karyawan adiknya dan mereka mengatakan jika Alea tidak ada ke toko. Alvan sempat tidak percaya dengan mereka, siapa tahu mereka bersekongkol untuk menutupi keberadaan Alea. Sampai Alvan mengecek sendiri ke seluruh ruangan yang ada di toko itu. Ternyata benar istrinya memang tidak ada disana. Alvan benar-benar frustasi tidak dapat menemukan keberadaan istri maupun kedua anaknya.
"Ya ampun.. Bi Yuni kan ada ponsel, kenapa aku gak kepikiran untuk nelpon bi Yuni.. Aku yakin pasti bi Yuni ikut dengan Alea." monolog Alvan sembari mencari kontak bi Yuni di ponselnya.
Setelah menemukan nya Alvan langsung menghubungi nomor bi Yuni, Alvan mengumpat kesal karena nomornya tidak bisa dihubungi.
"Ya Allah sayang kamu dimana?! Mas mohon sayang jangan tinggalin mas seperti ini. Mas gak bisa hidup tanpa kamu sayang..!" ucap Alvan merasakan dadanya sangat sesak. Ia jadi mengingat kejadian ketika Alea yang juga pergi darinya kerena kesalahannya dulu. Itu saja sampai membuat ia hampir depresi karena tidak menemukan Alea, tapi jika ini terjadi lagi bisa jadi ia akan benar-benar gila.
*
*
"Al, Lo jadi ingat gak sih ketika Alea pergi juga waktu itu. Lo aja ketemunya setahun kemudian." ucap Arya yang saat ini ada bersama Alvan di rumah Alvan.
__ADS_1
"Iya gue ingat. Kalau gue menemukan mereka sampai selama itu, bisa-bisa gue akan mati Ar. Tiga hari aja gue gak sanggup pisah sama mereka. Gimana sampai setahun.. Gue benar-benar gak akan sanggup Ar." tutur Alvan frustasi.
"Apa Lo belum kasih tahu Tante Nita, Al?!" tanya Arya
"Belum Ar, gue belum kasih tahu orang tua gue. Yang ada gue di amuk sama mama. jika mereka tahu kalau Alea pergi dari rumah bersama anak-anak." jawab Alvan. Ya, sampai sekarang Nita dan Sandi tidak mengetahui kalau menantu dan kedua cucunya pergi. Kalau mereka sampai tahu, habis Alvan sama mamanya. Untung mereka berdua di luar kota dan sampai hari ini mereka belum pulang. Dan selagi mereka belum kembali, ia harus cepat menemukan istri maupun anaknya.
"Sabar Al.. gue yakin Alea pasti akan kembali. Mungkin dia masih menenangkan diri. Entar kalau hatinya udah tenang dan pikirannya udah jernih, pasti Alea akan balik. Lagian Lo kan tahu Alea orangnya seperti apa. Dia sabar, baik dan pemaaf." ucap Arya menenangkan dan menghibur Alvan sepupunya.
"Mudah-mudahan Ar," Alvan pun menghela nafasnya. "Sumpah Ar, gue kangen banget sama mereka." lanjutnya lagi.
"Iya gue tahu." sahut Arya. "Kalau gitu gue balik dulu." pamitnya. "Oh iya, besok jangan lupa Lo masuk kantor. Soalnya besok ada meeting bersama Bagas dan Rio." ucap Arya memberitahu.
"Gue usahakan besok. Gue masih gak mood mau ke kantor Ar.. Lo aja yang mewakilin, bilang ke mereka. Pasti Bagas ngerti."
__ADS_1
"Gak bisa Al.. Meeting kita kali ini Lo harus hadir karena perlu tanda tangan Lo." Alvan menghela nafasnya lelah.
"Pokonya lo harus datang ke kantor." Kemudian Arya pergi meninggalkan Alvan.