
Siang harinya tepat pukul 12 siang, Alvan pulang kerumah ia ingin makan siang bersama Alea. Apalagi ia tak bertemu dengan istrinya dari malam tadi sampai hari ini, ia udah sangat merindukan istrinya itu. Ia akan meminta maaf pada Alea, ia tidak tahan lama-lama di cuekin istrinya.
Ketika mobilnya masuk ke pekarangan rumah, security rumahnya menghentikan Alvan.
"Ada apa pak Didin?!" tanya Alvan bingung.
"Gak den, cuman mau kasih tau kalau di rumah gak ada orang.." ucap Didin.
"Gak ada orang dirumah? Loh memangnya istri saya pergi kemana pak?" tanya Alvan yang memang lupa jika mamanya tadi menelpon dirinya mau mengajak Alea ke mall.
"Kerumah sakit den.." jawab Didin lagi. "Loh mama den Alvan gak ada kasih tahu Aden ya? kalau mbak Alea sakit.." Alvan langsung terkejut mendengarnya.
"Sakit.. Istri saya sakit mang?!" Didin menganggukkan kepalanya.
"Mungkin Mama den Alvan lupa ngabarin.. wong saya lihat nyonya sampai panik gitu den." Alvan langsung memundurkan mobilnya ke arah luar kembali.
Hatinya hancur mendengar istrinya sakit, ia tidak akan maafkan dirinya sendiri kalau terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya. Tapi ia sangat kesal pada mamanya, kenapa mamanya tidak ada memberitahunya sama sekali? Begitu juga dengan bi Yuni tidak ada menghubungi nya.
Mobil Alvan melaju dengan cepat menuju rumah sakit yang tidak jauh dari rumah mereka, ia yakin pasti istrinya di bawa kerumah sakit itu. Sampainya dirumah sakit, Alvan memarkirkan mobilnya asal, sebab ia udah sangat panik dan kuatir dengan kondisi istrinya. Kemudian Alvan berlari masuk kedalam rumah sakit dan berhenti di resepsionis, menanyakan dimana ruangan istrinya di rawat.
__ADS_1
"Kamu?!" mama Nita terkejut melihat Alvan sudah ada di depan ruangan menantunya di rawat. Kemudian Mama Nita menatap Bi Yuni dan bi Yuni menggelengkan kepalanya yang mengerti dari tatapan nyonya besarnya itu. "Kamu tahu dari mana Alea ada di rumah sakit?!" tanya sang mama dengan nada datar.
"Mama kenapa gak kasih tahu Al kalau Alea masuk rumah sakit?!" Alvan bukannya menjawab pertanyaan mamanya ia malah bertanya balik kenapa mamanya tidak memberitahukan tentang Alea padanya.
"Kamu mau kemana?!" tanya mama Nita lagi yang melihat anaknya berjalan kearah pintu ruangan Alea.
"Mama gimana sih Al mau melihat istri Al mah..!" jawab Alvan kesal. "Apalagi mah?!" ketika akan mau masuk Mama Nita menahan tangannya.
Kemudian Mama Nita menjewer telinga putranya membuat Alvan mengaduh kesakitan. "Mama apaan sih kenapa telinga Al di jewer sih!" ucap Alvan sembari mengelus kupingnya yang terasa panas.
"Kamu apakan menantu mama, hah?! Kenapa sampai demam seperti itu!"
"Gak ada Al apa-apain mah..! Ma, please biar Al menemui istri Al dulu, kalau mama mau marah entar aja setelah Al udah melihat kondisi istri Al." ucapnya yang langsung melipir masuk kedalam ruangan istrinya tanpa memperdulikan mamanya yang masih mengomel.
"Sayang maaf.. Maafin mas." Air mata Alvan menetes, sedih melihat istrinya berbaring di rumah sakit. Sambil duduk di kursi Alvan tak henti-hentinya menciumi tangan istrinya. Tangannya saja juga terasa hangat, apakah begitu tingginya demam istrinya? Ya ampun apa yang sudah ia lakukan pada istrinya? ia terus mengutuk dirinya yang tidak becus menjaga istrinya.
Dua jam Alvan masih setia menunggu istrinya yang belum bangun dari tidurnya. Tak henti-hentinya ia terus meminta maaf kepada sang istri.
"Mas.." panggil Alea lirih, tapi matanya masih terpejam.
__ADS_1
"Iya sayang ini mas.. Mana yang sakit?!" tanya Alvan kuatir.
"Mas.." panggil Alea lagi tapi matanya masih juga terpejam. Membuat Alvan panik, ia pun langsung mencoba membangunkan istrinya itu. Dan sepertinya istrinya tengah mengigau memanggil dirinya. "Hei sayang bangun, ini mas sayang.." Dengan perlahan Alea membuka matanya, Alea memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
"Alhamdulillah.." ucap Alvan lega bersyukur istrinya sudah membuka matanya. "Mana yang sakit, sayang.." Alvan mengelus kepala istrinya dengan lembut yang tertutup hijab instan.
"Mas, kepala aku masih pusing." aduh Alea pada Alvan.
"Mas panggilin Dokter dulu ya, sayang.." Alea menggelengkan kepalanya.
"Mas disini aja, aku kangen.." rengek Alea manja. "mas maaf.." ucap Alea lagi dengan nada lirih. Alvan langsung memeluk istrinya sembari menggelengkan kepalanya.
"Gak sayang, ngapain kamu minta maaf. Kamu gak salah mas lah yang salah tidak becus menjaga kamu, gara-gara mas kamu sampai demam gini.. Maaf sayang.." ucap Alvan sembari mengecup kening Alea. Ia juga sangat merindukan istrinya.
"Permisi.." sapa Dokter yang menangani Alea.
"Iya Dokter, silakan masuk.." jawab Alvan.
"Oh syukurlah Bu Alea sudah bangun, kita periksa istrinya dulu ya pak.." ucap seorang Dokter wanita minta ijin pada Alvan. Dan Alvan pun menjauh dari Alea, tapi masih tetap berada di ruangan perawatan istrinya itu.
__ADS_1
"Syukurlah kondisinya sudah mulai membaik. Tapi masih harus tetap di rawat beberapa hari disini ya Bu Alea.. Jangan lupa banyak minum air putih." ucap sang Dokter. "Untuk suaminya, tolong jaga istrinya ya pak.. Jangan sampai membuat istrinya stres, atau kelelahan." tambah sang Dokter yang membuat hati Alvan langsung tercubit.
"Iya Dok, terimakasih Dok.." ucap Alvan. Setelah selesai memeriksa Alea, Dokter itu langsung pamit.