
"Ma-mas.." panggil Alea lirih menahan rasa sakit dan Air matanya pun sudah mengalir ke pipinya. Tubuh Alea hampir jatuh kebawah, ke lantai kalau Alvan tak memegangnya.
Ya, ketika pistol yang di pegang oleh Tasya di tembak kan ke arah Alvan, Alea sempat melihat dan spontan Alea membalikkan badannya. Jadi Alea yang terkena tembakan itu dua kali.
"Alea..!!" ucap Alvan panik dengan melihat keadaan istrinya.
"Ma-mas,!" Alea mengulurkan tangannya ke pipi Alvan. "Mas, ji-jika me-mang ini udah waktunya aku pergi. Mo-mohon ma-maaf kan semua kesalahan aku mas.. yang belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu, yang belum juga ngasih keturunan buat keluarga kamu. A-aku sa-sangat me-mencintai ka-kamu ma-mas.." ucap Alea terbata-bata karena gak kuat menahan sakit.
"Gak sayang, jangan bicara seperti itu. Gak akan mas biarkan kamu pergi meninggalkan mas." ucap Alvan sembari menitihkan air matanya.
"Al, cepat ayo kita bawa kerumah sakit!!" teriak Arya.
Alvan pun tersentak dan langsung mengangkat tubuh Alea dan berjalan menuju mobil Arya.
"Bian, tolong Lo urus Tasya di kantor polisi." pinta Arya pada Bian.
"Iya kalian tenang aja. Yang penting cepat bawa Alea ke rumah sakit." ucap Bian yang juga merasa kuatir dengan kondisi Alea yang terkena tembakan.
Sementara Tasya udah di bawa masuk kedalam mobil polisi dengan tangannya di borgol dan bersiap pergi menuju kantor polisi untuk di masukan ke dalam penjara. Namun di wajah Tasya sama sekali tidak ada menunjukkan raut wajah penyesalan atau bersalah. Mungkin Tasya benar-benar wanita yang sudah tidak waras. Sampai tega ia melakukan itu pada Alea.
__ADS_1
"Sayang please buka matamu..!" ucap Alvan mencoba membangun kan Alea yang sudah tidak sadar di atas pangkuan nya.
"Ar, cepat sedikit bawa mobilnya..!!" teriak Alvan. Arya melihat itu merasa tidak tega dengan Alvan yang menagis histeris melihat sang istri tidak sadarkan diri.
Alvan terus saja mengajak istrinya bicara, walaupun ia tahu istrinya sudah pingsan dengan darah yang mengalir terus di tubuh Alea. Kemeja putih Alvan juga sudah penuh bercak darah dari sang istri.
"Sayang, mas mohon jangan tinggalkan mas. Mas gak akan sanggup hidup tanpa kamu sayang... please bertahan sayang.. bertahan demi mas." ucap Alvan terisak. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit Alvan terus memeluk Alea. "Kenapa sayang?! kenapa kamu melakukannya.. seharusnya biarkan saja mas yang terkena tembakan itu.. kenapa mesti kamu balikkan tubuh kamu sayang..!" ucapnya lagi.
Arya yang mendengar isakan Alvan menjadi ikut menangis. Ia tidak menyangka wanita secantik dan seanggun Tasya bisa nekat melakukan hal itu.
Alvan mengelus wajah istrinya, menciumi wajah istrinya, ia juga menciumi luka lebam yang ada di wajah istrinya. Jika istrinya sampai tidak bisa di selamatkan, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Dada Alvan semakin terasa sesak dan sekaligus takut dengan keadaan Alea. Alvan tidak mau kehilangan Alea. Alea adalah sumber kekuatan dan kebahagiaannya. Istrinya yang sangat cantik dan juga begitu baik hatinya.
Pintu ruangan UGD di tutup. Alvan pun langsung terduduk lemah di lantai rumah sakit tepat di depan ruangan UGD. Seluruh dunia Alvan serasa terhenti, dadanya bergemuruh begitu hebatnya sampai rasanya begitu sakit. Nafasnya terasa sesak, dan air matanya tak mau berhenti mengalir.
Alvan jadi mengingat perbincangan mereka kemarin malam. Mereka yang lagi duduk santai di balkon kamar mereka.
Flashback on
"Mas.." panggil Akea begitu lembut.
__ADS_1
"Iya sayang.." sahut Alvan sembari mempererat pelukannya. Posisi Alvan berada duduk di belakang Alea, sembari memeluk Alea.
"Mas.. seandainya umur aku tidak panjang di dunia ini, apakah kamu akan mencari pengganti aku mas?!" tanya Alea tiba-tiba sembari menikmati pelukan hangat dari Alvan.
Alvan yang mendengar itu sontak terkejut, "kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?! hmn?! mas gak suka kamu berbicara mengenai itu!" ucap Alvan datar.
"Mas, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?! setiap makhluk hidup pasti akan tiada mas..!" ucap Alea mengingatkan. "Dan jika itu terjadi dengan aku besok gimana, mas?!" tanya Alea lagi penasaran akan jawaban suaminya.
"Jujur mas gak siap sayang, mungkin gak akan pernah siap dan gak sanggup hidup tanpa kamu. Dan jika suatu saat itu terjadi pada kamu yang tiada terlebih dahulu dari pada mas? Mas tidak akan pernah mencari pengganti kamu. Karena kamulah satu-satunya bidadari mas di dunia maupun di akhirat kelak." terang Alvan semakin mengeratkan pelukannya, seakan ini pelukan yang terakhir kalinya. Entah mengapa dengan membicarakan soal itu, tiba-tiba saja ada perasaan tidak tenang yang muncul di hati Alvan.
Flashback off
Mengingat perbincangan mereka kemarin malam, Alvan semakin menangis terisak. Ia benar-benar takut istrinya tiada. Jika itu beneran sampai terjadi, pasti akan sulit baginya untuk memulihkan hatinya kembali.
"Al.." panggil Arya sembari menyentuh punggung Alvan.
Kemudian Arya membantu Alvan beranjak dari lantai. Alvan menatap Arya sejenak, dan air matanya kembali jatuh. Arya pun langsung memeluk erat sepupunya itu, sembari menepuk-nepuk punggung Alvan untuk menguatkannya.
"Al, gue yakin pasti Alea bisa melewati ini semua dan selamat. Gue juga yakin Alea adalah wanita yang sangat kuat." ucap Arya berusaha menenangkan Alvan.
__ADS_1
"Gimana gue bisa tenang Ar.. Alea tengah berjuang sendiri antara hidup dan mati, di dalam sana." ujar Alvan yang masih terisak.