
Setelah mengecek seluruh Villa. Tubuh Alvan langsung lemas, ia tidak menemukan Alea dan si kembar di Villa. Tapi hatinya masih terus meyakini kalau yang ada di hadapan dan yang ia peluk malam tadi adalah istrinya. Ia tidak mimpi atau pun halusinasi.
"Gimana.. ada gak Alea di villa?!" tanya Nita menghampiri putranya yang lagi duduk di sofa sembari memijit keningnya yang teras pusing.
"Gak ada!" jawabnya. "Al yakin pasti mama kan yang sembunyikan Alea dan anak-anak." tuduh Alvan.
"Kamu nuduh mama?!"
"Iya. Al tahu mama seperti apa. Al beneran ma.. Kalau Al tidak halusinasi malam tadi, itu benar Alea yang membukakan pintu." ucapnya.
"Tapi nyatanya gak ada Al..!" balas Mama Nita
"Mah please kasih tahu dimana Alea. Mama gak kasian lihat Al, anak mama sendiri." Nita tertawa dalam hati sembari menatap putranya yang terlihat berantakan.
"Kamu kenapa nuduh mama.. Mana buktinya kalau memang mama yang sembunyikan mereka?!" tantang Nita.
"Al memang gak ada bukti. Tapi dari sikap mama yang biasa-biasa saja dan gak ada kuatir nya sama sekali dengan kepergian Alea dan si kembar. Itu sudah membuktikan mama tahu dimana Alea dan mama sengaja tidak memberitahukan pada Al!" ucap Alvan yang yakin mamanya yang menyembunyikan Alea.
__ADS_1
"Kamu pikir mama gak kuatir Al?! Ya jelas mama kuatirlah..! Kalau tahu Alea bakalan pergi membawa cucu-cucu mama, pasti mama sudah melarangnya sekalipun dia sudah di kecewakan sama kamu! sangkal mama Nita. "Lagian buat apa mama menyembunyikan mereka. Pokoknya mama gak mau tahu, kamu secepatnya harus menemukan mereka. Mama sudah sangat merindukan cucu-cucu mama yang sangat menggemaskan itu." lanjut mama Nita lagi. Kemudian pergi meninggalkan Alvan dan berjalan menuju kamarnya.
"Mama pasti bohong. Al yakin pasti mama yang menyembunyikan Alea.. Mah please dimana istri Al!" teriak Alvan masih tak percaya.
"Mama gak tahu. Terserah kamu mau percaya atau gak?!" sahut mama Nita.
Alvan menghela nafasnya, iya semakin menjadi bingung benar atau gak nya kalau dia malam tadi itu beneran Alea atau hanya halusinasinya saja karena ia sangat merindukan Alea. Tapi hatinya masih meyakini kalau itu bukan mimpi atau halusinasi saja tapi keberadaan Alea benar-benar itu nyata.
Alvan benar-benar sangat frustasi, rasanya ia ingin mengobrak-abrik seluruh dunia untuk mencari keberadaan istri dan anaknya. Tiba-tiba saja ia teringat ketika istrinya di culik oleh Tasya dulu dimana istri rela mengorbankan nyawanya untuk menolong dirinya yang di tembak oleh Tasya. Tapi malah istrinya yang terkena tembakan itu karena melindunginya. Sampai membuat salah satu ginjal istrinya harus di angkat karena terkana tembakan dan kerena tembakan itu juga nyaris mengenai anaknya yang saat itu masih dalam kandungan Alea. Airmata Alvan pun jatuh mengingat hal itu. Istrinya saja rela mengorbankan dirinya untuknya tanpa memperdulikan nyawanya sama sekali, tapi apa yang sudah ia lakukan? Ia malah nyakitin hatinya dan membuat istrinya kecewa. Alvan menghela nafasnya, merasakan sesak di dadanya.
Seharusnya ia mendengarkan kata istrinya yang menyuruh nya untuk mengganti sekretaris lelaki. Tetapi ia malah membiarkannya saja memakai sekretaris nya yang sialan itu. Ia kira Susi tidak akan melakukan hal sejauh itu, nyatanya dia salah. Memang filling seorang istri selalu benar. Ia mengakui itu sekarang. Tapi semua sudah terlambat, istrinya sudah pergi meninggalkannya dengan membawa si kembar. Tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Istrinya benar, jika istrinya yang ada di posisi seperti sekretarisnya itu. Mungkin ia akan langsung ngamuk baik dengan lelaki itu maupun kepada istrinya. Ia benar-benar menyesal, sangat menyesal.
"Al.." panggil Sandy sembari mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Alea. Ya, Alvan memilih kamar yang di pakai Alea malam itu. "Al..!" panggil Sandy lagi karena Alvan tidak menjawab. Kemudian Sandy membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Papa Sandy pun masuk kedalam dan ia melihat putranya lagi tidur. Sebenarnya ia juga tidak tega tapi mau gimana lagi ini demi rencana istrinya dan menantunya. Tapi ia juga mendukung mereka untuk memberikan sedikit pelajaran pada putranya yang kembali melakukan kesalahan.
"Al.." Sandi membangunkan Alvan. "Al.." Panggil nya lagi.
"Hah. Iya pah, apa Alea sudah ketemu?!" ucap Alvan spontan karena terkejut. Sandy tersenyum geli menatap putranya yang sangat berantakan.
__ADS_1
"Alea belum ketemu, tapi papa akan usahakan terus untuk menemukannya." jawab Sandy. "Oh iya papa mau mengajak kamu bertemu teman papa, sekali membicarakan bisnis juga. Papa mengajak kamu siapa tahu aja kamu berminat bekerjasama dengan teman papa itu." ajak Sandy.
"Emm, ini sudah jam berapa pah?!" tanya Alvan sembari beranjak dari kasur.
"Ini sudah jam 7 malam." jawab Sandy. "Cepat ya papa tunggu di luar." lanjutnya lagi.
"Iya pah!" sahut Alvan yang tidak menolak ajakan papanya.
Lima menit Alvan pun sudah siap dan rapi. Alvan langsung keluar dari kamar menemui papanya.
"Sudah siap?!"
"Sudah pah." jawab Alvan.
"Oke. Ayo kita berangkat, takut teman papa nungguin." ucap sang papa dan mereka pun keluar dari rumah, kemudian masuk kedalam mobil.
"Ke lokasi yang saya katakan tadi ya pak?!" ucap Sandy pada supirnya.
__ADS_1
"Baik tuan." sahutnya.