
Malam harinya, Alvan tengah berdiri di balkon kamarnya sembari memandang kota Jakarta. Sementara Tasya sudah ia suruh pulang. Untungnya tidak sulit membujuk Tasya pulang. Sejujurnya Alvan enggan membawa Tasya, karena ia juga kecewa pada Tasya yang lebih memilih karirnya dari pada dirinya. Tapi demi menjalankan rencananya, ia terpaksa mengajak Tasya ke apartemennya, untuk membuat Alea cemburu dan sakit hati seperti apa yang ia rasakan. Alvan ingin tahu gimana perasaan Alea padanya dan bagaiman raut wajahnya jika ia bersama wanita lain. Dan jika Alea terlihat kesal, itu berarti Alea cemburu dan berarti Alea juga menyukainya. Tapi sayangnya, Alea terlihat biasa saja. Malah ia pergi gitu aja meninggalkan dirinya bersama wanita lain.
"Apa selama kita bersama kamu tidak ada sedikit rasa untukku, Alea?! lirih Alvan.
Alvan mengusap wajahnya kasar, Alvan pun menatap berkas yang ia minta dari pengacaranya. Ia masih bingung, apakah keputusannya ini tepat atau tidak. Kemudian Alvan masuk kedalam dan meletakkan berkas tersebut di atas meja. Lalu Alvan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang karena merasa sangat lelah.
Tiga hari telah berlalu. Tetapi hubungan mereka belum membaik. Alvan sendiri masih saja dingin pada Alea, meski Alea terus bersikap seperti biasa pada Alvan yang selalu baik dan perhatian padanya.
Tepat hari ini Alvan berulang tahun. Dan orangtua Alvan menyuruh mereka datang kerumah keluarga Kavindra entar malam. Mama dari Alvan mengadakan makan malam untuk merayakan ulang tahun Alvan, dan hanya di hadiri oleh keluaga dekat saja.
"Iya mam, siang ini Alvan akan pulang dari Bandung. jawab Alvan pada mamanya melalui sambungan telepon. Karena dua hari ini Alvan berada di Bandung untuk mengecek proyek yang ia jalankan.
"Kamu naik mobilnya jangan ngebut ya sayang.. hati-hati yang penting selamat." ucap mamanya lagi.
__ADS_1
"Iya mam." sahut Alvan sembari memakai sepatunya, pagi ini ia akan mengecek ulang proyek nya. Dan siang baru balik ke Jakarta.
"Al jangan lupa kamu bawa Alea sekalian ya..?"
"Kenapa gak pergi sama Ghea aja sih mam.. kalau Alvan jemput dia, terlalu lama."
"Baiklah terserah kamu aja." ucap mamanya yang memang tidak mengetahui hubungan Alvan dan Alea yang tidak baik-baik saja. Kemudian Mamanya Alvan mematikan sambungan telepon nya.
Sementara di tempat berbeda tepatnya di Apartemen. Alea baru selesai menulis ucapan selamat ulang tahun di sebuah kertas untuk Alvan. Dan Alea akan memberikan kado saat makan malam di rumah mertuanya nanti yang sudah ia beli beberapa hari yang lalu. "Mungkin ini harganya gak seberapa mas, mudah2n kamu suka ya, mas." lirih Alea.
Kemudian Alea berjalan keluar kamar, waktunya ia pergi bekerja. Tepat di depan pintu kamar Alvan, Alea menghentikan langkahnya. "Mas aku merindukanmu," Lirihnya. Gak tahu kenapa Alea tertarik untuk masuk kedalam kamar Alvan yang kebetulan memang tidak di kunci.
Alea pun masuk kedalam, saat sudah masuk kedalam Alea bisa mencium harum parfum yang sering di pakai suaminya itu, harum maskulin yang sangat ia sukai dan ia rindukan.
__ADS_1
Alea menatap sebuah foto dan mengambilnya yang ada di atas nakas. "Kamu benar-benar tampan mas, pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padamu. Termasuk aku yang sudah sangat mencintaimu. Kamu adalah lelaki pertama yang aku cintai, mas dan lelaki pertama yang mencuri ciuman pertama ku." monolog Alea sembari mengusap foto Alvan.
"Di foto ini kamu kelihatan masih mudah banget ya, mas..!" tambah Alea lagi. Kemudian Alea meletakkan fotonya kembali. Setelah menatap keseluruhan kamar Alvan, Alea pun berjalan untuk keluar kamar, namun tak sengaja lututnya menabrak meja lumayan kuat. "Aw..!!" pekik Alea yang merasakan lututnya sakit karena benturan dari meja.
Membuat map di atas meja terjatuh dan isinya berserakan karena posisinya tepat di pinggir meja.
"Ya ampun Alea.. kenapa kamu gak lihat-lihat kalau ada meja sih..!" Monolognya sembari berjongkok mengambil berkas yang berserakan di lantai.
Alea pun menyusun berkas tersebut dan memasukan berkasnya kedalam map lagi. Saat akan menutup map tersebut sekilas matanya membaca sesuatu di berkas tersebut. Alea tak jadi menutupnya dan ia mengambil berkas tersebut. Alangkah terkejutnya Alea setelah membacanya. Tangan Alea bergetar, dadanya terasa sangat sesak dan tubuhnya terasa lemas.
"Mas.."
__ADS_1