Bidadari Surgaku

Bidadari Surgaku
Bab. 48


__ADS_3

"Sayang..!" panggil Alvan saat melihat Alea sudah keluar dari kamar mandi. Kemudian Alvan berjalan menghampiri Alea yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi sembari matanya tak lepas menatap Alea.


"kenapa mas?" tanya Alea yang juga menatap suaminya.


"Kamu tidak akan pergi lagi ninggalin mas, kan sayang?!" Alea melihat ada rasa takut, dan sedih di mata Alvan. Alea mengulurkan kedua tangannya dan menangkup kedua pipi yang masih berstatus suaminya itu.


"Kamu kelihatan makin kurusan mas? apa kamu tidak makan dengan baik?!" tanya Alea.


"itu karena kamu pergi ninggalin mas, sayang.. dan gak ada lagi yang masakin mas makanan yang enak..!" Sahut Alvan.


"Maaf.." ucap Alea merasa bersalah.


"Kamu tahu kan sayang.. dalam agama kita, kalau seorang istri keluar rumah itu harus izin dari suaminya..?!" Alea menganggukkan kepalanya.


"Maafin aku mas, udah pergi tanpa pamit dan minta ijin sama kamu. Apalagi aku perginya sampai satu tahun. Mas mau maafin aku kan?" ucap Alea yang benar-benar merasa bersalah. Melihat Alea meminta maaf dan merasa bersalah padanya membuatnya tidak tega. Ia bukan bermaksud membuat istrinya itu merasa bersalah. "Mas, maaf.." ucap Alea lagi. Seketika Alvan memiliki ide.


"Oke. Mas akan maafkan kamu. Tapi kamu harus ngabulin permintaan mas."

__ADS_1


"Permintaan?!"


"Iya sayang.."


"Permintaan apa mas?!" tanya Alea.


"Pertama, jangan pernah pergi lagi ninggalin mas. Terus yang kedua, mas mau mulai sekarang kita saling terbuka satu sama lain. Jangan pernah ada yang di tutup-tutupi, masalah apa pun itu dan harus saling percaya." Alea yang mendengar permintaan suaminya pun menganggukkan kepalanya. "Dan yang terakhir.." Alvan menghentikan ucapannya membuat Alea mengerutkan keningnya.


"Apa mas?!" Alvan tersenyum tipis sembari menatap Alea. Kemudian Alvan menundukkan wajahnya, lalu.. Alvan mencium bibir Alea lembut dan lama-kelamaan Alvan menciumnya semakin dalam. Alea yang tadinya hanya diam karena terkejut, kini mulai membalas ciuman dari suaminya dan mencoba mengimbangi Alvan. Alea merasakan lutut nya terasa lemas, karena ciuman Alvan semakin menuntut. Alvan semakin menarik tubuh Alea agar lebih dekat dengannya tanpa ada jarak. Kepala Alvan pun sampai bergerak ke kanan dan ke kiri sesuai keinginan nya. Sementara Alea tanpa sadar tangan sudah meremas rambut belakang Alvan. Dan ia juga bisa merasakan ada sesuatu yang berubah pada bagian tubuh suaminya itu. Seperti ada benda keras yang menekan bagian tubuhnya.


Alvan pun melepaskan tautan bibirnya dari Alea saat nafasnya semakin menipis. Kemudian Alvan menatap Alea dengan pandangan sayu dan penuh gairah.


"A-apa, mas?! Alvan mengelus pipi Alea lembut.


"Mengabulkan permintaan papa dan mama yang menginginkan seorang cucu dari kita." bisik Alvan ke telingah Alea membuat sekujur tubuhnya merinding. "Kenapa sayang?! apa kamu tidak mau?!" tanya Alvan karena Alea hanya diam saja.


"Bismillahirrahmanirrahim.. aku mau mas mengabulkan nya." ucap Alea dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Alvan.

__ADS_1


"Mas gak denger sayang, coba kamu ulangi lagi.." pinta Alvan yang ingin mendengarnya sekali lagi.


"iya mas, aku mau.." ucap Alea malu-malu dan pipinya sudah merah seperti tomat membuat Alvan gemas sendiri melihatnya.


Tanpa pikir panjang Alvan langsung menggendong Alea ala bridalstyle, Alea yang tiba-tiba saja di gendong oleh Alvan pun terkejut. Kemudian Alvan dengan lembut meletakkan tubuh Alea di atas ranjang. Lalu Alvan menindih tubuh Alea, "sayang apa boleh mas buka hijab kamu?!" Alea pun menganggukan kepalanya.


Dengan perlahan Alvan membuka hijab yang di pakai oleh Alea. "Kamu cantik banget sayang, dan mas baru tahu kalau kamu memiliki rambut yang panjang. Apalagi rambut kamu juga lembut seperti sutra."Ucap Alvan setelah sudah membuka hijab istrinya. "Sayang mas punya permintaan satu lagi, ke kamu." Alea pun menatap Alvan dengan malu-malu.


"Apa itu mas?!" Alvan tersenyum manis sembari menatap Alea dengan lembut.


"Kenapa gue begitu bodoh sekali menyia-nyiakan bidadari seperti Alea.." batin Alvan yang masih terus menatap Alea.


"Mas mau kalau berada di dalam rumah bersama mas, bisakan kamu membuka hijab? karena mas mau menatap wajah kamu sepuasnya. Tapi.. kalau berada di luar rumah atau ada orang lain, baru kamu memakai hijab. Karena mas juga gak mau orang lain ikut menikmati kecantikan kamu. Bila perlu kamu memakai cadar atau masker." pintanya.


Alea yang mendengar permintaan suaminya tersenyum manis menatap nya. "Iya mas, memang udah begitu aturannya mas.. wanita harus menutup auratnya." ucap Alea.


"Bisa kita mulai sayang?!" Alea menganggukan kepalanya malu-malu.

__ADS_1


Setelah membaca doa, Alvan pun mulai mencium kening istrinya, kemudian kedua mata Alea, lalu kedua pipinya dan turun ke bibirnya manis Alea. Dan selanjutnya hanya mereka yang tahu..


__ADS_2