Bukan Janda

Bukan Janda
Mengalahkan tikus besar


__ADS_3

Saat mereka masuk ke dalam hutan, mereka tidak bersuara sedikit pun agar Jack si tikus itu tidak mendengar kehadiran mereka. Mereka juga tidak ada yang memakai alas kaki semuanya hanya memakai kaos kaki termasuk Keenan.


Langkah demi langkah telah mereka lalui, mereka sudah tiba di tengah tengah hutan. Keenan menyuruh semuanya untuk berhenti dulu. "Dimana letak gubuknya?" Tanya Keenan pada Ace.


"Sebentar pak" Ace melirik ke sekitarnya dan mencari sebuah pohon. Setelah menemukannya ia pun dengan gesitnya naik ke atas pohon. Semua anggota Lavenzi dibuat takjub oleh Ace.


"Memang pantas sih disebut Ninja" bisik salah satu dari mereka. Setelah cukup tinggi, Ace melihat lihat ke semua area hutan dan matanya tertuju ke arah mata angin. Ace sudah menemukan gubuknya. Ace pun berniat untuk turun kembali.


Tapi saat ia melihat ke bawah dirinya baru sadar bahwa ia naik ke atas pohon terlalu tinggi. Ace bingung dengan cara turunnya, ia bisa naik tapi tidak bisa turun.


"Gimana? Udah belum. Kalau udah ayo cepat turun. Kita tidak punya banyak waktu lagi" ucap Keenan dari arah bawah. "Saya tidak bisa turun pak" jawab Ace dengan berteriak agar Keenan mendengar suaranya.


"Ya sudah loncat aja, biar anak buahku yang akan menangkap kamu" Keenan menyuruh semua anak buahnya untuk berkumpul dan bersiap untuk menangkap Ace dari atas pohon. "Cepat loncat" ucap Keenan.


"Tapi saya takut pak" ucap Ace lagi. Ia bergidik ngeri melihat betapa tingginya ia menaiki pohon. Keenan berdecak pelan lalu mencari ide agar Ace bisa melompat. Reno maju lalu membisikkan Keenan sesuatu.


Keenan tersenyum, ia mengacungkan jempolnya pada Reno. "Ide lo bagus Ren". Reno terkikik geli ia bersiap untuk menonton adegan menggelikan ini. "ACE AWAS DI TANGANMU ADA KECOA" Keenan berpura pura histeris.


"Apa? Kecoa." Tanpa sadar Ace melepaskan tangannya dan ia pun terjatuh dengan ditangkap oleh semua anak buah Keenan. Ace jatuh menimpa salah satu dari mereka yang bertubuh bongsor.


"Kok empuk ya?" Ucap Ace dengan bingungnya. "Iyalah empuk, tapi liat yang dibawah tuh lagi kesakitan" ucap Keenan sambil menghampiri Ace. Ace melirik ke bawahnya dan menyengir ketika tahu siapa yang ia timpa.


"Maaf ya pak, saya tidak sengaja menjatuhkan diri saya di tubuh bapak" Ace segera bangun dan berpindah posisi di samping Keenan. "Ace Ace hilang sudah kewibawaanmu menjadi seorang detektif. Besok besok daftar di olimpiade aja" ucap Keenan.


"Olimpiade apa pak?" Tanya Ace dengan bingung. "Olimpiade lawak sekecamatan" jawab Keenan. Ace mengangguk angguk. "Ya sudah ayo kita lanjutkan perjalan. Kamu sudah tahu kan dimana arahnya menuju ke gubuk tua?' Tanya Keenan pada Ace.


"Iya pak" "Bagus, ayo pimpin jalan" ucap Keenan.  Dengan dipimpin oleh Ace semuanya mengikutinya dari arah belakang. Setelah mereka hampir sampai di gubuk itu. Keenan menghentikan langkan mereka. "Tunggu" ucapnya.


"Ada apa Nan?" Tanya Eka. Keenan menatap gubuk itu dengan seksama. Ia mempunyai firasat ada sebuah jebakan di dalam gubuk itu. Walaupun terlihat kecil tapi gubuk itu sangat menyeramkan jika dilihat dari luar.


"Saya akan datang kesana sendirian, dan sebaiknya kalian mengepung daerah sini. Saya tidak ingin mengorbankan kalian semua hanya untuk kepentingan saya. Jika saya butuh pertolongan kalian, maka baru kalian boleh menolong saya."


"Baik pak"


"Gue ikut lo aja Nan" Reno mengajukan dirinya. "Gak usah, sebaiknya lo disini aja sama yang lain. Gue hanya mau memastikan dulu sebentar saja" ucap Keenan.


Setelah itu Keenan berjalan perlahan lahan menuju gubuk menyeramkan itu. Keenan sudah berada di depan gubuk itu. Ia mendengar sebuah suara orang yang sedang menjerit. Keenan tidak tahu suara apa itu.


Ia mencari celah lubang untuk mengintipnya. Ia menemukan satu lubang Kecil di bagian pintu. Keenan menyipitkan matanya dan mengintip dari lubang itu. Matanya membulat tak percaya.


Di dalam sana, banyak wanita yang sedang terbaring dan disetubuhi oleh satu orang pria. Wanita wanita itu diikat dengan menggunakan besi yang kuat.  Mulut mereka dibekap sehingga jeritannya tidak terlalu terdengar.


"Bajingan, brengsek"


Keenan yakin orang itu adalah Jack, orang yang sama dibalik penculikan Azka. Keenan mengode semua teman temannya dan anak buahnya untuk mendekat. Meskipun Jack hanya sendirian tapi itu tidak memungkinkan bahwa ia benar benar sendirian.


Keenan menendang pintu gubuk itu hingga terlepas dari tempatnya dan ambruk ke lantai. Jack yang saat itu masih belum mencapai klimaks berhenti sebentar dan menatap Keenan.


"Siapa kamu?" Tanya Jack ketika melihat Keenan. Keenan tersenyum sinis, Jack mencoba untuk melakukan penculikan pada putranya sementara ia tidak mengetahui ayah dari anak itu. Jack tidak mengenali mangsanya sendiri.


"Yakin kamu tidak tahu saya? Atau kamu hanya berpura pura bodoh?" Keenan menatap semua wanita yang menangis karena perlakuan Jack yang tidak berperikemanusiaan itu.


"Saya tidak ada urusan sama kamu, lebih baik pergi dari sini atau saya akan memanggil semua anak buah saya untuo melenyapkanmu sekarang juga" Dugaan Keenan benar. Jack tidak mungkin sendirian.

__ADS_1


Keenan mencoba untuk memancing. "Memangnya berapa banyak nya jumlah anak buahmu? Siapa tahu aku bisa melawannya sendirian?" Keenan bersikap seperti biasa pada Jack.


"Dua puluh, kamu sanggup melawannya? Belum apa apa paling kamu sudah mati duluan" ucap Jack meremehkan Keenan. Dan gila nya lagi Jack terus memompa tubuhnya pada wanita wanita itu.


Keenan mengalihkan tatapannya. "Saya tidak mau basa basi lagi, saya adalah ayah dari anak yang ingin kau culik tempo hari tapi gagal, Saya, Keenan Aldebaran Bright." Saat Keenan mengatakan itu ia menatap Jack dengan tajam.


Jack tertawa keras ketika Keenan menyebutkan namanya. "Memangnya ada apa dengan namamu? Tidak ada bagus bagusnya sekali" Wanita yang disetubuhi Jack saat ini menatap Keenan dengan memelas. Ia


 sungguh ingin lepas dari bajing*n itu.


Keenan mengangguk dan mengedipkan matanya agar ia tetap diam. "Lepaskan semua wanita itu dan lawan lah saya kalau kamu memang berani dan bukan seorang pengecut" tantang Keenan.


Jack yang sudah tersulut emosinya langsung melepas dirinya dari wanita wanita itu dan menghentakkannya dengan kasar. Jack mengambil pakaiannya terlebih dahulu dan dengan tidak tahu malunya ia memakainya di depan Keenan.


Setelah berpakaian lengkap, Jack maju dan menatap Keenan. "Kamu yakin bisa melawan saya dan anak buah saya sendirian?" Tanya nya dengan meremehkan. Di pikirannya Keenan hanya lah orang biasa yang sok sok berani.


"Tunjukkan anak buahmu dulu baru saya akan menjawab pertanyaanmu" ucap Keenan. Ia mengatakan hal itu agar Jack mengeluarkan semua anak buahnya. Jack tersenyum Sinis, ia menepukkan tangannya tiga kali lalu datanglah  dua puluh orang berbadan kekar. Gubuk itu sangat sempit karena keberadaan dua piluh orang itu.


"Tunggu apa lagi, ayo tunjukkan keberanianmu anak muda" ucap Jack. "Saya akan menunjukkan tapi bukan di gubuk reot ini, ikut saya keluar dan kau akan melihatnya nanti" ucap Keenan lalu melangkah keluar.


Jack bertanya tanya di dalam hatinya. Sebenarnya apa tujuan anak muda di hadapannya itu. Tapi Jack tetap mengikutinya ia dan anak buahnya keluar. "Lihatlah di depan mata kalian" ucap Keenan.


Jack menatapnya tapi tidak ada apa apa. "Cobalah lihat ke belakang dulu" Jack mengikutik instrupsi Keenan. "Lalu lihatlah kembali ke arah depan" Saat Jack berbalik ia melihat seluruh anak buah Keenan berserta anggota Lavenzi.


Jack tentu saja terkejut apalagi di antara mereka ada dua orang anak buah nya lagi. Jack tidak menyangka mereka akan mengkhianati dirinya. "Bagaimana tuan Jack yang terhormat ah maaf Tuan Tikus yang licik. Jumlah anak buahku 5 kali lipat dari anak buahmu sendiri"


"Halo tuan tikus, piye kabare? Sehat toh." Farhan melambaikan tangan pada Jack dari jarak yang cukup jauh. Reno menegur Farhan. "Han, bukan gitu cara nyapa nya" ucapnya. Farhan menoleh pada Reno. "Memangnya gimana?"


Wajah Jack memerah menahan amarahnya. "KALIAN BISA DIAM GAK?" Bentak Keenan membuat yang lainnya diam.


"Tuan tikusnya mau nangis noh, jangan diledek terus. Entar dia manggil tikus tikus di belakangnya lagi" Keenan tertawa. Anggota Lavenzi bersorak menyetujui apa yang dikatakan.


"Gak usah banyak omong. Kalian cepat serang mereka" ucap Jack pada anak buahnya. Mereka mengangguk dan bersiap untuk menyerang mereka. "Seraaaaaaaaaaaaaaaag" Ace mewakili semua orang untuk mengucapkan kata serang.


Mereka saling memukul satu sama lain antara anak buah Jack dengan Anak Buah Keenan. Dua puluh melawan seratus dua puluh sembilan orang. Tentu saja anak buah Keenan yang menang. Mereka saling bergelut di atas tanah.


Sedangkan Reno dan Farhan, mereka berdua mengambil alih seorang pria yang bertubuh gemuk tapi berotot. Reno dan Farhan mengambil ancang ancang untuk berkelahi.


"Hai Om, yakin mau melawan kita berdua. Melawan lemak di perutnya aja gak bisa" ucap Reno. "Kalian akan kalah dengan saya" ucap orang itu. "Oh iya, mari kita buktikan"


Reno berbisik pada Farhan. "Ternyata seru juga ya Han ikut perang bersama Keenan." Farhan mengangguk. "Pastinya, tapi pertama tama kita harus lawan Om gendut ini dulu. Habis itu kita kerjain yang lainnya" Reno mengacungkan jempolnya.


"HEH APA YANG KALIAN BISIKIN" bentak orang itu pada Farhan dan Reno. Farhan dan Reno saling bertatapan kemudian mengangguk. "Tidak ada, kami hanya membicarakan tentang kucing kami yang ada di rumah"


Orang itu tak peduli lagi, ia menerjang tubuh Reno dengan sekuat mungkin hingga Reno terjatuh dan terbatuk batuk. "Kurang ajar nih si gendut" gumamnya.


Farhan dan Reno bekerja sama untuk melawan pria itu. Reno bagian depan dan Farhan bagian belakang sehingga membuat pria itu bingung bagaimana cara menghadapinya. Reno menendang perut Pria itu kemudian disusul dengan Farhan yang menendang bagian punggungnya.


Alhasil pria itu dijadikan lempar lemparan oleh Farhan dan Reno. Keenan menatap mereka dari kejauhan. Lalu ia menatap Jack. "Lihat, anak buahmu menjadi mainan teman temanku. Sekarang giliran kamu yang akan menjadi mainanku"


Keenan memulai pemanasan dulu, ia mencoba tangan kanannya dulu. Apakah masih berfungsi atau tidak. Dengan tangan kanannya ia memberikan Jack bogeman yang lumayan keras hingga sekali pukul saja bisa membuat giginya rontok.


Jack tentu saja tidak siap menangkisnya, ia terlalu kaget dengan serangan tiba tiba itu. Giginya yang patah tiba tiba jatuh ke tangannya.

__ADS_1


Dengan sisa kekuatannya, Jack mencoba untuk membalas pukulan Keenan. Berkali kali ia mencobanya tapi Keenan selalu berhasil menghindarinya. Sampai akhirnya Keenan yang membalasnya.


Keenan berniat untuk menendang bagian paha agar Jack bisa tumbang tapi gara gara pergerakan Jack Keenan tidak sengaja menendang alat vitalnya. "Argfhhhhhhhh" Jack     berlutut di atas tanah sambip memegang alat vitalnya dengan kedua tangannya.


"Sebenarnya saya gak sengaja Nendang itu kamu, tapi mungkin itu balasan buat kamu karena menyetubuhi semua wanita. Impoten tau rasa kau tuan tikus" ejek Keenan.


Keenan mengambil handphone nya dan menghubungi Mahendra. Ia membuat panggilan Video Call. "Keenan" ucap Mahendra. Keenan tersenyum lalu ia menunjukkan keadaan di sekitarnya pada Mahendra.


"Kamu di hutan? Ngapain?" Tanya Mahendra penasaran. "Lagi perang melawan tuan tikus Pa" jawab Keenan dengan singkat. "Tuan tikus? Siapa yang kau maksud tuan tikus itu?" Tanya Mahendra lagi.


Keenan mengarahkan kameranya ke arah Jack yang tengah merintih kesakitan sambil memegang Alat Vitalnya. "Dia, Dia tuan tikua yang Keenan maksud." Mata Mahendra terbuka lebar. "Kamu berhasil menemukannya dan tidak memberi tahu papa? Sebenarnya apa rencanamu?" Tanya Mahendra.


"Hanya permainan anak kecil saja pa, pokoknya papa tidak usaj khawatir. Keenan sudah melumpuhkan semuanya. Tolong kabari Ibu, kalau MANTAN suaminya ini, alias tuan tikus telah berhasil ditangkap"


"Oke oke, papa akan segera memberi tahunya."


"Ya sudah Keenan matikan dulu telfonnya" Keenan mematikan telfonnya. Lalu ia mengambil borgol yang ia sembunyikan di dalam celananya.


Keenan memborgol kedua tangan Jack dan menguncinya hingga Jack tak bisa memberontak.


"Kalian semua berhenti, Saya sudah menangkap Tuan tikusnya. Peperangan telah usai, dan dimenangkan oleh Kalian semua. Reno, Dito, Kevan, kalian urus wanita yang ada di dalam gubuk sana. Dan sebagian lagi bereskan semua anak buah tikus itu"


"Oke, lalu apa yang akan lo lakuin sama tuh tikus?" Tanya Reno. Keenan melirik ke arah Jack sebentar. "Tikus ini tidak akan gue biarkan berkeliaran dan hidup bebas. Tenang aja, gue udah nyiapin tempat terbaik buat dia" ucap Keenan.


"LEPASKAN SAYA" Jack meronta meminta dilepaskan. Sakitnya sudah mereda walau masih sedikit berdenyut di bagian itunya. "Enak aja minta dilepasin, saya jauh jauh datang kesini buat nangkap tikus. Tikusnya malah minta dilepasin." Keenan tertawa mengejek.


"Reno, cepet lo lakuin apa yang gue suruh. Tolong wanita yang ada di dalam sana. Dan ingat, kalian harus menutup mata kalau tidak mau berdosa" ucap Keenan sambil menatap Reno.


Reno mengangguk mengerti, lalu ia mengajak Dito dan Kevan untuk pergi ke gubuk itu. "Tutup mata gak nih?" Tanya Reno sambil berjalan ke arah gubuk. "Kalau kita tutup mata gimana cara nolonginnya dodol" sahut Dito. "Memangnya ada apa sih sampe Keenan nyuruh kita tutup mata?" Heran Kevan.


"Udah, gak usah tutup mata. Palingan cuma akal akalan Keenan aja" ucap Reno pada Akhirnya. Setelah sampai di depan gubuknya, mereka langsung masuk tanpa menutup mata seperti yang dipesan oleh Keenan.


Reno, Dito dan Kevan membulatkan matanya melihat pemandangan yang begitu indah bagi kaum lelaki tapi juga berdosa. Reno menutup kedua mata Dito dan Keva. Begitu pun dengan mereka berdua, mereka saling menutup matanya masing masing.


"Astaghfirullah, dosa gue bertambah"


"Maafin Reno ya allah, Reno gak sengaja"


"Kevan gak liat, Kevan kan ikan"


"Ssstt Ren, ini kita nolonginnya gimana?" Bisik Kevan pada Reno. "Sebentar, biar gue pikir dulu" setelah lama berpikir akhirnya Reno menemukan ide. Ia mencari sesuatu di sekitarnya dan menemukan tiga buah kain yang tak terpakai.


Reno mengambilnya dan memberikannya pada Dito dan Kevan satu persatu. "Tutup mata kalian pakai ini dengan begitu kita tidak akan bisa melihatnya lagi" ucap Reno. Dito, dan Kevan segera mengikatkan kain itu dan menutupi matanya.


"Udah belom?" Tanya Reno yang sudah selesai duluan. "Iya udah". Reno menyentuh pundak mereka berdua. "Sekarang kita berbalik dan jalan dengan hati hati. Tugas kita disini untuk melepas ikatan mereka dari rantai besi. Selebihnya biarkan mereka menggunakan pakaiannya"


Kevan, Dito dan Reno berbalik ke belakang. Mereka berjalan dengan hati hati takutnya malah menginjak tubuh wanita itu. "Halo, Kalian ada dimana? Saya dan teman saya akan membantu kalian melepaskan diri" ucapnya.


"Disini" jawab salah satu wanita dengan lirih. Dito mengikuti arah suara itu lalu berjongkok. Tangannya meraba raba di sekitarnya. "Tunjukan pada saya dimana besinya, saya tidak bisa melihat"


"Sebelah kanan dari posisi anda" Dito mengangguk lalu tangannya menyentuh besi itu dan mulai membuka ikatannya dengan menggunakan kunci yang ia temukan tadi.


Kevan dan Reno melakukan hal yang sama mereka membuka dan melepaskan ikatan wanita wanita itu

__ADS_1


__ADS_2