
Keenan mencari Syafira ke seluruh ruangan dan menemukannya sedang tiduran di dalam kamar sambil meringkuk dan memegang perutnya seperti kesakitan. Keenan menghampirinya dan menaruh makanan yang ia beli di atas nakas.
"Kamu kenapa?" Tanya Keenan sambil memegang perut Syafira. Syafira merintih kesakitan lalu berusaha untuk duduk dan menghadap Keenan. "Perut aku sakit, gara gara datang bulan"
Keenan mengelus perut Syafira dengan tangannya yang lembut. Masih sakit gak" tanya Keenan pada Syafira. Syafira menggelengkan kepalanya lalu menjawab 'Sudah mendingan kok"
"Anak anak mana?" Tanya Keenan. "Lagi dibawa sama Papa dan tante Riya jalan jalan. Tante kasian sama aku yang lagi kesakitan makanya dia juga bawa azka dan Azkia" ucap Syafira.
Keenan menggengam tangan Syafira lalu menciumnya. "Aku sudah membelikan pesanan kamu, sate, soto,bakso permen karet dan Pembalut kamu juga sudah ada"
"Kamu benar benar sudah membelinya Mas?" Tanya Syafira tak percaya. Keenan mengangguk lalu mengambil kantong plastik yang berisi pembalut Syafira. "Ini, yang bersayap sesuai dengan pesanan kamu. Tapi sayang gak bisa terbang"
"Hah?" Syafira mupeng dengan Keenan. "Apanya yang terbang Mas?" Tanya Syafira. "Pembalut nya lah, kalo ada sayap berarti bisa terbang kan. Sama seperti burung" ucap Keenan.
"Maksudnya bukan gitu Mas, bersayap itu kayak gini nih contohnya." Syafira mengambil satu bungkus pembalut dan menunjukkan nya pada Keenan. "Ini nih yang namanya bersayap. Pembalut mana bisa terbang"
"Oh jadi begitu, Mas baru tahu kalau pembalut itu ada yang bersayap dan ada yang enggak' jawabnya kemudian. Syafira hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian Syafira menolehkan kepalanya dan melihat beberapa kantong plastik lagi. "Bakso, sate, soto dan permen karet. Wah Mas kamu benar benar membelikanku semuanya" ucap Syafira.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah mengingkari janjiku sendiri. Sekarang semua pesananmu sudah kau dapatkan. Jadi kapan imbalannya?' Tanya Keenan pada Syafira.
"Belum apa apa sudah minta imbalan, oke besok pagi aja Mas gimana. Anak anak kita titipkan dulu, masa kita mau main gituan ngajak anak anak?' Ucapnya yang membuat Keenan tersipu malu.
Keenan menyenggol tangan Syafira dengan genit. "Jangan ingkar janji lo, Mas udah tegang nih gara gara kamu" Syafira terkekeh kemudian mengecup bibir Keenan sekilas.
"Ini Dp dulu nya, sisanya besok pagi aja Mas" ucap Syafira. "Oke oke, sekarang makan dulu tuh makanannya keburu dingin nanti gak enak" ucap Keenan.
"Aku gak bisa makan semuanya, ayo kita makan bersama sama saja" ucap Syafira pada Keenan. "Ya udah aku siapin dulu di dapur kamu tunggu aja di meja makan" ucap Keenan.
"Kamu lepasin dulu jas nya Mas, biar gak kotor dan kusut. Soal makanannya biar aku aja yang siapin" ucap syafira. Keenan mengangguk lalu ia melepaskan jas dan kemejanya kemudian mengambil kaos biasa.
Syafira pergi ke dapur dan mengambil tiga mangkok untuk tempat makanannya, bakso, sate dan soto. Setelah siap ia mengambil sendok dan garpu dan menaruhnya di atas meja makan.
Keenan turun dari atas dengan keadaan yang sudah berganti baju. Ia melangkahkan kakinya menuju ke meja makan dan mengambil dua kursi kemudian mendekatkan nya.
"Gini aja deh, biar enak gak jauhan makannya" ucap Keenan. "Terserah, ya udah ayo duduk dulu" ucap Syafira. Syafira dan keenan duduk bersamaan di kursinya.
"Mau makan yang mana duluan nih?" Tanya Keenan. Syafira mengambil mangkok yang berisi bakso kemudian membawanya ke hadapannya. "Bakso aja dulu mas, dari tadi aku ngiler sama baunya"
Keenan mengambil sepotong bakso dengan garpu lalu menyuapkannya pada mulut Syafira. "Ayo buka mulutmu..." Syafira membuka mulutnya dan melahap bakso itu bulat bulat.
"Usshh enak baksonya, beli dimana Mas" tanya Syafira. "Beli di pinggir jalan, enak kan? Mas lebih suka makanan seperti ini daripada makanan cafe cafe" ucapnya.
Syafira mengangguk lalu ia juga menyuapi Keenan sepotong bakso. Keenan menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum. Ia merasa senang hanya karena syafira menyuapinya saja.
Beberapa menit kemudian tiga makanan dengan jenis yang berbeda telah habis dimakan oleh Syafira dan Keenan. Syafira merasa sangat kenyang karena makan itu. Ia mengucap syukur dalam hati.
"Lain kali beli lagi ya Mas, enak banget tau. Aku sampe ketagihan nih" ucap Syafira pada Keenan yang sedang bersadar di kursi meja makan.
"Iya Besok Mas beliin lagi kalau gak lupa." Ucap Keenan. Syafira mengangguk kemudian membereskan meja makan dan mencuci nya dengan bersih.
.
Di tempat Lain Riya bersama Mahendra sedang berjalan jalan di taman dekat rumah mereka. Alfon digendong oleh Mahendra sedangkan si kembar Riya yang menjaganya.
"Kita duduk di situ saja" ucap Mahendra pada Riya. Riya mengangguk saja kemudian berjalan mengikuti Mahendra ke arah bangku taman yang tersedia di sana.
Mahendra dan Riya mendudukkan dirinya disana. Riya mengangkat Azka dan Azkia dan mendudukkan di sebelahnya. Mahendra menatap ke arah Riya sebentar
__ADS_1
"Saya boleh bertanya sesuatu sama kamu. Itu pun kalau kamu mau menjawabnya" ucap Mahendra pada Riya. Riya menatap balik walau hanya sekilas. "Mau tanya apa?
"Kenapa kamu bisa bercerai dengan suamimu?" Tanya Mahendra. Sebenarnya ia penasaran tentang hal itu sejak wina memberi tahunya tentang Riya.
"Dia selingkuh" jawab Riya dengan singkat. "Dia telah herhubungan dengan wanita lain bahkan sampai bertahun tahun. Suami saya juga sudah mempunyai anak dari wanita itu"
"Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui bahwa suamimu sendiri mengkhianatimu dengan wanita lain?' Tanya Mahendra pada Riya sambil menatapnya.
"Sakit, cuma tidak lama. Saya meminta cerai dari dia sejak saya hamil anak saya" ucap Riya sambil menunduk. "Rumah tangga saya gagal, saya juga kehilangan seorang anak. Bagi saya itu adalah mimpi buruk"
"Saya tahu itu pasti berat buat kamu. Sama seperti saya yang berat kehilangan istri saya. Sampai saat ini saya masih belum bisa melupakan istri saya'
Mahendra mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Ia tidak ingin Riya suka padanya dan berharap padanya. Karena Mahendra sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menempatkan Mela sebagai ratu di hatinya selamanya.
Riya terdiam, ia hanya menatap Azka dan Azkia yang sedang memegang robot robotan bersama. Perkataan Mahendra tadi sudah cukup membuatnya mengerti. Bahwa iya tak boleh melanjutkan perasaannya.
Beberapa menit hanya dalam keheningan Mahendra sibuk menatap suasana di sekitar taman sedangkan Riya bermain dengan si kembar.
"Ude ude, Ka au ipis nih" (Bude Bude Azka mau pipis nih) Riya mengalihkan perhatiannya pada Azka. "Azka mau pipis?" Tanya nya yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Azka.
"Ya sudah kita ke toilet dulu yuk" ucapnya. "Azkia tinggal sama opa dulu ya, Bude mau nganterin abang pipis dulu" ucap Riya pada Azkia .
"Saya titip Azkia dulu sama Anda, karena saya harus mengantar Azka ke toilet" ucap Riya pada Mahendra. "Saya akan menjaganya, pergilah tapi jangan lama pama"
Riya mengangguk kemudian ia berjalan mencari toilet untuk mengantar Azka membuang air kecil. Tapi saat Riya berjalan dengan Azka tiba tiba seseorang mendorong tubuh Riya hingga jatuh dan membawa Azka pergi
Riya berteriak meminta pertolongan dari orang orang sambil mengejar penculik yang menculik Azka itu. Riya menangis karena gagal menjaga Azka. Semua orang hanya menatapnya dan tak ada yang berniat menolongnya.
Semua orang bersikap individual, mereka tidak mau mencampuri urusan orang lain. Rita marah dengan dirinya sendiri. Sampai tiba tiba sebuah motor berhenti di depannya
Riya mengangkst kepalanya dan menatap orang itu. Mata Riya melotot melihat Azka ada di hadapannya. Riya lagsung memeluk Azka dengan erat sambil menangis.
"Anda siapa?" Tanya nya. Pemuda yang ia taksir berumuran 30 tahun itu menatap Riya dengan cermat. "Saya yang menolong anak anda tadi" jawab pemuda itu.
"Bagaimana Anda bisa menolongnya?" Tanya Riya dengan penasaran. "Saya mendengar teriakan kamu dan saya pun mengejar penculiknya dengan motor saya.
"Terima kasih, saya sangat berterima kasih sekali. Mungkin jika tidak ada anda saya tidak tahu harus melakukan apa lagi." Pemuda itu tersenyum
"Tidak Masalah, sebaiknya kamu segera kembali agar tidak ada kejadian seperti ini lagi" ucap pemuda itu sambil menatap Riya. Riya mengangguk. "Sekali lagi terima kasih, saya benar benar berhutang budi pada Anda'
Setelah itu Riya benar benar pergi dan kembali ke tempat Mahendra. Ia benar benar kapok untuk berjalan sendirian lagi, beruntung masih ada yang mau menolongnya dalam situasi ini.
"Kenapa cepat sekali?" Tanya Mahendra. Riya benar benar gugup. Ia harus mengatakan nya pada Mahendra. "Maaf, tapi Azka sempat diculik oleh seseorang
Mahendra syok mendengarnya, ia begitu marah mendengar cucu nya sendiri hampir diculik. "Kamu bagaimana sih? Masa jagain Azka sebentar doang enggak bisa. Kamu mikir enggak kalau sampai Azka kenapa kenapa gimana? Kamu enggak akan pernah tahu rasanya menjadi seorang ibu"
Perkataan Mahendra membuat Riya sakit hati. Riya menatap Mahendra dengan tajam. "Memangnya kenapa kalau saya belum pernah merasakan menjadi seorang ibu? Saya pernah merasakan walau hanya sesaat. Tapi apa hak anda berkata seperti itu pada saya. Anda tidak tahu betapa terpukulnya saya tapi anda malah..." Riya menggelengkan kepalanya taj percaya.
"Saya pulang" Riya membawa Azka dan Azkia bersamanya dan segera pergi meninggalkan Mahendra sendirian. Mahendra merasa bersalah, seharusnya ia tak membentak dan berkata kasar seperti itu.
Jasa Riya lebih besar dari pada satu kesalahannya yang tak sengaja. Mahendra menatap kepergian Riya dari jauh. Ia akan meminta maaf setelah ini.
.
Hari sudah petang, sekitar jam 6 magrib Riya tiba di rumah dengan membawa si kembar. Riya melihat Keenan dan Syafira sedang menonton televisi berdua.
"Tante, baru pulang?"tanya Syafira. Riya hanya mengangguk lalu tersenyum tipis. Matanya menunjukkan sorot kesedihan membuat Syafira dan Keenan yang melihatnya bingung.
"Azka, Azkia sama Bunda dulu ya. Bude mau istirahat dulu" ucap Riya pada si kembar. Si kembar langsung menuju ke pelukan Syafira.
__ADS_1
"Tante ke kamar dulu ya"
Tanpa menunggu jawaban, Riya langsung pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Keenan dan syafira saling bertatapan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Belum sanpai lima menit Riya masuk ke dalam kamar, Mahendra datang dengan tergopoh gopoh sambil menggendong Alfon di lengannya. "Riya mana?" Tanya Mahendra pertama kali ketika ia sampai di rumahnya.
"Tante Riya tadi langsung masuk kamar Pa, memangnya ada apa pa? Kenapa hari ini tante bersikap aneh sekali" ucap Syafira pada Mahendra.
"Nanti saja papa jelasin, sekarang tolong gendong Alfon dulu. Papa mau bertemu tante Riya sebentar." Keenan mengambil alih Alfon dari Mahendra. Setelah Alfon berada di gendongan Keenan Mahendra langsung pergi ke kamar Riya.
"Sebenarnya ada apa sih Mas sama mereka?" Heran Syafira. "Aku juga enggak tahu. Kita tunggu papa saja buat menjelaskannya" jawab Keenan sambil menggendong adiknga.
Mahendra mengetuk pintu kamar Riya dengan tak sabar. "Riya tolong keluar sebentar, tolong dengarkan penjelasan saya dulu. Saya tidak bermaksud ngomong seperti itu. Saya hanya sedang emosi saja"
Riya tak bergeming di tempatnya, ia hanya menatap foto seorang bayi. Foto itu sdalah foto anaknya yang langsung ia ambil setelah melahirkannya.
"Riya, saya mohon. Keluarlah sebentar dan dengarkan penjelasan saya" ucap Mahendra dari balik pintu. Tapi Riya tak menghiraukannya. Riya membaringkan diriya sambil menatap foto anak nya yang telah meninggal.
"Riya....tolong maafkan saya" itu adalah kata terakhir dari Mahendra yang Riya dengar sebelum ia memejamkan matanya dan tertidur sambil menangis.
Dengan lesu Mahendra kembali ke ruang tengah dan duduk bersama Keenan. "Ada masalah apa? Kenapa tante riya sampe begitu" Tanya Keenan.
"Tadi Azka hampir diculik, dan papa menyalahkan Riya" ucap Mahendra sambi menatap Keenan. Syafira yang mendengar hal itu tentu saja terkejut. Ia menatap Azka dan memutar mutar tubuhnya.
'Azka tidak apa apa nak?" "Nda apa apa nda, adi ka uma didendong olang"
"Bagaimana ceritanya Azka bisa hampir diculik pa?' Tanya Keenan. Ia tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini karena ini bukan kesalahan mereka. "Jadi ceritanya tadi Azka mau pipis lalu Riya mengajaknya ke toilet untuk mengantar Azkia pipis. Tapi di selang perjalanan Riya didorong oleh seseorang dan Azka di bawa pergi"
"Beruntung ada seseorang yang mengejar penculik itu dan membawa Azka kembali pada Riya. Dan saat Riya memberi tahu papa. Papa malah emosi dan mengatakan sesuatu yang tidak tidak tentang dia" ucap Mahendra dengan nada menyesal.
"Memangnya apa yang papa katakan pada tante Riya?" Tanya Syafira pada Mahendra. Ia negoti penasaran hal apa yang bisa membuat seorang Riya terbawa perasaan dan menangis.
"Papa bilang kalau dia tidak akan mengerti tentang anak anak karena Riya belum pernah merasakan menjadi seorang ibu" jawab Mahendra.
"Seandainya syafira yang ada di posisi tante Riya, Syafira pasti akan melakukan hal yang sama. Pa, tante Riya bukan tidak pernah merasakan menjadi seorang ibu, tapi tante Riya kehilangan seorang anak. Meski hanya sesaat Tante Riya juga seorang ibu"
"Coba papa pikir, Tante Riya tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja. Ini di luar kendali tante Riya. "
"Apa yang harus papa lakukan? Riya myngkin tidak akan memaafkan papa" uca Mahendra dengan rasa bersalah di hatinya. Mahendra menyalahkan dirinya yang tak bisa menahan emosi.
"Ya sudah Nanti Syafira bantu ngomong sama tante Riya. Tante Riya pasti mendengarkan Syafira. Papa tenang aja, Syafira akan membujuk tante Riya, tapi papa tetap harus minta maaf" ucap Syafira.
"Papa pasti akan melakukannya' jawab Mahendra. Kemudian ia menatap Alfon yang sedang digendong oleh Keenan. Alfon bisa sehat seperti ini karena asi dari Riya. Mahendra tidak bisa melupakan hal itu.
Setelah mengatakan hal itu, Mahendra meminta Alfon dan membawanya ke kamar untuk menidurkanya di atas sana. Sesekali Mahendra mencium wajah Alfon dnegan gemas.
"Sehat selalu sayang, maafkan papa ya bak' ucap Mahendra pada Alfon sambio berjalan ke kamarnya. Mahendra berniat akan segera meminta maaf lagi pada Riya.
"Apa adi ka didendong ama olang telus angan ka icubit kalena belicik" (papa tadi Azka digendong sama orang terus tangan Azka dicubig karena berisik) ucap Azka.
Keenan menatap Azka dengan Khawatir. "Ada yang sakit enggak?" tanya Keenan dengan cemasnya. Ia mengecek seluruh bagian tangan Azka.
"Ndak apa, coalnya ka uga ukuk ukul epala olang itu. Ayaknya ia ajat ama aka" (Tidak papa, soalnya Azka juga mukul mukul kepala orang itu. Kayaknya dia jahat sama Azka)
"Nah ini baru anak bunda sama papa" ucap Syafira pada putranya. "Azka memang jagoan papa" tambah Keenan lagi. Azka hanya menunjukkan dua gigi kelincinta pada Keenan dan Syafira.
"Alow kia imana? Kia agoan juga kan nda?" (Kalau Azkia gimana, Kia jagoan juga kan bunda?" Tanya Azkia.)
"Iya kalian berdua adalah jagoan papa sama bunda" kemudian Keenan memeluk keluarga kecilnya dengan hangat.
__ADS_1