
Di sisi lain, Mahendra pergi ke rumah Tio hanya untuk sekedar berkunjung saja. Mahendra sangat kesepian di rumahnya yang sangat besar itu. Maka dari itu ia memilih untuk mampir ke rumah besannya.
Dengan menggendong Alfon, Mahendra nekat menyetir mobil sendiri. Tadinya ia ingin menyewa supir tapi supir yang biasa ia sewa sedang ada acara keluarga jadi mau tak mau Mahendra harus menyetir sendiri.
Setelah 20 menit berkendara menggunakan mobil, Mahendra sudah tiba di rumah Tio. Ia menaruh mobilnya di depan rumah mereka kemudian turun.
"Tidur yang nyenyak ya Nak" ucap Mahendra pada Alfon. Mahendra berjalan mendekati pintu rumah mereka dan membunyikan bel nya. Tio dan Wina yang mendengar ada yang membunyikan bel langsung membukakan pintu.
"Lho Mahendra, datang sama siapa?" Sambut Tio ketika melihat Mahendra datang ke rumahnya. "Sendirian aja, Keenan lagi mengurus anak anaknya di rumah" jawabnya.
"Kamu seharusnya menelfon aku saja, biar aku yang datang ke rumahmu. Apa Alfon tidak apa apa kamu bawa sedangkan kamu menyetir mobil" ucap Tio.
"Tidak, aku sudah membeli alat gendong untuk bayi. Lihatlah dia aman dalam gendonganku" Tio megangguk. "Yaudah ayo masuk, biar istriku menyiapkan tempat untuk putramu"
"Terima kasih"
Mahendra pun masuk ke dalam beserta Alfon yang sedang tertidur. Sedangkan Wina ia mengambil bantal dan selimut yang empuk untik digunakan sebagai tempat tidur Alfon.
Wina menyiapkan semuanya dan meletakkan di lantai. "Sini, Alfon tidurkan disini saja. Kasian dia" ucap Wina. Mahendra mengiyakan ia membuka alat penggendongnya dan menaruh Alfon pelan pelan agar ia tidak kebangun.
"Gimana Alfon? Kamu sudah menemukan ibu susu untuk dia??" Tanya Tio. Wina pergi ke dapur untuk membuatkan sesuatu buat Mahendra.
"Keenan sudah menyuruh Bagas untuk mencarikannya, tapi masih belum ketemu. Di zaman yang kayak gini sudah jarang seseorang yang mau menjadi ibu susu orang lain" jawab Mahenra.
"Aku juga sudah membantumu mencarikan ibu susu untuk Alfon, aku memostingnya di internet namun belum ada hasilnya" ucap Tio.
"Bagaimana pun juga kita harua segera menemukannya, Kasian Alfon. Dia masih kecil tapi harus terombang ambing kesana kemari untuk mencari ibu susu untuknya" ucap Tio sambil melihat bayi kecil yang tertidur itu.
Mahendra menghela nafasnya. "Seandainya saja Mela masih hidup pasti semuanya tidak akan rumit seperti ini"
Wina kembali dari dapur dengan membawa dua gelas kopi yang masih panas. Wina menghidangkannya di depan mereka. "Jangan pernah menyesali semua ini, Mela juga tidak ingin kejadian seperti ini tapi mau bagaimana lagi tuhan sudah memanggilnya lebih dulu" ucap Wina.
"temanku ada yang baru melahirkan tapi sayangnya anaknya sudah meninggal, mungkin kamu berniat menjadikannya ibu susu alfon?" Tanya Wina pada Mahendra.
Mata Mahendra berbicar cerah. "Benarkah?" Ucapnya. Mahendra menegakkan tubuhnya dengan penuh bahagia. "Iya, tapi aku harus menghubunginya terlebih dahulu. Apakah dia setuju atau tidak."
"Cepat hubungi sekarang, Alfon tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia butih asi untuk menguatkan tenaganya" ucap Tio pada Istrinya. Wina mengangguk kemudian mengambil handphone dan mulai menghubunginya.
"Iya Halo Ya, ini Aku wina"
|| Kenapa Win
"Jadi begini Ya, salah satu keluargaku membutihkan ibu susu untuk anaknya. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal. Apa kamu bersedia menjadi ibu susunya? Akan ada hadiah untukmu jika kamu bersedia"
|| kalau boleh tau untuk siapa Win? Aku akan mempertimbangkannya.
Wina melirik pada Mahendra dan meminta izin untuk membeitahunya. Mahendra mengangguk dengan cepat. "Dengan keluarga Mahendra Ya, Ayahnya dari Keenan"
||Keenan? Keenan Aldebaran Bright yang kamu maksud?
"Iya Ya, jadi gimana. Apa kamu bersedia?"
||Baiklah, aku bersedia. Keenan pernah menolong keluarga yang waktu itu diambang kemiskinan. Dan sekarang aku akan membalas budi untuk adiknya. Aku tidak butuh hadiah. Biarkan aku menjadi ibu susu untuk anaknya Mahendra.
"Baiklah, Kamu bisa datang ke alamat yang kukirim padamu besok. Alamat nya Mahendra"
||Oke
Wina memutuskan sambungan telefon
"Jadi gimana? Apa dia mau" tanya Mahendra dengan antusias. Is berharap kabar bahagia lah yang ia dengar. Wina menatap Mahendra sambil tersenyum lalu mengangguk.
"Namanya adalah Riya larasati, dia seorang janda karena ditalak oleh suaminya ketika mengandung bayinya. Dan dia adalah wanita yang lembut dan penyanyang. Aku yakin Alfon sangat cocok dengannya" ucapWina.
"Kira kira kapan dia bisa datang ke rumah?' Tanya Mahendra. Kenudian Wina menjawabnya. "Kemungkinan besok pagi dia akan datang ke rumahmu" jawab Mahendra.
Tio dan Mahendra mengangguk bersamaan.
.
.
"Aku meriang..aku meriang aku meriang merindukan kasih sayang"
"Dirimu bagaikan layang layang...kulepas tali benang kugenggaaaam..."
Markas yang semua rapi kini menjadi berantakan karena adanya konser dangdut dadakan. Reno yang memegang sapu lidi, Farhan yang menjadikan sapu lantai sebagai Mic nya.
Sedangkan Kevan dan Dito mereka berdua memegang ember dan menabuhnya dengan keras. Hanya Eka lah yang paling waras, Eka hanya menggunakan gitar nainan.
"Ganti musik deh bang, bosan kalau dangdut mulu." Ucap Reno pada Eka. "Bentar gue ganti dulu" Eka mengganti lagu yang mereka putar jenjadi kagu anak anak.
"Balonku ada lima
Rupa rupa warnanya
Hiaju kuning kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau dor
Hatiku sangat kacau
Balonku tingal enpat
Ku pegang erat erat"
__ADS_1
Begitulah kira kira lirik dari lagunya. Semua anggota Kavenzi saling berpandangan satu sama lain kemudian menatap Eka. "Why?" Tanya Eka.
"Ganti sih ganti bang, tapi jangan lagu anak anak juga kali. Mana seru lah" protes Farhan.
"Kalian nyuruh gue cuma ganti lagu doang kak, ya udah gue ganti. Lo gak bilang gue harus ganti lagu apa"
"Hayoo Lo bang Eka benar"
"Emang iya bang?" Heran Reno. Eka melempar gitar mainannya pada Reno hingga mendapat tepat di keningnya. "Iya lah Ren"
"Udah ah, istirahat aja. Capek gue dangdutan"
"Yaudah karena kalian telah bekerja keras hari ini gue bakal traktir kalian" ucap Reno dan membuat mereka bersorak ramai. "Emang lo punya uang Ren?' Tanya Dito.
"Punya" jawabnya. "Dari mana?" Tanya Kevan. Reno menatap Kevan kemudian menjawab. "Dari ngutang"
"Orang kaya kok ngutang sih" sindir Eka. Semua anggota Lavenzi memang tidak bisa membedakan bahwa Reno sedang bercanda dan bahwa reno sedang serius.
Karena wajah Reno akan tetap sama jika sedang serius dan bercanda. Itu lah kenapa mereka menganggap Reno serius.
"Kalau orang kayanya ganteng kayak gue sih pasti dibolehin deh ngutang sama pihak bank, apalagi rentenir." Jawab Reno dengan percaya dirinya yang tinggi.
"Pd banget lo, udah sana pesen makanan kita lapar nih" suruh Dito pada Reno. Reno menatap Dito dengan sengit. "Gak tau diri lo, udah ditraktir malah nyuruh nyuruh lagi."
"Gue emang gak tau diri tapi TAHU DIRI
"Serah lo deh, capek gue ngomong sama lo" ucao Reno. Kenudian Reno membuka handphonenya san mulai memesan beberapa makanan untuk mereka semua.
Tidak tanggung tanggung Reno memesan berbagai jenis makanan, biarlah uang di dompetnya terkuras asalkan perut kenyang hati pun senang.
Satu jam kemudian makanan telah datang, semua anggota Lavenzi duduk melingkar sambil mengatur segala jenis makanan itu di tempat nya masing masing.
"Jangan makan kek gitu, ambil piring dulu sana. Ki ambil piring ki" perintah Eka pada salah satu anggotanya. "Oke bang, bentar gue ambil dulu"
Orang yang disuruh Eka untuk mengambil piring kini telah kembali dengan membawa beberapa piring. "Segini cukup bang?" Tanyanya.
"Cukup kok"
"Han bagiin sendok ke semuanya" ucap Eka. Farhan mengangguk ia membagi bagikan sendok pada mereka hingga mereka sudah memegang sendok semuanya.
"Ato kita makan gayz" ucap mereka bersemangat. "Jangan lupa berdoa biar setan setannya gak ikut makan bersama kalian" pesan Eka. Semuanya mengangguk mengerti lalu mulai berdoa.
Setelah itu mereka mulai memakan sesekali sambil mengobrol agar tidak terlaku sepi. Farhan mengambil dua buab kerupuk dan memakannya.
"Han bagi dong"
"Bagi apa?"
"Kerupuk"
"Ambil sendiri elah"
Farhan menggigit kerupuknya lalu memberikannya.
"Jorok ih, gue mah ogah makan gigitan elu" jawab orang itu sambil mengernyit jijik. Farhan hanya tertawa ia memang sengaja melakukan itu.
.
.
"Mas, ayah tadi nelfon. Katanya pada ada disana sama Alfon. Ayah juga bilng mereka sudah menemukan ibu susu untuk Alfon"
Syafira berkata kepada Keenan yang merebahkan diri di atas ranjang dengan kedua anak anaknya.
Keenan berbalik dan menghadap Syafira. "Syukurlah kalau begitu, Mas lega mendengarnya" ucap Keenan. Syafira juga mengangguk kemudian ia ikut berbaring bersama nereka.
"Mas menurutmu kisah kita harus ditutup dengan apa? Apakah orang orang akan membenci kita jika kita menyelesaikan kisah kita"
Keenan mengangkat alisnya. "Maksudmu?"
"Sebentar lagi kan bakalan tidak ada lagi couple Keenan Syafira. Tapi diganti dengan anak anak kita. Aku takut semua orang melupakan kisah kita Mas."
"Tenang saja orang yang membuat kisah kita pasti akan membuat kita berakhir bahagia dan orang orang tidak akan melupakan kita." Hibur Keenan
"Apa menurut Mas judul bukan janda sangat jelek, kenapa semua orang mengkritik kita hanya karena judul." Ucap Syafira pada Keenan. Keenan menggengam tangan Syafira.
"Judul tidak terlalu penting yang penting adalaj kita sendiri. Kisah kita yang akan mengukir dalam judul itu sendiri. Jadi jangan pedulikan itu lagi, okey?
"Aku tidak menyangka Mas kita akan segera berakhir, tidak ada lagi roman percintaan kita tidak ada lagi romantis romantisnya kita. Karena kita akan segera berakhir dan akan menua"
"Jangan pesimis, karena kita akan menutup lembaran. Sebaiknya kita harua bahagia karena kisah kita akan digantikan oleh kedua anak anak kita, lihatlah betapa polosnya mereka saar ini"
"Suatu saat kepolosan mereka akan berubah menjadi orang dewasa dan mereka yang akan meneruskan perjuangan kita selama ada di bukan janda ini
"Sudahkah serahkan semuanya pada sang pembuat kisah kita, dia telah bekerja keras untuk kita."
"Maksud kamu Author?'
"Aku tidak mau menyebutkan Author, karena dia bukan autor bagiku. Tapi cahaya bagi kisah kita tanpa dia mungkin kisah kita akan menjadi gelap seperti malam"
"Ya sudah lah daripada kita ibu memikirkan hal ini lebih baik kita tidur siang saja. Nanti malam kan ulang tahun si kembar jadi kita harus nyiapin semuanya' ucap Keenan.
'Kamu benar Mas, ya udah yuk kita tidur"
.
.
__ADS_1
Malam hari, semua orang sibuk menghias rumah dengan hiasan balon balon yang lucu. Kue ulang tahun sudah diletakkan di atas meja dan setumpuk kado juga telah siap.
"Gimana Azka dan Azkia?" Tanya wIna menghampirinya. Syafira menoleh sebentar 'Mereka aman di kamar bu" jawabnya. "Apa mereka sudah tahu tentang hal ini?"
"Belum, tapi Syafira sudah mendandani mereka. Azka dengan jas kecilnya serta Azkia dengan gaun mugillnya. Pasti mereka akan terlihat luci sekali. Iya kan bu?"
"Tentu saja mereka kan cucu ibu, pasti akan terlihat kucu karena mirip dengan Abu" ujar wina. Syafria hanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan kenghiasnya.
"Sayang, cepat kita bersiap siap. Sebentar lagi jam 7. Anak anak pasti menunggu oama di dlaam sana' ucap Keenan. Syafira melirik jan di ponselnya. 'Ya udah deh"
.
Beberappa saat kemudian semua lampu dimatikan. Orang yang bertugas membawa si kembar adalah Tio. Tio menuntun kedua cucunya dengan pelan pelan.
"Akek ok ampunya eyap ya"( kakek kok lampunya gelap ya") ucap Azkai kecil)
"Bentar lagi liat deh ada apa" jawab Tio degan lembiut
Dalam hitungan ketiga ruangan yang tadinya gelap menajdi terang kembali karena lampunya sudah dihidupkan. Dengan kompak mereka menyanyikan lsgu ulang tabun untik si kemabr.
"Selamat ulang tahun
Selamat jlang tahun
Selamat ulang tahun Azka dan Azkia
Selamat ulang tahuuu"
Azka dan Azkia meloncat loncat kegirangan. Mereka senang karena melihat ada kue ysng besar di atasnya. "Yeyyyyyy"
"Happy birhday to you
Happy birthday to yoy
Happy birhtday happy birthday
Happy birthday to you"
Setelaj menyanyikan lagu ulang ulang tahin untuk mereka berdua Keenan dan Syafira menaikkan Azka dan Azkia ke ayas kursi yang disediakan untuk mereka menoip lilin.
"Tiup bersama sayang" ucap Syafira.
"Atu ua tiga"
"Horeeeee"
Syafira berlutut dan memposisikan dirinya agar sejajad dengan tubuh mungil. Syafira mencium Azka dan Azkia secara bergantian. "Selamat ulang tahun anak Mama, semoga di umur yang ke dua tahun ini Azka dan Azkia semakin pinter'
"Abam ama kia ulah pintel nda" (Abang sama Kia udah pinter bujda"
Syafira tersenyum lalu mengacak acak rambut mereka dengan gemas, kali ini giliran Keenan yanng akan mengucapkan selamat ulang tahun untik merek. Keenan berlutut di samping Syafira.
"Happy birthday anak anak papa, Papa doakan semoga di umur yang dua tahun ini kalian hosa tambaj imut ya"
"Maacih apa, kia ayang apa"(Makasih papa, Kia sayang papa)
"Abam uga abam uba abam ayang anyak anyak ma apa" (Abang juga abang juga anang sayang banyak banuak sama papap) Keenan memeluk kedua anak kembarnya sambil mencium mereka berdua.
"Cucu opa, sekarang udah dua tahun ya? Tambah baik ya nak. Semoga allah selalu memberkati kalian. Oh iya ini Om Alfon juga mengucapkan selamat ulang tahun pada kelian berdua"
Mahendra dan keluarganya yang lain memang mengajarkan Azka dan Azkia untuk memanggil Alfon dengan sebutan Om. Karena memang begitu lah faktanya.
Setelah itu giliran Tio dan Wina mereia mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan Azka dan Syafura denfan doa doa yang terbaik.
"Ooooom Apin" Kia langsung berjalan dengan fepat melihat kedatanfan seseorang dari araj pintu. Semuanya menoleh ke arah Alvin.
"Oom apin, kia angen anget ama oom apin"
Alvin yang baru datang lalu memeluk Azkia dengan erat, ia juga memnawanya ke dapam gendongannya. "Duh keponakan Om sekarang udah tambah berat aja"
"Kia ndak belat oom aj yang ulus" (Kia tidak berat om aja yang kurus" semua yang mendengar hal itu tertawa kecil.
"Iya, om yang krmurus"
"Ob iya om bawa kado buat kia sama abang. Kia mau kado?"
Azkia mengangguk dengan cepat. Kemudian Alvin menciumnya di pipi gembulnya. "Gemesin banget sih kamu Kia, om jadi makin sayang sama kanu"
"Kamu kapan datang dari jerman Vin?" Tanya Tio. "Baru saja om, dari bandara Alvin langsung kesini. Alvin masih ingat kalau sekarang adalah ulang tahunnya Azkia" ucapnya.
Semuanya mengangguk paham dengan Alvin.
"Nda, apa ayo otong ue nya. Ka au akan ue nya aleng aleng" (Bunda, Papa ayo potont kue nya. Azka mau makan kie nya bareng barenf)
"Ya udah kita potong duly ya"
"Potong kue nya
Potong kue nya
Potong kuenya sekarang juga
Sekarang juga
Sekarang juga
Keenan memegang tangan Azka sedangkan Syafira nemegang tangan Syafura lalu mereka memotong kuenya dengan tangan mereka.
__ADS_1
"Yeeayyy akan kue" (yeee makan kue)
Semuanya tersenyum bahagia melihat Azka dan Azkia yang tersenyum baahgia hari ini.