Bukan Janda

Bukan Janda
Misi rahasia


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Ace kemarin, Keenan dan Mahendra juga sudah menambahkan anak buahnya untuk menutup akses bagi penculik itu. Karena cepat atau lambat penculik itu akan mengetahui kalau dia sedang diincar.


Selain maminta bantuan pada Detektif Ace, Keenan juga meminta bantuan seluruh anggota Lavenzi. Karena mereka dapat diandalkan dalam hal apapun. Keenan mengakui kemampuan mereka.


"Bang, Lo kan pintar melacak keberadaan orang. Gue mau minta bantuan lo untuk melacak anak buah penculiknya itu. Karena yang tahu keberadaan penculik aslinya hanya dia"


"Ada data datanya gak? Gue butuh datanya walau hanya sedikit. Setidaknya itu bisa membantu melacaknya dengan mudah. Bukankah Om Mahendra juga bisa melacak?" Tanya Eka.


"Kemampuan papa sudah tidak seperti dulu lagi, daya ingatnya sudah menurut. Maklum lah bang faktor umur. Papa sudah banyak lupa tentang melacak orang. Udah lama papa gak pernah ngelacak orang lagi"


Eka mengangguk mengerti. "Selain tato itu emang gak ada petunjuk lagi Nan?" Tanya Dito sambil menggigit permen karet dan membuatnya menjadi balon yang kecil.


"Gak ada lagi, Ibu Riya hanya melihat itu saja. Karena ia tak begitu memperhatikannya lagi" jawab Keenan. Kevan menepuk bahu Keenan dengan pelan. "Lo tenang aja, kita semua bakal bantuin lo buat nangkap tu orang"


"Iya, dan gue yakin kita pasti akan berhasil. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh." Sahut  Farhan. Keenan tersenyum lalu mengangguk.


"Gue butuh kerja sama dari kalian. Karena sebelum anak buah dan penculiknya ditangkap gue gak tenang membiarkan istri gue berjalan sendirian bersama anak anak gue" ucapnya.


"Tapi Nan, lo penasaran gak apa motif dari penculik itu. Sepertinya ini bukan penculikan biasa tapi seperti ada yang mengatur semuanya gitu." Ucap Reno.


"Maksud lo gimana Ren?' Reno memperbaiki duduknya lalu menghadap Keenan. "Kenapa penculik itu menculik Azka yang saat itu bersama Tante Riya? Bukankan Syafira juga pernah membawa mereka pergi sendirian sebelumnya. Dan tidak terjadi apa apa. Tapi saat bersama tante Riya hal itu terjadi. Apa kamu tidak mencurigai sesuatu?" Tanya Reno.


"Benar juga, aku rasa orang ini ada hubungannya dengan ibu. Aku akan mencari tahu segera. Thankz Ren, lo teliti banget dalam hal ini. Bahkan gue pun sampe gak berpikir seperti itu" ucap Keenan.


"Santai, sebaiknya lo tanya aja sama tante Riya. Apakah ia pernah punya musuh atau gimana. Karena ada kemungkinan orang itu ingin membalas dendam pada Tante Riya melalui Azka."


"Gue bakal lakuin sesuai dengan saran kalian. Thankz bro lo semua udah bantuin gue" ucap Keenan sambil menatap mereka satu persatu.


Setelah itu Keenan segera pulang dari markas dan menuju ke rumahnya. Ia akan menanyakan hal ini dengan Riya. Barang kali Riya mengetahui tentang orang itu.


Keenan menjalankan mobilnya tapi saat di jalan ia melihat seorang nenek nenek tua yang sudah renta ingin menyebrang jalan tapi tidak bisa karena kendaraan sangat ramai berlalu lalang.


Keenan menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan turun dari mobilnya. Kemudian ia menghampiri nenek nenek itu. "Nek, mau nyebrang ya?" Tanya nya.


"Iya cu, Nenek gak bisa nyebrang" jawab nenek itu. "Saya bantuin ya Nek" ucap Keenan lagi. Nenek itu menganggukkan kepalanya kemudian Keenan membantu nenek nenek itu menyebrang jalan.


"Terima kasih cu" ucap Nenek itu sambip menatap Keenan. Lalu ia terkejut melihat siapa yang menolongnya. "Apa kamu yang namanya Keenan Aldebaran?" Tanya Nenek itu.


Keenan mengangkat alisnya bingung. "Iya nek, memang ada apa ya?" Ucapnya. "Saya tahu kamu orang baik nak, saya ingin memberi tahu kamu sesuatu. Anak anakmu sedang diincar oleh seorang pria. Nenek tidak bisa memberi tahu siapa namanya. Nenek hanya bisa membantu kamu sampai disini saja."


Keenan terkejut mendengar nenek itu membicarakan tentang masalahnya. Padahal ia tidak pernah menceritakannya pada nenek nenek itu. "Nenek tahu dari mana?" Tanya Keenan dengan sopan.


"Cu, tidak penting nenek tahu dari mana. Yang penting adalah kamu harus bisa menjaga dan melindungi anak anak kamu."


"Pulanglah cu, selamatkan dan lindungi keluarga kecilmu. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena tidak berhasil menyelamatkan anak anakmu. Dia sudah semakin dekat"


Setelah mengatakan hal itu dengan langkah tertatih tatih nenek itu meninggalkan Keenan dan terus berjalan. Sedangkan Keenan otak dan hatinya tidak sejalan antara percaya dengan tidak percaya dengan ucapan nenek itu.


Tidak ada waktu untuk memikirkannya saat ini ia harus segera pulang. Ia akan menanyakannya pada Riya. Keenan akan berusaha sekuat mungkin melindungi keluarganya dari segala marabahaya.


Lima belas menit kemudian Keenan telah tiba di rumahnya. Dengan terburu buru ia turun dari mobil dan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah. "Ibu..ibu.." teriaknya.


Suara Keenan menggema di dalam rumah sehingga mudah untuk Riya mendengarnya. Ia keluar dari kamar dengan menggendong Alfon. "Ada apa Keenan? Kenapa kamu mencari ibu?" Tanya nya dengan bingung.

__ADS_1


"Kita duduk dulu saja Bu, ada yang saya ingin sampaikan pada Ibu" ucapnya pada Riya. Riya tidak mengerti apa yang akan Keenan tanyakan padanya jadi dia langsung duduk saja di sofa.


"Apa yang ingin kau tanyakan sebenarnya?" Tanya Riya pada Keenan. Keenan menatap Riya "Apa selama ini ibu mempunyai musuh atau ada orang yang membenci ibu?" Tanya nya.


Riya mengerutkan keningnya. "Sepertinya tidak ada, memangnya kenapa?" Riya balik bertanya. "Karena pelaku nya ada hubungannya dengan ibu" jawab Keenan. Ia tidak ingin menuduh siapapun jadi lebih baik ia bertanya langsung pada Riya.


"Darimana kamu bisa tahu kalau pelakunya ada hubungannya dengan ibu?" Tanya Riya heran. "Karena pelakunya menculik Azka saat bersama dengan ibu. Dan penculikan itu seperti sudah direncanakan. Seperti nya penculiknya menargetkan ibu dari jauh" jawab Keenan.


Riya terdiam sebentar, ia tidak tahu siapa orang dibalik semua ini. Terlepas dari semuanya tiba tiba Riya membulatkan matanya. Sepertinya ia mengetahui siapa pelakunya. "Keenan"


"Iya bu?". Riya menatap Keenan dengan dalam. "Sepertinya ibu tahu siapa pelaku di balik semua ini" ucap Riya dengan raut wajah yang cemas di matanya.


"Siapa?" Tanya Keenan dengan serius. "Mantan suami ibu, Jack Groddy" jawab Riya. Keenan mengerutkan keningnya. "Kenapa ibu berpikir kalau pelakunya adalah mantan suami ibu?"


"Karena cuma dia satu satunya orang yang sangat dendam dengan ibu, Jack ditinggal selingkuhannya yang pergi setelah menguras hartanya dan dia menyalahkan ibu. Dia datang ke rumah ibu sambil mengancam untuk membalasnya di kemudian hari."


"Ibu khawatir ini adalah perbuatannya. Jack sangat nekat Keenan. Tolong secepatnya kamu cari dia, dia sangat berbahaya bagi anak anak. Ibu tidak mau anak kamu harus menjadi korban kejahatannya" lirih Riya. Tak salah lagi, ia yakin Jack adalah pelakunya.


"Saya akan mencarinya, ibu tenang saja. Untuk saat ini ibu dan Syafira jangan pergi kemana mana dulu. Saya dan papa akan mencari dan menangkap mantan suami ibu itu" ucap Keenan.


"Apa ibu masih mempunyai nomor ponselnya?" Tanya Keenan kemudian. Riya mengangguk lalu ia mengambil handphonenya dan memberikan nomor Jack yang masih aktif pada Keenan. "Ini"


Keenan menyalin nomor Jack ke handphonenya sendiri kemudian ia menyimpannya. "Baiklah, saya harus pergi lagi bu. Saya akan mengurus semuanya"


"Tapi Nak kamu baru saja datang. Setidaknya kamu makan dulu. Sejak tadi pagi kamu pasti belum makan" ucap Riya dengan perhatian. Keenan tersenyum. "Saya tidak bu, saya tidak akan tenang bila keluarga saya terancam oleh seseorang. Ibu tenang saja saya pasti akan makan setelah ini. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu. Assaalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Riya dengan berat hati mengizinkan Keenan pergi. Dalam hati ia merasa bersalah karena telah membuat keluarga ini dalam bahaya.


Keenan berjalan keluar rumah dan berpapasan dengan Syafira yang baru saja pulang dari kontrakan Alesha. Ya, Syafira mencarikan Alesha rumah kontrakan sejak kemarin.


"Untuk sementara Anak anak tinggal disana dulu untuk keamanan mereka kata papa" ucap Syafira pada Keenan. Keenan mengangguk lemah lalu ia memeluk Syafira dengan erat.


"Ada apa Mas?" Syafira membalas pelukan Keenan sambil mengelus punggungnya. "Mas sudah tahu siapa pelakunya walaupun belum pasti. Tapi Mas akan mencarinya. Dia mengincar anak anak kita sayang" Keenan menangis di pelukan Syafira.


"Ssttt Mas, jangan nangis. Mas adalah pahlawan di keluarga kita. Dan aku yakin pahlawan kita ini akan berhasil menangkap pelakunya. Mas yakinlah, allah pasti akan membantu kita. Jangan menyerah dan tetap semangat okay"


"Sejujurnya sebagai seorang ibu aku juga sedih mengetahui anak anakku sedang diincar oleh seseorang, tapi sebagai seorang istri aku kuat, aku akan menguatkan suamiku yang saat ini membutuhkan dorongan dariku."


Syafira melepaskam pelukannya. Kemudian ia menghapus air mata yang berlinang di pipi Keenan. "Dont cry my husband, im here for you" Keenan tersenyum lalu mengecup bibir Syafira sekilas.


"Terima kasih. Kalau begitu Mas akan pergi dulu. Doakan Mas semoga cepat bisa menemukan titik terang dari masalah ini." Syafira tersenyum. "Doa seorang istri akan selalu menyertai suaminya"


Setelah itu Keenan pergi, ia menelfon Eka dan Detektif Ace untuk masalah ini. Memang hanya Eka dan Ace yang mungkin bisa menyelesaikan masalah ini dalam watu singkat.


Keenan menyuruh mereka untuk datang di cafe yang kemarin, tempat pertemuan dengan Ace. Setelah tiba di cafe Keenan langsung masuk dan menunggu mereka di salah satu meja yang kosong.


Setelah menunggu beberapa menit, Eka dan Ace datang dalam waktu bersamaan. Mereka saling berjabat tangan dan duduk di kursi masing masing.


"Jadi lo manggil kita kesini ada apa?" Tanya Eka sambil melirik ace yang berada di sebelahnya. "Gue mau bicara serius bang, dan ini menyangkut pelaku penculikannya" ucap Keenan.


"Apakah anda sudah mengetahui siapa pelakunya?" Tanya Ace pada Keenan. Keenan mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya  kemudian memberikan nomor Jack yang di dapatnya dari Riya.


"Namanya Jack, dia adalah satu satunya orang yang ada hubungannya dengan ibu. Dia adalah mantan suaminya. Memang saya belum bisa memastikan dengan benar kalau dia adalah pelakunya tapi ibu meyakinkan saya bahwa ini adalah ulah dia. Jack mempunyau dendam pada ibu dan mungkin dendam ini sedang ia lakukan pada anak anak saya yang saat itu bersama Ibu saya" jelas Keenan dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Oke, gue bisa bantu lo buat lacak nomor itu. Dan untuk keberadaannya mungkin bisa minta tolong dengan?"


"Ace" ucap Detektif Ace ketika Eka ingin menyebutkan namanya. "Ah iya Detektif Ace saja" lanjut Eka. "Boleh, gue kirim nomornya ke line lo bang. Lo bisa melacaknya nanti sore karena gue ingin secepatnya menangkap dia"


Eka mengangguk. "Dan untuk kamu, rencana kita berubah. Kode yang kemaren sudah tidak berlaku lagi. Mari lakukan kode V.V.V dan X.P.W" ucapnya.


"Tenang saja, saya sudah mengatur semuanya. Dan saya pastikan pelaku tidak akan mengetahui kode yang kita buat." Ucap Ace. "Pelakunya salah kalau mencari lawan, Dia pasti tidak sehebat anda" lanjut Ace.


"Kamu benar, dia telah masuk ke dalam kandang singa dan dia juga telah menggali lubang untuk dirinya sendiri" ucap Keenan.


"Btw kode V.V.V dan X.P.W itu apa Nan?" Tanua Eka.


Keenan dan Ace saling melempar senyum. "Pokoknya ada lah bang, untuk saat ini lo belum boleh tahu tentang kode ini. Karena hanya gue dan Ace yang mengetahui artinya"


Eka mengangguk. "Oke sekarang saatnya untuk membagi bagikan tugas. Bang tugas lo adalah melacak nomor itu, dan tugas gue dan Ace adalah kode itu. Jadi sampai disini kalian mengerti kan?" Tanya Keenan.


Eka dan Ace mengangguk bersamaan. Lalu mereka mulai bersantai dikit. Eka melihat ke arah ace yang berpakaian serba hitam. "Apa anda tidak risih memakai pakaian seperti itu?"


Ace melirik pakaiannya sendiri, menurutnya tidak ada yang salah. "Memangnya kenapa dengan pakaian saya?" Tanya Ace sambil menatap Eka.


"Pakaian anda bikin sakit mata orang yang melihat. Semuanya serba hitam."


"Menurut saya pakaian seperti ini sangat bagus. Karena saya terlihat lebih tampan dengan memakai pakaian seperti ini. Lihatlah anda sendiri, baju nya penuh dengan warna yang norak" ucap Ace.


"Hei tuan, ini bukan norak. Tapi fashion tahu gak" jawab Eka dengan nada jengkel. Sementara Keenan ia mati matian menahan tawa akibat kedua orang di depannya ini.


"Sudahlah, intinya cara kita berpakaian tidak ada yang bisa menyaingi Pak Keenan Aldebaran yang terhormat. Lihatlah dia, walaupun dia memakai baju compang camping pun semua orang tidak peduli. Karena wajahnya yang di atas rata rata"


Eka memperhatikan wajah Keenan dengan baik. "Wajah saya sebelas dua belas lah sama Keenan" ucap Eka dengan percaya dirinya. Sementara Keenan tertawa terbahak bahak akibat perkataannya.


"Sudahlah, kalian berdua membuatku ingin tertawa terus. Lebih baik kita pesan makanan saja, supaya kita bisa melakukan penyelidikan ini lebih lanjut" ucap Keenan pada kedua rekan nya itu.


"Oke deh, biar gue aja yang pesan makanan. Lo mau pesan apa Nan? Dan buat anda mau pesan apa?" Tanya Eka pada Ace dan Keenan.


"Samain aja sama apa yang lo pesan bang" Eka mengangguk. Lalu ia menatap Ace. "Dan untuk amda?"  "Samain saja seperti Pak Keenan"


Setelah itu Eka pergi untuk memesan makanan dan kembali lagi pada mejanya. "Nan, lo gak mau ngajak yang lain buat bantuin lo juga?" Tanya Eka. "Gue mau lah bang, tapi tidak sekarang. Saat kita udah menemukan keberadaan pelaku baru lah gue akan mengajak mereka.


"Memangnya pak Keenan teman lain selain anda?" Tanya Ace pada Eka. Eka hanya menatapnya datar. "Iyalah bro, Bukan cuma saya doang tapi masih ada lagi 29 orang di markas"


"Ace ace.. kamu itu terlalu kaku orangnya" ucap Keenan dengan heran. "Saya pikir anda orangnya tertutup pak jadi saya berpikir anda tidak punya banyak teman" ucap Ace.


Keenan tersenyum geli. Lalu tiba tiba makanan yang telah dipesan telah tiba. Pelayan menghidangkannya di atas meja dengan rapi. Kemudian pelayan itu meninggalkan mereka dengan makanannya.


"Gue cuma pesan nasi goreng aja biar simple, soalnya dari pagi cuma makan cemilan doang gak makan nasi. Ya udah gue pesen nasi goreng. Gak apa apa kan?" Tanya Eka.


Ace menggeleng bahwa ia tak apa apa dengan makanan itu. Lagi pula Ace bukan tipe pemilih makanan. "Gak apa lah bang, lagian gue juga  belum makan nasi dari tadi tadi pagi. Eka mengangguk.


Lalu mereka bertiga menghabiskan waktunya dengan makan nasi goreng itu, sementara minumnya mereka telah sepakat untuk meminum air putih saja. Dan itu adalah saran keenan.


"Kalau kita ingin melakukan sesuatu dan ingin berhasil maka jangan pernah minum selain air putih. Karena air putih itu bisa melancarkan pikiran. Seperti yang ada di iklan tv itu. Ketika orang lagi pusing malah ditawari air. "Butuh aqua? Minum aqua saja" begitulah kira kira perkataan Keenan pada mereka yang membuat Ace dan Eka mengangguk.


Setelah menghabiskan makanannya Keenan mengangkat tangannya dan meminta bill pada pelayan untuk membayar makanan yang ia pesan. "berapa totalnya?" tanya Keenan. "Semuanya jadi 200 ribu saja pak" ucap pelayan itu.

__ADS_1


Keenan mengangguk ia mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada pelayan itu.


__ADS_2