Bukan Janda

Bukan Janda
Akhir dari segalanya


__ADS_3

Satu minggu tanpa bertemu dengan Syafira membuat Keenan uring uringan tak jelas. Keenan rasa telfon saja tidak cukup untuk dirinya. Ia harus bertemu langsung. Tapi setiap Keenan ingin mengajak Syafira bertemu, Syafira menolak. Bahkan Syafira mengancam, jika dirinya sampe nekat menemuinya maka ia akan memperpanjang waktu sampai dua bulan lagi.


Keenan melampiaskan rasa rindu nya dengan main game di rumah selama seharian. Ia berencana akan kembali ke kantor besok.


"Kamu berhasil sayang, jika kamu melakukan ini untuk menyiksaku maka kamu berhasil. Aku merasa tersiksa selama seminggu ini" gumam Keenan.


Ia benar benar frustasi karena tak bisa bertemu dengan Syafira. Sedangkan Syafira, ia malah anteng anteng saja di rumah. Syafira juga tau kondisi Keenan melalui kamera cctv yang sengaja ia pasang di Apartemen Keenan sebelum pulang bersama orang tua nya.


Syafira melakukan hal itu untuk dirinya sendiri. Ia ingin tahu bagaimana kabar Keenan tanpa harus bertanya padanya.


Selama seminggu ini, Syafira sudah mulai sedikit membaik. Ia sudah tak banyak memikirkan Keysa, meskipun begitu kadang kadang ia menyebut nama Keysa. Syafira tidak ingin melupakan putri nya itu.


Kemudian Syafira pergi memasak ke dapur, ia memasak makanan Kesukaan Keenan. Setiap hari ia selalu memasak untuk Keenan. Kemudian menyuruh seseorang untuk mengantar nya ke Apartemen Keenan.


"Sayang, kamu masakin buat nak Keenan lagi?"  tanya Wina tiba tiba.


Syafira menoleh lalu melanjutkan memasak sambil berbicara "Iya bu, meskipun begitu om Keenan adalah suamiku. Aku harus melayani nya meskipun kita berjauhan"


Wina tersenyum, ia sangat bangga dengan Syafira. Karena di umur 19 tahun ia sudah bisa berpikir dewasa.


Setelah masakannya matang, Syafira mematikan kompornya. Lalu menyiapkan makanannya ke dalam rantang makanan. Syafira melakukannya dengan hati hati.


Wina membantu Syafira menyiapkan makanan yang akan diberikan pada Keenan. Setelah semuanya selesai, Syafira tinggal mengirimnya pada Keenan.


"Mau ibu pesan kan gojek, untuk mengantarkan makananmu itu?" tawar Wina.


"Iya bu"


Lalu Wina memesan gojek untuk Syafira. Tak lama kemudian gojek yang dipesan Wina telah tiba. Syafira menulis sesuatu untuk Keenan sebelum mengirimnya pada Keenan.


"Assalamualaikum kekasih hatiku, Keenan Aldebaran Brigth. apakah kamu baik baik saja? Apakah kamu merindukanku? Jujur, aku disini  sangat merindukanmu. Selama aku jauh darimu aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Jangan lupa jaga kesehatan, jangan terlalu banyak memikirkanku. Aku pasti akan kembali."


Setelah menulis surat pada Keenan, Syafira membungkusnya dengan amplop berwarna pink.


"Ya udah Syafira mau antar makanan ke abang gojek di depan ya bu" ucap Syafira.


"Iya sayang"


Syafira mengantarkan makanan pada abang gojek di depan rumahnya. Kemudian ia memberi ongkosnya.


"Bang, tolong anterin makanan ini ke alamat yang sudah saya tulis" ucap Syafira.


"Siap neng" jawab abang gojek itu.


Lalu Abang gojek itu pergi dan mengantarkan makanan Keenan.


Setelah itu Syafira masuk ke dalam rumah. Ia melanjutkan aktivitas nya sehari hari selama berada di rumah orang tua nya.


____________________________________________


Apartemen Keenan


Ting nong


Suara bel Apartemen Keenan berbunyi. Keenan mengenyitkan dahi nya. Karena tidak ada orang yang tahu apartemen barunya selain Syafira, mertua nya dan kedua orang tua nya.


"Apakah mungkin orang yang membunyikan bel itu adalah Syafira?" gumam Keenan.


Kemudian Keenan pergi ke kamarnya dengan terburu buru. Ia tidak mau Syafira melihatnya dalam kondisi yang agak berantakan. Keenan berganti baju lalu merapikan rambutnya. Kemudian ia mengambil parfum dan menyemprotkannya di seluruh badannya.


Kemudian Keenan pergi keluar dan membukakan pintu. Saat Keenan membuka pintu, bukan Syafira yang ia lihat. Melainkan seorang pria yang berprofesi sebagai gojek. Keenan terlihat kecewa. Ia pikir Syafira yang datang.


"Permisi pak, Apa betul ini dengan bapak Keenan Aldebaran Bright?"


"Iya betul, ini saya sendiri. Ada apa?"


"Ini ada titipan makanan dari ibu Syafira, mohon diterima"


Keenan mengambil makanan tersebut dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu Abang gojek pergi dan Keenan masuk ke dalam apartemennya.


"Setiap hari kamu mengirimiku makanan. Kamu benar benar istri yang baik. Kamu tidak melupakan kewajibanmu padaku" ucap Keenan.


Keenan menemukan sebuah surat di rantang makanan tersebut. Kemudian ia membuka dan membacanya. Keenan tersenyum setelah membaca surat dari Syafira.


Kemudian Keenan membuka rantang makanannya. Ia menemukan beberapa makanan kesukaannya dari Syafira.


Sop daging, Ikam tuna dengan bumbu pedas dan tahu telor, dan Nasi. Keenan mengambil nasi nya lalu mencampurkannya dengan sop daging.  Ia memakannya.


"Masakanmu tidak pernah berubah, selalu enak. Malah tambah enak. Apa mungkin kamu membuatnya dengan rasa cinta sehingga makanannya enak begini?"


"Aku merindu


Ku yakin kau tahu


Tanpa batas waktu

__ADS_1


Aku terpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata


Tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu"


Keenan memakan makanannya dengan menyetel lagu itu. Lagu yang mewakili perasaannya saat ini. Ia tahu lagu itu dari sinetron di Tv, dan Keenan menyukai nya.


"Aldebaran Alfahri VS Keenan Aldebaran"


Ah seandainya Keenan juga ikut masuk ke dalam sinetron itu. Pasti ada dua Aldebaran. Keenan membayangkan ia menjadi Aldebaran yang sesungguhnya dan Syafira yang menjadi Andin. Mungkin kisah cinta mereka tak se menyedihkan seperti di sinetron itu.


Keenan menghabiskan makanannya dalam beberapa menit. Kemudian setelah itu Keenan mendapat panggilan dari seseorang. "Bagas"


Bagas adalah orang kepercayaan Keenan untuk mengurus kantornya selama ia masih di dunia balapan. "Halo Pak Keenan" ucap Bagas.


"Iya ada apa?"


"Saat ini saya sudah mengumumkan perihal bapak yang akan kembali ke perusahaan. Semua karyawan sudah mengetahui kalau bapak akan kembali besok. Jadi apa bapak sudah siap?" tanya Bagas.


"Ya, saya sudah siap. Terima kasih Bagas"


"Sama sama pak. Kalau begitu saya tutup telfonnya pak"


"Baik lah"


Setelah menutup telfon nya, Keenan membereskan rantang makanannya dan membawa nya ke tempat cuci piring. Lalu Keenan pergi ke ruang tengah. Keenan menonton sinetron kesukaannya.


"Andin, tolong percaya sama saya. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu"


"Apa kamu bisa membuktikannya mas ? Aku tidak akan percaya dengan mu tanpa bukti"


Al menggenggam tangan Andin dan menatapnya. "Beri aku kesempatan untuk mencari bukti itu, aku pasti menemukannya"


"Si Andin bodoh banget, bisa bisanya ia lebih percaya sama Elsa daripada suaminya sendiri"


                                Lavenzi


Keenan: Guys, gue sekarang udah di indonesia.  Gue pengen ngomong sesuatu sama kalian, bisa kah kalian datang ke apartemen gue? Gue bakal kirim alamatnya pada kalian


Rendi: Kenapa lo udah pulang? Emangnya bulan madu nya sudah selesai?


Reno: Hooh, kok cepat amat


Kevan: (2)


Dito(3)


Eka (4)


Farhan (5)


Keenan: Nanti gue jelasin, sekarang lo semua datang ke apartemen gue dulu. Gue udah kirim alamatnya.


All: Oke, kita otw


1 Jam kemudian, semua anggota Lavenzi sudah berkumpul di Apartemen Keenan. Mereka semuanya hadir tanpa terkecuali.


"Sebelum gue ngomong sesuatu sama kalian, apa kalian sudah tau kenapa aku pulang lebih cepat saat bulan madu?" tanya Keenan.


Tentu saja mereka semua menggeleng, mereka tidak tahu alasan Keenan pulamg lrbih cepat. Keenan menceritakan semua nya kepada teman temannya. Dan berbagai reaksi yang ia dapatkan. Ada yang terkejut, sedih, prihatin dan lain lain.


"Sekarang, Nasib neng cantik gimana? Apa dia baik baik saja setelah kehilangsn calon bayi nya?" tanya Reno.


"Awalnya dia terpuruk tapi seiring berjalan nya waktu dia mulai baik baik saja" ucap Keenan.


"Lalu pernikahan kalian?" tanya Dito mewakili semuanya.


"Pernikahan gue sama Syafira masih gantung, antara sah dan tidak sah. Jadi gue mutusin untuk akad ulang dengan Syafira."


Semuanya mangut mangut paham. Lalu Rendi menatap Keenan. "Lo nyuruh kita datang kesini buat ngomongin apaan?"


"Gue mau nawarin kalian buat kerja di perusahaan gue" ucap Keenan dengan tiba tiba.


Semua nya bingung dengan apa yang dikatakan Keenan. "Kenapa tiba tiba?"

__ADS_1


"Gue bakal kembali ke perusahaan dan gue mau kalian kerja di perusahaan gue supaya kita tetap bisa bersama sama. Gue tahu bokap nyokap kalian memiliki harta yang berlimpah dan perusahaan. Tapi coba kalian pikir, dengan kalian bekerja sama gue, kalian bisa belajar mengelola perusahaan yang suatu saat kalian akan memilikinya. Jadi gimana apa kalian setuju?"


Kevan, Rendi, Dito, Reno, Farhan, dan Eka saling bertatapan. Mereka seolah olah bertanya dengan pendapat masing masing. Lalu salah satu dari anggota Lavenzi lainnya menjawab.


"Gue sih mau nan, asal lo perlakukan kita seperti karyawan lainnya. Gue juga mau di interview dulu jangan langsung diterima" ucap Zaki.


Dicky dan Tino ikut menjawab "Kita juga Nan"


Semua anggota lavenzi ikut mengiyakan.


"Oke, besok kalian datang aja ke kantor. Kalian akan melakukan interview satu satu"


"Oke"


____________________________________________


Rena merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, tangan nya mencari obat yang biasa ia letakkan di samping kasur. Tapi Rena tak menemukannya.


"Sepertinya obatnya habis"


Rena menguatkan diri untuk berdiri dan keluar untuk memanggil Ana. Rena menemukan Ana sedang menonton Tv. Rena menghampiri Ana.


"Kak" panggilnya.


Ana menoleh dan melihat Adiknya seperti menahan rasa sakit. Ana mematikan Tv nya.


"Kamu kenapa?"


"Obatku habis kak, apa kakak bisa membelikannya untukku?"


"Iya, kakak akan membelikannya. Kamu tunggu disini, secepatnya kakak akan beli obat dan pulang"


Ana berlari ke dalam kamarnya dan mengambil tas. Kemudian ia pergi menaiki mobil dan membeli obatnya Rena.


Rena berbaring di sofa sambil memegang kepalanya. Rasanya benar benar sakit. Hidungnya mengeluarkan darah, kali ini darahnya lebih banyak. Rena tak bisa berbuat apa apa bahkan untuk menggerakkan tangannya ia sudah tak bisa.


Kondisi Rena sangat memprihatinkan, dengan Wajah pucat, dan darah yang memenuhi wajahnya. "Sakit"


Pintu rumah Rena diketuk dari luar. Orang itu adalah Adit, ia tiba tiba saja khawatir dengan keadaan Rena. Jadi Adit memutuskan untuk pergi ke rumah Rena dan mengecek keadaanya.


Lama tak dibuka, Adit mencoba untuk mengetuk pintu lagi. Adit berpikir mungkin Rena tidak dapat mendengarnya. Tapi, Adit mendengar suara aneh. Seperti orang yang sedang kesakitan. Adit curiga itu adalah Rena.


Adit mencoba membuka pintu nya yang ternyata tidak dikunci. Lalu Adit masuk ke dalam rumah Rena. Adit melihat rumah itu sangat sepi. Adit mencoba menelusuri tiap ruangan. Lalu matanya terarah pada ruang tengah Rena. Adit merasa ada sesuatu di sana.


Adit berjalan ke ruang tengah tengah. Dan Adit melihat Rena yang tak berdaya dengan wajahnya yang penuh dengan darah.


"Astaghfirullah, Rena. Kamu kenapa bisa seperti ini"


Rena hanya bisa menatap Adit tanpa berbicara sepatah kata pun. "Kita ke rumah sakit ya?" Adit bersiap untuk mengangkat Rena. Tapi Rena berhasil menggeleng pelan. Rena merasa ini sudah tiba waktunya buat dia untuk pergi.


"Kenapa? Aku harus membawamu ke rumah sakit sekarang juga?" ucap Adit.


"A..aa...ku...min..ta..ma..af..ka..re..na..a.a.aku tidak bisa bersamamu lagi"


Adit menggeleng "Enggak Rena, kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu pasti kuat."


"A..ku..sud..ah..ti..dak..kuat..lagi" jawab Rena dengan terbata bata.


Nafas Rena mulai tersengal sengal, matanya mendongak ke atas. Adit menepuk pipi Rena dengan pelan. "Rena, Rena, sadar Ren"


Akhirnya Rena mulai menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. "Renaaaaaaaaaa" Adit berteriak setelah melihat Rena telah tiada.


Adit menggoyangkan tubuh Rena dengan kencang. "Kamu gak boleh ninggalin aku Rena, sekarang ayo bangun. Renaaa"


Adit menangis histeris melihat tubuh kaku Rena. Adit tidak menyangka Rena akan pergi secepat ini.


Ana yang baru tiba dari membeli obatnya Rena mendengar suara teriakan Adit. "Bukan kah itu suara kekasih Rena. Kenapa dia berteriak seperti itu. Apa terjadi sesuatu pada Rena"


Ana segera turun dari mobil, ia tidak peduli lagi dengan obatnya Rena. Ana berlarian ke dalam rumah. Lalu melihat Adit yang sedang memeluk tubuh Rena.


Tubuh Ana terasa lemas, ia melihat Adik nya terbujur kaku di depannya. "Renaaaa"


Adit melepaskan pelukannya dari Rena. "Rena, bangun sayang. Ini kakak, kakak sudah membeli obat buat kamu. Jadi ayo kamu bangun" ucap Ana.


Tapi Rena tetap diam. Ana menjerit jerit karena kematian Adik nya telah tiada. Lalu Ana menoleh pada Adit. Selain dirinya, ternyata kekasih dari Syafira juga sangat terpukul.


"Apakah dia mengatakan sesuatu sebelum meninggal?" tanya Ana.


Adit menggelengkan kepalanya. "Dia tidak mengatakan apa apa padaku. Dia hanya bilang kalau sudah tidak kuat dan tiba waktunya" jawab Adit


Kedua nya menangisi kepergian dari orang yang mereka sayang. Hari itu benar benar menyedihkan, Adit  harus kehilangan lagi.


"Aku harap kamu bisa tenang di sana Ren, aku tahu kamu selalu merasakan sakit saat itu.Dan sekarang rasa sakitmu telah hilang dan berganti dengan kebahagiaan di sana. Semoga kamu bahagia dan tenang di alam sana.


Adit mencium kening jenazah Rena di depan Ana. Ana tak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia seperti orang linglung yang kebingungan mencari sesuatu.

__ADS_1


"Maafin kakak, maafin kakak karena kakak tak bisa di sampingmu tadi. Kakak benar benar jahat karena meninggalkanmu sendirian. Harusnya kakak membawa mu ke rumah sakit. Jadi maafkan kakakmu ini ya?"


__ADS_2