
"Alfon mana pa?" Tanya Keenan pada Mahendra. Karena tumben saja Mahendra tidak bersama alfon. Biasanya Mahendra selalu menggendongnya kemana mana.
"Alfon lagi diberi asi sama ibu susunya di dalam" jawab Mahendra sambil menunjuk ke arah kamar yang pintunya tertutup. "Namanya siapa pa?" Tanya Syafira.
"Namanya kalau gak salah Riya, dia teman ibumu." Jawab Mahendra dengan singkat. Syafura mengangguk mengerti lalu kedua anak anak nya tiba tiba meminta sesuatu padanya.
"Nda eli elmen dong" (Bunda beli permen dong). Syafira berjongkok di depan Azkia. "Tapi bunda gak punya uang buat beli permen, kita bikin kue aja yah."
'Iya jda, ka uga uka ue uatan nda. Asanya angat nak" (iya bunda, Azka juga suka kue buatan bunda. Rasanya sangat enak) Syafira tersenyum lalu mengangguk.
"Yaudah kalau gitu kalian tunggu disini sama papa dan opa ya, bunda mau membuat kue dulu buat kalian. Jangan nakal ya" ucap Syafira. "Iya nda, uat uenya ang enak ya" (iya bunda, buat kue nya yang enak ya)
"Iya bunda bakal buatin kalian kue yang paling enak. Papa mau juga? Syafira buatin kalau papa mau" tanya Syafira pada mertuanya. "Iya, boleh" Syafira tersenyum tipis. "Aku juga mau deh" ucap Keenan.
"Jaga anak anak Mas"
Syafira berniat untuk pergi ke kamarnya untuk meletakkan barang barangnya dulu. Saat melewati sebuah kamar, Syafira mendengar suara yang lembut sedang menyanyi. Syafira memutuskan untuk mengintip.
Ia membuka engsel pintu dengan pelan dan melihat siapa yang mempunyai suara merdu itu. Syafira sempat terhipnotis saat melihat dan mendengar siapa yang menyanyikan lagu itu.
"Tante Riya, jadi tante Riya yang menjadi ibu susu untuk Alfon." Syafira memang mengenal Riya dengan baik. Karena sewaktu kecil dulu ia sering bermain dengan Riya saat syafira pergi ke rumahnya dengan wina.
Tiba tiba Riya menoleh ke arah pintu dan melihat Syafira yang sedang mengintipnya. Ia tersenyum. Riya sangat mengenali anak itu. Dia adalah anak dari wina dan menantu dari keluarga ini.
"Hayoo ngintipin tante ya" ucapnya ketika melihat Syafira. Syafira yang sudah ketahuan pun memutuskan untuk masuk dan duduk di samping Riya. "Syafira gak ngintip kok tan, cuka liat aja dikit"
"Sama aja sapi, eh tante baru tau lho kalau kamu jadi menantu keluarga Mahendra. Sudah lama sih tante tidak ketemu sama kamu jadi ya ketinggalan berita deh"
Riya memanggil nama Syafira dengan panggilan semasa kecilnya. Sapi. "Tante sih udah lama gak pernah main ke fumah. Sayfria jadu kangen tau" ucapnya.
Riya hanya terkekeh kemudian ia menatap bayi yang ada di dalam gendongannya. "Tante ingin sekali bisa bertemu dengan ibu kandung Alfon. Tapi sayang dia sudah tidak ada. Kapan kapan kamu anter tante ke makamnya ya. Tante mau minta izin buat jadi ibu susu untuk Alfon" ucap Riya dengan nada getir.
"Tanten tenang aja, Syafira bakal nganter tante ke makam almarhum Mama." Ucap Syafira. Kemudian Syafira menepuk dahinya dengan cepat. "Aduh sampe lupa Syafira mau buat kue dulu ya tante, anak anak lagi pada nungguin'
"Ya sudah pergilah, nanti kembali lagi kesini tanten pengen ngobrol banyak sama kamu" ucap Riya sambil menatap Syafura. Syafira mengangguk dengan cepat kemudia bergegas pergi.
Syafira pergi ke kamarnya terlebih dahulu dan menaruh handhone dan dompet disana. Kemudian ia menggulung rambutnya dan bersiap untuk membuatkan kue untuk mereka.
Syafira pergi ke dapur dan menggunakan celemek untuk memasak pada dirinya. Ia menyiapkan semua bahan seperti tepung, gula , telur dan lain lain.
Pertama tama ia membuat adonan terlebih dahulu lalu mencampurkan semua bahan yang ada. Syafira berkelimpung di dapur selama 30 menit kebih hanya untuk membuat kue.
Kue yang dibuat Syafira kini telah siap, Syafira membuat kue brownis denngan toping keju dan cokelat di atasnya. Tak lupa ia juga menaburkan mises di atasnya.
Setelah semuanya siap, Syafira membawa piring tersebut pada anak anak nya di ruang keluarga. Ia menyiapkan sepiring brownis lagi untuk dikasih pada Riya di dalam kamar.
"Tante, ini kue buatan Syafira. Tante cicipin dulu yah. Syafira mau antar kue yang lain dulu. Nanti Syafira balik lagi.
"Ya sudah, oh iya tolong bilang sama Mahendra. Alfon sudah selesai minum asi. Sekarang dia lagi tidur" ucap Riya pada Syafira. Syafira hanya menjawabnya dengan anggukan. Kemudian ia keluar dan menutup kembali pintu kamar.
"Azka, Azkia ini bunda udah buatin kue nya" Syafira membawa kue nya dengan nampan karena selain membawa brownis nya ia juga menyiapkan cemilan lain untuk mereka"
"Yee ue nya ah jadi, ini nda. Ka ma kia au akan anyak anyak" (Yee kuenya udah jadi. Sini bunda Azka dan Azkia mau makan banuak banyak. Mereka sangat girang sekali saat Syafura membawakan mereka kue buatannya.
"Kalian duduk yang rapi ya, nanti bunda kasih kue satu satu" Azka dan Azkia segera duduk di sampig Keenan. "Ini pa kue buat papa dan Syafira juga udah buarin teh buat papa"
"Terima kasih, padahal papa tidak minta lho" ucap Mahendra. Syafira hanya tersenyum tipis. "Kue buatku mana?" Tanya Keenan karena Syafira tak kunjung memberinya brownis yang dipegangnya.
"Bentar dulu, biarkan anak anak yang makan dulu. Kamu sebagai yang lebih tua harus mengalah" jawab syafira sambil membagikan brownis nya pada Azka dan Azkia.
Selesai membagikannya barulah Syafira menyodorkannya pada Keenan. Kemudian syafira teringat pesan Riya tadi. "Oh iya pa kata tante riya Alfon sudah minum asi, dia lagi tidur sekarang"
__ADS_1
"Kamu kenal dengan Riya?" Tanya Mahendra. Syafira mengangguk. "Dulu waktu kecil Syafira selalu bermain bersama tante riya sewaktu ibu pergi ke rumahnya" jawab Syafura.
"Mahendra mengangguk mengerti. "Kalau begitu Syafira pergi ke tante Riya sebentar dlu, Syafira ingin membicarakan banyak hal dengan tante Riya. Apa papa mau ikut sekalian liat alfon?" Tawar Syafira.
"Boleh, Keenan kamu disini saja ya." Keenan mengangguk, ia mencomot brownis milik azka hingga membuatnya kesal. Tak peduli dengan kelakuan mereka Mahendra dan Syafira pergi ke kamar untuk menemui Riya.
Sebelum masuk Syafira mengetuk pintu terlebih dahulu. Riya yang mengira Syafira datang sendirian langsung membuka pintunya dengan lebar. Matanya agat sedikit terkejut melihat Mahendra bersama Syafira.
"Benar Alfon sudah tidur?" Tanya Mahendra dengan kikuk. Ia tak tahu harus berkata apa selain menanyakan keadaan putranya sendiri
"Sudah, dia sudah saya tidurkan di dalam. Mahendra mdngangguk. "Boleh aku masuk?" Tanya nya lagi. "Tentu, ini adalah rumahmu jawab Rita. Mahendra pun masuk ke dalam
Sementara Riya ia menarik tangan Syafira dan membawanya menjauh dari kamar itu. "Sekarang ayo ngobrol sana tante bagaimana bisa kamu menjadi istri Keenan sekaligus menantu Mahendra
"Kalau untuk diceritakan sih panjang banget tante ceritanya, tapi Syafira singkat aja deh ya. Waktu itu Syafira hamil dari anak orang lain"
"Tunggu, tunggu, kamu hamil? Sebelum menikah gitu" ucao Riya memotong perkataan Syafira. Syafira mengangguk dengan cepat. "Dulu Syafura dijebak oleh seseorang hingga syafira bisa hamil anaknya"
"Lali dimana dia sekarang? Apakah si kembar itu anakmu dulu"
Syafira menggeleng. "Bukan, dia anak aku dengan Mas Keenan. Sementara anakku sendiri sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Aku keguguran tante." Jawabnya.
Rita merasa miris dengan syafura, dia masih beruntung sempat melahirkan anaknya ke dunia sedangkan syafira dulu belum sempat untuk melihat anaknya.
"Lalu ceritakan lagi selanjutnya"
"Saat Syafura masih hamil Keysa, keysa itu anak aku yang keguguran tan. Mas Keenan menikahi aku pada saat aku hamil. Dia tetap menerima anakku dengan sepenuh hati.
Tapi saat awal awal pernikahan kami, Saat itulah Keysa sudah tiada. Aku keguguran di korea karena jatuh dari kamar mandi. Saat itu aku tidak berpikir debgan jernih kehilangan seorang anak adalah hal terburuk bagiku.
"Tante tidak pernah tahu kalau selama ini kamu pernah mengalami hal ini. Karena pada saat itu tante berusaha memepertahankan rumah tangga yang hampir kandas"
Syafira mengangguk matanya menatap ke atas langit langit. "Gimana perasaan tante saat tante melihat anak tante meninggal di depan mata kepala sendiri
Keenan sudah menunggu Syafira di ruang tengah tapi syafira masih belum kembali juga. Akhirnya keenan menggendong kedua anak anaknya dan akan mencari Syafira.
Pada saat itu Keenan melihat Syafira sedang mengombrol dengan Riya, Keenan mendengarkan semua percakapan mereka. Mulai dari awal sampai akhir.
Kedua wanita yang saling berhadapan itu sama sama pernah merasa kehilangan. Apalagi kehilangan seorang anak. Keenan terus mendengarkan mereka.
"Sekarang tante sudah tidak punya siapa siapa lagi, tante sudah bercerai dengan suami tante dan tante juga sudah kehilangan anak tante. Tante harus bisa menghidupi diri sendiri.Tanpa sanak keluarga"
Syafira dan Riya saling berpelukan. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Di dunia ini tidak ada seorang ibu yang baik baik saja jika kehilangan anaknya. Semua ibu pasti mengharapkan kehadiran anak nya bukan kehilangannya.
Kecuali orang yang benar benar tega. Di jaman sekarang banyak orang yang hamil di luar nikah lalu membuang bayi nya di tengah jalan. Itu bukan sifat seorang ibu tapi seorang iblis yang menjelma menjadi manusia.
.
.
"Mahendra, tugas saya hari ini sudah selesai. Boleh saya pulang?" Tanya Riya pada Mahendra. Ketika hari sudah mulai petang. "Kalau kamu mau kamu bisa tinggal di rumah ini saja, Alfon psti membutuhkanmu setiap saat dan rumah lama mu itu kau jual saja"
"Dan bisa jadikan tabungan buat kamu." Riya menatap Mahendra ragu. "Tapi apakah anda benar benar rela saya tinggal disini?" Tanyanya.
"Tentu saja, kamu adalah ibu susu untuk anakku otomatis kamu adalah ibunya sejak saat ini. Walaupun secara tidak langsung."
"Saya juga tidak keberatan jika ibu tinggal disini. Mulai hari ini ibu adalah bagian dari keluarga kita, jadi jangan sungkan lagi sama kita" ucap Keenan.
"Benar tante, tinggal disini aja sama Syafira. Lagian disana kan tante sendirian, gak enak. Jadi tinggal disini ya tan? " bujuk Syafira.
.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan tinggal disini bersama kalian, tapi saya harus mengambil baju baju saya di rumah yang lama" ucap Rita pada Mahendra.
Mahendra menggeleng kemudian ia mengambil sesuatu dari kantongnya.
"Tidak usah, pakailah ini untuk membeli baju baju yang baru. Mulai saat ini kartu ini adalah milikmu. Dan jangan menolaknya karena kanu memang pantas mendapatkan semua ini" Mahendra menggunakan kata saya-kamu pada Riya.
"Saya tidak bisa menerima ini" ucap Riya menolak kartu kredit yang diberikan oleh Mahendra. "Saya tidak memberikannya untuk kamu tapi untuk ibu nya Alfon, jadi terimalah. Jangan menolak pemberian sesuatu dari orang lain"
Dengan agar sedikit terpaksa Riya menerima kartu itu di tangannya. "Syafira akab menyiapkan kamar untuk tante tunggu ya."
Riya tersenyum tipis. Entah dengan apa ia harus membalas kebaikan mereka semua.
Setelah menyiapkan kamar untuk Riya, Syafira kembali lagi ke luar. "Emm tan kamar sudah siap, ayo syafira antar" Riya mengangguk kemudian ia berpamitan pada semuanya sebelum pergi
.
.
Ini Tan kamar tante, tante bisa tidur disini untuk selamanya" uca0 Suafira seperti mempromosikan sebuah iklan. Riya hanua tersenyum geli saja. Ini melihat lihat kamar yang akan ditenpatnya.
"Kamarnya luas banget, harusnya tante ditempatin di kamar pembantu aja cukup kok" Syafira berdecak mendengar Riya mengatakan hal itu. "Tante gak boleh ngomong gitu, tante memang pantas dapat semua ini karena tante sangat baik" ucap Syafura.
"Baiklah, tante harus segera beristirahat. Syafira pergi dulu. Kalau butuh sesuatu panggil saja Syafura okay." "Baiklah" jawab Riya. Setelah Syafira pergi Riya dudukn di kasur yang enpuk itu.
Siapa yang tahu nasibkan akan menjadi baik seperti ini. Mungkin ini adalah balasan dari tuhan karena dia telah kerelakan bayinya untuk pergi dan dipanggil oleh yang maha kuasa.
Jam makan malam telah tiba semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, hari ini Syafira tidak memasak sendirian lagi. Karenaada Riya yang dengan senantiasa membantunya.
"Masakan tante selalu enak, dulu Syafira tidak pernah mau makan kalau bukan dimasakan sama tante" hcap Syafira mengifat kenangannya semasa dulu. Riya juga tersenyum.
Syafira dan Riya menghidangkan makanan di atas meja. Mereka melakukannya dengan telaten. Tanpa sadar mata Riya bertatapan dengan mahendra. Rita segera mengalihkan pandangannya.
"Syapira, sayurnya jangan taruh disitu. Mending taruh disini aja biar " ucap Riya sambil memperbaiki tatanan makanan yang diletakkan oleh Syafira
"Oh begitu ya tan, ya udah deh Syafria pindahin" Syafira memindahkan semua makanan yang tadi ia sudah letakkan ke tempat lain, sesuai dengan apa yang Riya katakan.
"Oke saatnya kita makan, Mas Keenan mau makan apa biar aku siapain?" Tanya Syafira. Keenan tersenyum pada Syafira lalu menunjukkan beberapa makanan yang ia ingin memakannya.
Maahendra melihat ke arah Syafira yang sedang menyiapkan Keenan makanan. Seandainya Mela masih hidup dua pasti akan melakukan hal yang sama seperti menantunya itu.
Riya mengikuti arah pandang mahednra. Ia berinisiatif untuk menyiapkan makanan Mahendra. "Saya bisa menyiapkan makanan untuk anda, anda mau makan apa?"
Saat Riya mengatakan itu semua mata mengarah kepadanya, terutama Keenan. "Riya berusaha untuk tidak peduli, dia tidak berniat apapun dia hanya ingin membantu Mahendra saja.
"Jadi mau makan apa?" Riya mengulangi pertanyaannya lagi. Dengan canggung Mahendra menyebutkan makanan apa yang ingin ia makan"
"Kenapa kamu nambahin sayur, saya tidak suka sayir" ucap Mahendra. Riya segera duduk di kursinya sambil menafap Mahendra. "Muali sekarang anda harus banyak banyak makan sayur supata tetap sehat. Kalau anda sakir siapa yang akan menjaga alfon?'
"Tante Riya bener pa, papa harus banyak makan sayur. Walauoun papa tidak suka. Sayur kan sangat menyehatkan bagi tubuh kita' lanjut Syafira.
"Papa udah semakin tua, jadi papa banyak banyaklah makan makanan sehat. Alfon masih butuh pa0a" uca0 Keenan. Karena banyak yang mendukungnya untuk makan sayur akhirnya Mahendra mengangguk juga.
Ia mengambil nasi dan sayur dengan sendoknya kemudian memasukkan pada mulutnya secada perlahan. Mata Mahendra terbuka lebar, ia menatap mereka semua bergantian.
"Kenapa pa?"
"Kenapa rasa sayurnya enak sekali? Papa pikir sayur itu rasanya seperti rumput. Wuajjj orang yang memasak ini sangat hebat sampai rasa sayurnya enak begini"
"Itu masakan tante Riya pak"
"Uhukk uhukkk" Mahendra terbatuk batuk karena perkataan Syafira. "Apa itu benar kamu?" Ucapnya pada Riya. Riya mengangguk
__ADS_1
Mahendra merasa malu sendiri karena memujinya.
kemudian mereka melanjutkan malam malam dengan tenang. hanya ada suara Azka dan Azkia yang sedang bermain berdua saja. selebihnya tetap diam. Azka dan Azkia merangkat lalu berdiri begitu lah seterusnya. mereka lebih suka bermain main