
Hari ini, Eka mengumpulkan semua anggota Lavenzi di markas. Termasuk Keenan juga. Dan disinilah mereka. Keenan dan Reno duduk di sofa sambil melihat teman temannya yang lagi mengobrol.
"Bang, kayaknya udah lama ya sejak kita mendirikan Lavenzi. Hampir 6 tahun lebih semenjak kita masih kuliah kayaknya ya"
"Iya, waktu itu Bang Reon melepas jabatannya dan menutuskan menyerahkannya padamu" ucap Eka.
"Kayaknya aku harus segera lengser dari jabatan ini bang"ucap Keenan membuat semua yang ada disitu sangat terkejut. Mereka tidak pernah menyangka kalau Keenan akan mengatakan hal itu.
"Apa maksud lo ngomong gitu Nan?" Tanya Reno. Suaranya kelihatan datar karena ia sensitif dengan pembahasan Keenan itu.
"Gue sudah lama mimpin Lavenzi dan juga selama beberapa tahun terakhir gue juga gak pernah mimpin kalian lagi. Jadi mungkin ini saatnya untuk Lavenzi membentuk pemimpin baru"
"Lo mau ngundurin Nan dan Lo juga mau keluar dari Lavenzi?" Tanya Farhan. Kali ini ia duduk dan menatap Keenan menunggu jawabannya.
"Gue bukannya ingin keluar dari Lavenzi tapi gue cuma mau melepaskan jabatan. Gue mau diantara kalian ada yang menggantikan gue. Gue sudah memilih salah satu di antara kalian. Jadi, besok kalian semua ngumpul disini lagi.
Gue mau ngadain acara serah terima jabatan untuk pemimpin Lavenzi yang baru"
Suasana sangat hening ketika Keenan mengatakan itu. Mereka seakan tidak rela, tapi mau bagaimana lagi. Itu semua adalah keputusan Keenan. Mereka tidak bisa melarangnya.
"Kenapa pada diem?" Tanpa omongan apapun mereka semua langsung memeluk Keenan. "Terima kasih, selama 6 tahun lo udah jadi pemipin yang terbaik buat Lavenzi. Sebenarnya kita masih gak rela lo ngelepasin jabatan lo kek gini. Tapi kita tahu, lo pasti telah memikirkan semuanya dengan baik." Itu adalah suara Farhan.
Keenan memeluk teman temannya satu persatu. "Gue yakin orang yang gue pilih bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dari gue" ucapnya sambil tersenyum.
"Oke, karena lo udah mau melepaskan jabatan. Mari kita berpesta dulu sebelum lo benar benar ngelepas jabatan lo" ucap Dito.
"Setuju gue"
"Gue juga"
"Ya udah, kalian pesen makanan aja. Dan makan disini aja. Biar lebih nyaman. Tenang aja gue yang bayar, lo semua tinggal pesan saja"
"GAK, lo udah sering ngebayarin untuk kita. Sekarang giliran kita yang membayarnya." Ucap Reno.
"Teman teman, mari kita patungan untuk beli makanan. Seikhlasnya saja, bila tidak punya uang tidak usah. Gue hanya ingin mencari orang yang benar benar mau menyumbang"
Hampir seluruh anggota Lavenzi maju dan menyumbangkan uang mereka pada Dito. Keenan pun ikut maju juga tapi tidak diterima oleh Dito.
"Gue nyumbang 200 ribu Ya Dit"
"Gue cuma bawa 100"
"Nih gue sumbangin semuanya buat kita" ucap Farhan sambil memberikan uangnya yang jumlahnya hampir mendekati satu juta. Dalam hal apapun Lavenzi selalu kompak. Mereka tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapapun. Bagi mereka, Lavenzi adalah keluarga.
"Semuanya totalnya 5 juta. Jadi kalian mau pesen makanan apa?"
"Jangan makanan yang mewah ya, sekali kali kita beli di penjual makanan yang ada di pinggir jalan saja. Selain biayanya lebih murah membeli disana bisa membantu perekonomian mereka" ucap Eka.
"Bila ada lebihnya, kalian bagi bagikan saja pada semua orang" tambah Keenan.
Dito mengangguk. Kemudian ia melihat ke arah semua teman temannya. '"Siapa yang mau ikut gue beli makanan?" Tanya nya. Farhan dan Reno mengacungkan tangannya. Mereka ingin membantu Dito.
"Ya udah lo berdua ikut gue"
"Pake mobil gue aja biar kalian gak terpisah karena pake motor." Keenan melemparkan kunci mobilnya pada Dito. Yang dengan sigap langsung menangkapnya. "Bensinnya masih penuh kan Nan?"
"Iya, gue udah isi sebelum kesini" jawab Keenan. Dito mengangguk kemudian mereka bertiga segera pergi untuk membeli makanan.
Sepeninggal Mereka, Kevan mengajak mereka untuk bermain monopoli sambil menunggu makanan datang.
"Lo kok bisa punya monopoli sih Van, punya siapa?" tanya Keenan.
Kevan hanya menyengir. "Gue nyuri punya adek gue." Jawabnya. Keenan hanya tertawa geli. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi adik Kevan jika tahu mainannya dicuri olehnya. ah bersama dengan teman temannya saat ini membuat Keenan semakin bersemangat.
"Nan, lo ikutan gak nih" tanya Kevan. Keenan lalu menatapnya kemudian menjawab dengan penuh semangat. "Gue? Tentu saja ikut lah."
Kemudian Kevan menatap Eka. "Lo juga ikut main ya bang"
"Yok lah, gue gak mau perjuangan lo buat nyuri monopoli ini sia sia" jawaban Eka membuat yang lain tertawa sedangkan Kevan hanya menatapnya sebal. "Kurang satu orang lagi, Oi serangga. Sini lo, ikutan main" teriaknya pada Rangga.
"Sorry ya Van, seorang Rangga tidak level main mainan bocah kek gitu. Tapi karena lo maksa, ayo dah kita main" Rangga berjalan dan duduk di samping Kevan.
"Apa?" Tanya Rangga ketika melihat Kevan yang masih menatapnya. Kevan menggeleng. "Lo hari ini ganteng". Rangga tersenyum puas sambil mengangkat kerah bajunya tinggi tinggi. "Jelas lah Rangga putra sugar mommy gitu lho"
"Kaya lampir" sambung Keenan. Kevan tertawa terbahak bahak melihat wajah mupeng Rangga. "Tidak apa apa lah, lampir juga ganteng kok." Ucap Rangga pasrah.
__ADS_1
"Kapan mulainya nih" ucap Eka yang sedari tadi menunggu permainan dimulai. "Sekarang aja, ayo"
"Ini punya Abang yang warna merah, Keenan warna biru, Gue warna kuning dan buat Kevan warna hijau tua aja"
"Kok hijau tua?"
"Karena lo bukan daun muda, papale papalele"
"Bocah edan" ucap Kevan.
"Sebelum permainan dimulai kita bagi bagi dulu duitnya, tiap orang dapat dua juta." Kevan membagikan bagikan uang mainan monopoli pada Eka, Keenan dan Rangga."
"Dua juta? Dikit banget dah. Kenapa gak sepuluh juta aja" ucap Rangga protes. "Aturannya emang gitu bego" ucap Keenan. Ia merasa gemas sendiri dengan tingkah laku teman temannya yang bisa dikatakan agak kurang jelas.
"Oke, sekarang lo kocok dadu Nan dan jalankan pionmu" ucap Eka. Keenan mengangguk, ia mengambil dadu dan memasukkannya pada gelas kecil kemudian mengocoknya dan menjatuhkannya di lantai
Keenan mendapat angka lima,dengan cepat ia menjalankan pion miliknya. Keenan berhenti tepat di sebuah stasiun amsterdam. "Giliran lo bang" ucapnya pada Eka.
Eka mengambil dadu dari Keenan.
.
.
.
"Yak, bayarrr lo udah nginjek rumah hotel gue" teriak Rangga dengan senang ketika melihat pion Kevan yang menginjak rumah miliknya. "Ck, berapa?" Tanya Kevan.
Rangga mengeceknya sebentar kemudian tersenyum puas. Dua juta lima ratus" ucapnya pada Kevan. "Mahal amat? Harga temen lah bro?" Tawar Kevan.
"Gak ada diskon diskonan ya, lagian suruh siapa miskin" ucap Keenan.
"Tau tuh untung duit gue banyak" sahut Eka.
"Iye dah, terus gimana Rang. Duit gue cuma ada 100 ribu nih" ucapnya. Rangga kemudian tersenyum usil pada Kevan. "Itu artinya lo kalah, tapi lo harus bayar hutang dulu sama gue. Sebagai gantinya lo pijitin gih pundak gue"
"Dih ogah, ini cuma game ya" ucap Kevan. "Tapi hutang tetaplah hutang Kevan. Emang lo gak tahu ada pepatah hutang emas dibawa berlayar hutang uang harus dibayar"
Kevan melirik pada Eka dan Keenan mencoba meminta bantuan. "Cepet gih, daripada lo kena azab Van. Gara gara tidak bayar utang" ucap Keenan.
"Kalian tega sama gue, kalian mengkhianatin aku. Aku jijik sama kalian. Aku jijik tau gak?"
"Sabar bro, kalau perlu bukan cuma gue pijit. Tapi gue plus plus juga"
"Homo" ucap Eka dan Keenan secara bersamaan. Sekarang permainan sudah semakin sengit, kali ini rumah Keenan semuanya dijual untuk membayar pajak pada Eka. Keenan sudah tidak mempunyai apa apa selain uang 1 ribu rupiah
Kevan menertawainya karena ternyata ada yang lebih ngenes darinya. "Yak, lo nginjak di hotel Bang Eka Nan. Cepat bayar" ucap Rangga. "Nih bang, gue bayar seribu aja dulu. Sisanya nanti tak transfer ya. Soalnya mau ke bank tapi gak sempat" ucap Keenan seolah olah ia punya hutang beneran.
"Oke bro, sebagai gantinya lo keluar dulu dari permainan. Lo udah Isdet, IS To THE DET" ucap Eka sambil menyengir menggoda Keenan. "Siap bro, gue doain lo juga jatuh miskin ya bro" balasnya
"Doa lo jelek amat sama gue Nan"
"Masih untung gua doain bang, daripada tidak sama sekali" ucap Keenan sambil menatap Eka.
"Ya kalau lo doanya jelek kayak gitu gue gak mau lah"
"Udah, jangan berteman. Ayo lanjutkan Bang permainannya. Kalo gue menang, lo juga harus pijitin gue juga bang, kayak kain kafan di belakang gue nih" Rangga menatap Kevan yang sedang memijitnya.
"Diem lo Oon, gue cekik juga nih leher"
Kemudian Rangga melanjutkan perkataannya. "Tapi kalau lo menang, lo bisa minta apapun dari gue bang"
"Bener? Apapun?" Tanya Eka memastikan. Rangga mengangguk dengan cepat. "Oke, mari kita lanjutkan permainan gaje ini"
Kali ini mereka berdua mengocok dadu dengan lebih hati hati agar tidak perlu menginjak rumah tetangga monopolinya. "4, satu dua tiga empat. Hutfff syukur deh gue nginjak rumah sendiri" ucap Eka.
"Saat giliran Rangga yang mengocok dadu. Ia mendapat angka 6. Rangga menjalankan pionnya sambil menghitung sama angka enam. "Kocok lagi cepetan" ucap Eka.
"Sabar Napa Bang" saat Rangga mengocok untuk yang kedua kalinya. Rangga malah singgah di kota Australia yang berhotel 4 milik Eka. "Alamakkkkkk" ucapnya.
Eka tertawa melihat hal itu. "Udah lo pasrah aja, lo gak bakal sanggup bayarnya" ucap Eka. "Memang berapa bang yang harus dibawar?"
"5 juta lebih. Lo aja cuma punya 4 juta."
"Gue boleh minjem di bank dulu gak Bang?"
__ADS_1
"Kagak lah, udah lo jangan cari cari alasan lagi. Sekarang gue mau minta sesuatu sama lo" Eka menatap Rangga dengan serius. "Apaan bang?"
"Gue mau lo gendong gue di punggung lo selama lima menit. Lo kan habis dpijit Kevan tuh jadi lo gunain tenaga lo untuk gendong gue"
Keenan dan Kevan tertawa keras mendengar hal itu.
"Syukurin lo Rang"
"Selamat menikmati ya Rang, Bang eka gak berat kok. Cuma 60 KG aja" ucap Keenan sambil tertawa. "Ya udah ayo cepetan bang biar cepet selesai"
"Wokeh"
Rangga berjongkok di depan Eka kemudian Eka mulai menaiki punggungnya. "Ayo angkat gue kuda kecil" ucak Eka di balik punggung Rangga. Rangga mengeluarkan semua tenaganya untuk menggendong Eka. "Byrrraaahh, berat amat lo bang. Gentong aja kalah sama lo" ucapnya.
"Bodoamat" Eka memegang kedua telinga rangga dari belakang dan memariknya seperti ia sedang memacu kuda. "Berangkat ayo...yiiihaaaaa..." dengan terpaksa Rangga menggendong Eka sambil berkalan.
"Keluarkan kamera kita, jadikan ini bahan konten kita." Ucap salah satu dari anggota Lavenzi.
"Hooh, lumayan menghibur lho ini" timpal yang lainnya.
"Oke sip, gue rekam pake hp gue aja dulu. Kameranya ada di farhan soalnya" ucap Kevan. Kevan mengeluarkan handphone dari dalam sakunya kemudian membuka aplikasi kamera.
"Eh kain kafan, jangan rekam gue elah" ucap Rangga ketika melihat dirinya sedang direkam. "Buat konten, udah lo fokus aja gendong bang Eka nya" ucap Kevan.
Keenan menggelengkan kepalanya melihst tingkah mereka. Setelah 5 menit, Baru Rangga menurunkan Eka kembali. Rangga terkapar lemas di atas kantai karena tidak kuat menahan beban dari Eka.
"Tepar juga Lo Rang." Ucap Keenan.
"Capek tahu bos"
Deru suara mobil terdengar dari Markas mereka. Sepertinya teman temannya sudah kembali. Dito, Reno dan Fadhan masuk dengan membawa banyak kantong plasik yang berisi makanan. Mereka membeli berbagai macam jenis makanan.
"Ada sempol, cilok, pentol, Mie ayam, Bakso, Bubur ayam, Pisang keju, dan lain lain. "Buset, makanannya beraneka ragam. Gue jadi bingung mau makan yang mana" ucap Rangga.
"Makan aja semuanua, ada banyak nih" ucap Dito.
"Kalian habis ngapain tadi?" Tanya Reno.
"Main monopoli sama mereka" jawab Keenan singkat. Keenan mengambil beberapa bungkus oentol untuk ia makan. Begitu pun yang lainnya. Dengan sabar mereka mengantri untuk mendapatkan makanan itu.
"Ini sempol enak banget, lo beli dimana?" Tanya Kevan.
"Di mang cecep langganan gue" jawab Reno. Kevan hanya mengangguk kemudian memakan sempolnya sampai habis. "Ternyata makanan sederhana seperti ini lebih enak ya dari pada yang ada di cafe cafe" ucap Eka.
"Makanya itu gue lebih suka jajan di pinggir jalan daripada di cafe." Jawab Reno. Keenan mengambil cilok dadi dalam plastik kemudian melahapnya sampe abis.
"Buset Nan, lo lapar apa doyan?"
"Doyan" jawabnya singkat.
Yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat Keenan yang makan seperti orang kelaparan selama berhari hari. "Ren, catet dimana lo beli makanan ini semua di hp lo. Habis itu kirim ke whatsap gue" ucapnya di sela sela makan ciloknya.
"Buat apa emangnya?" Tanya Reno. Keenan menantap Reno sebentar kemudian menjawabnya. "Kapan kapan gue mau mesen yang banyak, sumpah rasanya enak banget. Syafira juga pasti suka makanan kek gini"
"Yaudah gue catet dulu, sekalian nama penjualnya deh" ucap Reno. "Lo hafal semua nama nama penjualnya Ren?" Tanya Eka. Reno mengangguk. "Tentu saja hafal Bang, Ada mang cecep, mang ndut, Bok darmi, Pak tarno"
"Jenius lo ren sampe hafal semuanya" puji Farhan. Reno tak menjawab lagi ia sibuk mengetik alamat dan tempat para penjual malanan tersebut untuk Keenan. Setelah beres ia mengcopy nya dan mengirimkan pada whatsapp Keenan.
"Sudah gue kirim semuanya" ucapnya. Keenan mengangguk seraya menghabiskan cilok terakhirnya.
.
.
.
"Pa, mau sampai kapan papa di rumah terus? Papa harus ke kantor" ucap Mela sambil melirik ke arah Mahendra yang sedang membaca koran.
"Papa ngerjain tugas kantor di rumah kok. Lagian kan aku juga harus jaga kamu dan calon anak kita" ucap Mahendra tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca.
"Ya tapi sampe kapan pan? Sampe Mama lahiran. Ingat pa, Nasib karyawan ada di tangan papa. Kalau papa tidak ke kantor papa mau ngasih mereka gaji apa? Daun?" Sarkas Mela.
Mahendra melipat korannya kemudian menatap Mela. "Papa cuma ingin yang terbaik buat kalian saja' ucapnya.
"Papa jangan egois dong, lagian Mama bisa jaga diri. Kehamilan mama masih satu bulan. Sedangkan karyawana papa yang bertahun tahun bekerja untuk papa, apa papa pernah mempedulikan mereka?"
__ADS_1
Mela berdiri dari tempat dudukbya dan bersiap akan pergi. Tapi sebelum itu ia masih sempat melirik ke arah Mahendra dan mengatakan sesuatu. "Jangan pernah tidur di samping Mama jika papa masih tidak mau kembali ke kantor"
Setelah mengatakan itu Mela langaung pergi ke kamarnya dan meninggalkan Mahendra sendirian. Mahendra menghela nafasnya dengan kasar. Ia sadar jika kali ini ia egois.