
"Makan yang banyak, energimu sudah terkuras habis gara gara teriak teriak tadi" ucap Keenan. Saat ini mereka berdua berada di sebuah Restoran untuk makan siang.
"Mas juga harus makan yang banyak, tapi jangan banyak banyak amat ya, nanti perut six pack nya hilang" ucap Syafira sambil tersenyum memamerkan gigi putihnya. Keenan menjawil hidung Syafira dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Dari dulu kamu selalu suka sama perut six pack Mas" ucap Keenan sambil matanya menatap ke arah Syafira. Syafira menelan makanannya terlebih dahulu sebelum ia berbicara.
"Iyalah Mas, aku kan pecinta cogan yang mempunyai perut six pack. Karena sekarang aku tidak bisa melihat laki laki lain, lebih baik aku melihat punya suamiku sendiri" ucapnya.
Keenan menyeruput minumannya dengan cepat. Lalu berkata "Jangan pikir Mas gak tahu, diam diam kamu sering searching di google tentang perut six pack milik exo"
"Waktu itu hanya sedikit khilaf Mas, lagian perut six pack mereka gak semenggoda milik Mas. Kalau punya Mas, udah keras, bagus, berotot lagi"
Keenan terkekeh, kemudian ia telah selesai makan. Sedangkan Syafira masih belum menyelesaikan makanannya. Keenan pun menunggu Syafira yang masih terus melahap makanannya.
"Habis ini kita pulang Mas?"
"Iya, sekalian kita jemput si kembar ya. Mas gak enak sama ibu, kalau kita lama ngejemput mereka" ucap Keenan. Syafira mengangguk. "Tapi kita nanti mampir sebentar ya Mas, aku kangen dengan suasana rumahku"
"Iya, kita pasti Mampir. Lagian kalau langsung pulang juga gak sopan". Setelah menyelesaikan makanannya, Keenan mengangkat tangannya dan meminta bill pada pelayan. Setelah mengetahui jumlah yang harus dibayar Keenan mengeluarkan dompetnya kemudian membayarnya.
"Yuk kita pulang" ucap Keenan. Syafira mengangguk, ia langsung berjalan di sampig Keenan dan bergelayut manja di lengannya. "Tumben?" Heran Keenan.
"Semua wanita yang ada disini pada liatin kamu" jawab Syafira. Keenan melirik ke sekitarnya dan setelah itu ia tersenyum. "Jangan senyum senyum Mas, nanti mereka tambah senang kalau liat Mas lagi senyum'
"Senyum itu ibadah sayang, jadi kalau Mas senyum pada mereka. Mas sama saja dengan melakukan ibadah"
"Ck, ibadah ya?" Syafira melepaskan tangannya dari tangan Keenan. Kemudian berjalan mendahului Keenan. Di saat itu lah ia juga mengeluarkan senyuman termanisnya pada semua laki laki yang ada disana.
"Cantik banget sih Mbak"
"Udah ada yang punya belom?"
"Mau gak sama saya?"
Keenan yang mendengar perkataan laki laki hidung belang itu langsung berjalan menghampiri Syafira dan mengecup bibirnya di depan semua orang.
"Yah, istri orang ternyata" kecewa salah satu dari mereka. Sementara Syafira hanya tersenyum dalam hatinya. "Kenapa sih Mas? Aku juga lagi ibadah tau" sindirnya.
"Ibadah kamu gak perlu sama mereka, mending sama Mas aja nanti malam di kamar. Dijamin ibadah itu lebih enak dan memuaskan buat kamu"
"Itu mah maunya Mas doang" ucapnya. Keenan terkekeh kemudian berjalan keluar dari restoran dengan merangkul pinggang Syafira dengan erat.
.
.
.
"Kok pulangnya cepat? Kenapa kalian enggak lama lamain aja. Ibu masih pengen bersama si kembar padahal" ucap Wina ketika ia melihat kedatangan menantu dan putrinya.
"Kami masih mau mampir disini bu, jadi ibu bisa puas puasin bermain dengan si kembar sebelum Syafira membawanya pulang" ucap Syafira pada Wina.
"Baiklah, ayo masuk dulu."
Keenan dan Syafira masuk dan duduk di sofa ruang keluarga mereka. Wina datang dengan membawa Azka dan Azkia dengan Dorongan untuk bayi. Karena ia tidak mungkin bisa menggendong kedua cucunya tersebut.
"Mereka gak rewel kan bu?" tanya Syafira.
"Mereka cuma rewel sebentar, tapi ibu berhasil nenanginnya. Ibu gendong sebentar kemudian mereka berhenti nangis" ucap Wina.
"Ayah dimana Bu, dari tadi pagi Keenan tidak melihat ayah disini" tanya Keenan pada Wina.
"Ayah kalian lagi pergi ke luar kota karena ada urusan bisnis, makanya ibu sendirian di rumah"
Syafira mengangguk. "Kenapa kalian gak nginap disini aja? Besok pagi baru kalian pulang. Biarkan ibu menghabiskan waktu dengan si kembar ya?"
Wina menatap Syafira dengan sedikit menunjukkan puppy eyes nya. Meskipun begitu, guratan keriput sempat terlihat di beberapa bagian wajah Wina. Hingga bukannya membuat terlihat imut tapi malah terlihat tua.
"Kenapa aku baru sadar ya kalau ibu udah setua ini" ucap Syafira tanpa sadar. "Kamu mengatakan sesuatu Syafira?" tanya Wina. Karena ia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Syafira katakan.
"Tidak Bu, maksudku aku harus minta persetujuan dari Mas Keenan dulu" ucapnya sambil menoleh ke arah Keenan. Keenan akhirnya mengangguk mantap, tidak mungkin ia tidak mengizinkannya.
__ADS_1
"Baguslah, ibu mau rapihin kamar kalian berdua dulu. Kamu beri asi saja mereka berdua, mereka pasti haus" ucap Wina. Syafira hanya menganggukkan kepalanya sambil mengangkat Azka ke gendongannya.
"Haus ya Nak? Minum susu dulu ya? Biar bisa main sama nenek lagi" ucap Syafira. Azka yang saat ini berada di dekapan Syafira hanya diam sambil meminum asi nya. Azka meminumnya dengan kuat, mungkin karena ia terlalu lama ditinggakan Syafira ke kantor tadi.
"Pelan pelan sayang" ucap Syafira. Saat Azka masih minum asi dari Syafira tiba tiba Bayi perempuannya menangis. Mungkin karena ia cemburu karena kakaknya yang harus minum duluan.
"Azkia sama papa dulu ya? Biar bunda sama kakak dulu. Kalau Kakak udah selesai baru Azkia boleh sama bunda" Keenan juga mengambil dan menggendong bayinya yang masih berumur dua bulan itu.
Setelah beberapa lama kemudian, Azka sudah selesai meminum asi. Bibirnya terus tersenyum karena kenyang. Dan sekarang giliran Azkia lah yang Syafira berikan asi.
Wina muncul dari atas kamar Syafira dan mendudukkan dirinya di sofa bersama mereka. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini. Seandainya Tio ada disini dia juga pasti akan bahagia sama seperti apa yang ia rasakan.
"Azkia sama seperti kamu waktu kecil dulu Nak. Setiap ada di dekapan ibu kamu dulu selalu tidur nyenyak. Karena tenpat ternyaman untuk mereka adalah dekapan seorang ibu. Jika mereka nangis coba lah kamu dekap mereka dan nyanyikan sebuah lagu untuk mereka. Jangan biasakan jika menangis mereka harus diberi asi. Kadang bayi menangis itu untuk menarik perhatian ibunya" jelas Wina dengan penjelasan yang cukup membuat Syafira mengerti.
"Dan kamu Keenan, ibu sangat berharap kamu bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk Azka dan Azkia. Berusaha lah untuk adil dengan kedua anakmu. Jangan kamu pandang sebelah."
Keenan mengangguk. "Keenan pasti akan melakukannya Bu, Keenan sayang dengan mereka berdua, bagaimana pun mereka adalah cetakan pertama Keenan"
Mendengar kata cetakan pertama dari Keenan membuat Syafira meringis malu. Sementara Wina hanya sedikit tertawa. "Bagus lah, kalau begitu. Ngomong ngomong bagaimana keadaan Mama kamu? Apa selama dia hamil dia tidak pernah mual mual gitu" tanya Wina.
"Bukan gak pernah lagi Bu, hampir tiap hari mama sering mual mual. Pernah suatu waktu papa mengajak Mama untuk pergi kondangan. Tapi saat di pesta itu mama malah memuntahkan sesuatu pada orang lain. Dan sejak saat itu Papa tidak membolehkan Mama kemana mana lagi" ucap Keenan.
"Wajar, kalau di awal awal kehamilan memang seperti itu. Kapan kapan ibu akan datang ke rumah Mama kamu. Ibu ingin mengetahui perkembangan calon adik kamu"
"Iya Bu, Rencananya juga nanti Syafira dan Keenan bakal ke sana juga. Tapi kami belum menentukan waktunya hari apa, karena Keenan masih banyak pekerjaan di kantor" ucap Keenan.
"Lebih baik kalau pergi di hari weekend, sekalian kita pergi bersama. Bukan kah itu bagus? Berkumpul bersama cucu dan menantu apalagi dengan kamu pasti membuat Mama mu bahagia"
"Mereka kayaknya udah tidur, cepat bawa ke kamar dan tidurkan dia. Untuk sementara biarkan mereka tidur di tengah tengah kalian, karena disini juga tidak ada box bayi" ucap Wina.
"Ya sudah ibu pergi ke kamar dulu" setelah Wina pergi barulah mereka naik ke atas kamarnya. "Pelan pelan Mas nidurinnya, nanti mereka bangun" bisik Syafira pada Keenan.
Keenan hanya mengangguk, ia melepaskan lengannya dengan perlahan lahan. "Kamu ganti baju aja Mas, sini aku lepasin jas dan kemeja kamu"
Syafira berjalan menghampiri Keenan dan membukakan jas dan kemeja milik suaminya hingga ia bertelanjang dada. Setelah melepasnya Syafira meletakkan di lemari nya agar tidak kusut saat dipakai lagi. "Sini deketan" ucap Keenan.
"Kenapa?"
Syafira mengangguk mengiyakan. Lalu mengangkat kepalanya dan menatap Keenan. "Lalu? Apa bedanya? Aku juga merasakan hal yang sama" ucap Syafira.
"Bedanya, sekarang aku mau nyium kamu."
Tanpa bicara lagi Keenan langsung memagut bibir Syafira dan memaksa Syafira untuk membuka mulutnya. Syafira pun memberikan akses kepada Keenan untuk mencium bibirnya lebih dalam.
Tangannya ia gunakan untuk meraba raba dada bidang Syafira, sampai tangannya turun ke perut kotak kotak milik Keenan. Ciuman mereka terus belanjut hingga tak menyadari ada seseorang yang melihat mereka.
"Astaghfirullah ya Rabb, di luar aja kalem. Tapi di kamar sangat buas" Wina menutup kembali pintu kamar Syafira dan kembali ke kamarnya. Tadinya Wina ingin memberikan selimut untuk mereka, tapi melihat adegan live tadi ia tidak jadi memberikannya.
Syafira memukul mukul dada Keenan karena sudah tidak kuat lagi. Keenan melepaskan ciumannya dan beralih mencium kening Syafira. "Ambil nafas yang dalam lalu keluarkan" ucap Keenan.
Syafira melakukannya, ia kesal dengan Keenan karena tidak memberinya waktu untuk bernafas sedikit pun. Sedangkan Keenan malah terlihat santai saja setelah ciuman itu.
"Anak anak baru aja tidur, sekarang giliran papa nya yang harus kamu beri asi juga"
Syafira mengambil bantal di atas kasur kemudian melemparkannya pada Keenan. "Asi itu air susu ibu Mas, karena aku seorang ibu jadi memberikannya pada anak anakku. Sedangkan kamu bukan anakku tapi suamiku" ucap Syafira.
"Aku bukan minta asi yang itu, tapi asi yang lain."
"Asi apa memangnya?"
"Air susu istri, itu sudah menjadi hak paten seorang suami bila telah menikahi istrinya" jawab Keenan.
"Gak ada asi asian cepat tidur. Udah malem juga masih saja berulah" ucap Syafira pada Keenan. Keenan tak memperpanjang perbincangan lagi ia menuruti Syafira untuk tidur.
Keenan dan Syafira naik ke atas kasur dengan pelan pelan, khawatir kedua bayi kembarnya terbangun. Setelaj itu Syafira tidur dengan memeluk kedua bayi kembarnya. Keenan yang melihatnya hanya tersenyum tipis.
"Selamat tidur keluarga kecilku" gumam Keenan sebelum ia menutup matanya dan menjelajahi waktu tidur.
.
.
__ADS_1
.
Dua hari setelahnya, hari ini adalah hari minggu. Sesuai rencana, mereka akan mengunjungi Mela. Mereka tidak mengatakan apapun pada Mela karena mereka hanya ingin tiba tiba datang dan tiba tiba pergi saja.
"Ibu udah kamu telfon?"
"Iya, ibu udah siap. Katanya tinggal nunggu kita jemput dulu" ucap Syafira pada suaminya. Keenan mengangguk lalu membenarkan pakaiannya sendiri. "Mas, Azkia hari ini pake baju warna pink aja ya? Biar lucu gitu"
"Terserah kamu, tapi Masa Azka harus pake pink juga"
"Ya enggak lah Mas, kembar bukan berarti harus sama. Nanti Azka pake yang warna kuning aja" ucapnya lagi. Keenan mengangguk.
"Kamu udah nyiapin anak anak, sekarang giliran kamu. Cepat gih bersiap siap, bentar lagi mau jam 8. Kita kan janjinya sama ibu jam 8" Keenan menatap Syafira.
"Iya, bentar lagi. Aku harus memastikan anak anak cantik dan tampan terlebih dahulu. Aku mah urusan gampang tinggal mandi selama 10 menit, pake baju lima menit, lalu dandan lima belas menit. Gak lama kok, hanya sekitar setengah jam" ucap Syafira.
Setelah mendandani kedua anak anaknya, Syafira bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari kuman kuman yang mungkin saat ini menempel di tubuhnya.
Lalu ia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutupi tubuhnya. "Aku cocok sama baju yang mana Mas? Yang biru atau putih"
Keenan terlihat menyimak sebentar lalu menjawab. "Yang biru kalau menurutku"
"Oke, aku pilih yang putih aja". Keenan hanya mendelik kepadanya.
Untuk apa dia bertanya kalau ujung ujungnya dia menggunakan pilihannya sendiri. Setelah semuanya siap, Syafira dan Keenan pun segera berangkat. Pertama mereka menuju ke rumah orang tuanya dulu untuk menjemput Wina dulu.
"Itu dia, ibu sudah menunggu di depan" ucap Syafira ketika melihat ibunya yang sudah berada di depan rumah menunggu kedatangan mereka.
Keenan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah itu. Tanpa pikir panjang Wina langsung membuka pintu mobil bagian belakang dan duduk di dalamnya.
"Ibu bawa apa?" tanya Syafira ketika melihat wina memegang kantong belanjaan. "
"Ibu bawa buah buahan untuk ibu mertuamu itu. Ibu gak tahu harus membawa apa jadi ibu cuma bawa buah buahan aja"
"Mestinya ibu tidak perlu bawa apa apa."
"Tidak apa apa Nak, lagi pula ibu tidak enak datang kesana tanpa membawa apa apa" jawab Wina.
.
.
Mereka sudah tiba disana,Keenan memarkirkan mobilnya dan mengajak Syafira dan ibu mertuanya turun bersama. "Sini, Azka ibu yang gendong. Kamu gendong Azkia saja"
Syafira mengangguk, ia menyerahkan Azka pada gendongan ibunya. "Ayo kita masuk, Mama pasti lagi di rumah" aja Keenan.
Sebelum masuk mereka mengetuk pintu terlebih dahulu dan menunggu sang pemilik rumah untuk membukanya. Selang beberapa menit kemudian baru lah ada yang membuka pintunya. Mahendra.
"Lho Bu Wina? Keenan? Syafira? Kenapa kalian tidak langsung masuk saja. Anggap saja rumah ini seperti rumah kalian sendiri"
"Terima kasih" jawab Wina.
"Mama dimana pa?" tanya Keenan pada Mahendra. "Mama lagi di dalam, nonton Tv. Ayo kalian masuk juga"
Mahendra mengajak semua masuk ke dalam dan membawanya pada Mela yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan. "Ma" panggil Keenan dan berhasip membuat Mela menoleh.
Melihat kedatangan mereka semua tentu saja membuat Mela bahagia. "Kalian datang kesini" Mela bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Besan beserta menantunya. Kemudian ia juga mengecup pipi si kembar. "Cucu oma datang juga ya?"
Sedangkan Keenan yang diabaikan hanya berdeham agar Mela memperhatikan dirinya juga. "Ehemmm ini anaknya datang bukan disapa duluan malah diabaikan" sindirnya.
Mela menatap Keenan kemudian memeluk putranya dengan erat. "Mama kangen baget sama kamu, kamu kenapa jarang pulang ke rumah Nak. Masa harus Mama terus yang datang ke Apartemen kamu."
"Maafin Keenan Ma, Keenan janji mulai saat ini Keenan bakal sering sering mampir kesini. Gimana keadaan adik Keenan?"
Mela tersenyum sembari mengajak mereka untuk duduk bersama di sofa. "Adik kamu baik baik saja, umurnya masih 4 minggu. Jadi masih belum terlalu kelihatan" jawab Mela.
"Sebenarnya dari kemarin Mama pengen datang ke apartemen kalian, tapi papa Melarang Mama. Papa bilang Mama harus istirahat di rumah saja. Padahal Mama bosan terus di rumah. Tapi demi kebaikan mama juga akhirnya mama menurut"
"Mama harus menjaga kandungan Mama dengan baik, jangan sampai Mama kehilangan sesuatu yang Mama sayangi" ucap Syafira dengan sendu.
"Terima kasih sayang"
__ADS_1