Bukan Janda

Bukan Janda
Sekretaris


__ADS_3

Selama Keenan tidak masuk kantor, ia melimpahkan beberapa tugas untuk Bagas. Salah satunya adalah ia menyuruh Bagas untuk menggantikannya di beberapa pertemuan penting. Harusnya ia yang melakukannya, Namun ia masih ingat apa kata dokter.


Bagas kelimpungan dalam mengerjakan tugas dari Keenan. Ia harus menghadiri rapat, menanda tangani berkas dan menghadiri beberapa pertemuan dengan klien dari jepang. Sepertinya Keenan membutuhkan sekretaris. Tapi apa Keenan mau kalau ia mencarikannya sekretaris? Tapi masa bodo lah, ia akan bilang padanya nanti.


Keenan terus menatap handphone nya, walapun ia di rumah sakit tapi ia selalu mengawasi kantornya. Keenan sudah memasang CCTV di seluruh area kantor. Jadi ia mengawasi nya satu persatu. Dan hasil dari yang ia lihat cukup bagus.


Semua karyawannya tidak ada yang berleha leha, mereka mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Keenan cukup puas dengan hal itu.


Tok Tok Tok


Seseorang mengentuk pintu kamar inap Keenan. "Masuk" ucap nya.


Seorang gadis berpakaian formal masuk ke dalam ruangannya. Pakaiannya yang memakai setelan lengan panjang dan rok di atas lutut membuat Keenan mengenyitkan dahi nya.


"Siapa?"


"Perkenalkan, Nama saya Alesha pak. Saya sekretaris baru bapak"


"Sekretaris? Saya tidak pernah menerima lowongan sekretaris di kantorku. Siapa yang merekrutmu?"


Alesha tersenyum manis lalu menjawab dengan mantap. "Pak Bagas pak"


Bagas?


Keenan langsung mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Bagas dengan cepat. Bagas yang saat itu sedang berada dalam ruangan rapat terpaksa harus izin keluar karena mendapat telfon daei bos nya.


"Halo, ada apa pak?"


"Jadi sekarang ksmu berani merekrut SEKRETARIS tanpa seizinku Bagas" ucap Keenan dengan menekan kata sekretaris.


Bagas bergidik ngeri mendengar suara Keenan. Sepertinya ia salah mengambil keputusan. Bagas memukul kepalanya dengan tangannya sendiri.


"Jawab Bagas"


Bagas gelagapan dibuat nya, ia mengatakan maksud sebenarnya pada Keenan. "Jadi begini pak, Saya merekrut dia sebagai sekretaris karena saya ingin meringankan pekerjaan bapak. Saya tahu selama ini bapak selalu mengerjakan semuanya sendiri kalau bapak ada keperluan pasti tugasnya dilimpahkan kepada saya. Bukan saya tidak ingin menjalankan tugas dari bapak, tapi sewaktu waktu saya juga bisa tidak mengurusnya. Entah itu bentrok dengan jadwal atau saya sedang sakit. Jadi saya memutuskan alternatif lain dengan cara merekrut sekretaris. Dia mungkin bisa diandalkan untuk pekerjaan bapak" Bagas berbicara panjang lebar pada Keenan.


"Lalu mengapa kau menyuruhnya pergi ke rumah sakit?"


"Saya pikir bapak akan mewawancarinya langsung"


Keenan langsung menutup telfonnya begitu saja. Lalu matanya teralihkan ke arah Alesha yang sedang meremas tangannya dengan gugup.


"Berikan data dirimu pada saya" ucap Keenan dengan datar.


Alesha memberikan beberapa lembar kertas untuk Keenan, matanya tak pernah lepas memandangi wajah Keenan. "Tampan"


"Kamu bilang saya apa?"


"Tidak ada pak"


"Telinga saya masih berfungsi, saya bisa dengar kalau kamu mengatakan saya tampan"


"Maaf pak"


"Lain kali jangan diulangi lagi, istri saya bisa mengamuk tiga hari kalau sampai ia megetahui semua ini.


"Jadi dia udah punya istri? Tapi dimana istrinya?"


"Mas Keenan"


Keenan mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Ia merentangkan kedua tangannya bersiap menerima pelukan dari wanita itu.


Syafira memeluk Keenan dengan erat seakan tidak ada hari esok. "Mas baik baik saja?"


Keenan mengangguk seraya mengecup kedua buah pipi Syafira, membuat Alesha yang melihatnya menjadi iri.


Menyadari kehadiran seseorang, Syafira menatap Alesha dari atas sampai bawah. "Siapa dia mas?"


"Calon sekretarisku"


"Kenalkan mbak nama saya Alesha" ucap Alesha sambil megulurkan tangannya.


"Saya Syafira, ISTRI nya mas Keenan"


"Jadi dia istrinya, ck sangat bocah. Berbeda denganku yang sangat cantik dan dewasa"


"Lupakan apa yang ada di pikiranmu tante girang, kalau kau sampai berani menggoda suamiku, jangan harap hidungmu tetap utuh.


"Jadi bagaimana pak, apa saya diterima?"


Keenan melempar kembali kertas yang berisi data diri Alesha pada Alesha. Dengan sigap Alesha langsung menangkapnya.


"Iya, saya menerima kamu sebagai sekretaris. Untuk tugasmu silahkan kau menanyakan langsung pada Bagas."


"Baik pak"


"Dan satu lagi selama kamu bekerja pada Saya, saya akan memberimu beberapa sarat. Apa kamu mau menerimamya?"


"Tentu saja pak" jawab Alesha dengan ramah.


"Perasaan dari tadi tuh cewek selalu senyum terus, apa dia jadi model iklan sikat gigi kali ya, makanya senyum terus dan menunjukkan gigi putihnya itu"


"Syarat pertama, saat kamu berjalan dengan saya ketika ada kegiatan apapun, kamu harus menjaga jarak minimal 2 meter.


Dan sarat kedua, Saya adalah atasanmu, jadi bersikaplah selayaknya sekretaris kepada atasannya. JANGAN PERNAH BERHARAP LEBIH seperti karyawan lainnya. Atau nasib kamu akan sama seperti mereka. Apa kamu sanggup?"


"Sulit banget buat dekatin nih cowok" batin Alesha.


"Jawab pertanyaan suami saya" ucap Syafira.


Alesha pura pura tersenyum pada Syafira meskipun ia sangat jengkel terhadapnya. "Baik bu" ucapnya.


"Saya siap pak"


"Bagus, sekarang keluar lah dan pergi ke kantor"


Alesha mengangguk lalu menundukkan badannya dengan maksud agar Keenan melirik  isi bagian dalamnya. Syafira lagsung menutup mata Keenan dengan kedua tangannya.


"Jangan lihat"


"Cepat keluar kamu" ucap Syafira.


Alesha langsung pergi dengan wajah santainya. Setelah yakin Alesha benar benar pergi Syafira melepaskan kedua tangannya dari mata Keenan.


"Ada apa sayang?"


"Sekretaris mas itu centil banget ya, belum apa apa udah kayak gitu. Tadi dia nundukin badannya cuma mau pamer dada nya itu. Untung aku menutup mata Mas"


Keenan tergelak mendengar hal itu. Ia mencubit kedua pipi Syafira dengan gemas. "Tenang aja, mas gak suka dadanya kok. Mas kan sukanya dada kamu, lebih gede dan lebih menantang"


"Omes kamu Mas"


Keenan hanya menyengir, lalu ia melirik ke arah Syafira. Sepertinya ada yang beda dari istrinya itu tapi apa. Ah parfum, Keenan baru menyadarinya saat ia berdekatan dengan Syafira.


Keenan menarik pinggang Syafira dan mendekatkan wajahnya pada wajah Syafira. "Tumben kamu pake parfum" ucapnya dengan nada serak.


"Aku tadi lihat iklannya di tv katanya bau nya enak. Makanya aku beli dan setelah aku coba memang benar"


"Lain kali jangan pake parfum gitu lagi"


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Keenan membuka selimut rumah sakitnya, lalu ia menunjuk sesuatu yang berdiri di bawahnya.  Syafira menutup mulutnya tak percaya, hanya gara gara parfum benda pusaka itu langsung berdiri.


"Parfum mu itu membuatku bergairah"


"Tapi kan cuma parfum mas?"


"Iya tahu, tapi apa kamu mau tanggung jawab kalau sudah begini."


Syafira menggeleng. "Ya sudah ayo sini duduk di dekatku"


"Lalu itunya gimana?"


"Nanti dia tidur sendiri, dia merindukan rumahnya"


"Gak jelas banget Mas"


Keenan tertawa karena hal itu. "Mas, nanti kalau Mas udah sehat terus balik lagi ke kantor.  Mas jangan sampai dekat dekat sama wanita itu ya"


"Tenang aja, bukan kah kamu dengar sendiri tadi mas bilang kalau ia harus menjaga jaraknya dalam 2 meter"


"Tetap saja aku takut Mas, aku tidak ingin dalam rumah tangga kita ada yang namanya pelakor"


"Kamu kebanyakan nonton suara hati istri nih makanya parnoan gitu"


"Ini bukan parnoan mas tapi Waspada"


"Iya sayang iya"


"Paketnya mbak, mas" ucap seseorang dari luar.


"Kamu memesan barang?" tanya Syafira pada Keenan yang dijawab dengan gelengan kepala.


Syafira membuka pintu nya lalu melihat segerombolan laki laki tampan dengan membawa beberapa tangkai bunga. "Halo Nemg cantik, maaf kalau kedatangan kita mengganggu kegiatan kalian. Maksud kedatangan kami kesini baik kok. Cuma mau merusuh aja"


Reno, Farhan, Dito dan Kevan memberikan bunga nya pada Syafira. "Ya udah ayo masuk"


Keempat orang itu masuk tanpa terkecuali. "Ngapain kalian datang kesini?"


"Yaelah Nan, kita datang kesini cuma mau jenguk lo aja kok"


"Gue yakin lo pasti sangat merindukan kita semua, terlebih gue" ucap Farhan dengan percaya diri.


"Enggak tuh, mana mungkin gue merindukan kalian"


"Tega lu Nan, selama ini lo nganggep kita apa"


"Pembantu" jawab Keenan dengan asal.


"Jelek lo"


"Oh iya bang Eka mana?"


"Lagi program" jawab Kevan.


"Program apa?" Tanya Keenan lagi.


"Program membuat anak, katanya bang eka pengen punya anak kembar. Jadi dia bekerja keras dari pagi sampai malam. Gak tahu deh hasilnya gimana." jawab Dito.


"Kalian gak ada niatan pacaran atau nikah gitu?"  ucap Syafira dengan menimbrung pembicaraan mereka.


"Kalau nikahnya sama neng cantik, boleh deh"


Keenan melototi Reno dengan tajam. "Canda Nan, gak usah gitu lah mukanya. Lo kan tahu gue suka becanda"


"Gak lucu"


"Nan, lo gak punya cemilan atau apa gitu, laper nih"


Syafira yang kebetulan tadi membeli banyak buah, ia langsung mengambil dan memberilannya pada teman teman Keenan.


"Kalau cemilan gak ada? Tapi kalau buah ini ada. Silahkan dimakan"


"Makasih Dek" ucap Kevan.


Kevan melihat ke semua teman temannya yang memandang heran. "Kenapa lo semua?"


"Sejak kapan lo manggil Syafira dengan sebutan adek?" Dito mengupas kulit buah pisang lalu memakannya.


"Sejak hari ini sampai seterusnya"


"Boleh kan Nan gue panggil bini lo Adek? Gue pengen punya adek perempuan tapi sayang gue gak punya adek"


"Boleh aja kak" Bukannya Keenan yang menjawab, tapi Syafira.


Syafira melirik ke arah Keenan. "Gue ijinin lo manggil dia adek"


Kevan tersenyum tipis lalu tangannya mencomot buah jeruk yang kebetulan sudah dikupas dan tinggal dimakan.


"Oh iya by the way, kita belum ngucapin selamat sama lo Nan. Selamat ya sebentar lagi lo bakal jadi ayah"


"Hooh Nan, gue gak nyangka lo bisa menghasilkan Anak"


"Lo pikir gue apaan, yang bisa menghasilkan anak"


Semuanya cengengesan.


____________________________________________


Adit dan Ana berjalan jalan ke pantai dengan menggunakan baju couple. Keduanya terlihat serasi saat bersama. Ana berlarian di tepi pantai sesekali ia tertawa ketika kakinya menyentuh air laut yang dingin.


Melihat Ana tertawa diam diam Adit mengeluarkan handphonenya lalu memotret Ana. Setelah mengambil beberapa foto Adit menaruh kembali handphone nya.


"Kamu senang aku ajak ke sini?"


"Senang banget, sudah lama aku tidak ke pantai. Terakhir kali aku ke pantai, aku pergi dengan Jerry"


"Jerry siapa?"


"Dia teman terdekatku, dia selalu membantu aku disaat kesusahan. Pokoknya dia teman terbaikku" ucap Ana sambil merentangkan kedua tangannya. Ia menikmati angin yang berdesir di pantai.


Adit mengambil inisiatif dengan memeluknya dari belakang. "Jangan pernah menyebut nama laki laki lain"


"Kenapa?"


"Aku tidak suka"


Ana tersenyum sendiri, ia menolehkan wajahnya ke samping lalu matanya bertatapan dengan Adit. "Aku sayang kamu dit"


Adit membeku, ia pernah mendengar kata kata itu. Ia teringat pada Rena yang dulu megatakan seperti itu. Adit menepis pikirannya, saat ini ia sudah punya Ana. Ia tidak boleh memikirkan Rena lagi.


Adit melepas pelukannya lalu ia mengambil pasir di bawahnya lalu mencolekkannya pada wajah Ana sehingga belepotan. Ana terkejut mendapat serangan itu. Matanya mencari sang pelaku yang saat ini sudah kabur.


"Jahil amat sih"


Adit tertawa sambil menghindar dari kejaran Ana, tapi Ana berhasil menangkapnya. Ana membalas dengan memercikkan air pada wajah Adit.


Keduanya bersenang senang bersama di pantai sepanjang hari.


____________________________________________


Tio mengerjakan pekerjaannya di kantor dengan ditemani oleh Wina di sampingnya. "Kamu gak capek apa seharian ini mengerjakan pekerjaan kantor"

__ADS_1


Tio berhenti lalu menatap Wina "Enggak kok, selama ada kamu disini aku tidak akan pernah capek"


Wina tersenyum malu malu karena gombalan dari suaminya. Ia meletakkan kepalanya di bahu Tio. "Dulu rumah ini penuh dengan tawa, tangis dan keributan karena adanya Syafira. Sekarang Syafira sudah tidak ada disini. Ia sudah tinggal bersama suaminya. Terkadang aku sangat merindukan momen momen bersama dia"


Tio menyelesaikan pekerjaan terakhirnya lalu merangkul tubuh Wina agar semakin dekat dengannya.


"Aku tahu, aku juga sangat merindukannya. Dulu Syafira selalu teriak teriak memanggil kita saat pulang dari sekolah, ia suka membantu mu memasak di dapur, bahkan dulu ia sering adu mulut dengan anak tetangga sampai mereka saling pukul"


"Terlalu banyak kenangan Syafira"


"Ini sudah malam, sebaiknya kita istirahat yuk"


Wina mengangguk lalu mengikuti Tio menuju ke kamarnya.


Syafira dan Keenan saling tatap tatapan mata. Mereka melakukan ini untuk mengusir kejenuhan yang sedang melanda. Keduanya berlomba untuk tidak mengedipkan mata. Kalau salah satunya mengedipkan mata terlebih dahulu berarti ia harus siap menerima hukuman.


Syafira tidak bisa menahannya lebih lama lagi, ia mengedipkan matanya. "Nah kan kamu kalah"


"Iya aku kalah" ucap Syafira.


"Jadi aku akan memberi kamu hukuman"


"Jangan aneh aneh"


"Enggak kok, dulu kamu sering ngedegerin aku nyanyi. Sekarang giliran kamu yang bernyanyi untukku"


"Aku gak bisa nyanyi sebagus kamu, suaraku cempreng"


"Tidak apa apa, ayo, aku ingin mendengarnya sekarang juga"


"Iya iya"


Syafira mengambil handphone nya lalu membuka google dan mencari lirik lagu mawar eva de jongh yang berjudul lebih dari egoku.


Lalu ia bersiap untuk bernyanyi.


Sebelum ia bernyanyi Syafira menatap Keenan. "Mas yakin mau dengar suaraku"


Keenan mengangguk sebagai jawabannya. Syafira pun mulai bernyanyi mengikuti nadanya


Sulit bagiku


Menghadapi kamu


Tapi ku takkan menyerah


Kau layak kuperjuangkan


Perih bagiku


Menahan marahku


Tapi ku akan lakukan


Bahkan lebih dari itu


Aku yang minta maaf walau kau yang salah


Aku kan menahan walau kau ingin pisah


Karna kamu penting


Lebih penting


Dari semua yang ku punya


Jika kamu salah aku akan lupakan


Walau belum tentu kau lakukan yang sama


Karna untukku kamu lebih penting dari egoku


Perih bagiku (perih bagiku)


Menahan marahku (marah)


Tapi ku akan lakukan


Bahkan lebih dari itu


Aku yang minta maaf walau kau yang salah


Aku kan menahan walau kau ingin pisah


Karna kamu penting


Lebih penting


Dari semua yang ku punya


Jika kamu salah aku akan lupakan


Walau belum tentu kau lakukan yang sama


Karna untukku kamu lebih penting dari egoku oh


Aku yang minta maaf walau kau yang salah (engkau yang salah)


Aku kan menahan walau kau ingin pisah


Karna kamu penting


Lebih penting


Dari semua yang ku punya


Jika kamu salah aku akan lupakan


Walau belum tentu kau lakukan yang sama


Karna untukku kau lebih penting dari egoku


Ho


Syafira menyelesaikan bait terakhirnya dengan tenang.


"Suara kamu kurang enak didengar" jujur Keenan.


"Kan apa aku bilang? Suaraku itu gak enak?"


"Suara kamu enak kalo lagi di bawahku"


"Maksud Mas?"


"Desahan kamu"


Keenan tertawa ngakak sambil memegang perutnya.


"Mas Keenan nyebelin, mesum, udah tua lagi"


Syafira melemparkan bantal kecil ke muka Keenan. Tapi tak ayal ia tersenyum juga melihat suaminya tertawa lepas seperti itu.

__ADS_1


Melihat orang yang kita sayangi bahagia dan tertawa karena kita itu sangat menyenangkan.


__ADS_2