
Hari ini Mela sangat bahagia sekali, ia bisa menggendong kedua cucunya dan bermain bersamanya. Ditambah lagi dengan kehadiran Keenan dan Syafira.
"Mama beryukur banget punya keluarga seperti kalian, terutama kamu Syafira. Kamu adalah menantu terbaik yang pernah mama miliki. Sejak awal kita bertemu mama sudah tahu kalau kamu memang anak yang baik.Aku salut sama kamu Jeng, karena berhasil mendidik dan membesarkan Syafira dengan baik" ucap Mela sambil matanya menatap ke arah Syafira.
"Justru aku yang lebih salut sama kamu, lihat lah Keenan. Dia adalah pria yang baik untuk semua orang. Keenan juga menerima Syafira yang saat itu lagi hamil anak orang lain. Putramu sungguh luar biasa" balas Wina.
Keenan hanya memperhatikan dua orang itu bicara, meski telinganya agak memerah karena dipuji secara terag terangan oleh Wina. Syafira mengambil tangan Mela dan menggenggamnya.
"Ma, Syafira berterima kasih banget sama Mama. Mama sudah menerima Syafira dengan baik. Mama tidak mempedulikan status Syafira dulu. Awalnya saat Mas Keenan membawaku ke rumah ini untuk diperkenalkan sebagai kekasihnya, Syafira merasa takut. Syafira takut dengan reaksi mama pada Syafira. Syafira pikir mama tidak akan menyukai Syafira"
Mata Syafira berkaca kaca mengingat semua itu. "Tapi pemikiran Syafira salah, justru Mama menerima Syafira dengan ikhlas. Sekarang aku juga anak Mama. Syafira juga menganggap Mama seperti ibu kandung sendiri. Terima kasih Ma, Mama sudah mengizinkan Mas Keenan untuk memilihku sebagai pendampingnya.
Mela memegang wajah Syafira seraya menghapus tetesan air yang turun dari mata Syafira. "Kamu dan Keenan adalah anak anak Mama. Mama sayang banget sama kalian. Melihat kalian yang hidup berbahagia membuat mama juga ikut bahagia.
Keenan merasa terharu dengan perkataan Mela. Selama ini Mela sangat jarang mengucapkan kata kata sayang seperti itu. Keenan menghampiri Mela dan duduk di bawahnya.
"Ma, Keenan juga sayang sama Mama. Maaf selama ini Keenan selalu membuat Mama susah. Keenan sering tidak mendengar perkataan Mama." Ucap Keenan.
Mela menoleh ke arah putranya lalu mengelus rambutnya. "Kanu tidak pernah berbuat salah sama Mama, Nak. Justru kamu selalu membuat Mama bangga."
"Izinkan Keenan melakukan sesuatu untuk Mama"
Keenan mengambil kaki Mela dan menciumnya. Semua orang yang ada disana hatinya menangis melihat seorang anak yang mencium kaki ibunya sendiri.
Terlebih Mahendra dan Mela. Mahendra dan Mela tidak menyangka Keenan akan melakukan hal itu. "Bangun sayang" ucap Mela.
"Keenan masih ingin mencium surga Keenan Ma" ucap Keenan. Dalam hati ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Walaupun dulu ia nakal tapi ia tak pernah membentak bentak atau melawan pada Mamanya.
Keenan mengangkat wajahnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Mela. "Kenapa suasananya jadi melow ya" ucap Mahendra berusaha menghilangkan kecanggungan.
Sedangkan Syafira hanya tersenyum tipis. Matanya hanya fokus pada suaminya saat ini. Syafira pernah mendengar Quotes Cintailah seorang lelaki yang begitu mencintai dan menghormati ibunya, ibunya saja dicintai apalagi kamu yang notabenenya sebagai pujaan hatinya. Seorang lelaki yang sangat mencintai ibunya tidak akan pernah menyakiti seorang wanita.
"Mama jaga kesehatan ya, Keenan gak mau Mama sakit. Apalagi sekarang di dalam perut mama ada adik Keenan." Ucap Keenan penuh perhatian.
Mela mengangguk seraya tersenyum. "Sini Nak duduk di samping Mama" ucapnya.
Keena menurut, ia mengangkat tubuhnya dan duduk di samping Mela. Mela mencium kening putranya dengan lembut kemudian mengusap rambutnya. "Dulu kamu masih sekecil Azka dan sekarang kamu sudah 27 tahun. Mama tidak bisa memanjakanmu lagi." Ucapnya.
"Tapi cinta dan doa mama terus menyertai Keenan. Sehingga bisa membuat Keenan menjadi seperti yang sekarang. Tanpa Mama mungkin Keenan bukan lah apa apa di dunia ini.
"Ma, selamat hari ibu"
Mahendra dan Wina mengernyitkan dahinya kebingungan. Hari ini bukan hari ibu tapi kenapa Keenan mengucapkannya.
"Ini kan bukan hari ibu Nak?"
"Tapi bagi Keenan setiap hari adalah hari ibu."
Mela tersenyum
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi dalam hidup Keenan dan Mela. Mereka berdua saling mengungkan isi hatinya masing masing.
Mahendra bahagia melihat putranya yang telah dewasa dan sangat menyayangi ibunya. Bahkan ia sampai mencium kaki ibunya
"Oh iya jeng sampe lupa, ini aku bawa buah-buahan buat kamu. Dimakan ya, buah buahan sangat bagus untuk kesehatan dan kehamilanmu" ucap Wina
"Ya ampun jeng, tidak usah repot repot bawa buah" ucapnya
"Tidak apa apa" jawab Wina.
Tiba tiba ponsel Wina berdering. Wina menjauh dari mereka lalu mengangkat telfonnya. "Halo? Kamu dimana? Aku baru saja pulang dari luar kota tapi kamu malah ngilang" ucap suara seorang laki laki dari sebrang sana.
"Maaf Mas, ini aku lagi di rumah besan kita"
"Lho? Ngapain?" tanya nya.
"Cuma pengen liat keadaan Jeng Mela aja. Ini juga disini ada Syafira sama Keenan" jawab Wina lagi.
"Ya sudah mending aku nyusul kalian aja kesana. Jangan kemana mana, tunggu aku disitu."
"Baiklah"
Lalu Wina kembali bergabung bersama mereka. "Telfon dari siapa bu?" tanya Syafira. Wina menggeleng "dari ayahmu, katanya dia mau nyusul ibu kesini"
"Bukan kah ayah lagi di luar kota bu?" tanya Keenan. Wina mengangguk kemudian menjawabnya. "Ayah baru saja pulang" jawaban Wina membuat Keenan mengangguk mengerti.
.
__ADS_1
.
Setengah jam kemudian, Tio telah tiba di rumah Mahendra dan Mela. Tio langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena ia sudah sering kesini untuk bertemu dengan Mahendra.
"Tio, kamu baru datang?" Sambut Mahendra dan memeluk Tio sebentar. Tio membalas pelukannya kemudian duduk di sebelah Mahendra. "Iya, aku baru saja pulang dari luar kota. Mendengar istriku ada disini jadi yah aku mampir juga."
"Gimana pekerjaanmu di kantor?'
Tio tertawa lalu menepuk bahu Mahendra. "Pekerjaanku lancar lancar saja, seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Gimana pekerjaanmu? Selama 2 minggu kamu tidak masuk kantor untuk menjaga istrimu yang sedang hamil itu" ucap Tio.
Semuanya tertawa kecil mendengar perkataan Tio, termasuk Mela. "Ah kamu tahu kan, aku harus menjaga calon pewaris yang kedua dulu. Yang pertama kan Keenan."
"Pa, Kita kan belum tahu jenis kelaminnya apa" ucap Keenan.
"Tetap saja Keenan, walaupun dia perempuan atau laki laki sekali pun. Dia tetap harus mewarisi perusahaan dari papa" ucap Mahendra.
"Kalau seandainya calon adik Keenan cewek dan tidak mau meneruskan perusahaan papa karena dia punya mimpi sendiri gimama? Apa papa akan memaksanya" tanya Keenan.
Mahendra diam sejenak sambil berpikir. "Papa tidak akan pernah memaksakan kehendak papa, jika dia tidak mau papa tinggal nyerahin semuanya ke kamu" ucap Mahendra. Keenan hanya memutar bola matanya. Dipikir megang perusahaan kayak megang sebuah batu gitu.
"Sudah kalian jangan berdebat dengan kata seandainya, lebih baik kita makan siang bersama saja." Usul Mela.
"Boleh juga, Syafira bantu ya Ma" ucap Syafira menawarkan dirinya karena sedari tadi ia bosan hanya diam terus, sementara kedua bayi kembarnya tidak bisa diajak bermain dan mengobrol karena tidur.
"Boleh deh, ayo Jeng kita pergi ke dapur. Bahan bahannya juga ada banyak di kulkas" ucap Mela. "Baiklah, sudah lama kita tidak kolaborasi masakan. Jadi ayo kita melakukannya hari ini"
Mela terkekeh kemudian mengangguk. Tinggallah para lelaki yang ada disana dengan kedua bayi di dekat mereka. Tio menatap wajah Keenan heran karena kelihatan bengkak.
"Wajah kamu kenapa bengkak gitu Keenan?"
Keenan meraba wajahnya sendiri. "Mungkin karena efek air mata yah" jawabnya. Sedangkan Mahendra terkekeh. "Dia habis menangis di pangkuan ibunya" ledek Mahendra.
"Wow, benarkah. Sangat jarang seorang laki laki yang telah berumah tangga menangis karena ibunya"
"Putraku spesies langka, mungkin sebelum pergi ke sini ia menonton ftv azab seorang anak yang durhaka pada ibu kandungnya" jawabnya di akhir kalimat.
"Enggak gitu juga kali yah, Keenan cuma terharu aja sama Mama. Mama yang selama ini Keenan bilang menyebalkan ternyata penuh kasih sayang pada Keenan." Jawabnya.
"Hormati kedua orang tuamu Nak, itu lah kunci kebahagiaanmu di dunia."
Sementara itu di dapur. "Kita masak sayur asem, Ayam balado, dan spageti ala rumahan. Kalian bisa?" tanya Mela. Syafira dan Wina bersamaan.
Syafira hanya terkekeh. "Baiklah kalau begitu kita masak ini saja, oh iya Nak, tolong ambilkan panci nya di sebelah sana. Mama mau memotong ayam dulu" ucap Mela.
"Iya Mah"
"Aku yang masak sayurnya yah" ucap Wina. Mela mengangguk sambil memotong motong ayamnya menjadi bagian bagian kecil. Sedangkan Syafira ia mengambil panci nya kemudian menyerahkannya oada Nela.
"Ini Mama sudah memotong motong ayamnya. Kamu cuci sampai bersih ya" ucapnya sambil memberikan daging ayam yang sudah ia potong pada Syafira.
"Iya Mah"
"Jeng, perlu bantuan?" Tanua Mela pada Wina. Wina menatapnya sebentar kemudian melanjutkan pekerjaan nya lagi. "Tidak usah jeng, lagian masak sayur itu cuma sebentar kok" jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu aku mau ngelanjutin masak ayam balado nya"
.
.
Satu jam kemudian, semua makanan telah selesai dimasak. Ini saatnya untuk mereka mencicipi makanan tersebut sebelum dibawa ke meja makan.
"Gimana kuah sayurnya?" tanya Wina. Mela meniup nya sebentar sebelum mencobanya. Ia mengangguk anggukan kepalanya sambil berkata. "Apapun yang kamu buat selalu enak jeng, garamnya pas dan tidak keasinan" lanjutnya.
"Syukur deh kalau begitu.'
"Syafira bantu membawa makanannya, soal peralatan makan udah Syafira siapkan semuanya di meja makan" ucap Syafira.
"Baiklah, ayo kita membawanya secara bersama sama."
Setelah itu mereka menghidangkannya di atas meja sambil mengatur letak piring untuk setiap orang. Setelah siap semuanya Mela memanggil mereka semua ke meja makan untuk makan siang.
Tio dan Mahendra segera menghampiri mereka, karena perutnya sudah kelaparan dari tadi. Kemudian Keenan datang menyusul dengan nembawa kedua buah hatinya dengan kereta dorong. Keenan tidak mau meninggalkan mereka, bahkan meskipun mereka tidur.
"Mas hati hati dorongnya nanti mereka bangun" ucap Syafira. Keenan menganggukkan kepalanya kemudian membawa mereka ke kursi tempt ia makan.
"Si kembar masih pada tidur, jadi ayo kalian berdua makan dulu" ucap Wina.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk kemudian duduk di kursinya masing masing. Para wanita berdiri secara bergantian untuk mengambilkan makanan untuk suaminya. Diawali dari Mela.
"Segini cukup Nasinya pa?" Tanya nya.
"Tambah lagi sedikit, aku benar benar lapar hari ini" Mela hanya menggelengkan kepalanya kemudian menambahkan nasi untuk Mahendra. "Papa bisa milih lauknya sendiri"
Sedangkan Wina. "Mau pake kuah gak Mas?" Wina mentap suaminya. "Pake aja tapi jangan banyak banyak, kuah nya harus banyak, sayurnya harus banyak"
Syafira tertawa kecil mendengar perkataan Tio yang berputar putar. "Katanya jangan banyak banyak tapi ini semuanya harus banyak" omel Wina pada Tio. Membuat Tio menyengir tak bersalah.
Setelah kedua orang tuanya telah melayani para suaminya, kali ini tibalah gilirannya. Dengan porsi yang biasanya Syafira mengambilkan nasi untuk kemudian. "Lauknya Mas?"
"Ayam balado sama sayur asemnya aja. Eh tambahin spageti juga deh biar komplit." Syafira dengan sabar memenuhi semua permintaan Keenan. Baru lah setelah itu ia memberikannya pada Keenan.
"Awas, kuahnya masih panas." Ucapnya.
Keenan mengangguk, setelah itu Syafira menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. "Sebelum makan, mari kita membaca doa terlebih dahulu" ujar Mahendra.
"Keenan pimpin doanya" tambah Wina. Keenan segera mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. "Allahumma baariklana fiima razaqtana wa qina adzabannar, amin" setelah membaca doa lalu mereka mulai memakan makanannya.
Tak ada yang bersuara di tengah tengah nereka memakan makanannya, semuanya hanya diam. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu.
Beberapa menit dalam keheningan, akhirnya mereka selesai juga dengan makanannya.
Syafira berdiri lalu membagi bagikan tisu untuk mereka semua kemudian setelah selesai makan dan membereskan piring kotor, Mereka kembali ke ruang keluarga untuk mengobrol.
.
.
.
Di tempat lain, Reno dan semua teman temannya sedang berada di sirkuit tempat mereka biasa balapan. Rencananya hari ini mereka akan melakukan balapan untuk mengasah kemampuan mereka yang telah lama tak digunakan.
"Ingat ya, ini hanya pertandingan di antara Lavenzi saja. Jadi jangan terlalu berambisi untuk menang. Tetapi berusalah untuk saling mengimbangi" ucap Eka yang memandu mereka semua.
"Iya Bang, jadi nanti kita bisa milih mau tanding sama siapa atau ditentukan sama abang" tanya salah satu dari mereka.
"Gue yang nentuin" ucap Eka lagi.
"Oke deh Bang, kalau begitu ayo kita mulai sekarang"
"Oke untuk tim 1, Reno dengan Dito, kemudian tim 2, Kevan dengan Rangga, dan tim 3. Azriel dan Farhan" Eka memberikan pengarahan untuk mereka semua. Hari ini ia meluangkan waktunya untuk melatih semua adik adiknya itu.
"Sekarang untuk tim 1 kalian bersiaplah di garis start. Gunakan helm nya dengan benar. Ingat, pertandingan ini bukan untuk menang. Melainkan untuk mengukur kemampuan kalian yang sudah lama tidak digunakan. Inget semboyan Lavenzi, jangan menang untuk kalah tapi kalah untuk menang. Kalian paham?"
"Paham bang" jawab Mereka serentak.
"Dan buat junior junior lainnya. Gue juga akan melatih kembali kalian. Tapi tidak sekarang. Karena waktunya tidak akan cukup. Mereka semua mengangguk mengerti.
Kemudian Eka mengarahkan matanya pada Dito dan Reno yang kini telah berada di garia garis start. "Dalam hitungan ketiga, kalian harus segera melaju" ucap Eka.
Seorang junior Lavenzi yang ditugaskan untuk menghitung maju beberapa langkah. Kemudian ia mengangkat tangannya seolaj olah sedang menghitung.
"5...4...3...2...1 Mulai"
Reno melajukan motornya dengan cepat dan membelah jalanan, begitu pun juga dengan dito Mata elangnya tetap fokus menatap jalan. Mereka sama sama kuat. Motor mereka saling berdampingan. Reno berusaha untuk terus maju dan mendahului Reno.
Brummmm tapi sayangnya di tengah tengah jalan motor Reno tiba tiba mati. "Astaghfirullah, gue lupa belom isi bensin" ucapnya dalam hati. Alhasil kini Reno ketinggalan jauh.
Dito sudah hampir di garis finis, dalam beberapa detik lagi mungkin ia akan menang. Tapi sebelum itu. "Kringg kringg kringg" seseorang yang sedang mengendarai sepeda lebih dulu menyalibnya dan tiba di garis finish.
Dito tidak mengetahui siapa itu, dan kenapa dia bisa ada disini. Orang yang menggunakan sepeda tadi adalah Reno, saat tahu motornya tidak bisa diajak balapan, ia meminjam sepeda pada orang di sekitarnya.
"Reno, Lo ngapain pake sepeda? Terus Lo bisa ngungguli Dito yang pake sepeda motor" heran semua teman temannya. Coba bayangkan, Reno menggunakan sepeda tapi dia juga memakai helm di kepalanya, Reno mengayuh sepedanya dengan cepat. Kakinya seakan tidak pernah pegal untuk terus mengayuh.
Di kejauhan Reno melihat Dito yang mulai santai melajukan motornya. Mungkin Dito berpikir Reno sangat ketinggalan jauh. Reno berusaha sekuat tenaga untuk mendahului Dito. Dan begini lah hasilnya.
Dito menatap Reno dengan takjub. Sedangkan Eka bertepuk tangan dengan kemenangan Reno. "Reno, Sekarang kemampuan lo bukan hanya di bidang motor. Tapi juga di sepeda mini. Gue bangga sama lo"
"Hehe terima kasih bang"
"Terus motor lo kemana Ren?"
"Oh, motor gue gue tinggalin lah. Bensinnya habis."
"Ck, serah lo dah"
__ADS_1
"Oke, sekarang giliran tim 2 setelah itu bsru tum 3
Satu jam setelahnya, kini Eka sudah selesai memandu mereka. Hari sudah petang, mereka memutuskan untuk pulamg ke rumah masing masing.