
Syafira, Mela dan Wina mengelilingi supermarket yang luas, di tangan mereka sudah banyak belanjaan yang akan dibeli. Wina bagian ikan dan sayuran, Mela bagian buah buahan sedangkan Syafira bagian cemilan.
Mereka bertiga membagi tugas supaya cepat selesai, ketika semuanya sudah lengkap. Mela mengajak menantunya untuk membayar semua belanjaan ke kasir.
Syafira mengangguk setuju, ia menenteng semua belanjaan dan pergi ke kasir untuk membayarnya.
"Totalnya 900 ribu kak" ucap sang mbak kasir dengan ramah.
Syafira tersenyum lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit yang diberikan suaminya padanya.
"Ini mbak"
Mbak kasir mengambilnya lalu menggeseknya kemudian mengembalikannya pada Syafira.
"Terima kasih"
"Ayo sayang kita pulang, semuanya sudah lengkap kan?" tanya Wina.
"Sudah bu"
"Ya udah kita cari taksi dulu habis itu kita pulang"
_________________♡♡♡♡♡♡_______________
Keenan dan semua teman temannya telah tiba di Apartemen. Dengan semangat Keenan merangkul salah satu dari mereka dan mengajak mereka semua masuk.
"Santai dong Nan, ini leher gue pegel banget lo rangkul terus. Gue tahu lo kangen gue sampe segininya sama gue" cerocoh Farhan.
Seketika Keenan melepas rangkulannya dan sedikit mendorong Farhan pada Reno. "Makan tuh rangkulan"
"Dih baper, sejak kapan lo baperan?" Dito yang berjalan di sisi Keenan menimpali.
"Bawel ah, ya udah ayo masuk semua. Jangan lupa lepas sepatu, Apartemen gue bersih dan terawat. Gue gak mau ada sedikit jejak sepatu"
Dengan entengnya Keenan menekan paswordnya lalu masuk ke dalam Apartemennya. Semua anggota Lavenzi saling bertatapan. Keenan menyuruh mereka untuk melepaskan sepatu, lah sendirinya masuk dengan sepatunya.
"Keenan punya masalah hidup apa sih"
"Gak tahu, mungkin faktor karena ia akan jadi ayah kali"
Mereka semua mendengus lalu tak urung masuk ke dalam Apartemen Keenan bersamaan. Di dalam mereka bertemu dengan kedua lelaki yang asyik bercengkrama di ruang tengah.
"Pagi menjelang siang om"
Kedua lelaki itu menoleh dan mendapati tiga puluh teman teman Keenan. Mahendra dan Tio berdiri.
"Kalian sudah datang, ayo masuk. Anggap saja ini rumah kalian sendiri"
"Terima kasih om, om emang yang terbaik." Ucap Kevan sambil menyindir Keenan.
Keenan yang merasa sindiran itu untuknya megambil bantal lalu melemparkan ke arah Kevan yang sayangnya mengenai wajah Tio yang berdiri di dekat Kevan.
"Nan lo kalau kesel ama gue jangan lempar ke mertua lo dong" ucap Reno dengan dibuat buat.
"Tao lo Nan, sensian banget jadi orang"
"Maaf Yah, Keenan tidak sengaja. Tadinya mau di lempar ke arah Kain kafan itu"
Kevan melotot ke arah Keenan mendrngar namanya diganti kain kafan. "Keenan udah deh jangan cari ribut, teman datang itu diseambut bukannya diributin"
Semua anggota lavenzi menertawakan Keenan dari dalam hati. "Iya pa"
Setelah semua nya duduk, para wanita yang ditugaskan belanja telah tiba. Wina, Mela dan Syafira masuk ke dalam. Dan melihat ke arah Apartemen yang sudah ramai.
"Wah sudah datang semua ya"
"Tante, kita mau ngucapin terima kasih kareja tante mengundang kita semua kesini"
Mela tersenyum kecil lalu mengagguk. "Kalian semua sudah seperti anak tante"
"Jeng kita langsung ke dapur aja ya biar semuanya cepat selesai" pinta Wina.
"Iya jeng"
"Sayang, kamu tunggu disini aja. Kamu masih hamil muda, gak boleh kecapean."
__ADS_1
Syafira mengangguk menurut, membuat kedua wanita tersebut tersenyum lalu pergi ke dapur untuk memasak. Ditinggal sendirian, Syafira duduk di samping Keenan dan memeluknya dari samping.
Keenan yang tadinya cemberut tersenyum cerah melihat gadis kesayangannya memeluknya. Ia membalas pelukannya dan mencium rambut Syafira yang wangi.
"Eheemm bisa hargai yang jomblo gak. Disini hampir semuanya jomblo" ucap Reno.
"Dih lo gak tahu gue udah punya pasangan di rumah, punya anak lagi. Yang Jokut itu kalian"
"Jokut?" Bingung Mahendra.
"Jomblo akut om maksudnya hehe" jawab Eka.
"Umur sudah tua tapi tak punya pasangan, ngenes baget kalian emang"
"Oh gitu ya, mentang mentang kalian sudah punya istri, kita diledekin. Awas aja kalian, nanti gue bawa ariana grande untuk dinikahi. "Ucap Reno dengan percaya dirinya.
"Bentar dulu dong Ren, emang Ariana grande mau sama lo? Liat muka lo aja udah muntah duluan" jawab Farhan dengan ejekan yang langsung disambut dengan tawa yang menggelegar.
"Jahat lo semua" sungut Reno.
Tio dan Mahendra hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah mereka berdua. Mereka seperti kembali di zaman muda.
Reno menatap sinis teman temannya lalu menatap Mahendra. "Om punya kenalan cewek yang cantik gak? Siapa tahu jodoh sama Reno"
"Alay lo ren"
"Saking jomblonya dia sampe kek gitu"
"Reno bukan temen gue, gue masih waras buat temenan sama dia"
"Diam napa lo semua, gue tahu lo iri sama gue karena gue ganteng" ucap Reno sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Pede amat lo"
Lalu Reno kembali menatap Mahendra dengan penuh pengharapan. "Ada sih, putri dari sahabat om namanya Isabella, dia seorang model. Om punya fotonya kamu mau lihat?"
Reno mengagguk dengan senang hati. Sepertinya ia akan mendapat keberuntungan disini. Mahendra memperlihatkan foto nya pada Reno yang membuat mulutnya terbuka lebar.
"Buset, body nya mantap amat om. Depan menonjol di belakang lebih menonjol."
Semuanya mengerubungi Mahendra dan melihat foto itu. "Gilee, gue juga mau kalau ceweknya kek gitu"
Tio terkekeh geli melihat reaksi mereka yang berlebihan. "Om ada nomornya, nih om kirim ke whatsapp kamu"
Mahendra mengirimnya pada whatsapp Reno. "Terima kasih banyak om, om selalu yang terbaik"
Mahendra mengangguk, lalu mata Reno melihat ke arah semua teman temannya. "Apa liat liat? Iri beneran kan lo sama gue? Haha rasain tuh"
Kevan mencibirnya "sombong amat, dia aja belum tentu mau sama lo"
"Dih biarin. Yang penting usaha"
Syafira hanya terkekeh mendengar pembicaraan mereka. Keenan mengusap wajah sang istri. "Kenapa sayang?"
"Gak apa apa kok"
"Mas, mau cium kamu boleh?"
Syafira mengernyitkan dahi nya. "Sejak kapan Mas minta izin kalau mau cium aku?"
Keenan tersenyum malu malu, lalu menatap semua teman temannya yang asyik menggoda Reno. Sedangkan mertua dan ayahnya melanjutkan nonton bola. Keenan mendekat ke arah Syafira lalu mengecup bibirnya dan mendiamkannya.
Syafira terkejut karena Keenan berani melakukan hal itu. Kalau hanya ada mereka berdua Syafira tidak masalah. Tapi ini, Apartemen sedang ramai.
"Mas"
"Jangan hentikan Mas"
Keenan mencium bibir Syafira lebih dalam lagi dengan tanpa suara. Ia menutupi tubuh Syafira dengan tubuhnya agar mereka tidak melihat apa yang Keenan lakukan.
Syafira hanya bisa memejamkan matanya. Takut sekaligus malu itu lah yang ia rasakan. Ciuman Keenan sangat berbeda dari ciuman sebelumnya. Keenan seperti sangat bergairah padanya.
"Mas, sudah cukup."
Keenan melepaskan ciumannya lalu menatap wajah Syafira dengan sendu. "Kenapa? Kamu gak sayang lagi sama Mas"
__ADS_1
Keenan menitikkan air matanya seraya memalingkaj mukanya. Ia tidak tahu kenapa dirinya suka emosi dan menangis tanpa alasan.
"Apa yang terjadi sama gue sih? Kalau mereka sampe tahu gue kek gini pasti diledek"
"Mas, jangan marah ya"
Keenan tak menjawab, matanya terarah ke arah televisi. "Mas, pasti terpengaruh hormon kehamilanku ya"
Syafira memeluk lengan Keenan dari samping dan menyandarkannya. Keenan tersenyum tipis.
"Eh buset nih anak diam diam menghanyutkan.
Yang lain pada ngobrol kalian malah peluk pelukan" ucap Rangga yang diangguki oleh yang lainnya.
"Serangga mending diam aja, gue lagi gak mood bercanda" jawab Keenan dengan ketus.
Syafira mendelik pada suaminya, ia mencubit pinggangya dengan pelan. "Gak boleh gitu"
"Maaf yah om siapa namanya? Serangga? Oh iya maaf ya om serangga, Mas Keenan lagi sensitif hari ini jadi dia agak gitu"
Semuanya tertawa terbahak bahak dikarenakan Syafira yang memanggil Rangga dengan sebutan serangga.
"Queen, nama aku itu Rangga bukan serangga"
"Lho tadi Mas keenan memanggilnya serangga? Aku kira namanya emang begitu"
"Bukan, tadi dia hanya lagi sensi aja makanya manggil aku kek begitu"
"Maaf ya om, aku juga ikut ikutan manggil serangga'
"Tidak masalah"
Selang beberapa menit kemudian para wanita memanggil mereka semua untuk pergi ke belakang. Mela dan Wina menghasilkan banyak masakan hanya dalam kurun waktu dua jam.
Semuanya pergi ke belakang dan duduk di lantai berasal sebuah tikar yang telah disiapkan.
"Ayo dimakan semuanya jangan malu malu"
"Siap Tante" jawab Dito dengan semangat 45.
"Lihat makanan enak aja lo langsung semangat, dasar perut karet"
"Bodo"
Syafira mengambilkan Nasi dan lauk paulnya intui Keenan. "Ini Mas, makan aja"
Saat Syafira akan memakan makanannya, tiba tiba perutnya terasa mual. Syafira berlari ke arah kamar mandi dengan menutup mulutnya.
"Keenan, sepertinya istri kamu mual mual. Cepat susul sana" perintah Mahendra.
"Ambil minyak putih lalu oleskan di belakang lehernya biar enakan" ucap Wina menimpali.
"Iya pa, bu"
"Huweeek..."
Syafira memutahkan cairan bening dari dalam mulutya. Tubuhnya terasa lemas sekali. Beruntung Keenan datang dan membawakan minyak putih untuknya. Keenan melakukan apa yang diperintah oleh ibu mertuanya untuk mengoleskan minyak putih.
"Nih cium dulu minyak putihnya, siapa tahu kamu enakan"
Syafira hanya mengangguk lemah. Keenan memijit pangkal leher Syafira dengan pelan. "Gimana? Sudah baikan?"
"Iya Mas"
"Ya udah kamu langsung istirahat di kamar, kamu gak boleh kecapean. Ayo mas gendong"
Keenan mengangkat tubuh Syafira ke gendongannya dan membawanya ke kamar. Sebelum itu mereka pamit kepada semua orang di belakang.
"Mah, Pa, Keenan tidak bisa ikut makan makan dengan kalian. Syafira harus istirahat dan aku akan menemaninya"
Mela dan Wina mengangguk dengan khawatir. "Baiklah tidak apa apa, mama mengerti" ucap Mela.
Lalu Keenan melirik ke arah teman temannya. "Udah, lo temani aja neng cantik istirahat. Kita gak apa apa kok. Lagi pula ada makanan disini, jadi santai lah"
Dito dan Kevan menoyor kepala Reno dengan keras. "Dasar tidak tahu malu"
__ADS_1
"Ya udah gue ke kamar dulu, kalian semua habisin tuh makanan. Sayang kalau gak sampe habis"
"Siap pak bos"